
Malam ini udara sepertinya sedang tidak baik. Dean berjalan dengan gontai menuju ke lobi. Setelah masuk ke dalam mobil, Aldric menyadari wajah pucat Dean yang tidak biasanya seperti itu.
"Kau sakit?" tanya Aldric.
"Tidak. Hanya sedikit pusing" jawab Dean.
"Kau bercanda? tapi kau pucat sekali" tukas Aldric. "Kenapa memaksa ikut jika kau sakit? Harusnya kau bisa istirahat saja dirumah" tukas Aldric.
"Aku hanya pusing saja" ujar Dean kesal. Aldric hanya melengos kesal, ia tau benar bahwa Dean memang keras kepala.
*****
Sena keluar dari ruang ganti dan berjalan kesana kemari. Dari wajahnya terlihat jelas bahwa ia sedang kebingungan mencari sesuatu. Ia kemudian mengingat sesuatu dan seketika ia melebarkan matanya.
"Kenapa aku bisa sebodoh itu" ucap Sena kesal pada dirinya sendiri. Pasalnya setelah malam pertama hari itu, ia meninggalkan kardigan yang di sakunya ada catatan toserba bulan lalu. Itu sangat penting untuknya apalagi setiap akhir bulan ia selalu memberikan laporan berupa sebuah catatan pada pemilik toserba.
Sena keluar dari kamarnya. Mau tidak mau ia harus masuk ke kamar Dean untuk mengambil kardigan nya. Sena berjalan menyusuri koridor dan akhirnya sampai di depan pintu kamar Dean. Sena menghela nafas dan menetralisir jantungnya sebelum berhadapan dengan Dean. Sena mengetuk pintu nya beberapa kali tapi ia tidak mendapat jawaban apapun.
"Apa dia belum pulang?" Sena bertanya tanya. "Apa aku masuk saja ya?" Sedikit menimbang, tangan Sena perlahan menyentuh gagang pintu. Perlahan ia membukanya dan mengintip sebentar. Setelah menutup pintu kembali, kakinya melangkah pelan. Matanya mulai mencari cari dimana kardigan nya berada. Fikirannya tiba tiba tertuju pada ruang ganti, Mungkin saja disana? fikirnya. Sena tidak melihat keberadaan Dean di tempat tidur, dan tanpa fikir panjang ia melangkahkan kakinya ke ruang ganti dan hendak membuka pintu. Namun ia tersentak saat tiba tiba Dean keluar dari dalam. Tidak hanya Sena, Dean juga terkejut saat melihat Sena ada di kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dean tak senang.
"M-maaf tuan saya hanya sedang mencari baju saya yang tertinggal disini" jawab Sena. Sena memperhatikan wajah pucat Dean. "Tuan baru pulang?" tanya Sena.
"Eung" jawab Dean sembari berjalan melewati Sena. "Jika sudah selesai kau bisa keluar sekarang" ujar Dean.
"Tuan sakit?" tanya Sena yang berjalan mengikuti Dean. Dean berbalik dan menatap wajah Sena.
"Kau tidak mendengar ku? kau bisa keluar sekarang" ucap Dean.
"Tapi wajah tuan pucat sekali" ucap Sena. Sena dengan spontan langsung menarik Dean dan mendudukkannya di kasur. "Apa tuan sudah makan?" tanya Sena.
"Belum" jawab Dean acuh. Ia mungkin belum terbiasa dengan hal hal begini, karena sudah lama sekali ia tidak pernah mendapatkan perhatian dan kekhawatiran dari seorang wanita.
"Aku akan mengambilkan makan untuk tuan" ujar Sena.
"Tidak perlu" tolak Dean. Namun Sena tidak mendengarkannya dan malah pergi keluar. "Apa dia sudah tidak waras?" Dean bertanya tanya sendiri.
*****
Aldric sedang bersama pak Rey di ruang tamu. Keduanya sedang mengobrol perihal pekerjaan. Tiba tiba Viana masuk dengan membawa tas belanjaan yang berisi buku novel. Ya, Viana membeli beberapa buku novel lagi untuk Sena.
"Darimana kau?" tanya pak Rey. Viana berhenti sebentar.
"Kenapa? ingin menitip?" tanya Viana. pak Rey dan Viana memang suka bertengkar jika bertemu.
"saya bisa pergi sendiri" tukas pak Rey kesal.
"Ya sudah" ucap Viana yang hendak pergi. Tapi ia melihat Sena turun dari tangga dengan tergesa-gesa. "Nona!" panggil Viana. Sena menoleh dan sedikit berlari menghampiri Viana.
"Kau baru sampai?" tanya Sena. Viana menganggukkan kepalanya.
"Nona mau kemana? ada yang bisa aku bantu?" tanya Viana.
"Untuk apa nona?" tanya Viana.
"Untuk tuan Dean, dia sedang sakit jadi aku akan mengompresnya" jawab Sena.
"Sakit?" tanya ketiga orang itu serentak.
"Iya, tadi aku lihat wajahnya pucat sekali" ucap Sena yang kemudian langsung berlari ke dapur lalu di susul oleh Viana.
"Tadi dia bilang hanya pusing" ucap Aldric heran. "Pak nanti kita lanjutkan lagi aku akan melihat tuan Dean di kamarnya" ujar Aldric.
Pak Rey mengangguk setuju. "Baiklah tuan" ucapnya.
Aldric langsung bergegas pergi ke kamar Dean. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu dan langsung masuk begitu saja.
"Hei apakah sopan begitu?" omel Dean yang terkejut dengan kehadiran Aldric.
"Kata nona Sena kau sakit" ucap Aldric. "Tapi kau bilang kau hanya pusing" imbuhnya.
"Aish aku memang hanya pusing saja. tapi kau lihat, apa gadis itu sudah gila?" tanya Dean kesal.
"Apanya yang gila? itu artinya dia peduli padamu" tukas Aldric. "Kau ini tidak tau diri sekali" ucap Aldric pelan.
"Apa katamu? kau mau mati ya?" teriak Dean.
"Lihat wajahmu memang sangat pucat, keras kepala sekali" ucap Aldric tidak peduli. Ia tau bahwa tuannya jarang sekali jatuh sakit. Dan apabila Dean sudah jatuh sakit, itu artinya keadaannya tidak baik baik saja. Aldric dan Dean menoleh saat pintu terbuka. Viana dan Sena masuk dari sebalik pintu, keduanya langsung menghampiri kedua pria yang sedang berdebat di pinggiran kasur.
"Tuan makanlah dulu" ujar Sena. "ini juga ada air dingin untuk mengompres" imbuhnya.
"Hei aku tidak sakit, kalian bertiga mau mati ya?" teriak Dean kesal. Namun setelahnya ia terdiam saat tangan Sena menyentuh dahinya. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat.
"Kalian sudah selesai?" tanya Aldric. Sena dan Dean langsung canggung.
Dengan penuh paksaan akhirnya Dean menghabiskan makanannya. Setelah itu Sena memberikannya obat demam untuk Dean.
"Aku tidak mau minum obat" tolak Dean.
"Jadi kau inginnya minum apa?" tanya Aldric kesal. "Bir? kopi? atau apa?" tanyanya lagi.
"Obat ini bisa menurunkan panas anda dengan cepat tuan" ujar Sena. Entah kenapa, lagi lagi Dean menurut. Ia meminum semua obat yang diberikan oleh Sena.
"Nona, ayo kembali ke kamar" ucap Viana saat melihat jam yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Kita harus menemani tuan Dean" ujar Aldric. "Aku tidak mungkin menjaganya sendiri" imbuhnya.
"Tidak apa, kita tidur di sofa saja" ucap Sena pada Viana yang tampak khawatir padanya. Sena beralih memandang ke arah kasur. Dean sudah tidur sejak beberapa saat yang lalu. Tubuh tegap itu seperti menggigil, Sena dengan cepat langsung menyalakan penghangat ruangan dan dengan berani menyelimuti Dean.
Ketiganya ikut tertidur walau sesekali terbangun karena suara lenguhan dan mulut Dean, Aldric tidur di bangku dekat tempat tidur sedangkan Viana dan Sena tidur di sofa.
"Kalau begini leherku bisa sakit" ucap Aldric sembari memegang lehernya. Ia kembali memejamkan matanya dan mencoba untuk tertidur lagi.