Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Pindah kamar



Sena baru kembali setelah menemui Viana di kamarnya. Dengan wajah bahagia, ia berjalan hendak kembali ke kamar Dean. Tapi sampai di depan kamarnya ia melihat Aldric dan beberapa pelayan sedang berada di dalam. Dengan cepat ia langsung masuk untuk melihat apa yang mereka lakukan di kamarnya.


"Hei, apa yang kalian lakukan?" tanya Sena. Beberapa pelayan yang ada disana sangat terkejut dengan kehadiran Sena dan mereka langsung menunduk, kecuali Aldric yang menatap dingin pada Sena.


"Mereka akan memindahkan barang barang mu" ucap Aldric.


Deg


"Apa aku di usir? aku hanya terlambat 10 menit" Sena mulai berasumsi sendiri. Sena menatap Aldric. "Pindah kemana?" tanya Sena.


"Kamar tuan Dean" jawab Aldric santai.


"Hah??" seru Sena yang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aldric. "T-tapi kenapa?" tanya Sena bingung.


"Nona, silahkan pergi. Tuan Dean sudah menunggu di kamar" ujar Aldric. Sena menatap para pelayan yang masih menunduk. Dengan bingung ia keluar dan berjalan ke kamar Dean.


Sena masuk ke kamar Dean tanpa mengetuk pintu.


"Kenapa tuan melakukan ini?" tanya Sena to the point. Dean yang masih fokus dengan laptopnya tidak berniat untuk menggubris pertanyaan dari Sena. Sena dengan malas berjalan ke sofa dan mendudukkan bokongnya disana.


Dean yang sedikit memperhatikan wajah kesal Sena hanya tersenyum tipis. Ternyata menyenangkan menjahili sena, fikirnya. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Dean harus mengurus beberapa pekerjaan sampai ia tidak menyadari bahwa dia dan Sena belum makan siang. Dean memang jarang makan siang dengan nasi atau roti, ia lebih suka makan salad buah atau bahkan hanya buah saja.


Sena sudah akan tertidur dengan posisi terduduk. Ia menguap beberapa kali, baginya sangat membosankan menunggu seperti sekarang ini. Dean menoleh dan melihat Sena yang sudah tidur dengan posisi terduduk. Ia langsung menutup laptopnya dan membereskan mejanya, Dean berjalan menghampiri Sena.


"Hei, bangunlah" ujar Dean dengan lembut. Dean menarik hidung Sena dan jelas membuat gadis itu terbangun.


"Tuan, sudah selesai?" tanya Sena dengan mata sayup.


"Apa kau tidak tidur semalaman? kenapa mengantuk seperti ini?" tanya Dean menggoda. Pipi Sena lagi lagi memerah karena malu.


"Hentikan" ucap Sena. "Tuan tidak makan siang?" tanya Sena.


"Tidak" jawab Dean. Ia kemudian menyadari bahwa Sena belum memakan apapun. "Kau lapar?" tanya Dean.


"Sedikit" jawab Sena malu. Dean berdiri lalu mengulurkan tangannya.


"Mari, aku temani" ujar Dean. Sena tertegun, untuk pertama kalinya ia melihat kehangatan di mata Dean.


Keduanya keluar dari kamar dengan tangan yang saling bertautan. Itu mengundang banyak mata tentunya, Sena menahan sekuat tenaga agar bibirnya tidak melengkung. Hatinya sangat bahagia saat ini, ia bahkan melihat wajah Dean berkali kali memastikan bahwa itu memang Dean.


Sena duduk di kursi yang ada di samping Dean. Rasanya seperti mimpi yang sempurna untuk Sena.


"Tuan tidak makan?" tanya Sena yang sedang mengunyah makanannya. Dean menggeleng sambil terus menatap Sena.


"Makanlah. Setelah ini kita kerumah sakit" ujar Dean.


"Untuk apa?" tanya Sena.


"Rehabilitasi" jawab Dean singkat. Sena mengangguk mengerti sembari terus mengunyah.


*****


Viana keluar dari kamarnya setelah selesai dengan pekerjaannya. Sebelumnya ia juga mendapat telepon dari Aldric yang memintanya untuk bersiap siap dan segera menemui Sena di kamar Dean. Viana berjalan dengan cepat sembari sesekali membenahi rambutnya. Tanpa ia sadari sepasang mata sedang memperhatikannya saat ini.


Viana mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya pintu terbuka dan Sena muncul dengan wajah polosnya.


"Hai, sebentar ya" ucap Sena lalu menghilang lagi. Viana hanya mengerutkan keningnya.


Sena berjalan mengambil tas dan ponselnya.


"Tuan saya akan menunggu di mobil" ucap Sena.


"Baiklah, saya akan menunggu" ucap Sena akhirnya. "Tuan akan ke kantor?" tanya Sena saat menyadari pria yang sedang bersamanya itu memakai pakaian formal.


"Tidak, kenapa?" tanya Dean.


"Kenapa memakai pakaian formal seperti itu?" tanya Sena. Mendengar itu Dean langsung menunduk dan melihat pakaiannya yang memang terlalu formal.


"Lalu aku harus memakai apa?" tanya Dean.


"Biar saya pilihkan" ujar Sena sembari berjalan kearah lemari pakaian dan memilih beberapa kaos dan jas disana. Sena membawakan kaos putih dan jas hitam untuk Dean. Dean mengerutkan keningnya saat Sena memberikan setelan itu kepadanya.


"Kau berharap aku akan memakai itu?" tanya Dean.


"Baiklah jika tuan tidak mau" ucap Sena yang hendak berbalik namun dengan cepat Dean menahannya dan mengambil kaos juga jas pilihan Sena.


"Tunggu aku" ucap Dean yang langsung berjalan ke ruang ganti.


Cukup lama menunggu akhirnya Dean keluar. Wajahnya sedikit merasa aneh dengan pakaiannya saat ini. Pasalnya ia belum pernah memakai pakaian seperti itu.


"Sudah? ayo" ajak Sena.


"Tunggu, apa ini tidak terlalu buruk?" tanya Dean. Sena menghela nafasnya.


"Jika tuan tidak suka jangan di pakai, saya tidak akan memaksa" ujar Sena.


"Baiklah ayo, bawel sekali" ucap Dean yang berjalan melewati Sena. Sena langsung berlari dan mengikuti Dean.


"Hai lagi" sapa Sena sembari tersenyum pada Viana. Sena hendak menggapai tangan Viana tapi Dean lebih dulu menariknya.


"Jangan menjauh" ujar Dean.


Melihat itu Viana tersenyum bahagia, ia percaya bahwa nona nya pantas mendapatkan yang lebih baik. Ia berjalan di belakang Dean dan Sena dengan senyum yang masih terukir di bibirnya. Senyumnya menghilang saat ia melihat Aldric berada tidak jauh di depannya.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Aldric. Dean mengangguk mengiyakan.


Di dalam mobil hanya ada keheningan disana. Dean terus memperhatikan tangan Sena yang saling bertautan. Ia menyadari bahwa Sena sedang gugup saat ini, mengingat ini bukan hal yang bisa di sepelekan lagi.


"Kau gugup?" tanya Dean. Sena menoleh lalu menggeleng.


"Tidak tuan" jawab Sena dengan senyum tipis. Dean mengambil tangan Sena dan menggenggamnya.


"Ada aku disini" ucap Dean. Sena menoleh tapi sayangnya Dean tidak menatapnya saat mengatakan itu. Sena lagi lagi hanya tersenyum tipis mendengar apa yang keluar dari mulut Dean.


****


Aldric tidak berhenti memperhatikan Viana yang sedang duduk di kursi yang tidak jauh darinya. Aldric tersenyum tipis, ia mulai menyadari bahwa Viana memang benar benar cantik.


"Nona Sena yang sedang di rehabilitasi tapi kenapa kau yang gugup?" tanya Aldric. Viana menoleh lalu tersenyum tipis.


"Saya hanya khawatir tuan" jawab Viana.


"Kenapa kau malah menghawatirkan nya disaat hatimu juga sedang tidak baik baik saja?" tanya Aldric. Aldric menyadari perubahan wajah Viana saat membahas tentang Arka beberapa saat yang lalu.


"Saya baik baik saja tuan" jawab Viana.


"Kau tidak menghawatirkan kakakmu?" tanya Aldric. "Kau tidak memikirkan bagaimana nasibnya jika tuan Dean sudah berkehendak?" tanya Aldric lagi.


"Apa tuan Dean akan melakukan sesuatu pada kak Arka?" tanya Viana.


"mungkin" jawab Aldric acuh. Viana kembali terdiam, ia baru menyadari apa yang dikatakan Aldric bisa saja menjadi sesuatu yang memang akan terjadi. Antara khawatir atau kesal, Viana kembali tenggelam dalam fikiran nya sendiri.