
Seminggu setelah kepulangannya dari rumah sakit, keadaan Sena perlahan membaik. Tapi sayangnya ia belum bisa pergi bekerja karena cedera di punggungnya. Pagi ini Sena sedang ingin bermalas malasan dan tidak ingin melakukan apapun. Diluar ekspektasi, Viana masuk dengan tergesa-gesa.
"Nona" panggil Viana. Sena yang sedang menyisir rambutnya langsung tersentak.
"Hei kau mengejutkanku" ucap Sena terkejut. "Kenapa?" tanya Sena penasaran.
"Tuan Dean, sudah menunggu di bawah" ucap Viana. Sena membulatkan matanya.
"Kau bercanda?" tanya Sena. "Bukannya dia selalu pergi lebih awal?" tanya Sena lagi.
"Sudah nona ayo turun" Viana menarik Sena untuk segera turun ke bawah.
Sena dan Viana berjalan menuruni anak tangga dan berjalan pelan ke ruang makan. Jantung Sena berdetak lebih cepat dari biasanya, untuk pertama kali setelah malam itu ia bertemu dengan Dean lagi. Sena berjalan menghampiri Dean dan duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pelayan. Meskipun berada di satu meja yang sama, tapi Dean sama sekali tidak melihat kearah Sena. Sena dengan canggung melahap makanannya. Meja itu hening, bahkan sendok dan garpu pun tidak ingin bersuara disana.
"Sudah membaik?" tanya Dean tiba tiba yang langsung membuat semua orang melihat ke arah pria itu termasuk Sena.
"S-sudah tuan" jawab Sena gugup. Dean hanya mengangguk mengerti. Tidak lama kemudian Aldric datang dan pergi lagi bersama Dean. Sena menghela nafas lega, Viana langsung pergi menghampiri Sena.
"Nona baik baik saja?" tanya Viana panik. Sena menggeleng.
"Jantungku seperti akan meledak" ucap Sena dengan wajah setengah pucat. Mendengar itu membuat semua orang yang ada disana tertawa lucu melihat wajah nyonya mereka yang sudah pucat.
"Ayo kembali ke kamar, nona harus minum obat" ujar Viana.
"Tidak bisakah aku tidak minum obat hari ini?" tanya Sena. Viana menggeleng.
"Nona harus minum obat" ujar Viana.
Sena menghela nafas lalu bangkit dari duduknya. "Aku benci obat" ucapnya sambil berjalan ke kamarnya.
"Ingin sekali aku mencubit pipinya" ucap pelayan gemas saat Sena sudah pergi.
"Dia memang sangat menggemaskan, semoga anakku nanti akan mirip seperti nyonya Sena" ujar pelayan wanita lainnya.
"Jangan berkhayal" Ujar pelayan lainnya dan kemudian pergi dengan membawa piring kotor.
*****
Viana duduk di sofa yang ada di kamar Sena. Ia sangat bosan karena tidak melakukan apapun selain menjaga Sena.
"Nona" panggil Viana. Sena yang sedang membaca novel langsung menoleh.
"eum?"
"Apa nona tidak membutuhkan sesuatu?" tanya Viana. Sena mengerutkan keningnya.
"sesuatu?" tanya Sena bingung.
"Makan, atau minum mungkin. Atau camilan atau jus, susu. Atau apa begitu" jawab Viana seperti kebingungan.
"Aku sudah makan, aku juga sudah minum. Aku tidak terlalu suka ngemil atau minum jus, aku tidak suka susu" ucap Sena.
"Ah, benar. Aku melupakan itu" ucap Viana. Sena semakin bingung melihat wajah murung Viana.
"Memangnya ada apa?" tanya Sena. "Kau lapar? ayo aku temani" ujar Sena. Viana menggeleng cepat.
"Tidak nona, saya hanya bosan" jawab Viana.
"Kau ingin pergi keluar? pergilah" ujar Sena.
"Tidak, saya tidak mau meninggalkan nona sendirian" tolak Viana.
"Hei, aku sudah baik baik saja" seru Sena. Sena kemudian sedikit berfikir. "Eum, bagaimana kalau kau pergi ke toko buku dan cari kan aku buku novel yang menurutmu bagus" ucap Sena.
"Toko buku?" tanya Viana. Sena mengangguk. "Baiklah, saya akan pergi sekarang, nona tunggulah disini, jika terjadi sesuatu segera hubungi saya" ujar Viana.
"Iya iya cerewet sekali" ucap Sena. Viana hanya menyengir kuda lalu bergegas pergi. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Sena heran. Ia kemudian melanjutkan membaca novel yang sempat ia jeda.
Setelah keluar dari mansion, Viana memilih berjalan kaki karena ia tidak ingin berdebat dengan pak Rey. Lagipula ia tidak tau pasti dimana toko buku yang dimaksud oleh nona nya, jadi berjalan kaki bisa membuatnya leluasa mencari. Di tengah tengah mencari, Viana bertemu dengan Arka. Saat ingin menghindar, suara Arka lebih dulu sampai ke telinganya.
"Hai kak" sapa nya canggung.
"Kau mau kemana?" tanya Arka. Kini keduanya sudah berhadap hadapan.
"Aku, mau ke toko buku" jawab Viana.
"Untuk apa pergi kesana?" tanya Arka.
"Nona Sena memintaku untuk mencarikannya buku novel" jawab Viana.
"Ah novel, aku bisa menunjukkannya padamu" ujar Arka.
"Ah tidak tidak, aku akan mencarinya sendiri" tolak Viana. "Kakak mau kemana?" tanya Viana.
"Ini aku ingin membeli kopi dingin" jawab Arka.
"Sepagi ini?" Tanya Viana. Arka langsung melihat jam di tangannya.
"Ini sudah hampir tengah hari" jawab Arka.
"B-benarkah?" tanya Viana. "Aku tidak melihat jam dari tadi" ucap Viana.
"Ayo aku tunjukkan padamu" ajak Arka. Viana tidak bisa menolak dan akhirnya ia pun setuju.
Keduanya berjalan beriringan sembari bercerita. Tak butuh waktu lama keduanya sampai di toko buku yang di maksud.
"Apa Sena baik baik saja?" tanya Arka pada Viana yang sedang mencari cari buku novel yang cocok untuk Sena.
"Ya, nona Sena baik baik saja" jawab Viana. Bukan egois, tapi Viana memang tidak mungkin memberitahu apa yang terjadi pada Sena. Ia tidak ingin membuat masalah dan hal hal buruk lainnya akan terjadi.
"Lalu kenapa dia tidak ikut pergi?" tanya Arka.
"Eum, Tuan Dean ada dirumah" jawab Viana mengarang. "Ah aku menemukan yang cocok untuk nona Sena" seru Viana mengalihkan pembicaraan.
"Lihat judulnya" ucap Arka. "Who is my husband?" tanya Arka bingung.
"Aku sudah membaca sinopsisnya dan ini cukup bagus" ujar Viana. "Ini ada satu lagi" imbuhnya.
"If Only?" tanya Arka. Ia kemudian membaca sinopsisnya. "aku sudah pernah membacanya sampai akhir, ini bagus" ujar Arka.
"Wah benarkah?" tanya Viana antusias. "Apa Randu dan Sofia kembali?' tanya Viana. Arka menggeleng.
"Randu meninggal setelah tertembak" jawab Arka. Viana membungkam mulutnya karena terkejut.
"Benarkah?" tanya Viana. "Sofia pasti sangat terpukul, aku jadi ingin membacanya juga" ujarnya sembari mengambil satu lagi novel yang sama.
"Bacalah, itu seru" ujar Arka. Keduanya berbincang bincang sembari terus mencari cari buku novel lainnya. Setelah mendapatkan beberapa buku, keduanya pergi ke meja kasir. Meskipun sudah menolak tapi Arka tetap menang dan akhirnya Arka yang membayar novelnya. Keduanya berjalan keluar dengan bercerita dan tertawa.
"Viana" panggil seseorang. Viana menoleh mendengar ada yang memanggilnya. Matanya membulat saat melihat Aldric sudah ada di depannya.
"T-tuan" ucap Viana gugup.
"Kenapa kau disini?" tanya Aldric.
"Saya membelikan buku untuk nona Sena" jawab Viana. Aldric kemudian beralih menatap Arka.
"Kau harus kembali ke mansion sekarang" ujar Aldric.
"Tunggu sebentar, apa dia bekerja untukmu? jelas tidak" sahut Arka. Aldric menatap Viana.
"Apa kau tidak mendengar ku?" tanya Aldric. "Kenapa kau meninggalkan nona Sena yang jelas jelas masih sakit dan membutuhkan mu?" tanya Aldric dengan intonasi yang meninggi.
"T-tuan maaf" ucap Viana takut. Ia tersentak saat Aldric menarik tangannya.
"Ayo pergi" ajak Aldric. Tapi tangan Arka dengan cekatan langsung menghentikan Viana.
"Sena sakit?" tanya Arka. "Tapi kau bilang dia baik baik saja?" tanya Arka khawatir. Viana menatap tangannya Aldric dan Arka bergantian lalu beralih menatap Arka. Tiba tiba hatinya menjadi sesak dan sakit, ini menjadi salah satu alasan kenapa dia tidak ingin Arka tau yang sebenarnya.