Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Kebakaran



Romi dan Sarah sedang asik menikmati makan malam di sebuah restoran mewah bersama dengan putri kesayangan mereka, Yoan. Ketiganya sedang tertawa asik di mejanya.


"Lalu bagaimana?" tanya Romi pada Yoan yang dengan bangganya menceritakan bagaimana ia mengerjai saingannya di tempat pemotretan siang tadi.


"Aku ambil saja bajunya diam diam dan ku ganti dengan yang biasa saja" jawab Yoan dengan tawa puasnya.


"wah kau memang pintar sekali!" ucap Sarah bangga pada kelakuan sang putri.


"iya dong" sahut Yoan sembari tersenyum manis.


"pasti dia kebingungan setengah mati" sahut Romi.


"Aku lihat dia seperti hendak menangis. Aku tidak kasihan sama sekali" ucap Yoan. "Tapi setelahnya seorang wanita datang dan membawakan baju untuknya, tapi sayangnya dia sudah terlambat" imbuhnya kemudian tertawa lagi.


"Lalu siapa yang menjadi pemenangnya?" tanya Sarah antusias.


"Tentu saja aku" jawab Yoan dengan bangganya. "Dengan itu mereka sudah resmi menjadikan aku sebagai brand ambassador dan wajah baru di majalah mereka" sambungnya.


"Wah, selamat sayang" ucap Sarah sembari mengelus kepala Yoan yang ia tutupi dengan topi.


"Ayah sangat bangga padamu, nak" ujar Romi.


Ketiganya masih terus berbincang santai dengan diselingi canda dan tawa bahagia. Tanpa mereka sadari, ada banyak mata yang mengawasi mereka.


*****


Malam ini Dean dan Aldric akan melangsungkan rencana mereka. Mereka bukan orang yang sudi mengotori tangan mereka. Aldric mengirim beberapa orang suruhannya untuk melancarkan aksinya.


"Kau tidak ikut?" tanya Aldric.


"Ck, aku bahkan tidak sudi mengotori tangan ku" tukas Dean.


"Kau ingin main bersih" ujar Aldric.


"Itu hal yang wajar selama aku masih punya uang" ucap Dean. Aldric hanya mendengus kesal.


Mereka berdua hanya memantau melalui kamera yang sudah terpasang di beberapa tempat. Ini bukan hal yang sulit untuk Dean, apalagi yang dihancurkan hanyalah seorang sampah baginya. Dean tersenyum smirk saat melihat api mulai naik dan mulai menghancurkan rumah Romi. Orang suruhannya sudah pergi menjauh dan mencari tempat aman.


"kau lihat? ini bukan hal yang sulit" ujar Dean. Aldric mengangguk setuju.


"Apa ada maksud lain?" tanya Aldric.


"maksud lain yang seperti apa?" tanya Dean.


"Kau kesal karena Romi meminjam uangmu, atau karena lelaki itu mencoba mengganggu untuk Sena?" tanya Aldric.


"Ck, uangku tidak akan berkurang jika hanya 50 juta yang ia ambil" jawab Dean menyombong.


"Lalu?" tanya Aldric.


"Karena aku benci pria yang mengingkari janjinya" jawab Dean.


"Janji untuk tidak mengganggu Sena? apa artinya kau memang marah karena Romi mengganggu Sena?" tanya Aldric yang masih terus menggoda Dean. Mendengar itu Dean sontak tertawa.


"konyol sekali" ucap Dean. "Setelah ini mungkin gadis itu akan tertawa senang, karena melihat orang yang sudah menjualnya kehilangan tempat tinggal" imbuhnya.


"Sepertinya ia bukan gadis pendendam" ujar Aldric.


"Apa dia gadis yang begitu tangguh?" tanya Dean dengan tawa meremehkan. "Setelah dijual dan dicampakkan, apa mungkin ia masih menyayangi keluarganya?" tanya Dean.


"Mungkin saja" jawab Aldric. "Sudahlah, ayo kita pergi dari sini" ucap Aldric yang sedang mengalihkan pembicaraan. Ia tau tuannya sangat tidak suka bila ada orang yang membahas perihal keluarga.


****


Siang ini tidak begitu panas, udara yang sejuk dan menyegarkan cocok untuk beristirahat. Sena, masih seperti biasanya. Ia masih terus bergelut dengan waktu dan pekerjaannya. Ditemani oleh Viana, keduanya sedang duduk bersama sembari menikmati minuman kaleng yang ia beli di tokonya sendiri.


"Hah ini segar sekali" ujar Viana setelah meneguk minuman rasa jeruk miliknya.


"Tidak baik minum seperti itu, itu asam dan bisa berbahaya bagi lambung" ujar Sena.


"Lambung saya sudah biasa nona" jawab Viana sembari tertawa kecil.


"Baik nona" ucapnya.


"Duduk lah disini, aku akan ke meja kasir sebentar" ucap Sena. Sena berjalan ke meja kasirnya untuk menghitung uang karena sebentar lagi ia akan tutup. Sena dengan fokus melakukan pekerjaannya dan sesekali menguap.


"Nona, lihat di tv" seru Viana. Sena melihat Viana lalu beralih melihat ke tv yang sedang menyala. "Ada kebakaran tadi malam" ujarnya.


"Dimana ada kebakaran?" tanya Sena penasaran. Ia melihat dengan seksama, dan perlahan ia mulai merasa tidak asing dengan daerah itu.


"Tidak ad ...."


"Viana aku pergi sebentar, tolong jaga toko" Teriak Sena. Viana terkejut saat Sena pergi begitu saja meninggalkannya. Viana hendak berlari mengikuti Sena namun ia sudah kehilangan jejak.


"Kemana nona Sena akan pergi?" tanya Viana panik sekaligus heran dengan nona nya.


Sena terus berlari menuju ke rumah orang tuanya dengan tergesa gesa. Ia tidak mungkin salah, yang dilihat adalah rumah tempat ayah dan ibunya tinggal. Sena melihat dari kejauhan dan benar saja, rumahnya yang sederhana itu sudah tinggal abu dan menyatu dengan tanah. Tubuh Sena luruh bersamaan dengan air matanya. Ia tau pasti bahwa Dean adalah dalang dibalik ini semua, karena lelaki pasti sudah tau perihal uang yang ia berikan kepada sang ayah. Sena tidak mengerti kenapa Dean bisa berbuat seperti itu. Sena meremas dadanya yang terasa sesak karena melihat tempat tinggal yang menyaksikannya tumbuh dewasa kini sudah hancur karena ulah suaminya sendiri.


*****


Aldric baru saja keluar dari kamar Dean dan berniat untuk pulang kerumahnya. Tapi ia berhenti saat melihat panggilan masuk dari Viana.


"halo tuan"


"ada apa?" tanya Aldric.


"Nona Sena, nona pergi entah kemana" ucap Viana panik.


"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya Aldric.


"Setelah melihat berita kebakaran nona langsung pergi begitu saja meninggalkan saja di toko sendirian" jawab Viana. Aldric tidak terkejut dengan itu. Ia yakin Sena pasti akan mengetahuinya.


"lalu sekarang kau ada dimana?" tanya Aldric.


"saya bersama pak Rey sedang mencari tau kemana nona Sena pergi" jawab Viana.


"Kalian pulanglah, nona Sena pasti akan sampai dirumah sebentar lagi" ujar Aldric.


"bagaimana tuan tau?" tanya Viana. Aldric menghela nafas lalu memutuskan sambungan teleponnya. Ia tidak suka pada orang yang terlalu banyak bertanya. Aldric dengan malas kembali ke kamar Dean untuk memberitahukan hal tersebut.


Aldric membuka pintu dan langsung menghampiri Dean. Dean menatap heran pada Aldric.


"Bersiaplah, nona Sena akan datang" ujar Aldric.


"Darimana kau tau?" tanya Dean.


"Viana memberitahu ku bahwa Sena sudah tau soal kebakaran itu dan saat ini Sena pergi untuk memastikannya" jawab Aldric. Dean tersenyum smirk.


"Baiklah. Aku akan menunggunya memohon padaku lagi" ucap Dean sembari tertawa puas. Aldric hanya memutar bola matanya malas.


"Aku pulang" ucap Aldric yang langsung meninggalkan Dean.


Benar apa yang di prediksikan oleh Aldric. Sena benar benar pulang hanya dalam waktu beberapa jam. Sena berjalan tergesa gesa menuju kamar Dean. Dengan lancang ia membuka pintu dan masuk begitu saja dan sukses membuat Dean terkejut.


"Beraninya kau ...." Ucapan Dean terputus saat sebuah tamparan keras mengenai pipinya. Dean menatap Sena dengan wajah penuh amarah. Nafasnya mulai naik turun karena merasakan emosi yang mulai memuncak.


"Apa kau benar benar berhati batu?" tanya Sena sedikit berteriak. "Apa kau tidak tau apa itu hati nurani?" tanya Sena lagi.


"Apa kau sudah gila?" bentak Dean.


"Iya aku memang sudah gila!" teriak Sena. "apa kau tidak punya hati nurani sehingga kau bisa melakukan itu pada keluargaku?" tanya Sena. Mendengar kata keluarga, membuat Dean semakin meledak ledak.


"Jangan membahas tentang keluarga di hadapanku" ucap Dean penuh penekanan.


"Kenapa? apa karena kau tidak pernah merasakan kasih sayang keluarga?" tanya Sena menyindir.


"Sekarang kau bisa angkat kaki dari sini, aku tidak mau melihatmu ada di mansion ku lagi" ucap Dean. Dean tersenyum smirk lalu berbalik. "Pergilah, dan lihat apakah keluarga yang kau anggap rumah masih mau menerima mu atau tidak" imbuhnya.


Mendengar itu membuat Sena sedikit terkejut. Tapi setelahnya ia langsung berbalik dan mengambil langkah untuk pergi dari mansion pria gila itu.