
Di dunia ini tidak ada hal yang berjalan dengan sendirinya. Masing masing dari mereka memiliki lajur yang sudah ditentukan oleh sesuatu yang bernama takdir. Terkadang ia memberi kebahagiaan dan menerbangkan mu setinggi langit tapi dalam sekejap ia juga bisa menjatuhkan mu ke dasar laut terdalam. Dua tahun yang lalu Viana tidak menyangka hidupnya akan hancur dalam sekejap. Ia bahkan sempat jijik melihat dirinya sendiri. Viana tidak menganggap apa yang terjadi padanya adalah sebuah takdir, melainkan sebuah kesalahan besar yang berpatok pada nafsu belaka. Baginya tidak ada takdir seburuk itu.
Dua tahun dalam kesendirian dengan begitu banyak beban yang berada di punggungnya. Viana kembali pada titik yang sama dimana ia harus merelakan cintanya pergi untuk yang kedua kalinya. Sejak malam itu, ia tahu Aldric sedang menjauhinya. Aldric bahkan hanya melewatinya ketika berpapasan di mansion. Benar juga, siapa pria bodoh yang mau menerima wanita kotor sepertinya, fikirnya. Viana sudah terlalu tinggi membangun tembok antara ia dan keluarganya, tapi kali ini ia ingin menghancurkannya. Viana sadar, takdir mungkin tidak seburuk yang ia fikirkan. Tapi takdir juga tidak sebaik itu memberikan kebahagiaan padanya.
Setelah penuh pertimbangan, Viana memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus sang ayah yang saat ini sedang membutuhkannya. Meskipun ia tau akhirnya ia akan selalu menangis ketika melihat wajah ayahnya yang masih terlihat jelas menggambarkan kekhawatiran. Viana mengajukan surat pengunduran diri sehari sebelum ia keluar dari mansion. Aldric jelas tau, tapi ia tidak berniat untuk mencegah. Keduanya sama sama butuh waktu untuk memulihkan hati yang patah.
Sena terus menatap Viana yang berdiri di depannya.
"Kau mau pergi? Tapi kenapa?" Tanya Sena.
"Ayah jatuh sakit, jadi saya ingin menjaganya" Jawab Viana dengan senyuman di bibirnya. "Terima kasih banyak nona, jika nona butuh bantuan nona bisa menghubungi saya, saya akan dengan senang hati membantu" Ujar Viana. Sena mewek, ia berdiri lalu memeluk Viana dengan erat.
"Bagaimana kau bisa meninggalkanku?" Sena menghapus air di ujung matanya.
"Saya berjanji kita akan bertemu lagi nona" Viana melepaskan Sena dari pelukannya. "Rasanya terlalu berat akhir akhir ini, jadi saya ingin menenangkan diri dulu" Imbuhnya. Sena hanya manggut-manggut mengerti.
"Mau ku antar?" Tanya Sena. Viana menggeleng dengan cepat, bisa bahaya kalau Dean tau.
"Saya di jemput supir, saya akan menjemput ayah dulu di rumah sakit" Jawab Viana. Sena mengangguk-anggukkan kepalanya lagi.
"Hati hati di jalan" Viana mengangguk sebelum akhirnya ia menghilang dari sebalik pintu.
Sena menghela nafas, ia menutupi wajahnya dengan bantal. Tidak ada yang tau bahwa sekarang Sena sedang menangis karena kehilangan teman baiknya.
...****************...
Aldric tau bahwa Viana akan pergi, tapi ia tidak mencegahnya sama sekali. Matanya terus menatap satu foto yang mengandung banyak pertanyaan.
"Sedang apa Al?" Aldric menoleh kebelakang hanya untuk mendapati Dean yang baru keluar dari toilet.
"Ini foto kecilmu kan?" Tanya Aldric. Dean mengangguk. Ia melepas kancing jasnya dan duduk di sofa.
"Kenapa?" Tanya Dean.
"Apa kau tau siapa orang yang ada di sebelahmu ini? Tanya Aldric. Dean tertawa kecil.
"Kau mistis sekali, sudah jelas aku sendiri disana" Jawab Dean tak habis fikir.
"Gambar ini di robek" Tutur Aldric spontan membuat Dean menatapnya.
"Maksudmu aku tidak sendirian?" Tanya Dean dan Aldric mengangguk mengiyakan.
"Apa mungkin dia ayahmu?" tanya Aldric. Dean menghela nafas, air wajahnya yang berubah jelas sangat terlihat.
"Kau tau kan aku tidak menyukai pembahasan ini?" Tanya Dean.
"Apa selamanya kau ingin begini? Kau tidak ingin mencari tau?" Aldric kini sudah duduk di sampingnya. "Bagaimana kalau ternyata ayahmu masih hidup?" Tanyanya lagi.
"Aku melihat foto ini di kamar ayah Viana" Dean yang semula hendak meninggalkan Aldric langsung berhenti seketika. "Jika ini fotomu, mana yang disana juga dirimu kan?" Tanya Aldric. Kini Dean berbalik.
"Ada banyak foto jadul yang sama dengan orang yang berbeda" Dean menatap dingin pada Aldric.
"Aku yakin fotonya sama dan orangnya juga sama. Yang membedakan adalah disana kau dengan seorang pria sedangkan disini kau sendirian" Tutur Aldric.
"Ayahku sudah mati"
"Ayolah, aku akan membantumu mencari tau" Aldric berusaha meyakinkan Dean.
"Sekeras apapun kau membujukku, dia hidup ataupun mati aku tidak peduli. Aldric kau tau benar bahwa nenekku adalah satu satunya orang yang berjasa untukku, jadi aku tidak akan mengganti cintaku untuknya" Dean meninggalkan Aldric yang di kepalanya masih menyimpan banyak pertanyaan.
"Aku akan cari tau sendiri, kalau di fikir fikir Dean dan Viana mirip juga" Aldric mengambil kunci mobilnya dan segera menyusul Dean.
Hari ini ada agenda kecil yang biasa mereka lakukan berdua. Di dekat rel kereta api di pinggiran kota. Rel itu sudah tidak aktif sejak bertahun tahun yang lalu. Konon katanya sang masinis menabrak seekor sapi yang ternyata sedang hamil. Jadi untuk bertanggung jawab ia berhenti dari pekerjaannya. Entah kenapa setelah itu stasiun kereta di tutup. Itu sebenarnya hanya dongeng semata tapi Dean dan Aldric mempercayainya begitu saja.
Meneguk satu minuman soda kaleng. Dean menghela nafas.
"Al"
"Hem"
"Aku ingin memberitahu Sena tentang Hana dan Winan"
"Kau tidak takut Sena akan meninggalkanmu?"
"Cepat atau lambat dia pasti akan mengetahuinya"
Aldric hanya mengangguk-angguk kepalanya. Ia tidak punya solusi untuk itu sebab ia juga sedang memikirkan bagaimana cara masuk ke dalam rumah Viana dan mengambil foto itu.
"Seharusnya di sudah menjadi bagian dari bintang di langit" Tutur Dean.
"Tapi karena keegoisan manusia membuatnya masih harus berjuang di sisa hidupnya" Celetuk Aldric.
"Aku tidak punya pilihan lain, Winan hanya mempunyai ibunya dan aku tidak berhak mengambil kebahagiaannya" Dean meneguk minumannya lagi.
"Lambat laun dia juga akan mengerti" Ujar Aldric sebagai penutup dari pembicaraan keduanya. Setelahnya hening menjelma menjadi tembok yang memisahkan keduanya. Aldric dan Dean sama sama tenggelam dengan isi fikiran masing masing.
"Ngomong ngomong kenapa Viana memundurkan diri?" Tanya Dean.
"Ah, di benar benar mengundurkan diri?" Tanya Aldric dengan tawa kecilnya. Dean mengangguk mengiyakan.
"Apa terjadi sesuatu antara kalian? Bukannya kalian baru berkencan di festival kembang api belum lama ini?" tanya Dean. Kini Aldric yang mengangguk disertai tawa yang terdengar perih.
"Entahlah, kami hanya perlu waktu untuk saling mengerti dan menerima. Juga, menyembuhkan luka" Ucap Aldric. Dean menghela nafas. Mungkinkah suatu saat ia dan Sena akan berakhir seperti itu? Saling menjauh untuk memberi waktu pada luka agar segera sembuh? Mungkin saat itu tiba, ia adalah orang yang paling tidak siap untuk kepergian Sena? Mungkinkah Sena akan pergi darinya?. Entahlah, hingga matahari mulai turun di langit timur Dean sama sekali tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan.