
Keesokan harinya, Chan mendatangi rumah Haris. Chan sangat berterimakasih kepada Haris, karena berkatnya pak Bram kini harus membayar perbuatannya. Saat Chan tiba di rumah Haris, Haris pun menyambutnya dengan hangat.
"Terimakasih Haris, kamu telah membantuku" ucap Chan tersenyum
"Sebenarnya bukan aku yang membantumu" ucap Haris tersenyum
"Ini tehnya, Tuan" ucap pelayan
"Terimakasih" ucap Chan tersenyum
Kling kling kling
"Aku terima telepon dulu ya Chan" ucap Haris bangkit berdiri
"Oh iya, Silahkan" ucap Chan
Haris pun menjauh dari Chan, sedangkan Chan hanya terdiam menunggunya. Tak lama kemudian Yunita keluar dari kamarnya tanpa tahu kalau Chan sedang berada di ruang tamu.
"Hai, Yunita" ucap Chan tersenyum
"Chan" batin Yunita terpaku
"Ha hai juga, kak" ucap Yunita gugup
"Ada apa? kamu terlihat pucat?" tanya Chan menghampirinya
"Mm tidak, kak. Aku baik-baik aja" ucap Yunita merapikan rambutnya
"Kaka sedang apa di sini?" tanya Yunita
"Aku, aku hanya ingin berterimakasih pada kalian, karena telah membantu ku" ucap Chan tersenyum
"Oh, karena pak Bram" ucap Yunita mengerti
"Maaf yah, aku ngobrolnya lumayan lama" ucap Haris menghampiri mereka
"Ternyata kamu sudah bangun, Yun" ujar Haris kembali duduk
"I iya, kak" ucap Yunita
"Mari duduk" ajak Haris
Mereka pun mengobrol dan bercanda tawa. Haris begitu menghormati Chan karena Yunita. Jika bukan karena Yunita, Haris tidak akan bertemu dengan Chan. Chan baru menyadari kalau gerak-gerik Yunita sama dengan istrinya. Chan mulai memperhatikan Yunita yang sedang mengobrol dengan Haris.
"Ada apa Chan?" tanya Haris melihat Chan yang sedari tadi memperhatikan Yunita
"Oh, tidak kok. Aku hanya penasaran dengan Yunita" ucap Chan
"Haha, kamu ada-ada aja Chan" ucap Haris terkekeh
Setelah itu, Chan berpamitan untuk pulang, Haris dan Yunita pun mengantarnya ke depan. Tak lama kemudian, Haris dan Yunita kembali masuk setelah mengantar Chan yang kini telah menjauh dari rumah Haris.
"Yun" panggil Haris
"Iya, kak?" tanya Yunita
"Kamu belum siap kembali pada Chan?" tanya Haris
"uhuk uhuk" Yunita tersendat saat minum karena mendengar ucapan Haris
"Hati-hati kalau minum" ucap Haris mengusap punggung Yunita
"Maaf, kak. Aku belum bisa menjawab" ucap Yunita
"Baiklah, kapan pun kamu siap, aku akan selalu mendukungnya" ucap Haris tersenyum
Beberapa Bulan kemudian, Haris dan Chan pun bekerja sama untuk melindungi perusahaan Chan yang kini masih dikuasai sepupunya. Haris bersedia membantu Chan yang sedang membutuhkan dukungannya.
Suatu hari, Chan mendatangi Haris di kantornya. Tidak sengaja, Chan mendengarkan obrolan Yunita dengan Haris.
Yunita dan Haris yang kini berdebat membuat nya menunggu di depan pintu.
"Sampai kapan kamu menyembunyikan identitas mu dari Chan?" tanya Haris marah
"Aku masih menunggu waktu, kak" ucap Yunita meninggikan suaranya
"Semakin lama kamu begini, aku akan semakin berharap sama kamu, Nara" ucap Haris mengusap kasar wajahnya
"Jadi, Kaka udah bosan sama ku?" tanya Yunita
"Bukan begitu, Nara. Kamu kembali lah pada Chan sebelum cintaku semakin mendalam" ucap Haris
"Nara?" batin Chan
"Kalau kamu selalu berada di samping ku, aku semakin gak rela melepas mu, Nara" ucap Haris
Mendengarkan hal itu, tanpa berfikir panjang lagi, Chan pun masuk ke ruangan Haris. Kedatangan Chan membuatnya Yunita dan Haris terkejut dan terdiam.
"___" Yunita dan Haris hanya terdiam
"Haris, apa maksudmu?" tanya Chan mendekati Haris
"Maaf, Chan. Aku tida bisa menjawab" ucap Haris
"Lalu siapa yang akan menjelaskannya? Atau kamu?" tanya Chan mendekati Yunita namun Yunita menjauh darinya
"___" Chan terdiam saat melihat berkas identitas Yunita yang terbuka di atas meja Haris
"Gak mungkin" Chan tersenyum tidak percaya dengan apa yang dia lihat
"Kembalikan" ucap Yunita merampasnya dari Chan
"Apa ini?" tanya Chan marah
"Haris, jadi kamu hanya berpura-pura untuk membantu ku?" tanya Chan
"Bukan begitu, Chan" ucap Haris mendekatinya
"Jadi selama ini kalian telah menipu ku?" tanya Chan tersenyum tidak percaya
Yunita pun menangis dan meninggalkan ruangan Haris. Haris pun menenangkan Chan yang kini merasa telah dipermainkan.
"Maaf, Chan. Mungkin ini saatnya kamu mengetahui kebenaran" ucap Haris
Haris pun memberi tahu kebenarannya pada Chan. Memang Chan tidak mudah untuk di yakinkan. Namun Haris berusaha menyakinkan Chan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Chan kembali mengingat gerak-gerik Yunita yang sama dengan Nara.
"Nara" batin Chan bergegas keluar dan tapi Haris menahannya
"Tapi maaf, Chan. Biarkan Nara sendiri dulu" ucap Haris menahan Chan yang ingin sekali menemui Nara
"Lepasin aku, Haris. Aku sudah tidak percaya lagi sama kamu. Kamu telah mencuci otak Nara" teriak Haris sampai para karyawan heran dengan sikapnya
"Terserah kalau kamu memang berpikir seperti itu. Aku gak masalah, tapi kalau begini aku semakin ingin mengambil Nara dari kamu" ucap Haris marah
"Apa kamu bilang? selama ini kamu juga berusaha kan menyakinkan Nara agar dia tidak mau lagi kembali sama ku? kalau bukan begitu Nara tidak akan pergi seperti ini" teriak Chan
"Terserah kamu saja, Chan" ucap Haris melepaskan Chan
Chan keluar dari kantor haris dan mencari Nara. Saat mencarinya, Chan seketika kepikiran kalau Nara bisa jadi berada di makam pak Ari, mertuanya. Chan memutar mobilnya menuju makam mertuanya.
Setelah tiba di sana, Chan berjalan dengan mata yang tertuju pada seorang wanita.
Dan ternyata benar, kalau Nara berada di sana. Chan pun mendekati Nara yang sedang menangis. Saat Nara sadar akan kedatangan Chan, Nara pun menjauh darinya. Chan semakin mendekatkan hingga Nara berlari.
"Nara, mari kita bicara" teriak Haris mengejarnya
Namun Nara semakin berlari kencang hingga terjatuh. Chan pun kaget dan menghampirinya. Tetapi Haris yang baru saja tiba mengangkatnya dan langsung membawa ke dalam mobil. Melihat hal itu, Chan sangat marah pada Haris. Chan mengetuk-ngetuk pintu mobil Haris yang kini hampir melaju.
"Awas saja kamu Haris" batin Chan yang kemudian mengikuti mobil Haris
"Makasih, kak Haris" ucap Nara menahan air matanya
"Aku ngerti kok. Kamu masih menunggu waktu" ucap Haris
"Kita harus ke rumah sakit" ucap Haris
"Engga perlu kak, kita ke rumah aja. Lukanya sedikit kok" ucap Nara
"Kamu mau aku makin repot kalau sampai kenapa-napa?" tanya Haris
"Bukan begitu, kak. Aku GPP loh" ucap Nara
"Yaudah deh. Gimana baiknya aja menurut kamu" ucap Haris
"___" Nara tersenyum
Setibanya di rumah, Haris membawa Nara masuk ke rumah. Di samping itu, Chan juga tiba dan masuk mengikuti mereka. Haris mengambilkan kotak P3K dan membawakannya ke ruang tamu. Sementara Chan merampas kotak itu dan duduk di dekat Nara.
Haris hanya bisa menghela nafas melihat Chan. Nara pun memutar malas bola matanya. Chan segera membersihkan luka di kaki Nara dan mengobatinya. Nara hanya bisa menahan pedihnya tanpa berekspresi. Haris pun membawakan air putih untuk Nara.
"Nara, minum dulu" ucap Haris memberikan gelas berisi air putih
"Makasih, kak" ucap Nara tersenyum
"Nara!" panggil Chan setelah mengobati lukanya
Nara menghelai nafas "M?" tanyanya
"Maafin aku yah, kamu jadi terluka" ucap Chan
Bersambung...