
Jihan berjalan melewati koridor rumah sakit. Setelah kejadian dimana ia mendorong Sena, karirnya perlahan meredup. Namun, hanya karena kedua orang tuanya berasal dari keluarga berada membuatnya sedikit tenang. Entah apa yang dilakukan Aldric tapi pria itu benar benar bisa di andalkan.
Jihan menghentikan langkahnya saat ponselnya berdering.
"Halo, ada apa?" Tanya Jihan pada seseorang di seberang telepon.
"Kau dimana?"
"Rumah sakit, nenek tua itu kembali menyusahkan ku" Jawab Jihan.
"Ck, kau benar benar hanya membutuhkan hartanya saja"
"Lalu apa lagi?" Tanya Jihan yang kembali melanjutkan langkahnya.
"Kau tidak ikut mereka?"
"Mereka siapa?" Tanya Jihan acuh.
"Kau tidak tau? Dean dan istrinya mendatangi pulau biru siang tadi"
"Kau serius?" Tanya Jihan terkejut.
"Ya, aku sangat serius. Aku dengar mereka akan menginap untuk beberapa hari"
"Wah, sepertinya itu bagus" Ucap Jihan.
"Tunggu apalagi? kau harus menyusul mereka"
"Dimana mereka menginap?" Tanya Jihan.
"Villa M"
"Baiklah, aku akan datang kesana, terima kasih infonya" Ujar Jihan. Ia memutuskan sambungan teleponnya dan segera pergi keluar dari rumah sakit.
Sena membuka matanya dan sedikit mendongak agar bisa melihat wajah Dean lebih dekat lagi. Sena tersenyum melihat wajah Dean yang masih tetap tampan bahkan dalam keadaan tidur sekalipun. Sena menaikkan sedikit tubuhnya dan mencium bibir Dean sekilas.
"Wah, istriku nakal sekali" Ucap Dean dengan mata yang masih tertutup. Itu jelas membuat Sena terkejut dan juga malu. Ia hendak melarikan diri tapi dekapan Dean terlalu sulit untuk di tembus.
"Aku ingin ke toilet sekarang" Seru Sena panik.
"Tidak boleh. Kau sudah membangunkan ku" Tukas Dean.
"Jangan sekarang, aku ingin ke pantai dulu" Ujar Sena. Dean spontan membuka matanya dan langsung tertawa.
"Memangnya apa yang akan aku lakukan gadis nakal?" Tanya Dean. "Sedikit pemanasan akan membuat tubuhmu rileks" Ujar Dean. Tanpa peringatan Dean langsung ******* bibir Sena dengan lembut. Dean menjauhkan wajahnya, lalu keduanya saling tatap.
"Jangan menatapku seperti itu" Ucap Sena.
"Kenapa?" Tanya Dean. "Kau kan istriku" Ujarnya.
"Aku malu" Jawab Sena sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ayo ke pantai" Ajak Dean. Sena spontan menurunkan tangannya.
"Aku akan mengajak Viana juga" Ucap Sena yang langsung bangkit dan keluar dari kamarnya.
*****
Sena melangkahkan kakinya ke kamar Viana. Di ruang tamu ia bertemu dengan Aldric.
"Tuan Al mau kemana?" Tanya Sena sembari tersenyum manis.
"Mencari udara segar diluar nona" Jawab Aldric.
"Wah kebetulan sekali aku dan tuan Dean juga akan keluar" Ujar Sena. "Eum, tuan Al aku tiba tiba ingin ke toilet. Jadi bisakah kau memanggil Viana di kamarnya?" Tanya Sena.
"Untuk apa nona?" Tanya Aldric.
"Untuk mengajaknya ke pantai juga, dan tuan Al juga harus ikut" Jawab Sena.
"Ta ...."
"Baiklah, aku akan mengatakannya pada tuan Dean!!" Teriak Sena yang sudah berlari menjauh.
"Aish kenapa harus aku?" Tanya Aldric kesal. Ia berjalan menuju ke arah kamar Viana. Sesampainya di depan pintu, Aldric mengetuk untuk beberapa kali. Viana yang baru bangun tidur muncul dengan wajah pucatnya.
"Tuan Al" Gumam Viana masih dengan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya.
"Nona Sena mengajak mu ke pantai" Ucap Aldric.
"Ah begitu? baiklah saya akan bersiap siap" Ujar Viana.
"Tapi tunggu, apa kau sakit?" Tanya Aldric yang memperlihatkan wajah Viana.
"Kau bisa tetap tinggal jika kau tidak ingin" Ujar Aldric.
"Tidak, saya akan ikut" Ucap Viana.
"Baiklah, aku akan menunggumu di depan" ujar Aldric yang kemudian pergi meninggalkan Viana.
*******
Pantai di sore hari adalah yang terbaik, sunset yang elok di pandang dan juga angin yang berhembus membuat suasana menjadi tenang. Sena dan Dean berjalan di pinggiran pantai dengan tangan yang saling bertautan. Tidak jauh di belakang mereka ada Aldric dan Viana.
Aldric terus memperhatikan Viana yang berjalan sembari menendangi pasir.
"Kau cemburu?" Tanya Aldric. Viana menoleh lalu tertawa.
"Cemburu pada pasir?" Tanya Viana.
"Tidak bodoh, kau cemburu melihat tuan Dean dan nona Sena" Tukas Aldric. Viana memasang wajah terkejut.
"Tuan bercanda?" Tanya Viana. "Atas dasar apa saya cemburu tuan?" Tanya Viana lagi. Aldric mengedikkan bahunya.
"Kau sakit?" Tanya Aldric saat melihat Viana seperti sedang memeluk dirinya sendiri.
"Tidak, mungkin karena suhu disini terlalu dingin jadi saya kedinginan" Jawab Viana.
"Kalau begitu kau kan bisa hidupkan penghangat ruangan" Ujar Aldric.
"Tetap saja tidak cukup tuan, padahal saya juga tidak menyalakan AC" Ucap Viana.
"Wajahmu pucat sekali, kau istirahat saja di kamar" Ujar Aldric. Viana menggelengkan kepalanya.
"Lalu untuk apa saya ikut kesini?" Tanya Viana. Aldric hanya menghela nafas, ia kembali menatap pemandangan pantai walaupun kenyataannya ia tetap memikirkan Viana.
Sena terkejut saat melihat ada keong yang sedang berjalan di pasir. Senyumnya merekah, wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Boleh aku mengambilnya?" Tanya Sena antusias.
"Tunggu, bagaimana jika ia menggigit mu?" Tanya Dean khawatir.
"Tidak, jika aku memegang cangkangnya" Jawab Sena. "Boleh kan?" Tanya Sena. Dean mengangguk mengiyakan.
"Kenapa dia terlihat bahagia sekali? definisi bahagia menurut dia itu seperti apa? tapi kenapa melihatnya seperti itu membuatku ikut bahagia?" Batin Dean bertanya tanya.
"Viana lihat ini!" Teriak Sena lalu berlari menghampiri Viana. Belum sampai di tempat Sena sudah terjatuh karena tersandung batu karang. Dean, Viana, dan Aldric langsung panik dan berlari menghampiri Viana.
"Nona tidak apa apa?" Tanya Viana.
"Hanya sakit sedikit" Jawab Sena.
"Sakit sedikit kau bilang, lihat kakimu sudah berdarah!" bentak Dean. Mendengar itu membuat Sena menciut.
"Nona terkena batu karang" Ucap Aldric yang juga menyadari bahwa kaki Sena sudah berdarah.
"Kita kembali ke villa" Ujar Dean yang langsung mengangkat Sena dan membawanya kembali ke kamar.
Suasana menjadi tegang, Viana membantu Dean membersihkan luka di kaki Sena dan membalutnya dengan perban sedangkan Aldric pergi untuk memberi obat pereda rasa sakit.
"Viana, kau sakit?" Tanya Sena yang menyadari wajah pucat Viana.
"Tidak nona" Jawab Viana.
"Kau sendiri sedang sakit bagaimana bisa kau memikirkan orang lain?" Tanya Dean tak habis fikir. Sena hanya terdiam dan tidak menggubris ucapan Dean.
Aldric masuk dengan membawa segelas air dan obat.
"Tuan, bisakah kau membawa Viana ke kamarnya?" Tanya Sena. Aldric meletakkan air dan obat di meja lalu ia berjalan menghampiri Viana.
"Ayo kembali ke kamar" Ajak Aldric.
"Iya tuan" Viana bangkit dan segera keluar untuk kembali ke kamarnya.
"Apa ini masih sakit?" Tanya Dean.
"Tidak" Jawab Sena.
"Kenapa kau tidak berhati hati?" Tanya Dean dengan intonasi yang masih meninggi. Sena seperti ingin menangis, padahal disaat sakit ia ingin di perhatikan bukannya di omeli seperti yang Dean lakukan sekarang.
Sena bangkit lalu berjalan dengan terpincang-pincang kemudian naik ke atas kasur. Ia merebahkan tubuhnya disana dan berusaha untuk mengabaikan Dean.
Dean menghela nafas, lalu berjalan menghampiri Sena. Pria itu ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk Sena dari belakang. Rasanya benar benar kesal ketika di abaikan, tapi Dean tidak ingin membuat Sena tersakiti lagi dengan sikapnya. Ia tau Sena benar benar membutuhkan kasih sayang dan untuk saat ini hanya dia yang bisa memberikan itu.