
Sena menatap wajah Arka lalu beralih menatap Dean. Ia mulai memikirkan apa yang akan terjadi jika ia meninggalkan Dean. Ini bukan soal keluarga lagi tapi sudah mencakup soal perasaan. Sena hanya mencoba menjadi lebih realistis, tentang bagaimana jika nanti Arka akan meninggalkannya lagi. Tentang bagaimana ia secara tidak langsung akan menghancurkan hati gadis baik seperti Viana.
"Aku ...." Sena menghela nafas. "Aku akan tetap bersama dengan tuan Dean" ucap Sena akhirnya.
"Sena ...."
Sena menatap Arka. "Tidak peduli jika dia tidak mencintaiku, tidak peduli jika dia tidak mengharapkan diriku. Tidak peduli seberapa bencinya dia kepadaku dan keluargaku, aku tetap akan bersamanya. Jika tuan Dean meninggalkanku atau mengusirku, rasanya mungkin tidak akan sesakit saat kau meninggalkanku lagi nanti" ucap Sena. "Kau menyakiti dua hati di waktu yang bersamaan, kau meninggalkanku tanpa kabar dan sebab, kau menghancurkan hidup gadis baik seperti Viana lalu sekarang kau dengan mudahnya ingin kembali padaku. Kau pengecut, kau lari dari kenyataan dan menghilang begitu saja. Aku tumbuh dan menjadi kuat karena keadaan, jadi aku tidak mungkin hidup dengan lelaki sepertimu" ucap Sena dengan air mata yang sebentar lagi akan menetes. Kenyataan bahwa lelaki ini pernah menjadi bagian dari hidupnya membuatnya merasakan sesak saat menyatakan hal itu.
"Kalian sudah selesai?" tanya Dean yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan percakapan keduanya. Sena mengangguk-anggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri Dean dengan gontai.
"Apa begini akhirnya?" tanya Arka.
"Kau tidak dengar ucapannya tadi?" tanya Dean. "Mulai sekarang berhentilah mengganggunya, dan hiduplah dengan baik" imbuhnya. Dean tersenyum smirk lalu berbalik dan menyusul Sena di dalam mobil.
Arka menahan emosinya saat melihat mobil Dean dan juga anak buahnya pergi begitu saja meninggalkannya.
"Dasar brengsek!!" teriak Arka. Arka masuk ke dalam mobil dan pergi bersama beberapa suruhannya.
*****
Viana masih termenung di atas kasur empuk miliknya. Saat tengah bergelut dengan isi fikiran, ponselnya tiba tiba berdering.
Viana menghela nafas. "Halo, Ibu" sapa Viana.
"Kau sedang apa nak?" tanya sang ibu.
"Tidak ada, hanya mencoba untuk bisa istirahat saja" jawab Viana.
"Oh ya kapan kau pulang?" tanya sang ibu.
"Belum tau Bu" jawab Viana.
"Ayahmu sangat merindukanmu" ujar sang ibu. Viana terdiam ia tidak ingin berbohong, bahwa ia juga merindukan ayahnya.
"Katakan pada ayah aku akan segera mengunjunginya, ibu aku akan pergi tidur sekarang. Kita sambung lagi besok ya" ucap Viana.
"Viana" panggil sang ibu.
"Iya?"
"Apa kau sudah bertemu dengan kakakmu?" tanya sang ibu.
"Eung, sudah" jawab Viana.
"Bagaimana kabarnya?" Tanya sang ibu. Memang wajar sekali jika seorang ibu kandung mengkhawatirkan putranya yang sudah lama tidak pulang.
"Dia hidup dengan sangat baik" jawab Viana dengan mata yang sudah berkaca kaca. Ingatannya tidak pernah lepas dari kejadian yang sangat memalukan dan sudah membuat hidupnya hancur. Melihat kakaknya hidup dengan baik membuat hatinya sedikit sakit. Di bandingkan dengan apa yang sudah ia lalui selama ini, rasanya sedikit tidak adil baginya. Viana termenung sampai ia tidak menyadari bahwa ibunya sudah memanggilnya beberapa kali.
"Viana" panggil sang ibu.
"Ya?"
"Ayo kita berkumpul lagi" ajak sang ibu.
"Bagaimana dengan ayah?" tanya Viana. Setelah mengetahui apa yang terjadi pada putrinya, sang ayah jatuh sakit dan mengalami struk ringan yang membuat separuh tubuhnya tidak berfungsi.
"Ibu akan mencoba bicara lagi dengan ayahmu" ujar sang ibu. Ayah mana yang tidak sakit saat mengetahui putrinya harus kehilangan mahkotanya? ayah mana yang tidak menyesal karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik? ayah Viana benar benar marah pada Arka. Itu sebabnya Arka pergi dari rumah dan tidak pernah kembali.
"Baiklah, ibu aku akan tutup teleponnya"
Eung baiklah" Viana langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia mencampakkan ponselnya begitu saja. Viana menangis dengan memeluk lututnya, ia akan kembali menangis walau hanya mengingat wajah sang ayah. Melihat punggung yang dulu sering menggendongnya, kini bahkan sudah tidak kuat menahan bebannya sendiri.
*****
"Tuan, ini aku Sena. Apa aku boleh masuk?" tanya Sena. Ia menunggu beberapa saat, karena tidak mendapat jawaban apapun Sena berniat untuk pergi. Tapi Sena mengurungkan niatnya saat mendengar suara Dean berdehem memberi isyarat kepadanya.
Sena membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia melihat Dean sedang memijit kepalanya sendiri.
"Ada apa?" tanya Dean.
"Maaf mengganggu, tapi saya ingin bertanya dimana Viana?" tanya Sena hati hati.
"Dia sudah di pecat" jawab Dean. Sena melebarkan matanya.
"Tapi kenapa?" tanya Sena panik. Dean menatap Sena sebentar lalu kembali menunduk dan terus memijat pelipisnya.
"Karena dia tidak bisa bekerja dengan baik" jawab Dean.
"Tapi apa? dia tidak melakukan kesalahan apapun" ujar Sena.
"Aku sedang pusing, sebaiknya kau pergi sekarang" ucap Dean. Bukannya pergi Sena malah semakin mendekati Dean.
"Tuan, beri saya alasan kenapa Anda memecat Viana" ucap Sena. Dean menghela nafas lalu berdiri.
"Dia tidak bisa menjagamu dengan baik" jawab Dean. Sena terdiam, ternyata Dean diam diam memperdulikannya.
"T-tapi itu bukan kesalahannya" ucap Sena. Dean hanya diam dan mencoba untuk mengabaikan Sena. "Dia sudah menjagaku dengan baik" imbuhnya.
"Aku akan membawanya kembali" ujar Dean.
"Benarkah?" tanya Sena antusias.
"tapi dengan syarat" ucap Dean.
"Syarat lagi?" tanya Sena tak habis fikir.
"Tidak suka? silahkan pergi" ucap Dean.
"Tidak tidak" Sena mulai mendengarkan dengan seksama.
"Bisa kah kau kecilkan matamu? menyeramkan sekali" tukas Dean yang ngeri saat melihat Sena menatapnya dengan serius.
"Baiklah" Sena menundukkan kepalanya takut.
"Pertama, kau tidak boleh lagi pergi bekerja. kedua, kau tidak boleh lagi bertemu dengan Arka. Ketika ...."
"Tunggu, kenapa banyak sekali?" tanya Sena.
"Apa kau sudah bosan berada disini?" tanya Dean kesal.
"Tidak, belum" jawab Sena yang kembali menjadi pendengar yang baik.
"Ketiga, kau harus datang ke kamar ini setiap malam dan memijat kepalaku" ucap Dean.
"Tuan bercanda?" tanya Sena spontan.
"kau keberatan?" tanya Dean. Sena menggeleng pasrah. "Sudah lakukan sekarang" tukas Dean.
"Apanya?" tanya Sena.
"Memijat kepalaku" ujar Dean. Sena menggigit bibir bawahnya. Tangannya Tergerak menyentuh kepala Dean. Sena memijat dengan lembut, Sena salah tingkah karena Dean terus menatapnya. Wanita bodoh mana yang akan jatuh cinta pada lelaki seperti Dean? Tapi Sena sudah menjadi wanita bodoh yang dimaksud. Ia mulai sadar akan perasaannya untuk seorang pria yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya.