Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Liburan H-1



Viana tersenyum menatap beberapa potret dirinya di acara wisudanya beberapa tahun yang lalu. Ia kemudian beralih menatap potret dirinya bersama dengan Arka, ayah, dan ibunya. Cuaca seketika menjadi mendung, tatapan matanya sendu menatap wajah sang ayah yang tersenyum bahagia ke arah kamera.


Kini gadis itu harus berusaha menahan sesak di dadanya. Rindu yang sebenarnya sudah tidak bisa ia tahan lagi, tapi kenyataannya ia belum siap untuk bertemu dengan sang ayah. Air matanya mengalir melewati pipi, membayangkan senyuman itu kini sudah tidak pernah ia lihat lagi di bibir ayahnya.


Viana segera menghapus air matanya saat mendapat panggilan telepon dari Aldric. Dengan cepat ia langsung mengangkatnya.


"Halo, tuan"


"Bersiaplah, aku tunggu jam 9 di depan" ucap Aldric di sebalik telepon.


"Loh, kemana tuan?" tanya Viana panik.


"Nona Sena belum memberitahumu?" tanya Aldric.


"Belum tuan" jawab Viana.


"Kita akan ke pulau biru, jadi cepat bersiaplah"


"Tap ...." Viana mendengus saat Aldric mematikan panggilannya. "Sekali saja, dengarkan aku bicara" keluh Viana kesal. Dengan lama ia menutup laptopnya dan bergegas bersiap siap.


Aldric menatap layar ponselnya, ia menyunggingkan senyum ketika membayangkan ekspresi Viana yang sedang menahan kesal. Ia bangkit dan berniat menemui Dean di kamarnya. Sesampainya disana, ia mengetuk pintu beberapa kali dan Sena muncul dari sebalik pintu.


"Mencari siapa?" tanya Sena.


"Dimana tuan Dean? bukankah seharusnya kita sudah bersiap-siap?" tanya Aldric.


"Hem, kami sedang bersiap siap" ujar Sena sembari membuka pintu dengan lebar. "Masuklah" ujarnya. Aldric masuk dan mencari keberadaan Dean.


"Dimana tuan Dean?" tanya Aldric lagi.


"Sedang di kamar mandi" jawab Sena yang kembali sibuk mengemasi barang-barangnya. "Dimana Viana?" tanya Sena.


"Di kamarnya" jawab Aldric.


"Tuan sudah memberitahukannya?" tanya Sena. "Maaf aku lupa mengatakan itu padanya" ucap Sena.


"Tidak apa apa nona" Aldric membantu Sena mengurus keperluan Dean.


Dean keluar dari kamar mandi dan terkejut saat melihat Aldric sudah berada di kamarnya. Tiba tiba hatinya menjadi kesal saat melihat Aldric membantu Sena, apalagi kini keduanya sedang duduk dan jaraknya hanya di pisahkan oleh dua buah koper saja.


"Aku bisa mengerjakannya sendiri, kau duduk saja" ujar Dean yang langsung menarik Sena agar duduk di dekatnya.


"Tuan yakin?" tanya Sena yang ragu pada Aldric dan Dean. "Aku akan benar benar membongkar semuanya jika ternyata tidak rapi" ujar Sena. Kedua pria itu saling tatap lalu menjauh dari koper. Sena tau kedua pria itu sama saja, sama sama tidak bisa menyusun baju sendiri.


"Aku sebenarnya bisa, tapi aku sedang malas" ujar Dean ngeles. "Ah ya Al kau sudah periksa mobil?" tanya Dean mengalihkan pembicaraan.


"Ah benar, panggil aku jika sudah selesai" ujar Aldric lalu segera pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.


Dean memeluk Sena dari samping lalu menempelkan dagunya di bahu wanita itu.


"Ini pertama kali, bukan?" tanya Dean.


"Eum?"


"Ini pertama kalinya kau pergi liburan bersama pria, kan?" tanya Dean.


"Eung, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku bepergian selain ke toserba" jawab Sena.


"Aku sedang sibuk sebenarnya, tapi aku meluangkan waktuku untukmu" ujar Dean.


"Ck, jika sibuk ya tidak usah" ucap Sena. Dean menjauhkan wajahnya lalu menarik Sena agar menatapnya.


"Kau mengumpat?" tanya Dean kaget.


"Tidak" jawab Sena sewot. "Sudah ayo kita berangkat" ajak Sena.


"Aku akan menelepon Aldric dulu" ujar Dean.


"Untuk apa?" tanya Sena.


"Membawa barang barang" jawab Dean.


"Tidak usah, kalau tuan tidak mau biar aku sendiri yang membawanya" ujar Sena.


"Tidak tidak, aku akan membantu" tukas Dean.


Dean dan Sena berjalan menuju ke teras depan. Viana yang melihat Sena langsung berlari dan menghampiri nona nya.


"Biar saya bawakan ini nona" Viana menarik koper yang ada di tangan Sena.


"Wah kau cantik sekali" seru Sena.


"Kenapa wanita selalu saling memuji seperti itu?" tanya Dean yang berlalu meninggalkan kedua wanita itu.


Aldric menyusun barang barang yang dibawa oleh Dean, Sena, dan juga Viana.


"Ayo berangkat" ajak Dean.


"Kau duduk sama tuan Aldric saja ya" bisik Sena sambil cekikikan. Ia terkejut saat Dean mencekal lehernya dan menariknya agar masuk kedalam mobil.


"Kau mau jadi Mak comblang ya?" tanya Dean kesal.


"Kan bisa saja mereka bersama" jawab Sena yang sudah duduk di dalam mobil.


Mobil melaju dengan cepat dan mulai menyusuri jalanan kota.


******


Viana sedang membantu Aldric menurunkan barang barang. Viana tidak menyadari bahwa Aldric sesekali menatap kearahnya.


"Ini akan di bawa kemana tuan?" tanya Viana.


"Kau bawa yang ringan ringan saja" jawab Aldric yang memberikan dompet juga ponselnya kepada Viana.


"Untuk apa ini tuan?" tanya Viana bingung.


"Bawakan itu ke kamarku" jawab Aldric.


"Kamar yang mana?" tanya Viana. Aldric menghela nafas.


"Ayo ikut aku" ujar Aldric. Di punggungnya bertengger satu tas ransel kecil milik Viana. Dan di tangan kanan kirinya ada koper milik Dean dan Sena. Setelah membawakan koper koper itu kepada pemiliknya, Aldric membawa Viana ke kamarnya.


Aldric menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia lupa bahwa sedari tadi Viana berada di belakangnya.


"Tuan, bolehkan saya pergi sekarang?" tanya Viana.


"Ehh? kau disini?" tanya Aldric.


"Tuan ingin saya membawakan ini, kan?" tanya Viana sembari menunjukan ponsel dan dompet milik Aldric.


"Ah ya benar" Aldric menghampiri Viana untuk mengambil ponsel dan dompetnya. "Sekarang istirahatlah, kamarmu ada di sebelah" ujar Aldric.


"Baiklah, terima kasih tuan" Viana mengambil tasnya dan akan segera keluar.


"Tunggu" seru Aldric. Tangannya bergerak menyentuh pipi Viana. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Aldric segera menurunkan tangannya ketika ia menyadari ada sesuatu yang bangun.


"Ada sesuatu di pipimu, sekarang pergilah" suruh Aldric.


"Baik tuan" Viana langsung pergi dan meninggalkan Aldric.


"Hampir saja aku menghabisinya" ucap Aldric sembari bernafas lega karena Viana sudah keluar dari kamarnya dan artinya ia tidak perlu menahan diri lagi.


*****


Sena terus menatap Dean yang sudah tertidur sembari memeluknya.


"Tuan" panggil Sena. "Sayang" panggil Sena lagi.


"Eum? kenapa?" tanya Dean tanpa membuka matanya.


"Bukannya kita kesini untuk berlibur?" tanya Sena.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Dean.


"Sedikit" jawab Sena. "Bolehkah aku keluar bersama Viana?" tanya Sena.


"Tidak boleh. kau harus istirahat" jawab Dean. "Nanti sore aku akan mengajakmu melihat sunset" ujar Dean.


"Tuan menyukai sunset?" tanya Sena.


"Tidak" jawab Dean.


"Lalu kenapa tuan bilang ingin melihat sunset?" tanya Sena.


"Karena dia ada" jawab Dean.


"Dia siapa?" tanya Sena bingung.


"Sunset" jawab Dean yang lagi lagi menutup matanya.


"Bukannya sunset itu terlihat indah?" tanya Sena. Tapi ia tersadar bahwa Dean sudah tertidur. Sena hanya menghela nafas panjang, ia pun ikut memejamkan matanya.