
Chan memarkirkan mobilnya dan turun menemui Khan. Haris dan Yunita pun segera keluar dari mobil dan menghampiri kakanya.
Khan terlihat sangat panik dan tidak bisa berpikir jernih. Yunita akhirnya bisa melihat kakanya lagi, namun dengan kondisi yang seperti ini membuat hatinya teriris.
"Bagaimana, kak?" tanya Chan
"Aku menemukan hp dan tasnya di sini" Ucap Khan mengusap wajahnya
"Ada apa Chan?" tanya Haris
"Mika istri kak Khan menghilang di tempat ini" ucap Chan mencoba mencari informasi dadi hpnya
"Apa?? Mika menghilangkan?" batin Yunita
"Apa ini salah satu rencana pak Bram?" batinnya
"Kak, mari bicara sebentar" ucap Yunita
"Ada apa, Yun?" tanya Haris saat sudah menjauh dari Khan dan Chan
"Bisa saja ini salah satu rencana pak Bram dan yang lainnya yang tidak kita ketahui" ucap Yunita panik
"Benar juga, Yun. Tapi kita tidak pernah mengira kalau Kaka ipar kamu juga salah satu target mereka" ucap Haris memegang dagunya
"Kalau begitu kita tahu dimana keberadaan nya" ucap Haris
"Apakah mereka akan membawa Mika ke sana pula?" tanya Yunita
"Sepertinya begitu" ucap Haris mengangguk
"Kalau begitu, ayok kak tunggu apa lagi" ucap Yunita terburu-buru
"Yun, kamu tenang dulu yah. Kalau kamu panik berlebihan seperti ini. Kita bakalan ketahuan, aku harap kamu tetap menjaga rencana kita" ucap Haris menggenggam tangan Yunita
"Huh .. Maaf, kak Haris" ucap Yunita menarik nafasnya
"___" Haris tersenyum
Haris dan Yunita pun menghampiri Chan dan Khan yang begitu panik dan tidak tahu harus mencarinya kemana. Haris pun memberi tahu mereka agar mengikutinya. Namun Khan tidak percaya dengan omongan Haris. Chan juga tidak percaya, orang yang baru dikenalnya tadi akan menunjukkan jalan.
"Percaya gak percaya, ikuti saja aku" ucap Haris
"Chan, sebenarnya siapa dia?" tanya Khan
"Sekarang aku gak perlu menjelaskan siapa diriku. Yang terpenting sekarang kita harus menyelamatkan Mika" ucap Haris
"Kita ikuti saja Haris, kak" ucap Chan mengangguk
"Baiklah" ucap Khan pasrah
"Kak Khan" batin Yunita
Mereka pun menuju tempat dimana Mika ditahan oleh pak Bram dengan antek-anteknya. Di mobil Haris dan Yunita telah memberitahu pasukannya untuk menuju tempat itu pula. Yunita hanya bisa berdoa agar sahabatnya itu benar-benar ada di sana dan tidak terjadi apa-apa dengannya.
Tak lama kemudian pasukan Haris telah mengintai di berbagai sudut tempat pak Bram berada. Salah satu pasukan mereka memastikan seorang wanita disekap di tempat itu. Hal itu diberitahukan pada Haris, oleh kepala pasukan.
"Baik, terimakasih. Tetaplah berjaga hingga saya tiba di sana" ucap Haris
"Baik, pak" ucap kepala pasukan
"Aku rasa itu benar Mika" ucap Haris
"Semoga saja Mika baik-baik saja" ucap Yunita dengan mata yang berkaca-kaca
Beberapa saat kemudian, mobil Haris berhenti dan menghentikan mobil Chan pula. Haris yang sudah menguasai lokasi itu, sengaja berhenti jauh dari Cctv-nya. Haris turun dan menghampiri Chan.
"Aku yakin, Mika ada di sini" ucap Haris
"Lalu bagaimana kita bisa menyelamatkan Mika?" tanya Khan
"Kita tenang saja dulu, biar pasukan ku yang menanganinya. Ada saatnya mereka mendekat" Ucap Haris mengeluarkan hp dari kantongnya
"Apa semua sudah siap?" tanya Haris pada pasukan
"Siap, pak. Mereka tidak menyadari keberadaan kami" ucap kepala pasukan
"Kalau begitu laksanakan!" perintah Haris
"Baik, pak" ucapnya memutuskan sambungan
Mereka pun menunggu kabar dari pasukan yang tengah melawan anak buah pak Bram. Beberapa saat kemudian, anak buah pak Bram kalah karena jumlah mereka tidak banyak. Kepala pasukan pun memberi kode agar Haris segera membawa Mika keluar dari sana.
"Saatnya kita bergerak" ucap Haris namun seketika langkahnya terhenti
"Kak" ucap Yunita menarik tangan Haris agak menjauh dari kakanya
"Maaf, Yun. Mungkin ini saatnya kita bermain" ucap Haris
"Tapi, kak. Kita masih__"
"Kita pasti bisa, Yun. Mungkin ini saatnya kita menunjukkan keberadaan kita"
"Engga kak, Aku belum bisa" ucap Yunita
"Khan, Chan. Maaf-maaf kami tidak bisa ikut dengan kalian. Kami hanya akan menunggu di sini saja" ucap Haris mengusap kasar wajahnya
"Baiklah, Haris" ucap Chan mengangguk
Haris dan Yunita hanya menunggu di mobil. Sementara Khan dan Chan telah masuk kedalam. Mika telah di bebaskan oleh pasukan Haris. Pak Bram ternyata telah mengintai mereka dari Cctv-nya. Pak Bram menyadari sejak kedatangan Yunita. Banyak kejanggalan-kejanggalan yang ditemukan.
"Mengapa Yunita tidak datang? Siapa dia sebenarnya?" batin pak Bram
"Aku yakin, dia dekat dengan Chan" ucap pak Bram mengusap wajahnya
"Siapa pun yang dekat dengan Chan pasti Yunita mengenalnya. Namun dia tidak menunjukkan dirinya" Ucap pak Bram
"Mungkin dugaan bapak salah. Yunita bukan siapa-siapa, dia hanya anak dari konglomerat" ucap tangan kanannya
Pak Bram dan antek-anteknya sengaja memasang jebakan dengan menyekap Mika agar Yunita datang menghadap mereka. Karena kecurigaan pak Bram saat Yunita menatap pak David dan menatap Bu Angraini saat itu. Dan pula melihat Haris, Yunita dan Chan bersama di kafe tadi siang.
"Tidak mungkin dugaan ku melesat" ucap pak Bram masih curiga
"Siapa dia?" batin pak Bram
"Lalu, siapa yang menggerakkan pasukan elit ini" ucap pak Bram
"Saya juga sedang mencari tahu pak" ucap tangan kanannya mencari informasi dari komputer yang sedang dikotak+katik.
"Hah, rencana kita sia-sia" ucap pak Bram memukul meja
Khan dan Chan membawa Mika keluar dari gedung itu. Haris dan Yunita menghampiri mereka dan membawanya menjauh dari gedung itu. Beberapa jam kemudian mereka telah tiba di Rumah Khan.
"Mika" teriak Bu Wulanra melihat kedatangan anak dan menantunya
"Mama" batin Yunita menatap Bu Wulanra
"Kenapa bisa begini?" tanya Bu Wulanra
"Tenang, mah" ucap Chan menenangkan mertuanya
"___" Yunita kaget melihat kedekatan Chan dengan mamanya
Chan membuat teh untuk mereka, sedangkan Yunita menemani Mika di kamar. Bu Wulanra duduk bersama Haris dan Khan.
"Kita minum dulu" ucap Chan meletakkan teh di atas meja
"Haris, kalau bukan karena bantuan mu. Kak Mika pasti sudah celaka" ucap Chan dengan wajah pucat
"Maaf, Haris. Aku tidak mempercayai mu tadi" ucap Khan menunduk
"Makasih" ucapnya meneteskan air mata
"GPP kok, Jika aku di posisi kalian. Aku juga akan melakukan hal yang sama" ucap Haris tersenyum
Yunita menemani Mika yang tengah terbaring di kamarnya. Yunita sangat merindukan sahabat itu. Yunita bahagia kakanya begitu mencintai Mika dan begitu mencemaskan nya.
"Nama kamu Yunita kan?" tanya Khan dari pintu kamar
"I iya, kak" ucap Yunita
"Makasih yah" ucap Khan tersenyum haru
"Engga, kak. Aku gak melakukan apa-apa" ucap Yunita berdiri
"Yun!" panggil Haris
"Maaf, kak. Aku permisi" ucap Yunita tersenyum
"__" Khan mengangguk
"Iya, kak?" tanya Yunita berjalan ke ruang tamu
"Bagaimana? kita pulang?" tanya Haris
"Iya, kak" ucap Yunita
"Kami pulang dulu ya, Chan. Makasih tehnya" ucap Haris tersenyum
"Harusnya aku yang bilang makasih, Haris" ucap Chan
"Lain kali ajak aku minum" ucap Haris tersenyum
"Haha, iya iya aku akan mengingatnya" ucap Chan tertawa
Yunita ingin sekali memeluk Chan namun tidak mungkin baginya. Yunita pun hanya bisa menundukkan kepalanya saat bersama Chan. Haris dan Yunita pun kembali ke rumah. Haris peka terhadap perasaan Yunita, namun pula tidak bisa berbuat apa-apa.
Bersambung....