You're My First Love

You're My First Love
Kemarahan pak David



1 Minggu kemudian Nara bertemu lagi dengan mamanya di rumah pak David.


Bu Wulanra meminta tolong pada Bu Anggraini agar Nara mau kembali ke rumahnya. Awalnya paman dan bibinya tidak menginginkan Nara untuk kembali bersama mamanya. Namun bagaimana pun juga Bu Wulanra adalah orang yang melahirkan Nara.


"Bibi!" ucap Nara terseyum memasuki ruang tamu namun seketika senyumnya hilang karena melihat mamanya tengah duduk di samping Bu Anggraini.


"N Nara " ucap Bu Angraini gugup


"Nanti kita bertemu lagi bibi, Nara pamit dulu" ucap Nara memutar bola matanya dan menghelai nafas


"Nara" ucap Bu Anggraini dengan matanya yang mulai berkaca-kaca dan menghentikan langkah Nara


"Nara, maafin bibi yah, sebaiknya kamu pulang ke rumah mama nak." ucap Anggraini memegang tangan Nara dengan wajah memohon


"Bibi lupa yah, apa yang di lakukannya padaku?" ucap Nara masih tidak ingin menatap mamanya


"Bibi tidak pernah lupa nak. Tapi bibi juga ingin kamu berbaikan dengan ka Wulanra" ucap Anggraini menatap mata Nara


"Tidak bibi, ucapan mama yang membuat Nara jadi begini. Nara sedikit pun tidak ingin menunjukan wajah di hadapan mama" ucap Nara mulai menangis


"Maafin mama nak" ucap Bu Wulanra mendekati Nara perlahan


"Sampai kapan pun, Nara akan tetap sama seperti baru keluar dari rumah. Aku juga sudah tidak ingin mengingat masalah itu, namun begitu berat buatku untuk memulai komunikasi lagi sama mama." ucap Nara menangis


"Ada apa ini?" tanya pak David memasuki rumah


"Paman!" panggil Nara berlari dan memeluk pak David


"Tidak apa-apa" ucap pak David langsung tanggap dengan situasi


"Kamu jangan memaksakan dirimu. Dengan berjalannya waktu kamu pasti bisa" ucap pak David mengusap-usap punggung Nara yang masih di pelukannya


"Sudah, sudah, jangan menangis lagi" ucap pak David mengusap air mata Nara


"___" Nara mengangguk mengerti ucapan pamannya


"Untuk saat ini biar Nara yang memikirkan yang terbaik untuk dirinya, dia sudah dewasa. Jangan sampai Kaka memaksa Nara untuk mengikuti kehendak Kaka lagi?" ucap pak David menekan pada Bu Wulanra


"Kaka tau David, Kaka juga sudah menyesali perbuatan Kaka pada Nara. Aku memang bukan seorang ibu yang baik untuk Nara, tapi Kaka juga ingin kembali bersama Nara dan memperbaiki kesalahan yang dulu" ucap Bu Wulanra menangis


"Sudah kak" ucap Bu Anggraini mengusap punggung Bu Wulanra


Khan baru tiba di rumah pamannya karena dia tahu kalau mamanya pasti akan membuat keributan. Dia mengutuk pintu dan segera dibuka bibinya.


"Bibi" ucap Chan tersenyum


"Khan, tumben jam kerja kamu kemari nak" ucap bibinya heran


"Aku menyelesaikan pekerjaannya di kantor dan langsung kemari bibi" ucap Khan terkekeh


"Ayo masuk nak" ucap Anggraini mengajak Khan


"Sudah kuduga" batin Khan memejamkan matanya


Bu Wulanra yang melihat kedatangan Khan tiba-tiba menjadi sangat gugup. Nara hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Gak kerja Khan?" tanya pak David yang tengah duduk


"Udah paman, besok beraksi lagi" ucap Khan tersenyum tipis dan duduk di samping pamannya


Bu Anggraini membuatkan teh untuk mereka.


"Mah, kita pulang saja" ucap Khan kesal melihat mamanya


"Mama hanya minta maaf pada Nara Khan" ucap Bu Wulanra meneteskan air matanya


"Ka Wulanra ingin Nara kembali Khan" ucap Anggraini meletakkan teh di atas meja


"Diminum kak, Khan, mumpung masih hangat" ucap Bu Anggraini tersenyum tipis


"Nara kamu juga minum nak" ucap bibinya duduk di samping Nara


"Nara ingin sendiri dulu" ucap Nara meneguk tehnya dan meninggalkan mereka


"Nara!" panggil Khan


"Sudah biarkan dia pergi Khan, dia butuh waktu berpikir tenang dulu. Kita tidak bisa memaksakannya. Paman tidak suka kalau Nara terluka lagi" ucap pak David menatap Bu Wulanra


"Iya paman" ucap Khan mengangguk


"Iya" ucap Bu Wulanra mengangguk dan mengusap air matanya


"Kaka tidak pernah tahu bagaimana dia bangkit dari keterpurukannya, saat dia sudah menjadi orang berpengaruh sekarang Kaka malah menginginkannya. selama ini apa pernah Kaka menanyakan keadaannya? Kaka hanya memikirkan diri se__" ucap pak David dengan nada marah


"Sudah mas" ucap Anggraini menghentikan omongan suaminya


"Bagaimana bisa aku tidak marah, kamu sendiri juga menyaksikan bagaimana Nara melewati masa sulitnya." marah pak David juga pada istrinya


"Iya mas, aku tahu" ucap Anggraini menundukkan kepalanya


"Kamu juga Khan, bagaimana bisa kamu sangat sibuk hingga kamu tidak pernah menemui adikmu. Apa benar kamu seorang Kaka bagi Nara" marah pamannya juga pada Khan


"Khan memang salah paman" ucap Khan mengakui kesalahannya


"Kalian tidak pernah tahu seberapa banyak serpihan kaca yang di lalui Nara tanpa memakai alas kaki. Sekarang kalian malah memaksakan kehendak kalian padanya" ucap pak David menahan emosinya


"Maafin Kaka Vid" ucap Anggraini bersujud pada pak David


"Aku gak butuh permintaan maaf Kaka. Apa Kaka gak ingat segitu sombongnya Kaka saat mengantar Nara kemari? Bagaimana Kaka memperlakukan istri ku? Itu saja sudah membuatku sangat marah." ucap pak David semakin marah


"Jangan sampai Nara kenapa-napa. Karena aku sudah menganggapnya sebagai putriku" ucap pak David meninggalkan mereka


"Sudah kak" ucap Angraini merangkul Bu Wulanra


Khan hanya terdiam sesudah mendengarkan omongan pamannya. Dia juga sangat menyesal karena tidak pernah ada untuk Nara. Dia pun meminta izin pada bibinya untuk kembali ke kantornya.



Setibanya di kantor Khan hanya duduk dan merenung.


......................


Keesokan harinya, Nara hanya ingin bertemu dan bersandar pada Chan saat ini. Namun dia merasa tubuhnya tidak bisa untuk menyetir sendiri, dan akhirnya memesan taksi online dan mendatangi Rumah Chan. Setelah tiba di rumah Chan , dia pun menekan bel pintu rumah Chan.


"Siapa yah?" batin Chan yang hanya berdiam diri di rumah selama berhari-hari


Dari dalam rumah, Chan melihat Nara sedang berada di luar, lewat kamera bel video. Dia pun segera membuka pintu dengan cepat.


"Nara" ucapnya masih heran


"Chan" ucap Nara kemudian terjatuh pingsan


"N Nara!" panggil Chan menangkap tubuh Nara yang terjatuh


Chan segera membawa Nara untuk masuk ke dalam rumahnya dan membaringkan Nara. Ternyata dari pagi kemarin saat bertemu dengan mamanya, dia tidak makan dan minum hingga pagi ini. Karena niatnya ke rumah pamannya untuk menikmati masakan bibi yang dia rindukan. Namun selera makannya hilang karena mamanya.


Chan sungguh panik melihat wajah Nara yang begitu pucat tak berdaya dan matanya yang sembab


"Iya Mika" ucap Chan


"Ada apa Mika?" tanya chan


"Tolong beritahu Nara besok aku akan datang. Tolong ya Chan" ucap Mika memohon


"Baiklah" ucap Chan tersenyum


"Gomawo" ucap Mika memutuskan sambungannya


"besok?" batin Chan memasuki kamar


Di kamar Nara tersadar, dia melihat sekelilingnya yang begitu rapi dan nyaman membuatnya bingung tengah berada dimana.


Chan masuk ke dalam kamar, Nara pun ingat kalau dia sendiri yang datang kemari.


"Nara!" panggil Chan melihat Nara sudah bangun


"Chan" ucap Nara memegang perutnya


"kamu pasti lapar kan?" tanya Chan terkekeh


"___" Nara tersipu malu


"Ayo makan!" ucap Chan mengangkat Nara menuju meja makan


"___" Nara hanya diam dengan wajah yang memerah