You're My First Love

You're My First Love
Mencintai Milik Orang



"Hmm, Apa kabar Chan?" batin Yunita menatap tanaman yang berada di hadapannya


"Aku belum bisa terima perbuatan kamu, tapi kalau kamu dalam bahaya, aku lebih sakit jika tidak berbuat apa-apa" batin Yunita mengusap wajahnya


"Aku merindukan kalian semua, tapi belum saat nya untukku memperlihatkan identitas asliku" batinnya mengulumkan bibirnya


Nara masuk ke dalam rumah, ternyata Haris sedang memakai handuk saat mengambil minuman di kulkas. Para pelayan sudah tidak asing lagi dengan hal itu, hingga mereka hanya fokus pada pekerjaan. Tapi tidak dengan Yunita.


"Aaa" teriak Yunita membalikkan tubuhnya


"Maaf, maaf" ucap Haris kaget


"Astaga, kak. Ngapain coba keluyuran hanya pakai handuk" ucap Yunita tak ingin melihat


"Jangan berbalik dulu, aku akan berlari ke kamar" ucap Haris buru-buru


"Hmm" Nara mengangguk


"Aduh" jerit Haris yang terpeleset di lantai


"Pak?" teriak para pelayan dan segera menghampirinya


"Kak!" panggil Yunita refleks menghampiri Haris


Para pelayan mencoba membantunya berdiri, namun Haris tidak ingin mereka yang melakukannya.


"Kalian mundur saja, Biar dia saja" ucap Haris memberi kode pada pelayannya


"Baik, pak" ucap para pelayan itu tersenyum


"Ayo, kak. Aku bantu berdiri" ucap Yunita membantu Haris berdiri


"Ayo kita bantu kak Haris" ucap Nara pada pelayan itu


"Maaf, Nyonya masakan saya gosong" ucap salah satu pelayan dan kembali ke dapur diikuti pelayan lainnya


"Ha?" Yunita sadar melebarkan matanya karena gerak refleks yang baru saja di lakukan


"Aaaw" jerit Haris karena Yunita menjatuhkannya lagi


"Yunita, kok malah di jatuhin lagi, sakit ini" ucap Haris mengerutkan wajahnya


"Astaga, bagaimana ini?" batin Yunita mengacak-acak rambutnya


"Ayo, kak" ajak Yunita memalingkan pandangannya


"A a a, pelan-pelan Yun" ucap Haris manja


Setelah tiba di kamar, Yunita segera membantu Haris duduk tanpa melihatnya dan segera mengambilkan baju untuknya.


"Nih, pakai dulu kak" ucap Yunita memberikan baju kaos pada Haris


"Sudah" ucap Haris bercanda


"Nah, gitu do_" ucapannya seketika berhenti saat membalikkan tubuhnya karena melihat Haris yang belum mengenakan baju


Saat Yunita akan berlari keluar, Haris meraih tangannya hingga Nara jatuh dalam pelukannya.


"Kak" ucap Yunita dengan mata melebar


"___" Haris tersenyum


"A aku akan keluar" ucap Yunita gugup


"Tetap lah seperti ini, sebentar saja" ucap Haris tersenyum


"Ta tapi k_" ucapan Yunita seketika terhenti ketika bibir Haris mendarat di bibirnya


"__" Yunita semakin melebarkan matanya dan tubuhnya menjadi kaku


"__" Haris tersenyum melihat Yunita


"A aku akan keluar" ucap Yunita dengan mata yang berkedip-kedip


Haris melepaskan pelukannya dan membiarkan Yunita keluar dari kamarnya.


"Astaga, kenapa jantungku berdegup kencang" batin Yunita memegang dadanya


"Ingat suami kamu Chan, Nara" batin Yunita memejamkan matanya


"Astaga, kak Haris" ucap Nara mengerutkan wajahnya


Beberapa saat Yunita di depan pintu, Haris membuka pintu dan menggenggam tangan Yunita.


"Kak" ucap Yunita kaget


"Udah" ucap Haris tersenyum


"Ayo, kita makan" ajak Haris


"I Iya kak" ucap Yunita gugup


Bagaikan putri raja, Yunita tidak di perbolehkan menyentuh pekerjaan rumah apalagi menyiapkan makanan. Sebenarnya perasaan tidak enak ada di benaknya, namun karena Haris tidak menyukainya ya bagaimana..


Setelah makan, Haris mengajak Yunita untuk melanjutkan rencana mereka. Entah apa yang mereka rencanakan, namun sepertinya suasananya tegang.


"Kamu bisa kan?" tanya Haris menatap Yunita


"Bisa, kak" ucap Yunita mengangguk


"Baguss. Jika waktunya sudah tiba, kita akan memainkan permainan kita" ucap Haris terkekeh


"Untuk sementara, kamu harus berusaha dulu, sebelum dia masuk ke perangkap kita" ucap Haris serius


"Baik, kak" ucap Yunita mengangguk


"Untuk saat ini, sampai di sini dulu" ucap Haris berdiri


"Kak" panggil Yunita


"M?"


"Makasih, kak" ucap Yunita tersenyum


"Simpan saja dulu terimakasih mu" ucap Haris tersenyum dan meninggalkan Yunita


Yunita pun melangkah menuju kamarnya, seketika langkahnya terhenti saat Haris mendatanginya.


"Kak, ada apa lagi?" tanya Yunita terdiam


"Aku gak akan bisa tidur, yuk" ajak Haris menggenggam tangan Yunita


"Kemana, kak?" tanya Yunita kaget


"Apaan sih kak" ucap Yunita tersenyum


"Lahh, kok naik mobil" ucap Yunita bingung


"Iya" ucap Haris menyalakan mobil


"Kan aku bisa ganti baju dulu, kak" ucap yunita


"Kelamaan nanti, lagian itu baju bukan baju tidur" ucap Haris terkekeh


Yunita mengalah saja sama sikap Haris yang sukanya ngajak tiba-tiba.


"Untung saja pakaian ku gak bikin kak Haris malu" batin Yunita menatap Haris


"Yun" panggil Haris


"I iya?" tanya Yunita


"Jangan kaget yah" Ucap Haris terkekeh


"Emang kita mau kemana?" tanya Yunita perasaannya mulai gak enak


Tanpa menjawab Haris hanya tersenyum fokus dengan jalan. Yunita semakin penasaran dan mulai gak tenang.


"Kita sudah sampai" ucap Haris memarkirkan mobilnya


"Bar?" tanya Yunita


"M. Ayo masuk" ajak Haris menggenggam tangan Yunita


"Astaga, kirain lubang buaya. Ehh ternyata benar, ada banyak buaya di sini" batin Yunita


"Halo, pak Haris. Sudah lama gak kelihatan. Dari mana aja?" Tanya Bartender


"Dari Rumah" Ucap Haris terkekeh


"Pak, siapa?" tanya Bartender mencuri pandang pada Yunita


"Cantik bukan?" tanya Haris


"Banget, pak" bisik bartender pada Haris


"Kenalin nama ku Geri" ucap bartender mengulurkan tangannya


"Yunita, kak" ucap Yunita menjabat tangan bartender


"Udah, jangan lama-lama" ucap Haris melepaskan tangan mereka


"Aduh, maaf-maaf" ucap bartender tersipu


"Mau minuman yang baru, pak?" tanya Bartender


"Yang biasa aja" ucap Haris


"Baik, pak Haris" ucap bartender tersenyum


"Yun, kamu mau gak?" tanya Haris


"Mau sih kak, tapi kalau sudah mabuk aku bisa lupa diri" ucap Yunita


"Jadi mau gak?" tanya Haris lagi


"Mm.. boleh lah" ucap Nara mengangguk


Bartender telah membuatkan minuman dan memberikan pada Haris juga Yunita. Dia sangat senang melayani Haris, karena baginya Haris adalah penolong dalam hidupnya. Saat dia tidak memiliki pekerjaan dan dikejar-kejar hutang orang tuanya, hingga dia bertemu dengan Haris di saat dia sedang dihajar oleh para rentenir.


"Geri" panggil Haris meneguk minumannya


"Iya, pak?" tanya Bartender


"Bagaimana keadaan orang tua mu?" tanya Haris


"Lebih baik, pak. Karena bantuan bapak, papa tidak lagi dihantui hutangnya. Sekarang papa juga sudah bekerja kembali di rumah makan" ucap bartender tersenyum


"Syukurlah" ucap Haris tersenyum


"Ahhh" Yunita meneguk minumannya


"Pelan-pelan, Yun" ucap Haris


"Buset, habis" ucap bartender kaget melihat Yunita menghabiskan minumannya


"Mau lagi" ucap Nara memberikan gelasnya


"___" bartender melihat Haris


"Berikan saja" ucap Haris


"Baik, pak" ucap bartender


Yunita sungguh merasa mabuk setelah meneguk beberapa gelas. Dia pun sudah banyak berbicara yang tidak jelas.


"Kak, kenapa Kaka tampan sekali" ucap Yunita mencubit pipi Haris


"Kak, pak Bram sungguh jahat" ucapnya cemberut


"Dia juga tamak" ucap Yunita merasa pusing dan akhirnya tertidur


Haris segera membayar minuman dan menggendong Yunita masuk ke dalam mobil, dia juga sudah menyewa supir untuk membawa mereka pulang.


"Pak Bram jahat" ucap Yunita yang kepalanya di pundak Haris


"Lihat saja, aku akan membalas mu" ucap nya lagi dengan wajah kesal


"Kamu juga jahat, Chan. Kalian semua jahat" ucapnya pula semakin marah


"Terimakasih, pak" ucap Haris pada supir tersebut karena mereka telah tiba di rumahnya


"Sama-sama, pak. Ini kuncinya, pak" ucap supir memberi kunci mobil pada Haris


Haris membawa Yunita masuk ke dalam rumah. Dia pun membaringkan Yunita di kamarnya. Saat itu, Haris juga sudah merasa sedikit mabuk. Hingga dia membaringkan tubuhnya di samping Yunita.


"Cantik" ucap Haris membelai rambut Yunita


"Andai saja kamu belum dimiliki orang" batin Haris


"Salah kah aku bila mencintaimu?" batin Haris


"Aku yakin, kamu adalah orang yang selama ini aku kagumi" ucap Haris tersenyum