Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Rumah sakit



Hari ini tepatnya setelah dua Minggu di luar kota, akhirnya Dean kembali ke mansion nya. Sebelum pulang, Dean memilih singgah ke kantornya sebentar. Hari ini Dean dan Aldric akan mengunjungi beberapa cabang rumah sakit dan juga universitas miliknya.


"tuan, apa tidak sebaiknya kita mengevaluasi ulang orang orang yang bertanggung jawab untuk rumah sakit mu dan juga Niagara?" tanya Aldric. "Aku melihat kejanggalan disini" imbuhnya.


"Hem. aku juga berfikir disitu" ujar Dean.


"Aku sering membuka aplikasi stay healthy dan menemukan beberapa komentar buruk disana" ucap Aldric. Dean menoleh menatap Aldric.


"Komentar buruk seperti apa?" tanya Dean.


"Begini, seperti yang kita ketahui dan sepakati sedari awal. aplikasi stay healthy kita bangun untuk memudahkan para pasien agar bisa berkonsultasi dan membuat janji dengan dokter pilihannya, aplikasi ini mencetak rating tinggi hingga 4,8%" ujar Aldric. "tapi akhir akhir ini aku lihat rating semakin menurun dan juga komentar buruk bermunculan. Banyak dari mereka yang mengeluh tentang lambatnya penanganan terharap pasien dan semakin sulitnya membuat janji dengan para dokter" imbuhnya. Dean menghela nafas kasar.


"kita ke RS pusat sekarang juga" ucap Dean. keduanya bergegas masuk ke mobil dan melajukannya dengan kencang.


****


Viana masih terdiam di sisi ranjang rumah sakit. Di depannya ada Sena yang masih terbaring. Sebenarnya lukanya tidak terlalu parah, tapi Arka dengan ngotot membawa Sena ke rumah sakit. Ketiganya masih terdiam dengan fikiran masih masing. Tiba tiba Arka bangun dari duduknya dan menghampiri Sena.


"aku akan keluar sebentar" ucapnya pada Sena. Arka kemudian menatap Viana. "Bisa kita bicara?" tanya Arka yang setelah itu langsung keluar ruangan.


"Nona, apa nona tidak apa apa sendiri?" tanya Viana.


"Tidak. aku baik baik saja, pergilah" ujar Sena sembari tersenyum.


"Saya akan segera kembali" ucap Viana yang langsung pergi menyusul Arka.


Diluar keduanya saling berhadapan sekarang.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Arka.


"Eung, baik" jawab Viana.


"aku akan ke ruang pak pimpinan sekarang, tolong jaga Sena" ucap Arka. Arka sudah akan pergi tapi tangan Viana mencegahnya.


"Hanya itu? Setelah dua tahun tidak bertemu hanya itu yang kakak ucapkan?" tanya Viana. "Jadi gadis yang membuat kakak meninggalkan ku adalah nona Sena?" tanya Viana lagi.


"Viana, ini bukan waktu yang tepat" jawab Arka. "tolong, aku mohon jaga Sena" ucap Arka sembari mengelus rambut Viana dan setelah itu ia pergi begitu saja. Viana tertawa tak percaya, laki laki itu bisa melukai sekaligus menunjukkan rasa sayangnya dalam satu waktu. Viana dengan lesu kembali ke ruangan dimana Sena berada. melihat wajah murung Viana, Sena bisa menyimpulkan sesuatu. Laki laki yang di ceritakan oleh Viana adalah Arka, sahabatnya dahulu.


"Viana ...."


"Maaf nona" ucap Viana.


"Laki laki yang kau maksud adalah Arka?" tanya Sena. Viana mengangguk. Viana tidak tahu harus bagaimana, satu sisi ia sangat menghargai nona nya, dan di sisi lain ia terluka saat mengetahui nona nya adalah alasan Arka meninggalkannya. Viana mendongak menatap Sena yang saat ini juga menatapnya.


"Apa nona masih mencintai kakakku?" tanya Viana. Sena terdiam, dulu iya. Dan saat Arka pergi meninggalkannya ia benar benar terluka karena rasa cintanya. Ia berharap Arka akan kembali, tapi kenyataannya saat Arka kembali rasa cinta itu sudah tak bisa Sena rasakan lagi. Bukan karena Dean, tapi karena waktu mengubah segalanya.


"Kau berfikir aku masih mencintainya?" tanya Sena.


"saya berfikir begitu" jawab Viana.


"Kau masih mencintainya?" tanya Sena yang membalik pertanyaan dari Viana. Viana kembali menunduk.


"jika saya katakan iya, apa mungkin saya bisa menggapainya lagi?" tanya Viana. "saya tidak mungkin meminta nona untuk menjauhi kakakku, saya tidak mungkin marah kepada nona karena sudah membuat kakakku meninggalkanku" imbuhnya. "Saya sangat menghargai nona, tidak mungkin saya melakukan itu" ucap Viana.


"Aku tidak mencintainya lagi" jawab Sena yang membuat Viana kembali menatapnya. "waktu mengubah segalanya, dan aku benar benar tidak merasakan apapun saat dia kembali" ucap Sena. Viana tertawa hambar.


"tetap saja, kak Arka hanya mencintai nona sekarang" ucap Viana. "Maafkan saya nona" ujarnya.


"hei, kenapa kau meminta maaf? jelas ini bukan kesalahanmu. tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan Viana" ujar Sena sembari tertawa.


"tetap saja, saya sangat malu sekarang" ucap Viana.


"apa yang nona lakukan?" tanya Viana yang langsung menghampiri Sena. "Itu bisa menyakiti tangan nona" ucap Viana panik. Melihat itu, Sena tertawa.


"melihatmu seperti aku melihat Arka, kalian memiliki kepribadian yang sangat mirip" ucap Sena. "Arka memperlakukanku seperti adiknya, dan kau memperlakukanku seperti kakakmu" imbuhnya.


"Benarkah?" tanya Viana malu malu.


"iya benar. sekarang ayo pulang" ajak Sena. Viana mencoba membantu Sena berdiri. "Astaga, aku tidak apa apa. Aku hanya terluka di wajah bukan di kaki" ucap Sena yang terkejut saat Viana hendak memapahnya berjalan.


"Baik kalau begitu saya akan memegang lengan nona saja, untuk berjaga jaga kalau kalau wanita gila itu kembali" ucap Viana. Keduanya berjalan keluar dari ruangan.


"Siapa yang kau maksud wanita gila?" tanya Sena.


"wanita yang tadi memukul nona" jawab Viana dengan wajah kesalnya.


"Dia Yoan, kakakku" ucap Sena. Wajah Viana langsung menegang. Ia kemudian menoleh dan menatap Sena.


"Saya minta maaf nona, maafkan saya" ucap Viana.


"Tidak apa apa, kau benar dia memang wanita gila" ujar Sena sembari tertawa. Tapi setelahnya ia meringis karena sudut bibirnya yang terluka itu. Melihat itu, Viana langsung tertawa karena melihat ekspresi lucu dari nona nya. Keduanya pun berjalan menuju lobi.


******


Dean dan Aldric berjalan keluar dari ruang kepala pimpinan rumah sakit. Keduanya berjalan bersama sembari membahas beberapa pekerjaan. Tiba tiba langkah keduanya terhenti saat melihat seseorang yang sedang berjalan ke arah mereka. Dean tersenyum smirk, sembari memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya.


"Apa kabar, teman?" tanya Dean.


"Siapa yang kau maksud teman?" tanya Arka. Mendengar itu Dean tertawa.


"lalu aku harus menyebutmu apa? pengkhianat?" tanya Dean. Arka mengangkat sebelah alisnya.


"Kau masih berpegang pada kesalahpahaman itu?" tanya Arka. "sudah aku katakan, aku tidak melakukan apapun disana" ujar Arka.


"Siapa yang tau?" tanya Dean. Keduanya saling melemparkan tatapan kebencian.


"Nona Sena??" ucap Aldric yang melihat Sena dan Viana berjalan di belakang Arka. Arka langsung menoleh ke belakang.


"Kenapa kau disini? kau kan harus di rawat?" tanya Arka cemas. Sena menyadari bahwa ada Dean yang saat ini sedang menatapnya. Sena dengan takut takut langsung memegang tangan Viana.


"A-aku tidak apa apa, aku akan pulang sekarang" ucap Sena gugup.


"Baiklah. tunggulah di mobil, aku akan mengantarkan kalian" ujar Arka.


"Tidak tuan, mobil kami sudah menunggu diluar" tolak Viana. Bukan tanpa sebab, Viana menyadari tatapan tajam dari Aldric.


"Cepat bawa nona Sena pulang" suruh Aldric.


"B-baik tuan" Viana langsung membawa Sena pergi dari sana dan segera masuk ke dalam mobil.


Suasana semakin mencekam diantara ketiga pria tampan itu.


"Lepaskan Sena" ujar Arka penuh penekanan.


"Aku tidak akan menahannya, ambil saja kalau kau bisa" ucap Dean.


"Aku bersumpah akan mengambil Sena dengan seluruh tenaga yang ku punya. Aku tak akan membiarkan Sena tersakiti karena harus hidup dengan pria sepertimu" ucap Arka. Dean memiringkan kepalanya sembari tersenyum smirk.


"Aku katakan sekali lagi, aku tidak akan mencegah mu. Kau bisa mengambilnya. Itu pun jika kau mampu" ucap Dean yang setelah itu langsung pergi meninggalkan Arka.


"Sialan! Kali ini aku tidak akan kalah denganmu!" batin Arka yang langsung berjalan menuju parkiran mobilnya.