Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
makan dengan Arka



Masih seperti pagi biasanya, Sena tetap menikmati sarapannya seorang diri. Dean sama sekali tidak menganggapnya ada di mension ini. Sena menghela nafas lalu meletakkan sendoknya padahal makanannya belum habis.


"ada apa nona?" tanya Viana heran.


"aku bosan makan sendiri" jawab Sena. "aku ingin pergi bekerja saja" ujarnya.


"tapi nona harus makan" ujar Viana.


"aku benar benar kenyang, apa kau sudah bersiap?" tanya Sena. Viana mengangguk. "ayo kita pergi" ajak Sena.


Didalam mobil Sena hanya memandang keluar. Ia tidak menyangka bisa menikah dengan seorang miliarder seperti Dean. Bahkan ia tidak pernah menyangka bisa pergi bekerja dengan menaiki sebuah mobil mewah dan memiliki seorang asisten pribadi. Sena menghela nafas, ia tak pernah tau apa yang akan terjadi di depan sana. Ia tidak berharap bisa dicintai oleh suaminya, ia hanya berharap hidupnya akan baik baik saja mulai sekarang dan seterusnya.


"Nona baik baik saja?" tanya Viana. Sena menoleh lalu tersenyum.


"ya, aku baik baik saja" jawab Sena.


"ah ya, apa nona bekerja setiap hari?" tanya Viana. Sena mengangguk.


"aku sempat duduk di bangku kuliah, tapi akhirnya aku berhenti kuliah. tepatnya dua tahun lalu" ucap Sena. Viana sedikit terkejut.


"maaf, tapi boleh saya tau kenapa?" tanya Viana.


"karena ekonomi keluargaku yang semakin memburuk, aku tidak bisa melanjutkannya lagi" jawab Sena. Viana menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"jadi nona sudah dua tahun bekerja di toko itu?" tanya Viana.


"Eung, aku lebih baik bekerja seharian daripada harus berada di rumah dengan keadaan keluargaku yang seperti itu" jawab Sena lalu memalingkan wajahnya keluar. "ibuku seorang pelayan cafe, ayahku seorang pemabuk, dan kakakku seorang model. oleh karena itu ayah dan ibuku tidak menyayangiku" ucap Sena.


"Maaf saya sudah lancang bertanya seperti itu nona, itu pasti membuat anda sedih" ujar Viana yang merasa tidak enak. Sena menoleh menatap Viana.


"kau tau, aku tidak pernah punya tempat untuk menuangkan segala keluh kesah ku. Tidak ada yang bertanya bagaimana harimu? bagaimana sekolahmu? tidak pernah ada yang bertanya seperti itu. Aku punya keluarga, tapi aku tetap saja kesepian" ucap Sena sembari tertawa miris.


"jadi nona tidak punya teman? maksudku orang terdekat?" tanya Viana. Sena sedikit berfikir.


"ah iya aku ingat, ada satu laki laki yang sangat dekat denganku. Mungkin ini juga kesalahanku, aku menyukai nya tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Dia juga tidak pernah bertanya apa aku baik baik saja, entah dia yang tidak peka atau aku yang terlalu pandai menyembunyikannya" jawab Sena.


"lalu sekarang apa nona masih menyukainya?" tanya Viana.


"tidak, dia menghilang sejak dua tahun yang lalu. Dan sejak saat itu aku berhenti menyukainya dan ternyata itu sulit. Dan kau tau, saat aku sudah berhasil melupakannya, dia malah muncul kembali" ujar Sena sembari tertawa kecil.


"Laki laki itu tuan Dean?" tanya Viana. Sena sontak terkejut.


"mendengar namanya saja aku tidak pernah apalagi berteman dengannya" jawab Sena sewot. "laki laki itu namanya Arka, dan sekarang dia adalah seorang dokter spesialis jantung di rumah sakit milik ayahnya" imbuhnya.


"wah, namanya sama seperti kakak tiri ku, dia juga dokter sama seperti teman nona" ujar Viana.


"wah, benarkah?" tanya Sena. "Mungkin nanti kita bisa mempertemukan keduanya" ujar Sena sembari tertawa.


"tapi kakak tiri ku sedang berada di luar kota sekarang" ucap Viana. "Dan kurasa dia tak akan pernah kembali" jawab Viana.


"kenapa begitu?" tanya Sena.


"mungkin, saya rasa begitu" jawab Viana Absurd.


"kenapa? apa yang terjadi?" tanya Sena yang masih penasaran.


"tidak, saya akan menceritakannya tapi nanti kalau saya sudah siap" jawab Viana.


"baiklah. jika kau sudah siap kau bisa menceritakannya padaku" ujar Sena. Viana mengangguk setuju.


setelah bercerita panjang, akhirnya mobil berhenti di tempat biasanya.


"kau bisa pulang dan istirahat" suruh Sena. "kau pucat sekali, kau butuh istirahat, maaf karena aku setiap hari kau harus mengantar dan menjemput ku" ujar Sena. Viana menggeleng cepat.


"tidak apa apa, kau pulanglah. Aku akan menelepon pak sopir nanti atau aku juga bisa pulang sendiri" ujar Sena.


"ah tidak saya akan menjemput nona nanti" tukas Viana.


"baiklah, kau istirahat saja nanti aku akan menelepon mu" ujar Sena. "baiklah aku turun ya, pak tolong antar kan Viana pulang ya" ucap Sena.


"baik nona" ucap pak sopir.


"terima kasih nona" ujar Viana. Sena mengangguk sembari tersenyum lalu turun dari mobil dan berjalan menuju ke tempat kerjanya.


****


Arka melajukan mobilnya dengan santai. Sembari mendengarkan sebuah lagu kesukaannya. Tiba tiba ia teringat tentang Sena, dan ia berencana untuk mengajak Sena makan siang bersama. Setelah sampai di depan toserba, Arka turun dari mobil dan berjalan masuk ke toko.


"selamat siang nona cantik" ujar Arka. Sena yang sedang menata jajanan langsung menoleh dan terkejut saat melihat Arka.


"Arka, kenapa disini?" tanya Sena.


"kenapa?" bukannya toserba ini dibuka untuk umum ya?" tanya Arka. Sena tertawa kecil.


"kau mau beli apa?" tanya Sena.


"hem, bagaimana kalau makan siang bersama?" tanya Arka.


"hei aku tidak menjual waktu ya" ucap Sena. Arka tertawa mendengar itu.


"ayo makan siang, hari ini pasienku berhasil sembuh dan itu membuatku bahagia. aku akan mentraktir mu" ujar Arka.


"wah, pasien mu itu pasti orang yang hebat" ucap Sena antusias. "baiklah kalau begitu aku setuju" ujar Sena.


Mereka akhirnya makan siang bersama di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat kerja Sena. Setelah memesan makanan dan minuman, Arka dan Sena hanya tinggal menunggu. Beberapa saat kemudian makanan dan minuman yang di pesan datang.


"enak kan?" tanya Arka. Sena mengangguk dengan mulut yang menggembung. Arka dengan gemas mengacak rambut Sena dan itu membuat Sena teringat kenangan mereka beberapa tahun lalu.


"jangan lakukan itu lagi" ucap Sena.


"kenapa? kau takut jatuh cinta padaku?" tanya Arka sembari tertawa jahil.


"itu merusak tatanan rambutku, tau" jawab Sena sewot.


"padahal itu adalah hal yang dulu kau sukai" ucap Arka lalu kembali melahap makanannya. mendengar ucapan Arka membuat Sena terdiam.


"benarkah?" tanya Sena. "ah dua tahun ternyata cukup untuk membuatku melupakanmu" ucap Sena.


"kau pembohong yang buruk" Ujar Arka.


"terserah mu saja" tukas Sena akhirnya. Ia kembali menyantap makanannya dengan perasaan yang sudah campur aduk.


****


Viana sudah berjalan menuju mobil untuk menjemput Sena. Sena memang belum meneleponnya tapi itu membuatnya khawatir. Saat hendak keluar, Viana berpapasan dengan Aldric.


"tunggu" tukas Aldric. Viana yang mendengar itu langsung berhenti dan berbalik. "kau disini?" tanya Aldric. Viana mengangguk-angguk an kepalanya.


"saya minta maaf, saya akan segera menjemput nona Sena" Viana hendak pergi dan lagi lagi suara Aldric membuatnya berhenti.


"kau sepertinya sedang tidak sehat, pergilah kerumah sakit" ujar Aldric dan setelah itu pergi begitu saja. Viana menghela nafas lega. Ia dengan cepat berjalan menuju mobilnya.


setelah sampai, Viana turun dari mobil dan berjalan ke toserba. Viana yang fokus mengancingkan kancing jasnya tidak menyadari ada seseorang di depannya, sehingga tabrakan tak bisa di elakan. Namun saat menyadari siapa orang yang menabraknya, Viana langsung membeku dengan wajah terkejut nya.