You're My First Love

You're My First Love
Kepalsuan Bu Wulanra



Angraini sangat lega dengan Nara. Karena Nara tidak lagi seperti yang kemarin-kemarin. Yang hanya memasang muka datar, kaku dan tatapan matanya yang kosong.


"Mas, aku bersyukur banget Nara sudah mulai kembali tersenyum. Aku takut banget mas, kalau Nara akan meninggalkan rumah ini tanpa sepengetahuan kita."ujar Anggraini


"Mas juga senang, Nara ada perubahan. Semoga dia menjadi dirinya yang dulu lagi." Ucap David memeluk istrinya


"Mas, kita tidur yok, udah ngantuk juga"


"Ayok sayang" ucap David yang langsung mengangkat istrinya


Mereka berdua masuk ke kamar. Sedangkan Nara kembali ke meja makan, dia melihat bibi dan pamannya sudah tidak lagi di sana. Dia langsung mengambil camilan yang di simpan bibinya di lemari. Dan membawa cemilan juga air putih ke dalam kamarnya.


Di kamar Nara menulis catatan hariannya. Dia tersenyum saat menulis Chan menolongnya dalam buku catatan nya.


Nara mencomot cemilannya memasukkan ke dalam mulut, dan kembali menulis.


Di sisi lain Chan terbaring di kasur yang kemudian terlelap. Bu Dewi masuk ke dalam kamar Chan. Dia merasa sangat kasihan pada cucunya itu. Dengan lembut Bu Dewi mengusap kepala Chan yang sudah tertidur.


"Apa yang harus nenek lakukan nak?Nenek sebenarnya ingin memberitahumu, tetapi papa mu tidak ingin membuat mu dan mamamu kehilangan yang amat dalam"


"Nenek yakin suatu saat kamu akan mengerti maksud papa kamu nak" ucap Bu Dewi pelan dan meneteskan air mata.


Bu Dewi mengusap air matanya dan mencium kening cucu nya itu. Kemudian meninggalkan kamar Chan.


Di rumah Bu Wulanra, Khan pulang dan melihat mamanya sudah tertidur. Dia menyelimuti Bu Wulanra. Khan sangat lelah dengan urusannya, dia juga ingin segera beristirahat. Beberapa saat dia meninggalkan kamar Bu Wulanra, menuju kamarnya. Khan membersihkan dirinya dan sudah siap untuk tidur. Dia langsung menjatuhkan badannya ke atas kasur.


"Huhhh lelah" ucapnya memejamkan mata


Khan tiba-tiba membuka matanya, dia lupa untuk melihat adiknya Nara. Dia bergegas keluar dari kamarnya dan berlari kecil menuju kamar Nara. Namun apa yang dia lihat. Dia tidak melihat apa pun di sana. Nara dan barang-barang tidak ada di kamar. Matanya melebar karena heran.


"Naraa, tidak ada di kamarnya. Lalu kemana perginya Nara dengan barang-barang nya?" Batin Khan bingung


Keesokan harinya Khan sengaja bangun lebih awal, dia ingin segera mananyakan keberadaan Nara pada Bu Wulanra sebelum mamanya pergi untuk bertemu teman-temannya.



Ini Khan kakanya Nara


"Pagi mah.."


"Pagi sayang" ucap Bu Wulanra kaget


"___" Khan hanya tersenyum


"Tadi malam kamu nyampe rumah Khan?"


"Iya mah"


"Kenapa tidak bangunin mama?"


"Mama pasti kelelahan" ucap Khan memegang tangan Bu Wulanra


"Iya ini mama udah mau mandi dulu, nanti teman mama menunggu lama kalau mama tidak langsung bersiap-siap" ucap Bu Wulanra mengangkat alisnya


"Iya sudah mah"


"____" Bu Wulanra seketika gugup, dia yakin Khan ingin menanyakan keberadaan Nara


"Mahh"


"I iya sayang?" Ucap Bu Wulanra semakin gugup


"Nara tidak ada di rumah, Khan lihat kamarnya juga kosong. Nara dimana mah?" Tanya Khan menatap mamanya


"N Nara? Mm Nara ada di rumah bibimu, kemarin dia ingin berlibur di sana, jadi dia membawa beberapa barangnya. Barang yang lain, mama pindahin dulu ke gudang. Mama ingin mendekorasi ulang kamar Nara agar dia tidak bosan" ucap Bu Wulanra mengangkat kedua alisnya mencoba menyembunyikan kebenaran dari anaknya


"Ohh, begitu ya mah" ucap Khan lega


"I iya sayang" ucap Bu Wulanra sedikit lebih tenang


"Mah, Nara itu anak yang penurut. jangan sampai mama berbuat kasar padanya" ucap Khan menyeruput tehnya


"iya sayang, mama gak akan macam-macam sama Nara, kamu tenang aja, fokus aja sama masa depanmu. Adik mu biar mama yang urus" ucap Bu Wulanra dengan wajah liciknya


"bagaimana kalau Nara ikut dengan aku aja mah?" tanya Khan mengungkapkan idenya


"Ya ampun Khan, kamu fokus aja sama pendidikan mu, itu lebih penting. kamu gak percaya sama mama?" tanya Bu Wulanra sedikit kesal


"Sudah biar mama yang urus!" ucap Bu Wulanra meninggalkan khan


Khan percaya dengan ucapan Bu Wulanra. Dia sama sekali tidak berfikir buruk pada mamanya. Padahal kenyataannya Bu Wulanra menutupi kebenaran. Khan menghabiskan waktunya merilekskan tubuh dan pikiran di dalam kamar yang di temani rekaman violin adiknya. Dia sangat menikmati nada demi nada yang diputarkan ya.


Di rumah David, Anggraini mengajak Nara untuk berjalan-jalan. Nara tidak ingin menolak tawaran bibinya. Mereka berjalan perlahan sambil menikmati udara segar di taman Komplek perumahan. Nara dan bibinya kemudian duduk di kursi taman.


"Nara, kamu sudah memikirkan kemana kamu akan melanjut SMA?" Tanya bibi menatap Nara


"Belum bibi, Nara belum memikirkannya." Ucap Nara mengulum bibinya


Anggraini ingin Nara menjadi orang yang sukses saat sudah dewasa. Dia menyarankan Nara untuk sekolah musik karena bibinya tahu Nara sangat menyukai musik.


"Nara, mm bagaimana kalau kamu mendalami musik?" Tanya Anggraini menaikan alisnya dan tersenyum


"Mm.. Nara juga ingin Bi, tapi biaya ke sana sangat besar. Aku tak ingin membebani bibi dan paman." Ucap Nara memandang bibinya


"Nara, kamu tidak perlu memikirkan biaya, karna bibi yakin kamu akan menjadi bintang, bibi akan bicara dengan pamanmu." Ucap Anggraini mengelus kepala Nara dan tersenyum


"Tapi Bi___"


"Bibi percaya sama kamu Nara, kamu tidak akan mengecewakan bibi" ucap Anggraini memotong pembicaraan Nara


"Iya bibi, Nara akan pikirkan" ucap Nara tersenyum tipis


"Hmm" Anggraini menarik nafas lega


"Terimakasih kasih bibi" ucap Nara yang langsung memeluk bibinya


"Ouhhh, Nara sayang"ucap Anggraini kaget karena tiba-tiba di peluk ponakannya


"Kita pulang sekarang bibi?" Ucap Nara memegang tangan Anggraini


"Iya Nara, bibi juga ingin ke salon" ucap Anggraini langsung berdiri


Mereka kembali ke rumah. Nara akan ke danau,dia ingin bertemu dengan Chan, karena mereka sudah berjanji setelah makan siang bertemu di danau. sedangkan Anggraini akan ke salon miliknya. Dia mempunyai salon yang cukup besar di kotanya. Sesekali dia mendatangi salon, untuk mengecek keadaan di sana. Anggraini kemudian memesankan Nara agar tidak meninggalkan rumah lama-lama. Karna Anggraini tahu Nara akan bertemu seseorang. Terlihat jelas di matanya, tak heran bibinya langsung mengetahui niat ponakannya itu.


Nara meninggalkan rumah dan berjalan menuju danau. Di danau sudah ada Chan menunggunya.


"Kak Chan" panggil Nara tersenyum


"Haii Nara" ucap Chan membalikkan badannya


"Sudah lama kak?" Tanya Nara berjalan mendekati Chan


"Mm belum"


"Syukurlah, Kaka tidak menunggu terlalu lama" ucap Nara duduk di samping Chan


"Nara"


"Iyah kak?" Tanya Nara melihat wajah Chan


"Kamu kan sudah tamat SMP, kamu akan SMA di mana?"


"Mm.. Nara masih bingung. Tetapi bibi menyarankan Nara mendalami musik" ucap Nara memandangi danau


"Musik?"


"Iya kak. Bibi tahu Nara suka bermain alat musik"


"Begitu yah" ucap Khan mengangguk


"Iya kak. Kaka akan kuliah di mana?" Tanya Nara balik


"Di luar negeri" ucap Chan


"Humm.. jauhh banget kak" ucap Nara mengulumkan bibirnya


"Iya Nara, tapi Kaka ingin kita bertemu lagi kalau kita sudah dewasa" ucap Khan tersenyum


"Apaan sih kak, bikin baper" ucap Nara dengan wajah seperti kepiting rebus


"Hahah.. kamu lucu banget Nara" ucap Chan mencubit lembut hidung Nara


"___" Nara tersipu malu