You're My First Love

You're My First Love
Mika Tiba di Indonesia



Chan segera mengambilkan makanan untuk Nara.


...----------------...


Sesudah Nara makan, Chan duduk di sampingnya.


"Nara, kamu yakin masih mau melanjutkan pernikahan kita?" tanya Chan sedikit gugup


"Apa maksud Kaka?" tanya Nara menatap Chan


"Aku gak tahan melihat mu semakin disakiti mama kamu" ucap Chan menunduk


"Aku GPP kok kak" ucap Nara memeluk Chan


Nara juga tidak bisa melupakan kejadian kemarin, namun dia berusaha menutupi kesedihannya.


"Kamu tidur yah, aku tidur di kamar sebelah" ucap Chan menggenggam tangan Nara


"mm" Nara mengangguk setuju dan langsung membaringkan tubuhnya


Chan menjaga Nara hingga benar-benar tertidur. Kemudian dia pelan-pelan keluar dari kamar.


keesokan paginya, Nara perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Chan sudah berangkat kerja, dia bangun sangat awal karena banyak yang harus diselesaikan agar tidak mengganggu untuk persiapan pernikahannya.


"Pagi Tante" ucap Nara tersenyum menyapa Bu Sri yang sedang memasak di dapur


"Loh, kamu kenapa keluar nak? kamu di kamar aja, Tante akan membawa makanan buat mu" ucap Bu Sri mengajak Nara ke kamar


"GPP kok Tante, aku udah mendingan" ucap Nara tersenyum


"Nanti Chan bisa marah sama Tante, tadi dia pesan agar kamu jangan banyak gerak dulu nak" ucap Bu Sri mengusap pundak Nara dan mengajaknya untuk duduk


"Emangnya Chan dimana Tante ?" tanya Nara menatap lembut Bu Sri


"Chan kerja nak, dia pergi lebih awal. Katanya agar persiapan pernikahan kalian berjalan dengan lancar" ucap Bu Sri tersenyum


"Begitu ya Tante" ucap Nara tersenyum


"mm, kamu di sini saja duduk, Tante lanjut masak dulu yah" ucap Bu Sri bangkit


"Iya Tante" ucap Nara mengangguk


Beberapa saat kemudian mereka pun makan bersama dengan Bu Dewi. Nara sungguh bahagia karena sikap tulus yang diberikan Bu Dewi dan Bu Sri padanya.


Setelah makan, Nara kembali ke kamar, dia sangat bosan di kamar. Tetapi mau tidak mau itu perintah dari Chan.


Nara mendapat pesan dari Mika, kalau dia akan segera datang ke Indonesia untuk menemuinya. Nara begitu senang karena sahabatnya akan datang menemuinya.


Siang harinya, Bu Sri mengantarkan makanan untuk Nara. Setelah makan Nara berjalan mengelilingi kamar, dia melihat seisi kamar Chan. Ada foto, buku-buku yang tertata rapi, dan juga mainan Chan saat masa kecilnya. Dia begitu bahagia melihat seisi kamar Chan. Dia berjalan menuju balkon kamar, sontak membuatnya kaget karena rumah pamanya terlihat dari balkon.


"Bagaimana bisa" batin Nara begitu kaget


Hingga malam Nara bersantai di sana sambil mendengarkan musik milik chan. Beberapa saat kemudian Chan tiba di rumah dan segera menaiki tangga menuju kamarnya. Karena dia tidak melihat nenek dan mamanya.


"Nara" batin Chan bahagia


"Tebak siapa yang datang" ucap Chan memeluk Nara dari belakang


"Udah pulang kak Chan" ucap Nara tersenyum bahagia


"Udah dong" ucap Chan duduk Nara


"Bagiamana? kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Chan membuka dasinya


"Udah kok" ucap Nara menunduk


"Kenapa?" tanya Chan dan memegang wajah Nara


"Ternyata Rumah paman dan nenek sungguh dekat bila di lihat dari balkon" ucap Nara memandang rumah pamanya


"Iya, dulu aku melihat seorang anak bermain violin di sana" ucap Chan tersenyum


"Ha?" Nara kaget


"Mm.. Dan anak itu sekarang berada di dekatku" ucap Chan terkekeh


"Jadi Kaka melihat ku saat itu" ucap Nara gugup


"__" Chan mengangguk dan menatap Nara


"Aku tahu, kamu pasti terpuruk saat itu" ucap Chan menggenggam tangan Nara



"Mulai saat ini, aku akan melindungi wanitaku" ucap Chan tersenyum tulus


"___" Nara hanya terdiam dan menyandarkan kepalanya pada dada Chan


"Aku akan mengubah kenangan buruk itu menjadi hal yang indah" ucap Chan mengusap lembut kepala Nara


"Aku pasti udah gak ada di dunia ini lagi kalau Kaka tidak menolongku saat itu" ucap Nara meneteskan air matanya


"Tuhan sudah mengatur semuanya Nara" ucap Chan mengusap air mata Nara


"___" Nara mengangguk


......................


Beberapa hari kemudian Chan tidak masuk kantor karena harus mempersiapkan pernikahannya dengan Nara. Nara juga sibuk dengan gaun pengantinnya. Bu Dewi sungguh bahagia karena cucunya akan menikah. Begitu pula dengan Bu Sri, hal yang selama ini dia tunggu-tunggu.



"Chukahae, Nara-ya" (Selamat Nara) ucap Mika tersenyum pada sahabatnya


"Gomawo Chingu" ucap Nara mengusap punggung Mika


"Nara!" panggil Chan menghampirinya


"Iya Chan?" tanya Nara kaget


"Wahh, ada Mika. Apa kabar?" tanya Chan mengulurkan tangannya


"Baik" ucap Mika menjabat tangan Chan


"Ada apa kak?" tanya Nara menatap Chan


"Tidak, nanti saja. Bersenang-senang saja dulu dengan Mika" ucap Chan tersenyum


"I iya kak" ucap Nara tersenyum


"Sampai nanti yah" ucap Chan meninggalkan Nara dan Mika


"__" Nara dan Mika mengangguk


"Dia semakin tampan" bisik Mika terkekeh


"Aaa Chingu" ucap Nara tertawa mendengar bisikan sahabatnya


"Siapa Nara?" tanya Bu Sri menghampiri mereka


"Kenalin dia sahabat Nara, Tante" ucap Nara tersenyum


"Mika, Tante" ucap Mika mengulurkan tangannya


"Kamu sungguh imut Mika" ucap Bu Sri menjabat tangan Mika


"Sapalah neneknya Chan juga, yang ada di sana" ucap Bu Sri tersenyum menunjukkan ibu mertuanya


"Baiklah Tante" ucap Mika tersenyum


"Halo nenek, Aku Mika temannya Nara" ucap Mika tersenyum


"Wahh, kamu cantik sekali nak" ucap Bu Dewi memeluk Mika


"Terimakasih nenek" ucap Mika tersenyum


"Duduk lah, nenek akan membawakan teh untuk kalian" ucap Bu Dewi bahagia


"Tidak perlu repot-repot nenek, aku saja yang ambil" ucap Mika senang


"Ya sudah, nenek ke dalam dulu yah, masih banyak yang harus nenek selesaikan" ucap Bu Dewi menepuk pundak Mika


"Iya nenek" ucap Mika tersenyum


"Nenek dan Tante, sungguh baik" ucap Mika bahagia menatap Nara


"Itulah sebabnya aku nyaman bersama mereka" ucap Nara tersenyum


"MMM, an-ajwo" (MMM, peluk aku) ucap Mika bahagia merentangkan kedua tangannya


"Aishh" ucap Nara terkekeh dan memeluk sahabatnya


Hari sudah malam, mereka semua berkumpul untuk makan malam bersama keluarga dari kedua belah pihak.


Setelah makan mereka berbincang sejenak. Nara yang begitu merindukan pamannya, tidak ingin beranjak dari samping pak David.


"Semoga kamu bahagia Nara" ucap pak David menatap Nara dengan mata yang berkaca-kaca


"Humm, paman" ucap Nara cemberut dan memeluk pamannya


"Jadilah wanita yang lebih kuat lagi" ucap pak David mengusap punggung Nara


"Makasih paman, udah menjadi paman dan papa buat ku" ucap Nara menangis


"Paman juga berterimakasih pada mu Nara, karena kamu sudah menjadi putri bagi paman" ucap pak David juga meneteskan air mata


"Aku bersyukur, punya paman sehebat ini" ucap Nara menatap pamannya


"Hmm, sudah tidak ada lagi air mata." ucap pak David mengusap air mata Nara


"Makasih paman, makasih banyak bibi" ucap Nara menangis meluk lagi pamannya dan bibinya.


Semua orang yang melihat mereka sungguh terharu dengan kedekatan Nara dengan paman dan bibinya.


"Udah kak, jangan menangis lagi" ucap Rudra memeluk Nara


"Adik Kaka" ucap Nara memeluk Rudra


"aku doakan yang terbaik buat Kaka" ucap Rudra mengusap air mata Nara


"Makasih sayang" ucap Nara terharu mengusap kepala Rudra


"Nenek istirahat duluan yah" ucap Bu Dewi pada Chan yang sedari tadi hanya memandangi calon istrinya


"I iya nenek" ucap Chan tersenyum


"Kita istirahat saja yah" ucap Bu Dewi tersenyum