
Di perjalanan Yunita hanya terdiam dan memikirkan Chan yang begitu pucat. Haris menghiburnya dengan berbagai lelucon yang dilakukannya sambil mengemudi.
"Gak lucu, kak" ucap Yunita tersenyum
"Itu, kamu senyum" ucap Haris
"Makasih, kak" ucap Yunita
"Selalu, makasih" ucap Haris
"Kalo bukan karena Kaka. Mungkin Mika tidak bisa berada di rumah saat ini" ucap Yunita dengan mata berkaca-kaca
"Yun, aku kan sudah berjanji akan selalu siap membantumu" ucap Haris tersenyum
"Kamu gak rindu sama Bu Wulanra?" tanya Haris
"N Tah lah, kak" ucap Yunita memalingkan pandangannya
"Seburuk apa pun kesalahan orang tua, kamu harus tetap menyayanginya. Biar bagaimanapun Bu Wulanra yang sudah melahirkan mu" ceramah Haris
"___" Yunita hanya memejamkan matanya hingga tertidur
"____" Haris tersenyum melihatnya
Beberapa hari kemudian, sesuai jadwal Yunita kembali latihan. Pak Bram telah menyusun rencana agak Yunita mengeluarkan kemampuannya. Pak Bram menyuruh salah satu senior untuk menghabisi Yunita pada saat latihan sedang berlangsung. Namun Yunita berusaha untuk menahannya.
"Aku rasa kamu sudah lelah, gantian" ucap pak Bram menyuruh yang lainnya
"Aku harus bisa, jika tidak pak Bram akan curiga" batin Yunita menahan rasa sakit
"Maaf, pak. Bapak tidak melihat Yunita sudah berdarah? Apa yang bapak lakukan? Bapak sengaja?" tanya Putri yang curiga dengan sikap pak Bram
"Beraninya kamu? Kamu ingin main-main dengan saya?" tanya pak Bram marah
"Bapak sudah keterlaluan" ucap Putri
"Sekarang juga kamu keluar dari kelas saya!" perintah pak Bram
"Baik, saya juga menyesal memiliki pelatih rendahan seperti bapak" ucap Putri meninggikan suaranya
"Ayo, Yun. Kita keluar dari sini" ajak putri
"Engga, kak. Aku akan tetap berada di sini" ucap Yunita kesakitan
"Mereka akan menghabisi mu disini" ucap Putri
"Ini hanya latihan, kak" ucap Yunita
"Astaga, kamu sungguh bodoh, Yun. Aku gak nyangka kamu sebodoh ini" ucap Putri kesal meninggalkan ruangan
"Hu hu huh hu" sorak mereka pada Putri
Beberapa saat kemudian, putri di panggil untuk menghadap kepala karena telah berani melawan dan merendahkan pelatih. Namun putri berusaha membela dirinya. Dan ternyata kesalahan Putri tidak diampuni dan akhirnya dia pun di keluarkan dari sana.
Putri akhirnya menyalahkan Yunita atas keluarnya dirinya. Putri pun dendam pada Yunita. Namun Yunita tidak mengetahui hal itu. Pak Bram tidak juga menemukan kebenaran yang ada dalam firasatnya. Hingga pak Bram kehabisan ide untuk membuka jati diri Yunita.
"Yun!" panggil Haris melihat Yunita yang sedang duduk lemah
"Kamu kenapa babak belur kayak gini?" tanya Haris
"Pak Bram sengaja mengujiku, kak" ucap Yunita pingsan karena semua murid bergantian memukulinya
"Yun" teriak Haris
Haris pun membawa Yunita kerumah sakit. Haris tidak pernah berpikir kalau pak Bram akan berbuat seperti ini pada Yunita. Haris pun menyalahkan dirinya atas masalah ini.
"Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya?" batin Haris
"Maaf, pak. Mari ikut ke ruangan saya" ucap dokter
"Baik, Dok" ucap Haris
"Setelah saya memeriksa pasien, seperti dia telah melakukan operasi sebelumnya" ucap dokter
"Iya benar, Dok" ucap Haris
"Setelah operasi itu, ketahanan tubuh dari pasien telah berkurang. Satu hal lagi, pasien mengalami luka serius di bagian yang sama sebelumnya. Hingga dia merasa begitu lemah saat ini" ucap Dokter
"Namun, kami akan terus berusaha sebaik mungkin" ucap dokter
"Baik, pak" ucap dokter
Beberapa hari setelah kejadian itu, Yunita hanya bisa terbaring. Dia tidak lagi sekuat dulu, namun dorongan dari Haris membuatnya tetap semangat.
"Yun, maafin aku. Ini semua karena aku tidak kepikiran dengan hal ini" ucap Haris
"Engga kok, kak" ucap Yunita
"Kaka, sudah sangat membantuku" ucap Yunita tersenyum
Beberapa Minggu kemudian, Yunita tidak mengundurkan diri sebagai murid pak Bram. Pak Bram di tuntut orang tua Haris atas perlakuannya terhadap murid yang di luar peraturan. Namun pak Bram menghindar dadi masalah itu.
Saat ini pak Bram menjadi buronan polisi atas tindakannya. Pak Bram akhirnya bersembunyi di markasnya yang hanya di ketahui anak buahnya, dan juga di ketahui Haris. Bukannya Haris tidak ingin segera membawa pak Bram ke hadapan polisi. Namun sebelum itu, pak Bram harus membayar kesalahannya terlebih dahulu pada Yunita.
"Yun, kamu tidak boleh banyak bergerak. Biar aku saja yang mengurus pak Bram dan antek-anteknya" ucap Haris
"Baik, kak" ucap Yunita
Mereka pun bersiap menyerang markas pak Bram yang kini di kawal banyak anak buah dari pak Bram. Haris membawa seluruh pasukannya yang jumlahnya lebih banyak dadi anak buah pak Bram. Rori, bara, dan Rian ikut menemani Haris dan Yunita..
"Pak Abbas" batin Yunita melihat pak Anas juga ada di sana bersama pak Bram
"Selamat datang para anak muda" ucap pak Bram tersenyum miring
"Ada keperluan apa hingga kalian menginjakkan kaki di markas ku yang kotor ini?" tanya pak Bram
"Sepertinya mereka bosan hidup" ucap pak Abbas terkekeh
"Kami hanya berkunjung" ucap Haris berjalan melihat sekitar
"Apa anda sudah lupa dengan Nara?" tanya Haris tersenyum
"N Nara?" tanya pak Bram gugup
"Si siapa dia?" tanya pak Bram
"Anda yang lebih mengenalnya dari pada saya" ucap Haris terkekeh
"Haha, Dari awal saya sudah curiga sejak Yunita bergabung. Kalian pasti datang untuk membalaskan dendam Nara" ucap pak Bram tersenyum miring
"Saya tidak bermaksud untuk membalas dendamnya. Namun anda harus membayar apa yang sudah anda perbuat" ucap Haris menatap tajam pak Bram
"Anda tahu siapa dia?" tanya Haris menunjuk Yunita
"Dia adalah Nara yang hampir kehilangan nyawa atas perbuatan kalian" ucap Haris
"A a a" pak Bram memegang dadanya
"T tidak mungkin" ucap pak Bram
"Habisi mereka" teriak pak Abbas
"Tunggu dulu!" teriak Haris
"Anda siapa? Anda juga sepertinya harus di berikan pelajaran. Hei pak Bram, bersujud lah di hadapan Nara" ucap Haris
"A aku tidak Sudi" ucap pak Bram
PRAK K
"Anda tidak mendengarkan ucapan saya?" tanya Haris menampar Bram sekali lagi PRAK
"Biar bagaimanapun, saya tidak akan mau" ucap pak Bram
"Baiklah, laksanakan!" teriak Haris pada pasukannya
"Serang!!!!" teriak para anak buah pak bram
Pak Abbas memilih kabur dari tempat tersebut dan meninggalkan pak Bram yang sudah tergeletak di lantai. Yunita pun di lindungi Haris dan sahabatnya itu.
"Awas saja kamu Abbas, beraninya kamu meninggalkan ku" ujar pak Bram menahan rasa sakit
"Aku tidak akan memaafkan mu!" batin pak Bram
Tak lama kemudian polisi datang ke markas pak Bram dan memblok setiap sudut. Pak Bram tidak kuat lagi untuk menyelamatkan diri. Sementara anak buahnya telah banyak yang kehilangan tenaga. Akhirnya pasukan Haris berhasil mengalahkan anak buah pak Bram.
Polisi pun membawa pak Bram untuk diinterogasi atas perbuatannya. Yunita pun merasa lega hal yang dinantikannya telah tiba.