
Viana masih berdiri dengan kepala yang tetap menunduk. Jemari yang saling bertautan menandakan ada kegelisahan di sana.
"Lihat aku" Ujar Aldric. Viana mengangkat kepalanya perlahan dan tatapan keduanya bertemu. " Bagaimana cara memberitahukannya padamu, Apa kau tidak bisa menghindarinya?" Tanya Aldric.
"Maaf, tapi ini hanya kebetulan saja tuan" Jawab Viana. Aldric tertawa kecil.
"Kau bilang ini kebetulan? Mungkinkah kebetulan nya sampai makan siang bersama?" Tanya Aldric.
"Apa yang salah?" Tanya Viana. "Nona Sena hanya bertemu dan makan dengan teman kecilnya, lagipula ada aku disana" Imbuhnya
"Justru karena kau ada disana jadi semuanya terasa aneh" Ucap Aldric. "Kau yang mengatur pertemuan ini?" Tanya Aldric. Viana tertawa tidak percaya.
"Tuan sungguh berfikir seperti itu?" Tanya Viana. "Apa ini tidak terlalu egois? Nona Sena juga manusia biasa, dia juga makhluk sosial. Apa salahnya dia bertemu dengan seorang teman? Kalian lelaki juga punya teman wanita kan?" Tanya Viana.
"Aku tidak punya" Jawab Aldric.
"Tuan bercanda?" Tanya Viana.
"Apa kau benar benar sudah bosan bekerja?" Tanya Aldric. "Apa kau fikir kau di utus kesini untuk bermain main? Apa kau sudah menggaet pria tua yang bisa membiayai hidupmu?" Tukas Aldric mengejek.
Mendengar itu Viana hanya terdiam. Matanya mulai berkaca kaca, entah kenapa ia merasa tertampar dengan perkataan Aldric barusan. Wanita itu menghela nafas lalu mendongakkan kepalanya menahan air mata yang hendak keluar.
"Kau menuduh tanpa alasan?" Tanya Viana.
"Menurutmu ini bisa di sebut sebagai tuduhan?" Tanya Aldric. Viana tidak bisa menjawab, air matanya sudah menetes mengalir melewati pipinya. "Pergilah. Kau di bebas tugaskan selama satu bulan, lakukan apapun sesukamu selama itu tidak menyangkut perusahaan" Aldric pergi setelah mengatakan hal itu. Viana menjatuhkan tubuhnya di lantai, ia terisak pelan sembari memegang dadanya yang begitu sakit. Kata kata Aldric benar benar menyakitinya, apalagi ia mulai merasa nyaman dengan sikap Aldric yang tidak dingin seperti sebelumnya.
Sebesar apapun masalahmu, waktu tidak pernah berhenti mengingatkan bahwa ia akan tetap berjalan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Viana masih terduduk di lantai dengan tatapan kosongnya. Ia tersentak saat teleponnya berdering, ia berfikir itu adalah Aldric tapi ternyata ia salah.
"Halo bi" Wanita itu mengusap keduanya matanya yang sudah basah sedari tadi.
"Kau tidak pulang?"
"Tidak untuk dalam waktu dekat bi" Jawab Viana. "Ada apa menelepon?" Tanya Viana.
"Ayah dan ibumu ... mereka akan bercerai"
Viana terdiam dengan tatapan terkejut dan juga bingung. Bibirnya sudah tidak mampu menyatakan apapun lagi.
"Baiklah akan aku tutup teleponnya. Bibi harap kau bisa hidup dengan baik dan tetaplah kuat"
Bibinya memutuskan sambungan teleponnya setelah mengatakan itu. Ponsel yang berada di tangan Viana langsung terjatuh menabrak lantai. Ia menangis tanpa suara, dadanya begitu sesak dan juga nyeri. Viana benar benar merasa bersalah, karena dia hubungan ayah dan ibunya menjadi renggang. Bagaimana tidak, masing masing dari mereka tentu membela anak kandungnya sendiri. Perbedaan pendapat dan juga saling menyalahkan membuat ayah dan ibunya sering bertengkar.
Viana meremas rambutnya kuat, dunianya hancur untuk kesekian kali. Membayangkan kesedihan sang ayah yang lagi lagi harus merasakan kehilangan wanita yang di cintai, dan kali ini dia yang menjadi salah satu penyebabnya.
Viana mengambil ponselnya dan menghubungi sang ayah.
"Halo nak" Mendengar suara ayahnya membuat Viana kembali menangis. "Tidak apa apa, ini sudah takdir kami" Ucap sang ayah ketika mendengar Isakan dari Viana.
"Ini salahku, maafkan aku" Viana tidak bisa membendung kesedihannya. Bahkan ia tidak bisa berkata panjang lebar karena nafasnya yang tersengal.
"Darimana kau bisa menyimpulkan bahwa ini adalah kesalahanmu? Dengar Viana, ini adalah kesalahan orang dewasa yang dulu membiarkan kalian tumbuh bersama tanpa berfikir bahwa kalian juga akan tumbuh dewasa dan saling jatuh cinta" Ujar sang ayah.
Viana hanya bisa terisak. Ia tidak bisa mengatakan kesedihannya saat ini. Masih seperti dulu, ayahnya akan selalu menyalahkan dirinya dan menganggap dirinya tak bisa menjaga anak gadisnya.
"Bagaimana pekerjaanmu? Jika terasa lelah, pulanglah kerumah" Ujar sang ayah. "Sudah malam, tidurlah. Ayah telpon lagi besok"
Karena Viana tak kunjung bicara, ayahnya memutuskan teleponnya setelah mengucapkan selamat malam. Viana semakin menangis.
Viana terus menangis hingga kepalanya terasa sakit, ia menidurkan tubuhnya di lantai. Ia tidak memiliki tenaga untuk berjalan ke tempat tidur, ia hanya membiarkan tubuhnya sakit untuk mengimbangi rasa sakit di hatinya saat ini.
*****
Seminggu berlalu, Viana berniat untuk menemui ayahnya karena hari ini adalah hari persidangan perceraian orang tuanya. Viana dengan kemeja dan kardigannya melangkahkan kaki masuk ke dalam aula. Ia menggunakan masker dan duduk di sebelah bibinya.
"Kau sendirian?" Tanya wanita paruh baya di sebelahnya. Viana hanya mengangguk, ia kemudian beralih menatap ibunya yang juga sedang menatapnya. Ibunya mengangguk sembari tersenyum seolah mengatakan bahwa semua akan baik baik saja. Kakaknya juga hadir disana, Viana tidak bisa menahan kesedihannya dan ia kembali menangis.
Persidangan sudah selesai dan semua orang mulai pergi mencari jalan masing masing. Viana masih terduduk, ia menoleh saat ibunya menghampirinya. Viana berdiri dan keduanya saling berpelukan.
"Ibu tidak marah padamu dan juga ayahmu" Wanita itu mengelus punggung putri tirinya dengan sayang. "Ibu tidak membenci kalian, tapi ibu takut kami akan terus tersakiti jika bersama lebih lama lagi. Ibu takut akan perbedaan pendapat yang semakin terlihat" Ujarnya.
"Maafkan aku" Ucap Viana dengan isak tangisnya. "Ini semua salahku" Imbuhnya.
"Ini bukan salahmu, ini salah kami yang pada saat itu tidak menyadari bahwa kalian semakin tumbuh dewasa" Ujar sang ibu. Wanita itu melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata di pipi Viana. Dengan tersenyum ia berkata "Jaga ayahmu, jika ada waktu datanglah kerumah ibu. Ibu harus pergi sekarang" Sang ibu mengelus surai lembut itu sebelum akhirnya berlalu pergi.
Viana menghindar saat sang kakak hendak menghampirinya, ia dengan cepat mendatangi ayahnya yang masih terduduk.
"Ayah" Viana berjongkok tepat di depan sang ayah. Matanya sudah berkaca kaca.
Sang ayah tersenyum. "Ayah yakin kau sudah cukup dewasa untuk mengerti ini" Ujarnya. "Dia tetap ibumu, ayah tidak akan melarang kalian untuk bertemu" Imbuhnya.
Viana mengangguk-anggukkan kepalanya sembari terisak. Ia pun mengantarkan ayahnya pulang kerumah.
"Besok Viana akan datang lagi kesini, jika ada sesuatu segera hubungi Viana atau bibi Yohan" Ujar Viana sembari menaikkan selimut untuk ayahnya.
"Kau pulang dengan apa?" Tanya sang ayah.
"Naik taksi" Jawab Viana.
"Bawa lah mobilmu"
"Tidak ayah, kalau begitu Viana pergi dulu" Wanita itu berdiri dan langsung pergi. Viana menemui penjaga rumahnya.
"Mang Jo Viana pergi dulu, tolong jaga ayah dan jika ada sesuatu segera hubungi Viana" Ujar Viana.
"Nona tidak menginap?" Tanya mang Jo.
"Besok Viana akan datang lagi" Jawab Viana. Mang Jo mengangguk mengerti. "Viana pergi dulu" Viana melangkahkan kakinya dan mulai menyusuri jalanan. Viana berhenti di sebuah jembatan dan disana ia kembali menangis.
Di lain tempat, Aldric sedang mengendarai mobilnya. Di perjalanan ia melihat seseorang yang tak lain adalah Viana. Aldric awalnya tidak terlalu peduli, tapi setelahnya ia menyadari bahwa itu adalah Viana. Aldric menghentikan mobilnya dan segera turun.
"Viana" Panggil Aldric. Viana menoleh dengan mata sembabnya. Wanita itu sedikit terkejut dengan kehadiran Aldric.
"Tuan"
"Untuk apa kau disini? ini sudah malam" Ucap Aldric. "Dan kenapa kau tidak mengabari ku jika kau keluar mansion malam malam begini?" Tanya Aldric. Viana menghela nafas dan melihat ke ats lalu mengedipkan matanya beberapa kali.
"Bukannya tuan bilang aku bebas tugas dalam satu bulan ini?" Tanya Viana. "Bisa kah untuk tidak melakukan apapun padaku? aku lelah sekali" Viana mengembuskan nafasnya perlahan. Air mata sudah mengumpul di pelupuk matanya.
"Kau benar benar ingin bebas?" Tanya Aldric.
Viana mengangguk. "Bukankah dunia ini tidak adil? aku ingin bebas tapi mereka menahan ku" Ujar Viana yang mulai terisak.
"Apa maksudmu?" Tanya Aldric dengan dahi yang berkerut. Viana tidak menjawab, kepalanya tiba tiba terasa pusing dan matanya mulai gelap. Ia terjatuh dan Aldric dengan cepat langsung berlari ke arahnya.