You're My First Love

You're My First Love
Kebahagiaan dan Kesedihan Dicampur Aduk



Beberapa saat kemudian Nara dan Chan berpamitan pada kakanya. Mereka pergi ke restoran yang sudah di janjikan Chan.


...----------------...


Saat sedang makan Chan meraih tangan Nara, hingga membuatnya terbengong.


"Ada apa Chan?" tanya Nara kaget


"Kamu cantik hari ini" ucap Chan dengan senyum tulus


"Makasih kak" ucap Nara tersenyum


"Nara!" panggil Chan menatap Nara


"Iya?" tanya Nara salah tingkah


"Menikahlah dengan ku" ucap Chan mengambil cincin dari kantongnya


"A apa?" tanya Nara sungguh kaget melihat tindakan Chan dia sama sekali tidak menyangka kalau Chan akan melamarnya hari ini juga


"Kamu mau kan?" tanya Chan serius


"E e.. Tapi kak Khan juga belum menikah" Ucap Nara sungguh kikuk


"Khan sudah mengizinkan aku untuk menikahi mu Nara" ucap Chan tersenyum


"Benarkah?" tanya Nara menatap Chan bahagia


"Iya" Ucap Chan mengangguk


"Sebenarnya aku gak pernah berfikir untuk menikah dengan mu Chan. Tapi hari ini aku sungguh bahagia mendengarkan ucapan mu" ucap Nara meneteskan air mata bahagia


"Udah Jangan menangis" ucap Chan mengusap air mata Nara


Nara pun menerima lamaran Chan, mereka pun sungguh bahagia saat ini. Chan kemudian membawa Nara ke rumah neneknya karena mereka sudah saling mencintai. Bu Dewi setuju dengan pernikahan Chan dan Nara. Bu Sri juga setuju dengan Nara yang menjadi menantunya. Begitu pula dengan Nara, dia juga ingin membawa Chan ke rumah pamannya. Paman dan bibinya juga setuju. Namun tidak dengan Bu Wulanra, namun Nara tidak mempermasalahkannya.


Keluarga Chan dan Nara bertemu untuk membicarakan pernikahan mereka. Nara hanya ingin acara pernikahannya sederhana saja. Namun Bu Sri ingin sekali pernikahan anak semata wayangnya mewah dan meriah.


Brukkk


Prakk


Terdengar suara pintu yang di dorong keras oleh Bu Wulanra.


"Mama?" ucap Nara kaget menoleh ke pintu


"Kamu tidak bisa menikah dengan anak saya" ucap Bu Wulanra menatap tajam mata Chan


"Kak Wulan, jangan marah-marah ini rumah Bu Dewi" ucap Bu Anggraini berbisik di dekat Bu Wulanra


"Aku tidak peduli, yang intinya aku gak akan setuju dengan pernikahan ini" ucap Bu Wulanra meninggikan suaranya


"Kenapa kak?" tanya Bu Anggraini pelan


"Aku sudah tau kebusukan keluarga Chan" ucap Bu Wulanra menatap sinis Bu Sri


"Apa yang Kaka maksud?" tanya Bu Anggraini menenangkan Bu Wulanra


"Sudah, kamu sama saja dengan mereka" ucap Bu Wulanra menatap tajam pula pada Bu Anggraini


"Ya ampun kak" ucap Bu Anggraini mengusap dadanya


"Mah?" ucap Nara mendekatkan dirinya pada mamanya


"Kamu gak sadar semenarik apa dirimu di mata orang lain?" tanya Bu Wulanra marah


"Banyak yang ingin menikah dengan mu, kamu terkenal, siapa pun ingin memiliki mu" tapi mama tidak setuju kamu dengan Chan" ucap Bu Wulanra menarik tangan Nara keluar


"Nara gak tau sebenarnya Nara benar anak kandung mama atau bukan" ucap Nara meneteskan air matanya


Prakkk...


Tamparan Bu Wulanra mendarat di wajah Nara.


"Nara!" panggil Bu Dewi, Bu Sri dan Bu Anggraini


"Kalian tidak perlu ikut campur, ini antara ibu dan anak" ucap Bu Wulanra marah


"Jika Nara memang benar anak kandung mama, Nara gak akan semenderita ini mah. Nara gak pernah mendapatkan kebahagiaan dari mama. Dan sekarang mama menghalangi kebahagiaan Nara juga". ucap Nara menangis


Brukkk


Nara didorong mamanya hingga kepalanya mengenai sudut meja hingga keluar darah dari hidung nya.


"Nara!" ucap Chan langsung merangkul Nara


"Mama bukan siapa-siapa bagi Nara. Tolong menjauh lah dari kehidupan ku, aku sudah muak" ucap Nara marah dan menangis


"Sudah Nara. Jangan marah-marah" ucap Chan menenangkan Nara


"Sudah Chan, aku ingin sendiri dulu" ucap Nara ingin memasuki kamar Chan


"Nara!" ucap Chan menangkap Nara yang hampir terjatuh kelantai


"Nara!" "Nara!" "Nara" ucap mereka


Chan segera membawa Nara masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan Nara. Bu Anggraini segera mendekatkan dirinya pada Nara dan menangis.



Chan segera menghubungi dokter pribadinya. Tidak lama kemudian dokter pun tiba di rumah Bu Dewi dan langsung memeriksa keadaan Nara.


"Bagaimana dok" tanya Bu Dewi cemas


"Dia akan sembuh jika teratur minum obat dan istirahat yang banyak. Satu lagi Harus banyak minum air putih" ucap dokter


"Apa tidak ada masalah di kepalanya dokter?" tanya Bu Anggraini khawatir


"Tidak Bu" ucap Dokter tersenyum


"Syukurlah ya Tuhan" ucap Bu Anggraini menggenggam tangan Nara


"Chan, Nara sudah akan sembuh" ucap dokter menepuk pundak Chan yang sungguh sedih dan cemas


"Baik dokter, terimakasih banyak dok" ucap Chan menjabat tangan dokter


"Kalau begitu saya pamit dulu" ucap dokter terseyum


"Nara kamu sudah banyak menderita nak" ucap Bu Angraini menangis dan mencium punggung tangan Nara


"Sudah, Nak" ucap Bu Dewi menenangkan Anggraini


"Chan!. Mama gak mengerti maksud ucapan Wulanra, tapi mama gak larang kamu untuk menikah dengan Nara" ucap Bu Sri memeluk anaknya


"__" Chan hanya bisa meneteskan air matanya tanpa berkata-kata


"Bu, saya pamit dulu yah?" ucap Angraini memegang tangan Bu Dewi


"Iya nak, kamu tidak perlu khawatir. Ibu,Sri dan Chan akan mengurus Nara" ucap Bu Dewi mengusap air mata Angraini


"Terimakasih Bu" ucap Angraini memeluk Bu Dewi


"Chan, Tante pamit dulu yah, tolong jaga Nara" ucap Bu Angraini mengusap pundak Chan


"Iya Tante" ucap Chan tersenyum tipis


Angraini keluar dari kamar dan meninggalkan rumah Bu Dewi. Bu Dewi juga meninggalkan kamar untuk istirahat sebentar. Saat ini hanya Chan dan Nara yang tersisa di kamar.


"Nara, kamu sudah banyak menderita" batin Chan meneteskan air mata nya dan menggenggam tangan Nara


Hari sudah malam semua orang sudah tidur kecuali Chan. Di tidak bisa tidur karena Nara belum juga sadar.



"Nara, kamu sudah sadar" ucap Chan yang sedari tadi hanya menatap Nara


"Chan" ucap Nara memegang kepalanya


"Udah santai aja" ucap Chan membantu Nara duduk


"Syukurlah kamu sudah siuman" ucap Chan tersenyum


"Maaf kak, Nara sudah membuat cemas" ucap Nara menggenggam tangan Chan


"Giliran udah sakit aja, baru manggil Kaka" ucap Chan terkekeh


"Hehe" kekeh Nara


"Kamu pasti lapar kan?" tanya Chan menatap Nara


"Iya kak, mungkin karena lapar makanya aku sadar" ucap Nara tersenyum


"Syukurlah deh kamu lapar, jadinya aku udah lega sekarang" ucap Chan mengusap lembut rambut Nara


"Kamu gak perlu pikirin kejadian tadi yah" ucap Chan memeluk Nara


"Iya kak" ucap Nara mengangguk


"Ya sudah, ayo makan" ucap Chan bangkit


"___" Nara cemberut karena sudah baginya untuk berdiri


"Hmm, yaudah, aku ambil makan dulu" ucap Chan mengecup kening Nara


"___" Nara mengangguk tersenyum