
Sepulang latihan, Nara di jemput oleh supir pribadinya dan tiba di rumah. Dia melihat ada beberapa koper di ruang tamu. Tapi Nara hanya melewatkannya dan berjalan perlahan menuju kamarnya.
Nara berjalan dengan lambat dan tatapan matanya yang kosong. Dia berbeda dengan Nara yang dulu saat pak Ari masih hidup. Dia yang dulu ceria namun sekarang di wajahnya hanya tergambar kepedihan. Sungguh Nara berbeda kali ini.
Nara membuka pintu kamarnya, dia pun kaget. Melihat isi kamarnya yang kosong membuatnya semakin sedih. Lututnya gemetar hingga dia terjatuh ke lantai.
"Papa.. Tolong bawa Nara bersama papa" ucapnya sangat lemas
"Pah.. Nara takut" ucapnya lagi meneteskan air mata
Di luar Bu Wulanra sudah memasukkan barang-barang yang aka di bawa Nara ke dalam bagasi mobil.
"Naraaa!!!" Panggil Bu Wulanra marah
"Iyah ma?" Tanya Nara menghampiri Bu Wulanra dan wajahnya sungguh pucat
"Heh..!! Dengarin yah, mulai saat ini kamu tidak perlu memanggil saya mama. Mama tidak Sudi punya anak seperti kamu. Mama sudah muak melihat mu. Jangan pernah nunjukin wajah kamu lagi di hadapanku!!. Sekarang saya akan antar kamu ke rumah bibi mu. Tidak mungkin dia menelantarkan kamu, diakan saudara kandung papa kamu. Masih untung kamu saya antarin. Saya tidak peduli bagaimana kamu akan bertahan disana. Jelas???" Ucap Bu Wulanra sangat marah dan kesal
"Maafin Nara, mah. Nara janji gak akan repotin mama. Tolong mah jangan titipkan Nara ke bibi. Nara tidak ingin jadi beban buat bibi dan paman." Ucap Nara memegang tangan Bu Wulanra dan mata yang berkaca-kaca
"Dari pada saya harus mati karena melihat mu. Saya tidak ingin berlama-lama lagi melihatmu." Ucap Bu Wulanra dan pandangan yang tajam dan menepis tangan anaknya,hingga Nara sangat ketakutan
"___" Nara hanya menunduk dan menuruti perkataan mamanya
Setibanya di rumah Angraini, mereka di sambut oleh David.
"Naraa" ucap David memeluk Nara
"Siapa yang datang?" Ucap Angraini keluar dari rumah.
"Nara sama mama bi." Ucap Nara lemas
"Naraa... Nara wajah kamu begitu pucat nak, ayok kita masuk nak." Ucap Bu Angraini merangkul Nara masuk ke dalam rumah dan mereka duduk di sofa
"Saya tidak perlu basa-basi. Kedatangan saya ke sini hanya mengantar Nara. Mulai saat ini, Nara akan tinggal bersama kalian!!!."
"Kenapa Nara tinggal dengan kami kak" tanya Anggraini yang kemudian berdiri
"Saya akan keluar kota. Saya tidak ingin direpotkan anak ini" ucap Bu Wulanra meninggalkan mereka
"Kak.. kakkk Wulan... Tunggu kak" ucap Angraini yang sempat menarik tangan Bu Wulanra
"Sudah cukup" ucap Bu Wulanra menepis kasar tangan Angraini hingga terjatuhh dan segera masuk ke dalam mobil
"Kak Wulan" ucap Angraini menangis
"Sudah,sudah sayang" ucap David memeluk istrinya yang menangis
Bagaimana dengan Nara, dia pasti merasa kesepian sekarang"
"Kita ada untuk Nara sayang" ucap David menenangkan Anggraini
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Nara yang dari tadi hanya duduk dan menunduk, sudah tergeletak di lantai.
"Naarraaa" ucap Anggraini serentak dengan David dan menghampiri Nara
"Naraaa..aaa," ucap Angraini menangis
"Jagain Nara, akan ku siapkan mobil" ucap David dan langsung menuju garasi
Mobil sudah siap,Nara pun di bawa kerumah sakit. Bibi Angraini duduk di belakang memangku sebagian tubuh Nara dan memeluknya. Anggraini begitu panik dan sedih. Sementara di depan David sudah menyetir dengan kecepatan tinggi.
Mereka tiba di rumah sakit, langsung di bantu oleh perawat untuk membawa Nara ke ruang UGD. Nara begitu cepat di tangani. Hingga Nara tidak sampai ke habisan nafasnya.
Angraini dan David sungguh panik. Mereka masih menunggu Nara, dengan cemas. Mereka sungguh gercep hingga Nara tidak kehilangan nyawanya. Jika Anggraini dan David terlambat beberapa menit saja, Nara sudah meninggal.
Dokter sudah memeriksa Nara. Nara akan di rawat inap agar dia bisa mejalani perawatan dengan tenang. Anggraini dan David sudah merasa lega.
Seperti kemarin saat papanya meninggal, saat ini juga Nara tidak bangun sudah 3 hari. Membuat paman dan bibinya kembali khawatir. Namun dokter menenangkan mereka berdua. Mereka hanya bisa menunggu agar Nara sadar dan pulih.
Saat Nara kembali sadar, di sana tidak ada siapa pun. Anggraini pergi keluar untuk membeli makanan. Sedangkan David melakukan rutinitasnya sebagai pelatih taekwondo. Nara hanya memandangi keluar jendela.
Tubuhnya yang kaku. Membuatnya tidak bisa untuk bangkit dari tempat tidurnya.
Anggraini kembali ke kamar Nara dan membawa beberapa makanan kesukaan Nara.
"Naraa.. kamu sudah bangun nak" ucap Anggraini senang dan meletakkan makanan di atas meja lalu memeluk Nara. Nara hanya terdiam dan menatap kosong ke arah bibinya.
"___" Nara hanya menggeleng kan kepalanya
"Kamu minum dulu yah nak" ucap Anggraini mengambil minum yang ada tak jauh dari tempat tidur Nara
"Bibi" ucap Nara kaku
"Iya sayang ada apa?" Ucap Anggraini mendekatkan telinganya pada Nara
"Nara ingin pulang" Ucal Nara dengan muka datar
"Iya sayang kita akan pulang. Sebentar lagi dokter akan periksa Nara yahh." Ucap Anggraini dengan sabar
"___" Nara mengangguk
"Paman mu juga masih ada latihan. Jadi kita tunggu paman ya Nara."
"Iya Bi"
Nara ingin ke kamar mandi. Dia tidak tahu harus bagaimana. Tubuhnya yang kaku membuat tidak bisa sendiri.
"Bibi" panggil Nara
" Iya sayang?"
"Tolong bantuin Nara bi, Nara ingin kebelet"
" Sini, pelan, pelan. " Ucap Angraini merangkul Nara dan membawanya ke kamar mandi
"Bibi diluar saja" ucap Nara tidak tega
"Bibi tidak apa-apa Nara" ucap Anggraini tulus
"Maaf bi"
"Iya sayang, tidak apa-apa"
"Sudah bi"
"Sudah ayok, pelan-pelan aja" ucap Anggraini merangkul Nara
"Makasih ya Bi" ucap Nara yang sudah kembali ke tempat tidur nya.
"Iya sayang" ucap Anggraini mengusap kepala Nara dan menyelimuti Nara
Beberapa jam kemudian, dokter datang untuk memeriksa keadaan Nara. Namun Nara tertidur.
"Dokter, Nara ingin pulang. Dia sudah bisa istirahat di rumah dok?"
"Besok pagi dia baru bisa pulang, saat ini kondisi masih lemah. Mudah-mudahan saja besok Nara sudah kembali pulih." Ucap dokter
"Terimakasih,dok"
"Sama-sama Bu" ucap dokter meninggalkan ruangan.
Anggraini mendapat telepon dari suaminya.
"Hallo"
"Sayang Nara sudah bisa pulang?"
"Belum mas, kata dokter besok pagi baru bisa pulang."
"Nara belum sadar juga?"
"Tadi Nara sudah sadar dan sekarang dia istirahat"
"Baguslah kalau begitu"
"Iya"
"Nanti malam mas datang yah. Mau mandi dulu sekalian beresin kamar buat Nara."
"Iya, makasih ya mas. Aku tutup teleponnya ya"
"Iya sayang"