Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Siapa suamiku ini?



Sena terus meringis merasakan punggungnya yang terasa sakit. Setelah dilarikan kerumah sakit, Sena langsung mendapat perawatan intensif. Entah apa alasannya, tapi melihat Sena seperti itu sangat menyesakkan untuk Dean. Tiba tiba hatinya terasa sakit ketika melihat Sena lagi lagi harus masuk rumah sakit, padahal luka yang kemarin saja belum sembuh seutuhnya.


Viana hanya duduk sembari memainkan jemarinya. Lagi lagi ia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi nona nya. Viana menoleh saat seseorang duduk di sampingnya.


"Tuan" panggil Viana pada Aldric yang baru saja duduk.


"eum?"


"Apa nona akan baik baik saja?" tanya Viana.


"Sebentar lagi dia akan bangun" jawab Aldric. Viana mengangguk mengerti.


"Saya percaya pada tuan" ucap Viana. "Maaf saya tidak bisa menjaga nona Sena dengan baik" ujar Viana.


"Ini bukan salahmu" ucap Aldric. "Tapi kedepannya kau harus bisa menjaga nona Sena" ujarnya.


"Saya akan berusaha tuan" ucap Viana. "Apa cederanya semakin parah?" tanyanya.


"Belum tau, dokter belum mengatakan apapun tentang itu" jawab Aldric. Ia kemudian beralih melihat Dean yang sedang duduk di bangku yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Ketiganya menoleh saat pintu ruangan terbuka, Bian keluar dengan seorang perawat. Mereka berdiri dan langsung menghampiri Bian.


"Bagaimana?" tanya Dean. Dimatanya terpancar kekhawatiran pada Sena.


"Apa punggungnya terbentur lagi?" tanya Bian. Dean mengangguk mengiyakan. "Sudah kuduga" ucap Bian.


"Memangnya kenapa?" tanya Dean.


"Cedera punggungnya semakin parah" jawab Bian. "Kali ini ia harus mendapatkan perawatan intensif" ujarnya.


"Berapa lama?" tanya Dean.


"Aku juga tidak tau. Aku ini dokter dan bukannya tuhan" ucap Bian.


"Aku juga tau itu" tukas Dean kesal.


"Dia baru saja diberi obat pereda rasa sakit, jadi jangan berisik dan saat dia bangun nanti jangan coba coba memarahinya" ancam Bian yang setelah itu pergi meninggalkan Dean.


"Apa maksudnya bicara seperti itu? kenapa aku harus memarahinya?" tanya Dean kesal kemudian berjalan masuk kedalam ruangan disusul dengan Viana dan Aldric di belakangnya.


Dean berjalan menghampiri Sena yang masih tertidur. Dean terus menatap wajah cantik itu dengan intens.


"Kenapa aku terus mengkhawatirkan mu? kenapa semudah itu kau menarik perhatian ku? apa yang salah denganku?" tanya Dean di dalam hati.


"Aku kasihan pada nona Sena, dia adalah gadis tangguh yang sesungguhnya. Bagaimana aku bisa membencinya jika kenyataan dia adalah gadis yang baik? aku tidak membutuhkan alasan kenapa kak Arka lebih memilihnya, karena alasannya sudah sangat jelas. Bagaimana jika kak Arka tau yang sebenarnya? bagaimana jika kak Arka marah karena aku tidak bisa melindungi nona Sena?" batin Viana yang terus bertanya-tanya di dalam hati.


"Apa Dean mulai menyukai Sena atau hanya kasihan? Apa Sena mampu menggantikan Hana? tunggu, aku baru menyadari ternyata mereka memiliki nama yang hampir sama. Aku bisa melihat kekhawatiran di mata Dean untuk Sena. Aku masih penasaran ada hubungan apa antara Sena dan Arka. Kenapa Arka marah saat tau kalau Sena sakit?" batin Aldric yang sekarang sedang bertanya tanya di dalam hatinya juga.


Ketiganya sedang bergelut dengan fikiran masing masing. Hingga jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Viana sesekali menguap dan berusaha menahan kantuknya.


"Tidurlah" suruh Aldric yang sedari tadi terus memperhatikan Viana.


"Tidak tuan" tolak Viana. "Saya akan menjaga nona Sena" imbuhnya.


"Kau saja sudah mengantuk bagaimana kau akan menjaganya?" tanya Aldric.


"Kalian berdua pulanglah. Biar aku yang menjaga Sena" ujar Dean.


"Tapi bagaimana mungkin kau menjaganya sendirian?" tanya Aldric.


"Aku bisa menjaganya dengan baik" jawab Dean. "Ajaklah Viana pulang" ujarnya. Aldric akhirnya mengangguk dan pergi bersama dengan Viana.


Di dalam mobil suasananya sangat hening dan canggung. Baik Viana ataupun Aldric sama sama terdiam.


"Aku ingin bertanya padamu" ucap Aldric to the point. Viana menoleh.


"Apa itu?" tanya Viana.


"Apa hubunganmu dengan Arka?" tanya Aldric. Viana terdiam, kenapa mendadak memberi pertanyaan seperti itu? fikirnya.


"Pantas saja kalian sering bertemu" ucap Aldric. "Lalu bagaimana dengan nona Sena? apa hubungan Arka dengan Sena?" tanya Aldric.


"Mereka tidak memiliki hubungan apa apa tuan" jawab Viana, karena yang ia tau kakaknya dan Sena memang sedang tidak berada dalam suatu hubungan.


"Kau yakin?" tanya Aldric.


"Sangat yakin, mereka sudah berteman sejak lama" jawab Viana.


"Baiklah. Kalau begitu aku ingin kau menjaga nona Sena dan jangan biarkan kakakmu mendekatinya lagi" ucap Aldric penuh penekanan.


"Baik tuan. Saya akan menjaga nona Sena" ucap Viana.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyisir jalanan menuju mansion.


*****


Suasana hening dan tenang, yang terdengar hanyalah deru nafas dan suara jam dinding yang terus berdetak, mengisyaratkan waktu yang terus berjalan. Jam sudah menunjukkan pukul satu tengah malam. Dean masih terjaga di tempatnya, ia menduduki kursi yang ada di dekat tempat tidur pasien. Sena bahkan belum menunjukkan tanda tanda apapun. Dean menghela nafas lalu mengambil ponselnya yang baru saja berdering.


"Ada apa Al?" tanya Dean.


"Bagaimana keadaan nona Sena?" tanya Aldric. Dean melirik kearah Sena yang masih tertidur.


"Dia masih belum sadar" ucap Dean.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Aldric.


"Kau tau dimana Jihan bekerja?" tanya Dean.


"Ya, aku tau" jawab Aldric.


"Kau tau kan apa yang harus kau lakukan?" tanya Dean.


Di tengah percakapannya dengan Aldric, Dean tidak menyadari bahwa Sena perlahan sadar dan membuka matanya.


"Baiklah, akan ku lakukan malam ini juga" jawab Aldric.


"Dan satu lagi" ucap Dean.


"Apa itu?" tanya Aldric.


"Temukan Romi dan buat dia lebih menderita lagi. Dia adalah alasan kenapa ini semua bisa terjadi" ucap Dean menahan amarahnya.


Sena terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Dean. Tangannya hendak bergerak tapi untuk menggerakkan bibirnya saja ia tidak mampu.


"Baiklah, aku akan mengirimkan beberapa anak buah ku" ujar Aldric. Setelah itu telponnya terputus. Dean beralih menatap Sena dan setelahnya terkejut saat melihat Sena sudah sadarkan diri. Ia hendak menekan bel untuk memanggil perawat, tapi Sena menggeleng mengisyaratkan bahwa dia tidak ingin dipanggil kan perawat.


"Kenapa?" tanya Dean.


"Saya baik baik saja tuan" jawab Sena dengan suara pelan.


"Baik baik saja dari mana?" tanya Dean kesal. Ia kemudian menghela nafas gusar. "Sena dengar, kau sedang sakit dan tidak sedang baik baik saja" ucapnya tegas.


"Jangan ganggu ayahku" ucap Sena akhirnya. Dean menatap datar wanita bodoh yang sedang tergeletak di depannya ini.


"Apa kau bodoh? kenapa kau bodoh sekali?" tanya Dean. "Kenapa kau selalu membelanya padahal dia sudah menjual mu?" tanya Dean lagi. Mata Sena mulai berkaca kaca.


"Setelah ini saya berjanji tidak akan bertemu dengannya lagi" ucap Sena. "Biarkan dia hidup dan mati dengan sendirinya, saya tidak akan mencari tau tentangnya tuan saya mohon" ucapnya lirih. Sena kemudian hendak melepaskan selang infusnya tapi Dean segera mencegahnya.


"Kau ini benar benar gila ya!" bentak Dean. Dean menghela nafas kasar. "Aku tidak pandai mengontrol emosiku, jadi jangan buat aku emosi" ucap Dean.


"Maaf" ucap Sena pelan. Dean menatap mata Sena, mata yang sudah mengalihkan dunianya.


"Kau harus cepat sembuh" ucap Dean akhirnya. Mendengar itu Sena tertegun.


"siapakah suamiku ini?" tanya Sena dalam hati.