You're My First Love

You're My First Love
Ancaman pak Abbas



"Kamu ganti baju dulu Chan, Tante bawakan baju paman Nara" ucap Bu Angraini memberikan pakaian pada Chan


"Terimakasih Tante" ucap Chan tersenyum


Chan pun segera mengganti pakaiannya. Dan kembali menghampiri Bu Anggraini dan Nara.


"Bajunya cocok Chan" ucap Anggraini bahagia


"Hehe" tawa Chan bahagia


ke esokan harinya Nara membuka matanya. Dia melihat Chan telah tertidur di dekatnya, senyuman pun muncul di wajah cantiknya itu.


Dia membelai rambut Chan dan tiba-tiba kaget karena Chan langsung mengangkat kepalanya.


"Nara! syukurlah kamu sudah sadar" ucap Chan tersenyum bahagia


"Makasih kak, udah menemani Nara" ucapnya memegang tangan Chan


"Apa sih" ucap Chan mengusap rambut Nara


"Nara!" panggil Bu Anggraini masuk dan menghampirinya


"Bibi" ucap nya tersenyum


"Terimakasih Tuhan" ucap Bu Angraini memeluk Nara


Bu Anggraini sungguh bahagia melihat Nara telah sadar, begitu pula dengan Chan. Chan yang selalu sabar menemani Nara membuat Bu Anggraini lebih bahagia.


Beberapa hari kemudian, Nara telah diizinkan meninggalkan rumah sakit. Chan dengan senang hati mengurus semua keperluan Nara.


"Terimakasih Chan" ucap Anggraini


"Sama-sama Tante" ucap Chan tersenyum


"Makasih banyak ya kak" ucap Nara yang tengah duduk di sofa


"Iya Nara" ucap Chan melebarkan senyumannya


Mereka pun diizinkan Bu Anggraini untuk bersama, Chan dan Nara sudah diketahui telah berpacaran. Bu Dewi dan Bu Sri juga bahagia melihat mereka. Namun Yolanda selalu menjadi penghalang kebahagian Nara dan Chan.


Suatu hari, Chan dan Nara telah berjanji untuk bertemu di sebuah kafe. Nara telah menunggu lebih dari 2 jam namun Chan tidak datang juga. Dia mencoba menghubungi dan mengirim pesan pada Chan namun tidak ada responnya. Namun Nara tetap menunggu berharap dia segera bertemu dengan Chan.


Saat sedang menunggu, seseorang datang menghampirinya.


"Nara?" Tanya pak Abbas papa dari Yolanda


"Iya pak, ada apa?" tanya Nara bingung


"Hmm, saya langsung ke intinya saja" ucap pak Abbas langsung duduk


"Ada apa pak?" tanya Nara sedikit gugup


"Saya papa Yolanda, mungkin kau dan Chan saling mencintai, tapi saya harap kamu tidak jadi penghalang dalam pernikahan putri saya" ucap pak Abbas dengan nada marah


"Maksud bapak?" tanya Nara sedikit sedih


"Jauhi Chan, jangan sampai kamu berani bersama Chan lagi. Minggu depan dia akan sah menjadi menantu saya. Karena mereka akan menikah. Kalau kau masih berhubungan dengan Chan, itu hanya membahayakan nyawa Chan." ucap pak Abbas mengancam Nara


"Bapak tidak berhak melarang kami bersama" ucap Nara tersenyum


"Berhak atau tidak, kau lihat saja kalau Chan akan berada dalam bahaya jika dia masih bersama mu" ucap pak Abbas tersenyum miring


"___" Nara ingin sekali menangis namun dia berusaha tegar


"Camkan omongan saya" ucap pak Abbas menatap tajam mata Nara dan mencekiknya


"A a a" ucap Nara yang di cekik oleh pak Abbas


"kalau kamu masih berani, saya akan menyakiti paman dan bibimu" ucap pak Abbas melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Nara


"Huhhh" ucap Nara membuang nafasnya


"Kak Chan, kamu di mana?" batin Nara dan meneteskan air matanya


Dia pun keluar dari kafe dan pergi ke apartemennya. Dia sangat kesal pada pak Abbas yang mengancamnya tadi. Nara membawakan minuman untuknya, dan berusaha menenangkan dirinya dengan minuman yang beralkohol di sana.


Chan datang ke apartemennya dan menekan bel nya, tapi Nara tidak peduli siapa yang ada di luar. Nara hanya meneguk minumannya, Chan terpaksa menekan sandi di pintu Nara. Dia pun masuk dan melihat Nara yang sangat frustasi.


"Nara!" panggil Chan mendekatinya


"Maaf Nara sudah membuatmu menunggu, tadi aku terpaksa harus mengikuti rapat" ucap Chan mencoba menjelaskan pada Nara


"Nara! sudah cukup" ucap Chan menarik botol minuman dari tangan Nara


"____" Nara menatap mata Chan dengan tatapan penuh kebencian


"Cukup Nara" ucap Chan meletakkan botol minumannya


"Kamu bisa marah sama ku Nara. Tapi tolong jangan begini" ucap Chan memeluk Nara


"Lepasin aku" ucap Nara memejamkan matanya


"Aku gak akan lepasin sebelum kamu berhenti minum" ucap Chan mengeratkan pelukannya


"Lepas!" ucap Nara melemparkan botol yang ada di tangannya


Chan sangat kaget melihat perlakuan Nara padanya. Dia pun melepaskan pelukannya.


"Keluar!" perintah Nara dengan marah


"Maafin aku Nara" ucap Chan menundukkan kepalanya


"Keluar!" teriak Nara frustasi


"Baik, Kaka akan keluar tapi kamu janji kamu gak akan terluka" ucap Chan menenangkan Nara


"___" Nara menghelai nafas panjang dan segera menyeret Chan keluar


"Pergi!" ucap Nara menutup pintunya


Dia pun menangis dan terjatuh ke lantai. Sebenarnya dia tidak tega melakukan itu pada Chan, namun untuk melindungi Chan dia harus bisa melakukannya.


"Maafin aku kak" ucap Nara menangis


"Nara, Kaka gak akan pergi dari sini, sebelum kita bicara baik" ucap Chan mengetuk pintu


"Maafin aku kak Chan" batinnya menangis


Keesokan harinya Chan masih berada di luar. Nara belum juga terbangun, Chan pun terpaksa memasukkan sandi dan masuk ke apartemennya Nara. Dia membersihkan botol yang pecah tadi malam. Sesudah itu Chan menyelimuti Nara yang masih tertidur dan keluar dari apartemen.


Dia pun kembali ke rumah dan mengganti pakaiannya. Tidak ada semangat, di wajahnya hanya terlihat kesedihan. Di kantor dia pun tidak seperti biasanya, hanya duduk dan merenung. Chan mencoba menghubungi Nara, namun tidak diangkat.



Chan sedang memikirkan Nara.


Di apartemen Nara terbangun dan melihat sekelilingnya telah bersih, di atas meja Nara menemukan catatan yang di tulis Chan sebelum dia pergi. "Maaf Nara. Kaka tidak bermaksud untuk mengabaikan mu" . Itulah isi catatan kecil yang di tinggalkan Chan. Nara memikirkan Chan, dia sangat takut jika Chan akan berada dalam bahaya. Nara menyusun pakaiannya ke dalam koper, setelah itu dia mampir ke rumah pamannya dan Bu Dewi. Dia akan pergi ke Korea setelah itu.


Di rumah pak David, Nara bertemu dengan mamanya.


"Nara" ucap Bu Wulanra melihat kedatangan Nara


"Bibi, Nara pamit dulu yah" ucapnya tanpa merespon mamanya


"Kamu sudah mau pergi nak?" tanya Bu Angraini memeluk Nara


"Iya bibi, bibi sehat-sehat yah. Nara akan kembali ke sini jika waktunya telah tiba." ucap Nara tersenyum


"Naik sayang, jaga diri kamu baik-baik ya" ucap Bu Angraini mengusap kepala Nara


"Iya bibi. Bibi sampaikan salam Nara buat paman dan Rudra ya bibi" ucap Nara meninggalkan mereka


"Nara, mama minta maaf nak" ucap Bu Wulanra memegang tangan Nara


"Nara buru-buru. Permisi" ucapnya melepaskan tangan mamanya


"Nara" ucap Bu Wulanra menangis


Nara pergi meninggalkan rumah pamannya, dia sebenarnya tak Inging mengabaikan mamanya, namun sakit yang dirasakan belum terobati. Nara menghubungi Khan dan memintanya bertemu. Setelah itu Nara pergi ke rumah Bu Dewi untuk berpamitan.


"Kamu harus pergi Nara?" tanya Bu Dewi sedih


"Iya nenek, nenek harus tetap sehat yah" ucap Nara memeluk Bu Dewi


"Nara maafin Tante yah, Tante gak bisa mencegah pernikahan Chan" ucap Bu Sri memegang tangan Nara


"Nara permisi dulu Tante, nenek" ucapnya meninggalkan rumah Bu Dewi


Bu Dewi sangat merasa sedih karena Nara harus pergi. Bu Dewi sangat setuju kalau Nara yang menikah dengan cucunya, namun hal itu di luar kendali mereka.


Khan tiba di tempat yang sudah di janjikan ya dengan adiknya. Tak lama kemudian Nara juga Tiba.


"Kak, Nara harus pergi. Kaka tetap semangat yah" ucap Nara memeluk kakanya


"Kamu juga ya dek, Kaka akan berkunjung jika da waktu" ucap Khan meneteskan air matanya


"Nara pergi ya kak" ucap Nara memegang tangan Khan


"Hati-hati ya dek" ucap Chan memasukkan koper Nara ke dalam Taksi


Nara berangkat ke bandara, dia sangat sedih namun itu hal yang harus di lakukan ya untuk bisa jauh dari Chan.