You're My First Love

You're My First Love
Cemburunya Nara



"Iya paman" ucap Nara cemas


"Apa yang harus kita lakukan? jika paman tidak datang maka orang itu bisa menyakiti keluarga kita" ujar pak David memutar otaknya


Sesudah Nara menceritakan kejadian yang akan menimpa pamannya. Awalnya pak David tidak percaya namun melihat kesungguhan Nara, akhirnya dia percaya. Mereka pun mengatur strategi, Bu Anggraini sangat cemas namun Nara berusaha menenangkannya.


"Kita harus membuat seolah-olah paman sedang menunggunya" ucap Nara menemukan ide


"Bagaimana caranya?" tanya Bu Anggraini


"Begini paman, bibi, kita buat saja patung yang memakai pakaian paman." ucap Nara


"Patung?" tanya Anggraini


"Iya bibi, kalau dia berniat melukai paman, orang itu pasti langsung menusuk patung itu" ujar Nara


"Bener juga, aku akan pergi ke toko pakaian milik teman paman. Nanti paman akan membujuk pemiliknya agar mengizinkan paman membawakan patung yang ada di sana"


"Setuju paman" ucap Nara mengangguk


Pak David pun segera pergi ke toko milik temannya. Dia pun memohon untuk membawa salah satu patung yang ada di sana. Tanpa berbasa-basi temannya pun mengizinkan pak David membawanya.


Sesampainya pak David di rumah dengan patung yang dibawanya, Nara dan Bu Anggraini langsung membuatkan pakaian pak David pada patung itu.


Tak lama kemudian, seperti penjelasan Nara akhirnya orang tersebut menelepon pak David dan memintanya untuk bertemu empat mata dengannya. Nara dan pak David bergegas cepat ke tempat itu dan meninggalkan patung itu di tempat janji temu mereka. setelah itu Nara dan pak David bersembunyi untuk melihat aksi orang tersebut.


Beberapa saat kemudian orang itu bernama Bram pun datang perlahan menghampiri patung itu. dengan sangat hati-hati orang tersebut mengeluarkan pisau dari kantongnya dan langsung menusuknya dari belakang.


Orang itu begitu kaget dan kesal ternyata pak David telah mengetahui rencananya. Dia pun marah dan berkata kasar.


Pak David dan Nara sudah menduga hal itu. Namun tanpa di sengaja ponsel pak David berdering. Mereka akhirnya ketahuan telah bersembunyi di balik semak itu.


"Astaga" ucap pak David panik


"Ohh di sini kalian ternyata" ucap pak Bram tersenyum miring


Pak David dan Nara terpaksa keluar dari persembunyiannya. Orang itu langsung menghajar pak David. Tentu saja Nara tidak terima pamannya disakiti. Nara dengan keahliannya mencoba membantu pamannya.


Nara ingin sekali menghabisi orang itu namun pak David menahan Nara agar tidak sampai ke hukum.


"Awas saja kalian" ucap orang itu pergi kesakitan


"Paman!" ucap Nara menghampiri pak David yang terjatuh tadi


"Paman tidak apa-apa Nara" ucap pak David mencoba bangkit


"Paman kenal dengan orang itu?" tanya Nara


"Iya Nara, paman mengenalnya, belum lama dia bergabung di Taekwondo. Dia juga menjadi pelatih seperti paman." ucap pak David


"Paman harus hati-hati dengannya" ucap Nara membawa pak Ari ke dalam mobil


sesampainya di rumah, Anggraini tidak bisa tidur karena menunggu mereka.


"Astaga. Apa yang terjadi Nara?" tanya bibinya


"Aku dan paman ketahuan bersembunyi bibi" ucap Nara menghelai nafas


"Ada lagi yang sakit?" tanya Angraini pada suaminya


"Tidak sayang, cuman luka ringan aja" ucap pak David agar istrinya tidak khawatir


"Syukurlah" ucap Anggraini menghelai nafas


1 Minggu kemudian Nara ingin kembali ke Korea, namun sejak kejadian kemarin, dia merasa ada seseorang yang menguntit dirinya.


Nara mencoba menghubungi Chan, namun tidak pernah diangkat. Dia mampir ke rumah Bu Dewi yang juga dirindukan dirinya.


"Pagi nenek?" ucap Nara memasuki toko


"S siapa? tanya Bu Dewi


"Nara, Nara nenek" ucap Nara tersenyum


"Nara? Ya ampun kamu cantik sekali Nara" ucap Bu Dewi memeluk Nara


"Bagaimana kabar nenek?" tanya Nara tersenyum


"Nenek baik nak" ucap Bu Dewi membawa Nara duduk


"Syukurlah" ucap Nara duduk dengan Bu Dewi


"Kamu cantik banget nak, nenek tidak mengenalimu tadi" ucap Bu Dewi membelai rambut Nara


"hehe"


"Siapa Bu?" tanya Bu Sri mamanya Chan


"Dia Nara, Sri" ucap Angraini mengenalkan Nara pada Bu Sri


"Terimakasih Tante" ucap Nara tersenyum


"Minum dulu" ucap Bu Sri membawakan teh untuk mereka


"Iya Tante, terimakasih" ucap Nara


Setelah minum, Nara meminta izin pada Bu Dewi agar dia diperbolehkan memasuki ruang dengar. Bu Dewi pun dengan senang hati mengizinkannya.


Di sana, Nara hanya duduk dan terdiam. Dia memutarkan lagu kesukaannya. Dia masih berfikir apa yang harus dilakukan pada mamanya, Bu Wulanra.


Nara memutuskan untuk kembali ke Korea, di sini juga dia tidak bisa bertemu dengan Chan.


Namun sebelum itu Nara dan bu Anggraini berbelanja di mall. Saat itu, bibinya terpaksa pulang lebih awal karena teman-temannya akan datang ke rumah tanpa perencanaan. Nara pun setuju dengan perkataan bibinya.


Saat Nara sudah selesai berbelanja, dan sudah berkeliling juga dia akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Namun saat itu dia melihat Chan dan Yolanda berada di depan mall.



Yang sabar Nara.. 🥲🥲


"Tenyata Chan berbohong" batin Nara


Nara berlari meninggalkan mereka, dia sangat sedih hingga tidak sanggup melihatnya lagi.


Namun di sisi lain seseorang yang membuntutinya mengejarnya. Hingga tiba di tempat sepi.


"Siapa kamu?" tanya Nara


"haha... kamu begitu cantik rupanya" ucap orang itu keluar dari persembunyiannya


"Pak Bra?"


"wah wah .. kamu langsung mengenali saya" ucap orang itu tertawa


"Jangan macam-macam pak" ucap Nara panik


"Tenang saja, saya gak akan macam-macam tapi__" ucap pak Bram memanggil temannya


"ha?" Nara kaget karena di datangi para preman berotot


"Habisi dia!" perintah pak Bram pada anak buahnya


Nara harus melindungi dirinya, dia pun mengerakkan seluruh tenaganya untuk melawan para bandit. Nara mengalahkan bandit-bandit itu, pak Bram ketakutan melihatnya dan kabur.


"Astaga apa yang kulakukan di sini" batin Nara menarik nafasnya


Dia pun ingin kembali ke rumah pamannya.


"Tapi teman-teman bibi pasti masih di rumah" batinnya


Dia pun berjalan ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan mall.


"Aku ke rumah nenek saja" batinnya lagi


Setibanya di rumah Bu Dewi, Nara masuk tanpa mengetuk pintu, baginya Bu Dewi sudah seperti nenek kandungnya, begitu pula dengan Bu Dewi.


"Nara" ucap Bu Dewi seakan tertangkap basah


Nara sungguh dikaget kan dengan pemandangan yang ada di sana. Chan mengunjungi neneknya dan membawa Yolanda.


"Nara!" panggil Chan


"Maaf Nenek, Nara harus pulang" ucap Nara gemetar


"Baru saja tiba" ucap Bu Sri menghampiri Nara


"Iya Tante, Nara tiba-tiba gak enak badan" ucap nya meninggalkan mereka


"Nara!!" panggil Chan berlari ke arahnya dan memegang tangannya


"Kita aku mengerti" ucap Nara tanpa melihat Chan dan menepis tangan Chan


Bu Dewi sungguh merasa bersalah pada Nara, dari awal dia tidak pernah menceritakan kalau Chan adalah cucunya dan pak Indra adalah anaknya.


"Nenek bagaimana Nara bisa sampai ke sini?" tanya Chan mendekati neneknya


"Ceritanya panjang Chan. Nenek ingin istirahat" ucap Bu Dewi sedih


"Biarkan saja nenek mu istirahat dulu Chan. mama juga baru tahu saat Nara datang Minggu lalu." ucap Bu Sri menepuk pundak Chan


"Apa yang mama tahu?" tanya Chan


"Kamu ini apa-apa sih Chan? ada aku di sini. Kenapa kamu masih menanyakan dia?" tanya Yolanda marah dan meninggalkan rumah Bu Dewi


"Kejar Yolanda Chan" ucap Bu Sri menghelai nafas