You're My First Love

You're My First Love
Penderitaan yang Lengkap



"Kamu harus membersihkan rumah ini setiap hari dan memasak sarapan untuk ku!" perintah Chan


"___" Nara menahan air matanya


"Mengerti?" tanya Chan


"I Iya, Chan" ucap Nara takut


"Satu lagi, jangan sebut nama ku. panggil saya Tuan" ucap Chan tersenyum miring


"B Baik, Tuan" ucap Nara masih menahan air matanya


"Terserah kamu, mau tidur dimana, asalkan kamu jangan coba, tidur di kamarku" ucap Chan meninggalkan Nara


"Ya,Tuhan. Apa yang terjadi, mengapa suamiku jadi begini? Kenapa kamu tinggalin mama nak?" ucap Nara dalam hatinya dan menangis tersedu-sedu


Nara pun tidur di kamar yang sudah mereka siapkan untuk anaknya. Dia memandangi sekeliling meneteskan air matanya.


"Maafin mama, nak" ucap Nara memeluk baju anaknya


"Kami bersyukur selama ini, kamu udah menemani mama" ucap Nara menangis


Setiap malam Nara tidur di sana, dia benar-benar bingung dengan suaminya. Hingga dia menemui dokter yang menangani mereka.


"Pagi,Dok" ucap Nara tersenyum membuka pintu


"Pagi, Bu Nara. Silahkan duduk" ucap dokter tersenyum


"Ada apa, Bu?" tanya dokter



Ini adalah dokter Yuda yang menangani Chan dan Nara.


"Saya mau bertanya, Dok. Suami saya tidak mengenali wajah saya sekarang" ucap Nara menahan air matanya


"Hmm. Iya Bu. Itu benar adanya" ucap dokter


"Apa yang terjadi padanya, Dokter" ucap Nara sedih


"Ibu, arus kuat mendengarnya yah" ucap dokter


"Saya siap dokter" ucap Nara mengangguk


"Sebenarnya, Bapak mengalami amnesia hanya pada ibu dan orang-orang yang baru di kenalnya 5 tahun terakhir"


"A apa, Dok?" tanya Nara gemetar


"Iya Bu. Saya sarankan ibu sabar untuk mengingatkan kenangan bersama suami, ibu" ucap Dokter menatap Nara


"Ya Tuhan" ucap Nara menangis


"Ibu harus kuat" ucap dokter mengerti keadaan Nara


Beberapa saat kemudian, Nara keluar dari ruangan Dokter. Dia sangat sedih hingga terjatuh di lantai.


"Bagaimana ini bisa terjadi pada ku?" batin Nara


"Mengapa begitu sulit? Anak ku meninggalkan ku. Suami ku tidak mengingat ku" batin Nara menangis


Dia pun kembali kerumah dengan hati yang hancur. Chan telah berada di rumah sebelum Nara datang.


"Dari mana saja?" tanya Chan menaikkan alisnya


"A aku dari luar sebentar" ucap Nara menunduk


"Sebentar? aku udah di rumah dari tadi siang" ucap Chan menatap curiga Nara


"Maaf, Tuan" ucap Nara menunduk


"Aku lapar. Mana makanannya?" tanya Chan kesal


"I iya, Tuan. Aku masak dulu" ucap Nara sedih


"Selain melupakanku, Chan juga lebih sensitif sekarang" batin Nara sambil mulai memasak


Setelah selesai, Nara kemudian membuatkan makanan untuk suaminya.


"Sudah, Tuan" ucap Nara menghampiri Chan di ruang kerjanya


"Lama banget" ucap Chan kesal


 


"Sepertinya aku pernah merasakan masakan ini" batin Chan


"Hei, kamu kemari lah" ucap Chan pada Nara yang sedang membereskan dapur


"Ada apa Tuan?" tanya Nara menghampiri Chan


"Masakan kamu tidak enak" ucap Chan berbohong


"A apa Tuan?" ucap Nara langsung mencicipi masakannya


"Rasanya tidak asing kok, Tuan" ucap Nara


"Tidak asing? kalau begitu kamu saja yang menghabiskan semua ini" ucap Chan meninggalkan Nara


"Ada apa lagi ini?" batin Nara


Dia pun makan masakannya, setelah itu membersihkan meja lalu pergi ke kamar anaknya.


"Nak, mama tidak sanggup" ucap Nara menangis


Nara mengambil violin miliknya dan memainkannya. Dia berusaha menghibur dirinya, Namun Chan mendengarnya hingga dia merasa pusing.


"Aaa" teriak Chan menghentikan violinnya Nara


"Chan" ucap Nara segera menghampiri kamar suaminya


"Ada apa, Tuan?" tanya Nara memegang kedua lengan suaminya


"Ada apa, Chan?" tanya Nara tidak sadar


"Kamu ingin membuat saya celaka?" tanya Chan memegang kepalanya


"Apa maksud, Tuan ? tanya Nara Sedih


"Keluar!" perintah Chan


"Ta Tapi, Tuan_"


"Cepat!!" ucap Chan marah memotong pembicaraan Nara


Nara pun keluar dari sana, dia pun menangis sejadi-jadinya di kamar anaknya.


"Mama harus bagaimana, na?" tanya Nara sambil menangis hingga tertidur


Pagi harinya Nara sudah menyiapkan pakaian dan sarapan untuk suaminya.


"Pagi, Tuan" ucap Nara tersenyum


"Tumben wajah kamu semangat" ucap Chan duduk untuk sarapan


"Pakai ini untuk belanja" ucap Chan memberikan kartu dengan mata datar


"Baik, Tuan" ucap Nara tersenyum


"Kamu jangan tersenyum begitu. Itu tidak akan membuat saya tertarik dengan kamu" ucap Chan dan makan


Setelah makan, Chan pergi ke kantor. Nara hanya bisa bertindak sebagai pembantu di rumahnya sendiri saat ini.


"Suatu saat kamu pasti mengingat ku Chan" ucap Nara tersenyum


................


Di Korea, Khan dan Mika sudah sudah bertemu dengan orang tuanya. Mereka telah membicarakan pernikahan. Namun Chan meminta tolong pada calon mertuanya, agar pernikahan mereka diadakan Ahun depan saja. Karena adiknya masih berduka saat ini.


Orang tua Mika pun mengerti keadaan Nara dan setuju kalau mereka akan menikah tahun depan. Terlebih lagi, Nara sudah seperti putri mereka karena persahabatan dengan Mika.


Mika dan Khan kembali ke Indonesia karena Khan juga harus bekerja. Setibanya di Indonesia, Mika segera ke rumah Chan. dan Khan segera bekerja.


"Nara-ya" panggil mika mengetuk pintu


"Jung Mika" ucap Nara bahagia melihat sahabatnya


"Chingu" ucap Mika memeluk Nara


"Ottoke? Gwenchana?" tanya Mika menatap sahabatnya


"Hmm, Gwenchana" ucap Nara tersenyum


"Kajja"(Ayo) ucap Mika menarik tangan Nara


"Odi e?" (kemana?) tanya Nara kaget


"Ayolah" ucap Mika


"Arrasseo, Jamkkanman" (baiklah, tunggu sebentar)" ucap Nara mengambil tas nya


"Kajja" ucap Nara tersenyum


Mereka pun pergi ke mall untuk berkeliling dan membeli beberapa keperluan.


"Nara-ya" panggil Mika melihat seseorang


"ne?"( iya?) tanya Nara melihat sahabatnya


"Omo" ucap Mika melihat kemesraan Chan dengan seseorang


"Wae?"tanya Nara melihat Mika dan melihat pandangan sahabatnya itu


"Astaga" ucap Nara menutup mulutnya


Chan sedang memilih pakaian bersama dengan seorang wanita. Mereka tampak saling tertarik satu sama lain. Hingga Nara dan Mika yang melihatnya sangat kaget.


"Nara-ya, Andwe" (Tidak bisa,Nara) ucap mika memegang tangan sahabatnya


"Nara-ya, hajima" (jangan lakukan itu, Nara) cegah Mika


"Mianhe" (maaf) ucap Nara meredakan amarahnya


"Kajja" ucap Mika menarik tangan Nara keluar dari mall


"Nappeun nom" ( Dasar jahat) ucap Nara duduk di taman dan menangis


"___" Mika juga ikut sedih melihat sahabatnya


Nara memberi tahu pada Mika, kalau Chan tidak mengingatnya. Mika begitu kaget mendengarnya.


Mereka pun kembali ke rumah Chan. Mika pamit pulang ke apartemennya.


Malam harinya Chan balik dalam keadaan mabuk. Diantar oleh sekretarisnya, Felix. Nara begitu ingin marah pada suaminya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku pasti kuat" batin Nara


"Tuan, perlu bantuan?" tanya Nara Menghampiri Chan


"Buka sepatu ku" ucap Chan memberikan kakinya


"Baik" ucap Nara melepaskan sepatu Chan


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Chan mabuk


"T tidak Tuan" ucap Nara bangkit dan menyimpan sepatu suaminya


"Bawakan saya ke kamar!" perintah Chan marah


"Baik, Tuan" ucap Nara tersenyum