You're My First Love

You're My First Love
Lupa Istri



Sesampainya di rumah, Chan segera menuju kamarnya, saat menaiki tangga, dia kaget dengan foto pernikahannya yang lumayan besar ukurannya.


"Apa ini?" ucap Chan mengerutkan keningnya


"Sejak kapan aku menikah?" tanyanya lagi


"Siapa dia? kenapa dia begitu cantik?" tanyanya pula


"Uhh, lupain aja. Aku udah telat" ucapnya melanjutkan langkahnya


"Hah? kenapa di sini ada pakaian wanita?" tanya Chan kaget


"Astaga. Siapa sebenarnya wanita itu, apakah benar dia istriku? tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" tanya Chan memejamkan matanya


"Jika benar dia istriku, mengapa dia tidak ada di dekatku saat aku di rawat" ucap Chan tidak ingin berfikir panjang


Beberapa saat, Chan keluar dari rumah. Dia melajukan mobilnya menuju kantornya.


Di perjalanan dia hanya memikirkan hal-hal yang akan di kerjakan ya di kantor.


Setibanya di kantor, seperti biasa dia di sambut oleh karyawan nya. Dia pun bekerja seperti biasanya.


Khan terpaksa meninggalkan adiknya, karena perjanjiannya dengan orang tua Mika akan mengunjungi mereka.


"Bibi, Tante, nenek. Tolong jaga Nara ya" ucap Khan tidak tega


"Iya, Khan. Kalian pergi lah" ucap Bu Sri tersenyum


"Makasih banyak, Tante" ucap Chan memeluk mereka bertiga


"Kalian hati-hati, Khan" ucap Bu Dewi memeluk Mika dan Khan


"Iya nenek, kami pamit dulu" ucap Mika berpamitan pada mereka


Setelah itu, Khan dan mika pun berangkat ke bandara. Ada hati yang tidak ingin meninggalkan adik dan sahabatnya dalam kondisi seperti itu. Namun karena orang tua Mika yang tidak bisa di nego-nego akhirnya mereka menurut saja.


...----------------...


Beberapa hari kemudian, Nara akhirnya membuka matanya. Saat itu hanya Bu Sri yang menjaganya.


"Mamah" ucap Nara menatap Bu Sri yang sedang membaca majalah


"Nara, syukurlah kamu sudah sadar sayang" ucap Bu Sri senang dan meletakkan majalahnya lalu menghampiri menantunya


"Mah, anak aku?" tanya Nara panik


"Mah. Dimana anak aku?" tanya Nara panik


"Mahh, katakan sesuatu" Teriak Nara yang tidak tahu apa yang telah terjadi


"Kamu tenang dulu sayang" ucap Bu Sri menenangkan menantunya


Dengan berat hati, Bu Sri pun mengatakan kebenaran pada menantunya. Nara awalnya tidak percaya, namun karena melihat kesungguhan mertuanya. Dia pun menangis kehilangan.


"Anak ku" ucap Nara menangis


Nara hanya menyalahkan dirinya atas kepergian bayinya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya menangis dan menangis.


"Ma, Chan Di mana?" tanya Nara mengusap air matanya


"Suami mu di kantor sayang" ucap Bu Sri mengusap air mata menantunya


Nara lanjut menangis lagi, membuat Bu Sri semakin sedih.


Berhari-hari Nara tidak nafsu makan, hingga dia semakin kurus. Di tambah lagi suaminya tak datang menemuinya. keluarganya sangat terpukul melihat kondisi Nara yang kehilangan semangatnya untuk hidup.


Mereka mencoba menghibur Nara, tapi hasilnya nihil. mereka semua hanya berharap Nara mampu melewati masa sulitnya ini.


"Sayang, kamu makan dulu yah" ucap bibinya mencoba menyuapinya


"Bibi, kenapa Chan tidak datang-datang juga?" tanya Nara menatap bibinya


"Akhir-akhir ini Chan sangat sibuk dengan urusannya di kantor. Dia tidak ada waktu untuk datang. Bahkan dia juga lembur" ucap Bu Anggraini menutupi kebenaran


"Sedetikpun dia tidak ada waktu untuk istrinya, bibi?" tanya Nara tak mengerti


"Dia lelah, sayang" ucap Bu Anggraini mengusap kepala Nara


"Maafin bibi, Nara. Saat ini bibi hanya fokus pada pemulihan kamu" batin Bu Angraini


"Nanti saja, Bi. Nara makan sendiri" ucap Nara sedih


"Kamu yang kuat ya sayang" ucap bibinya memeluk Nara


"Bibi, kenapa gak aku saja yang meninggal?" tanya Nara menangis


"Sudah sayang. Hidup kita telah di atur oleh Tuhan" ucap Bibinya mengusap kepala Nara


"Dia kan sudah berjanji akan mengunjungi orang tua Mika" ucap Bu Angraini mencoba tersenyum


"Mengapa semua orang pergi?" tanya Nara menangis kembali


"Khan, gak lama kok" ucap bibinya menenangkan Nara


Beberapa hari kemudian, Nara telah pulih dan di izinkan pulang. Sebenarnya bibi dan mertuanya ingin menutupi keadaan Chan, namun dokter mengatakan ada baiknya bila istrinya tetap berada di samping Chan. Agar ingatannya lebih cepat kembali.


"Tunggu yah, bibi telpon paman mu dulu, untuk menjemput kita" ucap Bu Angraini mengeluarkan hpnya dari tas


"Tidak perlu bibi. Mungkin paman sedang sibuk" ucap Nara


"Mah, aku bisa pulang sendiri" ucap Nara mencoba tersenyum


"Mama harus menemani nenek juga" ucap Nara lagi


"Bibi juga, pasti Rudra sedang menunggu bibi" ucap tersenyum tipis


"Kamu tidak apa-apa pulang sendiri?" tanya Bu Sri


"Iya, Mah" ucap Nara mengangguk


"Makasih banyak, Mah, Bibi. Udah habisin waktu buat jagain aku" ucap Nara tersenyum tipis


"Kamu kan menantu mama, jadi wajar aja kalau mama jagain kamu" ucap Bu Sri tersenyum


"Baiklah, kita berpisah di sini saja." ucap Bu Sri


"Iya kak, kalau itu maunya Nara" ucap Bu Anggraini setuju


Mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Sebenarnya Nara baru bisa pulang besok pagi, namun karena dia ingin cepat-cepat bertemu dengan suaminya, dia memaksakan harus hari ini.


Setelah sampai di rumah, Nara beres-beres dan memasak. Sambil menunggu suaminya datang, dia menonton kompetisi-kompetisi yang telah dilaluinya selama ini, setiap kompetisinya pasti selalu ada yang merekam dan mengirim padanya.


Nara menonton kompetisinya saat pak Ari masih hidup, ternyata saat kakanya merekam videonya, mamanya duduk tidak begitu jauh dari papa dan kakanya. Hingga begitu nampak jelas di kamera, namun sedikit pun Nara tidak mengira kalau mamanya melihat penampilannya.


Hati Nara sedikit tersentuh pada mamanya, dia sedih juga gembira.


"Mengapa mama melakukan itu pada ku dulu?" tanya Nara dalam hatinya


Chan tiba di rumah sudah larut malam, hingga Nara tertidur di sofa saat menunggunya.


"Astaga" ucap Chan kaget melihat Nara hingga membangunkannya


"Sayang" ucap Nara tersenyum


"Kenapa pulang begitu larut?" tanya Nara melihat jam didinding


"Sayang?" tanya Chan gak percaya


"Kamu sudah makan? tadi aku masak loh" ucap Nara tersenyum menutupi kekesalannya


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Chan meninggikan suaranya


"Menunggu suamiku" ucap Nara dengan mata yang berkaca-kaca



"Aku gak tau kamu siapa. Dan aku gak paham, mengapa ada foto yang seperti itu" ucap Chan menunjukkan foto pernikahan mereka


"Udah sayang jangan bercanda" ucap Nara memeluk suaminya


"___" Chan sangat kaget melihat Nara


"Aku menunggu mu. Aku merindukanmu" ucap Nara menangis di pelukan suaminya


"___" Chan segera melepaskan pelukan Nara


"Chan. Ada apa dengan mu?" tanya Nara semakin sedih


"Aku capek, pergi dari rumah ku sekarang juga!" perintah Chan marah


"Chan. Mengapa kamu jadi begini?" tanya Nara lagi memeluk Chan


"Aku gak tau kamu siap" ucap Chan marah melepaskan pelukan Nara lagi


"Aku ini istri kamu" ucap Nara menangis


"Pergi!" perintah Chan


"____" Nara hanya menunduk menangis tidak mengerti dengan suaminya


"Oh, kamu tidak perlu pergi. Kamu berguna juga" ucap Chan melihat rumahnya yang tadinya lumayan kotor dan sekarang sudah bersih


bersambung ...