Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Kakak tiri Viana



Sena terdiam di atas kasur empuknya. Sembari menekuk lutut dan memainkan jemarinya. Hari ini ia tidak pergi bekerja karena ia merasa tidak enak badan. Bibirnya yang pucat dan matanya yang sendu. Sena kembali teringat percakapannya dengan Viana beberapa hari yang lalu.


...(*beberapa hari yang lalu)...


Mobil Sena memasuki halaman mension yang sangat luas itu. Sena turun dari mobil bersama dengan Viana, keduanya berjalan masuk ke dalam dan seperti biasa mereka akan di sambut oleh beberapa pelayan. Sena pergi ke kamarnya dan diikuti oleh Viana. Viana mengambil ponselnya dan ternyata ada satu panggilan tak terjawab dari Aldric dan itu sudah tiga jam yang lalu. Viana dengan panik langsung menelepon Aldric.


"H-halo tuan maaf saya baru membuka ponsel saya" ucap Viana.


"Eung, baiklah tidak masalah" ujar Aldric di seberang telepon.


"apa ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Viana.


"Tidak, tapi kau bisa sampaikan pada nona Sena bahwa tuan Dean dan aku pergi keluar kota. Aku percayakan nona Sena padamu" jawab Aldric.


"boleh saya tau, berapa lama tuan?" tanya Viana hati hati.


"mungkin seminggu atau lebih" jawab Aldric. "baiklah aku tutup telponnya" Setelah itu sambungan terputus.


Viana menghela nafas lalu beralih menatap nona nya yang sedari tadi sudah memperhatikannya.


"Kenapa? ada masalah?" tanya Sena.


"Barusan tuan Aldric bilang, ia dan tuan Dean pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan" jawab Viana. Sena seketika tertegun. Apa ini? kenapa menyesakkan ketika orang yang berstatus suami istri tapi tidak saling berkomunikasi? fikir Sena. Sena kemudian tersenyum sembari mengangguk mengerti.


"berapa lama?" tanya Sena.


"mungkin seminggu atau lebih" jawab Viana. "Ada apa nona?" tanya Viana yang menyadari perubahan raut wajah Sena. Keduanya mendudukkan bokongnya di sofa.


"Kenapa rasanya sangat menyesakkan? padahal aku sudah tau ini adalah salah satu resikonya, aku tau tuan Dean tidak akan menganggap ku ada disini" Ujar Sena. "Kenapa rasanya menyakitkan? dia pergi dan tidak memberitahuku atau sekedar berpamitan? memang siapa aku?" ucap Sena sembari tertawa hambar.


"Nona tidak sendiri, aku juga pernah merasakan hal itu" ujar Viana. Sena menoleh.


"baiklah, sekarang waktunya kau bercerita" ujar Sena. Viana menghela nafas.


"Nona masih ingat tentang kakak tiri ku yang bernama Arka sama seperti teman nona?" tanya Viana. Sena mengangguk mengiyakan. "Kami sering ditinggal berdua dalam waktu yang cukup lama bersama dengan bibi Yolin. Bibi Yolin akan datang pada pagi hari dan pulang kerumahnya pada sore hari. Kami tumbuh bersama layaknya saudara kandung" ucap Viana. Viana terdiam sejenak.


"Lalu?" tanya Sena.


"Mungkin ini salah, tapi akhirnya kami mempunyai hubungan dan saling mencintai. Baik ayah ataupun ibuku tidak ada yang mengetahuinya, hanya kami berdua. Aku tidak tau tapi hubungan itu semakin jauh" ucap Viana. "Kami mulai melakukan sesuatu di luar batas. Karena kami sudah bersama sejak kecil, ketika kami tidur bersama tidak akan ada yang curiga" sambung Viana. Sena cukup terkejut, karena tau arah pembicaraan Viana yang dikatakan diluar batas.


"Kalian melakukannya?" tanya Sena. Viana menunduk lalu mengangguk-angguk an kepalanya.


"Aku tidak apa jika sekarang nona merasa jijik padaku, memang sepantasnya begitu. aku tidak tau, tapi itu terjadi begitu saja" ucap Viana. "Hingga akhirnya, dia mengatakan bahwa dia mencintai sahabatnya dan ingin melepaskan ku. Itu sangat membuatku hancur, hingga aku yang masih labil ini langsung mengambil tindakan yang salah" imbuhnya.


"tindakan apa?" tanya Sena.


"Aku memberitahu ayah dan ibu bahwa kami berpacaran. Dan aku meminta kakakku bertanggung jawab" jawab Viana. "Saat itu bukan hanya aku yang hancur, tapi juga ibu dan ayahku. Dan setelah hari itu, kakakku pergi dari rumah dan ibuku jatuh sakit" ucap Viana. Viana menghela nafas. "Dan sekarang aku tidak tau bagaimana keadaan mereka" imbuhnya.


"Tapi beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan kakakku" jawab Viana. Sena terkejut mendengar itu.


"Dimana?" tanya Sena. Viana menoleh menatap Sena.


"Di depan toko nona hari itu, hari yang sama dimana nona menyuruhku untuk beristirahat dirumah" jawab Viana. Sena seketika terdiam seribu bahasa. Fikirannya tertuju pada seseorang yang ia kenal. Baik Sena ataupun Viana hanya saling pandang dengan tatapan bingung.


****


Sena sudah cukup sehat sehingga dia sudah bisa pergi bekerja. Seperti biasa, Sena akan di antar oleh pak Rey dan Viana. Dan seperti biasa, pak Rey dan Viana akan memantau dari kejauhan. Sena berjalan sendiri menuju toserba. Tiba tiba suara seorang wanita menghentikan langkahnya.


"Sena!" panggil Yoan yang sudah berjalan menghampiri Sena. Sena menoleh dan tersenyum karena melihat wajah sang kakak.


"wah kakak mengunjungi ku?" tanya Sena antusias.


Yoan tertawa hambar. "aku? mengunjungimu?" tanya Yoan. Yoan mendekati Sena dengan wajah kesalnya. "Kau, Aku adalah kakakmu kan?" tanya Yoan. Sena mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu berikan tuan Dean untukku" tukas Yoan. "Bercerai lah dengannya" imbuhnya. seketika senyum Sena luntur karena ucapan sang kakak.


"apa yang kakak katakan?" tanya Sena.


"Kau fikir kau pantas bersanding dengannya? Secepatnya aku minta kau ceraikan tuan Dean" suruh Yoan. Sena menggeleng kuat.


"Itu tidak mungkin, ayah sudah menandatangani kontrak pernikahan ku dengan tuan Dean" tolak Sena. "Apa kakak mau membuat ayah dalam masalah?" tanya Sena.


"Ayah tidak akan dalam masalah, karena aku yang akan menggantikan mu. Tuan Dean pasti tidak akan masalah dengan itu, dia juga malu menunjukan mu di depan publik" jawab Yoan yang mampu membuat hati Sena teriris.


"aku tidak akan melakukannya" jawab Sena. Amarah Yoan seketika memuncak. Tiba tiba Yoan menjambak rambut Sena dan menamparnya kuat. Ini bukan pertama kalinya Yoan menamparnya, meski begitu hatinya tetap saja merasa sakit.


"Kenapa kau selalu saja menjadi penghalang di kehidupanku?" teriak Yoan. Ia kembali memberi tamparan keras untuk Sena. Sena merasakan sudut bibirnya perih dan sudah mengeluarkan darah.


Viana dan pak Rey baru menyadari apa yang terjadi pada nona nya. Keduanya dengan panik langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri Sena. Saat ini Sena sudah terjatuh dengan hidung yang mengeluarkan darah karena pukulan dari Yoan. pak Rey dengan sigap langsung menahan Yoan dan menjauhkannya dari Sena. Viana langsung menghampiri Sena dan membantunya berdiri.


"Hei! apa kau merasa hebat karena orang orang bodoh ini menjagamu?" teriak Yoan yang masih berada di tangan pak Rey. Ia terus memberontak dan meminta agar dilepaskan. "Aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang, lepaskan!!!" teriak Yoan. Setelah dilepaskan, ia langsung pergi dengan mobilnya.


"nona, apa nona bisa mendengar ku?" tanya Viana panik. Saat pak Rey dan Viana hendak membawa Sena. sebuah suara membuat keduanya menoleh.


"Sena!!" teriak Arka yang baru datang entah darimana. Arka langsung mengambil Sena dari Viana. "Sena, apa yang terjadi, hah?" tanya Arka. Arka kemudian mengangkat pandangannya dan matanya bertemu Viana, adik tirinya. Viana hanya terdiam dengan wajah terkejutnya. Arka memalingkan wajahnya dan beralih menatap Sena. "aku akan membawanya kerumah sakit" ujar Arka.


"Maaf tuan. Tapi kami tidak bisa membiarkanmu membawa nyonya Sena" ucap pak Rey. "Kami yang akan mengurusnya" imbuhnya.


"Ck, kalian bahkan tidak becus menjaganya" tukas Arka. Arka langsung menggendong Sena dan membawanya ke mobilnya. Pak Rey hendak mencegah lagi, tapi Viana melarang.


"Lebih baik kita mengikutinya saja pak" ujar Viana yang langsung masuk ke dalam mobil dan di susul oleh pak Rey.