
Mendengarkan tawaran Chan, Khan dan Rayhan saling bertatapan.
"Tidak apa-apa Chan?" tanya Khan serius
"Bagaimana dengan Yolanda?" tanya Khan lagi
"Udah Khan, gak apa-apa kok, Nara biar aku saja yang urus. Soal Yolanda urusan belakang" ujar Chan tersenyum
"Bagaimana Khan? Soal Nara, Chan bisa memberitahu nanti." ucap Rayhan
"Ya sudah kalau begitu, kita bersiap saja" ucap Khan langsung membersihkan dirinya
"Baiklah" ucap Rayhan juga membersihkan dirinya
Chan langsung memesan tiket pesawat lewat aplikasi smartphonenya, dia mengirimkan ke Rayhan dan Khan. Beberapa saat kemudian Khan dan Rayhan telah selesai berkemas dan sudah siap untuk berangkat.
"Khan, aku sudah memesan tiket dan sudah mengirimnya ke hp kalian" ucap Chan yang sedang duduk di sofa
"Oh ya?" ucap Khan tidak menyangka
"___" Chan mengangguk tersenyum
"Wahh.. Chan memang paling bisa di andalkan" ucap Rayhan terkekeh
"Bagaimana sudah siap berangkat bro? tanya Chan
"Sudah bro" ucap Khan merapikan pakaiannya
"Kalau begitu aku pesan taksi online dulu yah?" tanya Chan pada Khan dan Rayhan
"Aku saja bro" ucap Rayhan tersenyum
"Baiklah" ucap Chan
"Makasih banyak ya bro, udah banyak bantuin kita. Aku titip Nara yah Chan." ucap Khan menepuk pundak Chan
"Sama-sama bro. Aku akan menjaga Nara. Hati-hati ya, kalau sudah sampai kabari aku ya!" ucap Chan tersenyum
Taksi yang di pesan oleh Rayhan telah tiba di depan gedung apartemen. Mereka segera keluar dari apartemen dan menghampiri taksi tersebut.
Kini di dalam apartemen hanya tersisa Nara dan Chan. Nara yang belum sadar membuat Chan mendekatinya.
"Nara, mengapa kamu selalu berusaha menghindar dari ku?" batin Khan memandangi wajah Nara yang cantik
"Kak! kak!" ucap Nara mengingau
"___" tanpa berkata Chan memegang tangan Nara
"Kak! jangan tinggalin Nara" ucap Nara masih mengigau
Chan mengambil kursi dan duduk di samping Nara yang terbaring di kasur. Dia membelai rambut Nara yang mengenai wajahnya. Sepanjang malam Chan berjaga. Dia tidak sanggup lagi menahan kantuknya, akhirnya Chan tertidur. Nara terbangun dan kaget melihat Chan tidur di dekatnya. Chan seketika bangun, dia membuka matanya dan mengusap wajahnya. Namun Nara tak ingin berbicara dengan Chan, dia segera menutup matanya lagi.
"Nara! Kaka juga merindukan mu. Namun Kaka tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu sangat cantik Nara." ucap Khan tanpa sadar bahwa Nara mendengarnya
"Kamu hebat Nara, kamu sudah banyak berubah, hingga Kaka tidak mengenalimu saat pertama kita bertemu di gedung teater di." ucapnya lagi
"___" Nara meneteskan air matanya
Keesokan paginya, Khan dan Rayhan telah tiba di Indonesia. Kahn segera mengabari Chan. Nara masih tidur sedangkan Chan sudah memasak bubur dan sop untuknya. Nara yang sudah kebelet, terpaksa bangkit dari kasur. Dari tadi dia sudah menunggu agar Chan keluar dari apartemennya. Namun tak kunjung pergi.
"Pagi Nara!" sapa Chan tersenyum
"___" Nara menghentikan langkahnya tanpa melihat Chan
"Ayo sarapan!" ajak Chan dengan senyuman mautnya
"___" Nara melanjutkan langkahnya ke kamar mandi tanpa menjawab Chan
Beberapa saat Nara keluar dari kamar mandi, dia langsung menuju meja makan.
"Duduk Nara!" ucap Khan megegang tangan Nara
"___" Nara hanya menurut
Nara hanya duduk dan diam seribu bahasa. Chan mencoba mengajaknya untuk mengobrol, namun Nara sepertinya masih merasa sakit hati.
"Nara, Khan dan Rayhan udah balik ke Jakarta, kemarin ada email dari kantor memberitahukan kalau mereka akan mengadakan rapat penting" ucap Rayhan mengunyah makanannya
"___" Nara hanya mengangguk dan makan
"___" Khan tersenyum melihat Nara
"Kalau kamu masih merasa kurang enakan, biar aku yang antar latihan" ujar Chan menatap Nara
"Tidak perlu kak, Nara bisa sendiri" ucap Nara tidak tega membiarkan Chan hanya berbicara sendiri
"Baiklah" ucap Chan terkekeh karena Nara akhirnya membalas ucapannya
"Besok Kaka juga akan kembali ke Indonesia" ucap Chan menghabiskan makanannya
"___" Nara hanya mengangguk
" Maaf ya Nara, kemarin Yolanda bertindak kasar sama kamu" ucap Chan menundukkan kepalanya
"Aku bangga sama kamu Nara. Aku melihat semua foto-foto, piagam, medali, dan piala kamu. Andai saja pak Ari masih hidup, belia pasti sangat bangga dan bersyukur memiliki putri sepertimu" ucap Chan tersenyum
"___" Nara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Chan
setelah makan Chan langsung merapikan meja dan mencuci piring. Nara hanya duduk sebab Chan tidak mengizinkannya membantu dirinya. sesudah itu Chan membersihkan dirinya.
"Nara, Kaka permisi dulu yah" ucap Khan mengambil jaketnya
"Terimakasih kak" ucap Nara
"Sama-sama Nara" ucap Chan tersenyum dan keluar dari apartemen
"Maafin Nara kak Chan" batin Nara
Siang harinya Nara sudah bersiap-siap untuk latihan. Dia keluar dari apartemen dan mengendarai mobilnya.
Setibanya di gedung teater, Nara memarkirkan mobilnya dan memasuki ruang. Di sana sudah ada Yolanda.
"Nara!" panggil Yolanda kesal
"___" tanpa menjawab Nara mendekatinya
"Kemarin kamu pasti menggoda Chan kan. Buktinya tadi malam dia tidak pulang ke penginapan" ucap Yolanda kasar
"Maaf ya Yolanda, aku gak ingin ribut" ucap Nara meninggalkan Yolanda
"Enak saja main tinggal" ucap Yolanda menjambak rambut Nara
"Auuw" teriak Nara
"Jaga sikap kamu Yolanda" ucap Nara menahan tangan Yolanda
Teman-teman Nara yang melihatnya menghentikan Yolanda.
"Awas saja kamu Nara" batin Yolanda
"Thank you" ucap Nara pada temannya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 bulan kemudian mereka sudah siap untuk pertunjukan. Chan pun Datang ke Korea untuk menyaksikan langsung pertujukan itu.
Para Tamu dan Hadirin telah memasuki ruangan pertunjukan. Para peserta orkestra telah bersiap di atas pentas. Karena pertunjukan akan segera dimulai. Chan sudah duduk, dia sengaja memilih tempatnya agak di depan.
Pertunjukan pun dimulai, semua orang yang menyaksikannya sangat terhibur. Mereka bergembira mendengar alunan musik yang di mainkan para peserta orkestra.
Bukannya tertuju pada kekasihnya, Chan terfokus pada Nara. Dia yang begitu menawan saat ini membuat matanya tidak bisa berpaling dari Nara.
Pertunjukan sangat meriah, karena mereka memainkan musik dari berbagai genre musik.
beberapa saat kemudian pertunjukan pun usai. Semua orang yang menyaksikan bangkit berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah.
Setelah selesai para anggota orkestra kembali untuk berkumpul. Direktur pengelola dan semua yang berpartisipasi di dalamnya sungguh berterimakasih karena semua berjalan dengan lancar. Sesudah itu, mereka di persilahkan untuk meninggalkan ruangan.
Nara ingin segera kembali ke apartemennya, namun Chan menarik tangannya ke dalam mobil.
"Apa-apaan sih kak?" Tanya Nara yang kaget
"Nara, maafin Kaka yah, sekarang kita ke apartemen mu." ucap Chan melajukan mobilnya
"Bagaimana dengan mobilku?" tanya Nara tak ingin ikut dengan Chan
"Nanti saja" ucap Rayhan membawa Nara
"Loh ini bukan jalan ke apartemenku kak Chan" ucap Nara melihat arah yang berbeda dari apartemennya
"oh ya?" tanya Chan tak mau tau
"Apa yang Kaka lakukan?" tanya Nara panik
"___" tanpa menjawab Chan hanya melanjutkan perjalanan
Nara begitu heran dan kesal, dia tidak habis pikir Chan datang dan membawanya. Nara akhirnya diam dan menatap ke luar jendela.
Chan tersenyum saat melihat Nara. selama di perjalanan Nara hanya memandang keluar jendela dan sesekali memejamkan matanya.
beberapa jam di mobil akhirnya mereka tiba di tempat tujuan Chan.
"Turun!" perintah Chan
"Astaga" ucap Nara kesal
"Ayo!" ajak Chan membuka pintu dan menggenggam tangan Nara
"Kita ngapain ke sini?" tanya Nara
"Tentu saja kita akan Bersenang-senang" ucap Chan dengan senyuman