Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
pembalasan



Sarah sedang berfikir bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar sisa hutang mereka kepada rentenir.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sarah panik.


"Bagaimana lagi, kau tau kan biaya untuk Yoan itu besar" ucap Romi.


"harusnya dia yang memberi kita uang, kenapa dia malah menyusahkan?" tanya Sarah geram.


"itu karena kau selalu membiasakannya hidup enak" tukas Romi tak kalah geram. Sarah hanya berdecak kesal mengingat Yoan yang sekarang jarang pulang kerumah.


"Rumah ini bisa disita kalau kita tidak melunasinya" ucap Sarah frustasi. Sarah bangkit dan masuk ke kamar meninggalkan Romi sendirian. Romi hanya bisa menghela nafas kasar dan mengacak rambutnya.


****


Viana sedang menyusun beberapa minuman ke dalam kulkas. Hari ini Viana tidak menggunakan setelan formalnya karena ia akan membantu Sena membongkar barang.


"Apa nona selalu begini setiap hari?" tanya Viana.


"maksudmu?" tanya Sena tidak mengerti.


"Apa setiap hari nona selalu membongkar barang sendirian seperti ini?" tanya Viana.


"ah, tidak setiap hari sih, sebulan sekali biasanya" jawab Sena.


"Pasti melelahkan" ucap Viana.


"Tidak juga, aku sudah terbiasa" ucap Sena sembari tersenyum. "Harusnya kau tidak usah repot repot membantu, kau kan bisa menunggu di mobil atau di rumah" imbuhnya.


"Saya bosan" ucap Viana dengan tawa kecilnya.


"begitu ya" ucap Sena. Saat sedang mengambil barang, tiba tiba ponselnya berdering di meja kasir. Sena dengan cepat langsung mengambilnya.


"ayah?" batin Sena. Sena senang sekaligus bingung saat tau ayahnya menelpon dirinya. "Halo ayah" sapa Sena.


"Sena kau dimana?" tanya Romi.


"Di tempat kerja" jawab Sena.


"kau masih bekerja?" tanya Romi.


"Eung, aku masih bekerja, ada apa yah?" tanya Sena bingung.


"Ayah sudah mencarikan suami yang kaya raya agar kau tidak perlu bekerja, tapi kenapa kau masih bekerja nak?" tanya Romi. Sontak Sena terkejut dengan ucapan sang ayah.


"Ayah kenapa?" tanya Sena heran. "Lagipula aku bosan jika harus dirumah terus" ucap Sena.


"Tapi seharusnya kau bisa menikmati hidup tanpa perlu bersusah payah bekerja, atau kau kan bisa minta pekerjaan yang lebih layak pada suamimu" ujar Romi.


"Ayah mau apa?" tanya Sena. Ia tau ayahnya punya maksud tertentu padanya.


"Nak, tolong bantu Ayah sekali lagi" ucap Romi akhirnya. " ibumu jatuh sakit dan harus segera diobati" imbuhnya. Sena samar samar mendengar suara orang batuk di seberang telepon.


"ibu kenapa yah? siapa yang batuk?" tanya Sena yang mulai panik.


"Ibumu, dia harus segera di operasi karena paru parunya mengalami penyumbatan" jawab Romi mengarang tentunya. Mendengar itu Sena semakin panik.


"lalu ibu dimana sekarang? biar aku kesana" ujar Sena.


"tidak nak, kau tidak mungkin datang kesini, suamimu pasti tidak mengizinkanmu" ucap Romi. Benar juga, ia tidak mungkin menemui ayahnya karena larangan dari Dean fikirnya.


"lalu aku harus bagaimana ayah?" tanya Sena.


"bolehkah ayah meminjam uangmu?" tanya Romi.


"berapa yah?" tanya Sena.


"ayah butuh 50 juta nak" jawab Romi.


"50 juta??" tanya Sena. Sena berfikir darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kemudian ia ingat bahwa Dean memberinya kartu debit yang bisa digunakan kapan saja dan dengan nominal yang tak terbatas melalui Aldric. Tapi setelahnya Sena menggeleng kuat, itu gila fikirnya.


"nak, tolong bantu Ayah, jika ibumu tidak segera di operasi ... ayah tidak tau lagi apa yang akan terjadi pada ibumu" ucap Romi memelas.


"persetan dengan tuan Dean, aku akan menjelaskannya nanti" batin Sena. "baiklah, aku akan segera mentransfer uangnya" ucap Sena.


"terima kasih banyak, nak" ucap Romi. "Baiklah, ayah akan menunggu" ucap Romi. Setelah itu sambungan terputus. Sena menghela nafas berat.


"ada apa nona?" tanya Viana.


"ibuku sakit" jawab Sena.


"Entahlah, tuan Dean pasti tidak akan mengizinkanku" jawab Sena. Viana hanya diam, ia bahkan tidak tau harus berbuat apa lagi. "Tunggulah disini sebentar" ujar Sena.


"nona mau kemana?" tanya Viana.


"Aku harus ke depan sekarang, sebentar saja" jawab Sena. Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Viana sendirian. Sena pergi ke bank dan langsung mengirimkan uang untuk ayahnya. Sena tau ini tidak akan baik baik saja nantinya, tapi ia percaya ia pasti bisa mengatasinya.


****


Dean dan Aldric baru saja menyelesaikan meeting bersama dengan kliennya. Aldric yang sedang bermain dengan ponselnya langsung menoleh menatap ke arah Dean.


"Tuan" panggil Aldric.


"Eum"


"Nona Sena mengirimkan uang 50 juta pada Romi" ucap Aldric to the point. Dean tertawa geli.


"Berani sekali gadis itu" ucap Dean. "apa Romi mencoba mengganggu putrinya lagi?" tanya Dean.


"Apa yang harus kita lakukan tuan?" tanya Aldric.


"Apa yang bisa kita ambil?" tanya Dean. Aldric dengan cepat mencari informasi dan langsung mendapatkannya.


"Rumah" jawab Aldric.


"Ck, siapa yang mau tinggal di rumah lusuh seperti itu?" tanya Dean.


"Lalu apa?" tanya Aldric.


"Kita akan tetap mengambilnya, tapi kita akan menghancurkannya terlebih dahulu" jawab Dean.


"Baiklah, kapan kita mulai?" tanya Aldric.


"kalau bisa secepatnya" jawab Dean. Aldric mengangguk mengerti.


"Lalu apa yang akan kita lakukan pada Romi?" tanya Aldric.


"Entahlah. Aku sedang tidak ingin bermain" jawab Dean malas.


"Kau selalu saja begitu" tukas Aldric.


"Hei dimana sopan santun mu kepada bos?" tanya Dean kesal.


"Tidak ada sopan santun dalam persahabatan" jawab Aldric.


"Ck persahabatan apanya, jika aku mau aku bisa memecatmu sekarang juga kau tau" ucap Dean menyombong.


"Pecat saja, ku pastikan kau akan menyesali keputusan mu karena sudah membuang orang pintar sepertiku" ucap Aldric menantang.


"Kau merasa terbuang?" tanya Dean sinis. "Sekedar info, banyak orang pintar di negeri ini" tukas Dean.


"Tapi hanya sedikit orang yang setia kawan sepertiku" sahut Aldric.


"Kau mulai menyombong lagi" ucap Dean kesal.


"Ck, padahal dia yang memulainya" gumam Aldric dengan wajah sinis.


"Kau menjulid?" tanya Dean kesal.


"apa gunanya menjulid padamu?" tanya Aldric tak kalah kesal.


Dean tertawa kesal karena sudah salah memilih sekretaris seperti Aldric. Keduanya saling melempar tatapan kesal. Tak mengherankan karena mereka memang bersahabat. Tidak membutuhkan waktu yang lama keduanya akan segera berbaikan dan kembali berbincang lagi.


*****


Romi dan Sarah baru keluar dari bank guna mengambil uang yang sudah di transfer oleh Sena.


"Kau lihat, anakmu itu sangat berguna" ucap Romi.


"Kali ini aku mengakuinya" sahut Sarah sembari tertawa senang.


"kapan lagi kita punya tabungan berjalan" ucap Romi dengan tawa bahagianya.


"besok besok kau harus bersikap lebih baik lagi pada Sena, agar dia memberikan lebih banyak uang pada kita" bisik Sarah.


"Kau tenang saja, tidak sia sia kan punya menantu kaya" ujar Romi. "selama tuan Dean tidak mengetahui, kita akan aman" imbuhnya.


Keduanya berjalan untuk pulang kerumah. Dengan hati yang sangat gembira mereka tidak tau apa yang terjadi setelahnya.