Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Coklat dan bunga



Sena berjalan dan menikmati udara segar di pagi hari. Semenjak menikah, ia tidak pernah lagi pergi bekerja dengan berjalan kaki atau naik bus. Jadi hari ini Sena meminta pak Rey untuk pergi duluan dan menunggu di toserba kalau kalau beliau tidak mau pulang ke mansion. Tapi pak Rey menolak dan akhirnya memilih mengikuti Sena dari belakang.


Sena menyadari Viana kesulitan berjalan dengan sepatu tumitnya. Sena hanya tertawa melihat gadis itu.


"susah ya Vi?" tanya Sena. Viana menoleh lalu menyengir kuda.


"Sedikit" jawab Viana. "Tapi saya akan segera terbiasa dengan ini" imbuhnya.


"Kenapa kau tidak naik mobil saja bersama pak Rey? Kalian bisa mengikuti ku dari belakang" ujar Sena. Viana menggeleng kuat.


"Saya jalan dengan nona saja, lagipula bersama pak Rey membuatku stres " tolak Viana. Sena tertawa kecil.


"baiklah kalau begitu" ucap Sena.


Keduanya berjalan dengan santai melewati daun daun yang berjatuhan. Berjalan di alam terbuka membuat otaknya segar. Sering kali Sena tenggelam di dalam fikiran nya saat sedang berada di alam terbuka seperti ini. Seperti sekarang, Sena kembali teringat kejadian seminggu yang lalu. Bagaimana tidak, malam itu menjadi malam yang panjang dan bersejarah untuk Sena. Entah kenapa tapi ia tidak menyesal sama sekali, toh ia juga sudah menikah fikirnya. Bukannya itu yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah? Sena tersenyum saat mengingat itu.


"Wah nona sedang memikirkan apa?" tanya Viana yang tidak sengaja melihat nona nya tersenyum sendiri. Sena kalap, dia ketahuan.


"Tidak ada, aku hanya senang bisa pergi bekerja dengan berjalan kaki seperti dulu, ini benar benar menumbuhkan semangat ku" jawab Sena mengarang. Tapi sebenarnya itu juga bisa menjadi alasan karena Sena memang merindukan pagi yang seperti ini.


"Apa nona benar benar tidak menyukai uang?" tanya Viana heran. "saya bingung kenapa nona lebih memilih jalan kaki daripada naik mobil, bahkan jika nona mau nona hanya tinggal menunjuk dan tuan Dean akan langsung memberikannya" imbuhnya.


"Aku tidak terlalu menyukai uang, aku sedang hanya membutuhkannya" jawab Sena.


"Membutuhkan bukan berarti menyukai, begitu?" tanya Viana. Sena mengangguk.


"Di dunia ini banyak yang kita butuhkan tapi sedikit yang kita sukai" jawab Sena. "lagipula itu bukan hak ku, aku tidak suka mengambil milik orang lain, kau pasti tau kan kalau tuan Dean itu tidak mencintaiku" ucap Sena berbisik.


"Apa nona mencintai tuan Dean?" tanya Viana dengan polosnya. "kata temanku jika kau tidak menyukai orangnya setidaknya cintailah uangnya" ucap Viana. Mendengar itu Sena benar benar tertawa.


"Bagaimana bisa temanmu bicara seperti itu?" tanya Sena. Ia kembali tertawa. "Aku bukan tipe gadis yang bisa dekat hanya karena lelaki itu kaya atau semacamnya, ini soal kenyamanan" ucap Sena. Viana memandang Sena secara intens.


"Apa nona nyaman bersama kakakku?" tanya Viana. Sena mengangguk mantap.


"Sudah ku bilang, aku pernah mencintainya. Tapi itu dulu, dan saat ia kembali aku sudah tidak merasakan apapun lagi" jawab Sena.


"Apa artinya nona sudah jatuh cinta dengan tuan Dean?" tanya Viana. Sena terdiam, lalu setelahnya tersenyum.


"Entahlah, aku belum menemukan jawabannya" jawab Sena. Ia kemudian menoleh ke belakang. "Ayo cepat sedikit, atau kita akan di tabrak pak Rey nanti" ujar Sena sembari tertawa. Viana tau, nona nya sedang mengalihkan pembicaraan.


*****


Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Senyuman terukir di wajah tampannya dan semua orang yang melihatnya pasti tau bahwa lelaki itu sedang bahagia. Arka berhenti di depan sebuah toserba. Ia turun dengan membawa bunga dan coklat. Arka terkejut saat melihat Sena sedang menutup pintu toserba.


"Sena" panggil Arka. Sena berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"oh hai" sapa nya. "Ada apa kesini?" tanya Sena yang sudah selesai mengunci pintu.


"ingin menemui mu saja" jawab Arka. Arka kemudian memberikan bunga dan coklatnya pada Sena.


"Itu bunga dan coklat, apa kau tidak bisa melihatnya?" tanya Arka sewot. Sena hanya tersenyum malu.


"Iya maksudku ini untuk apa?" tanya Sena lagi.


"Tidak ada, aku hanya ingin memberimu hadiah kecil seperti ini" jawab Arka. Terjadi kontak mata yang cukup lama diantara keduanya.


"Sudah selesai nona?" tanya Viana yang tidak menyadari keberadaan Arka. Baik Arka maupun Sena sama sama gugup saat Viana datang tiba tiba.


"Sudah, ayo kita pulang" ujar Sena. Sena sudah akan pergi tapi Arka menahannya.


"Tunggu, tapi kenapa kau pulang cepat hari ini?" tanya Arka.


"Biasanya juga begitu" jawab Sena. "Sudah ya aku duluan" ucapnya. Tapi lagi lagi Arka menahannya.


"Apa kau masih marah padaku?" tanya Arka. Sena yang terkejut langsung menoleh pada Viana yang sedari tadi menyaksikan percakapan keduanya.


"Arka, itu bukan sesuatu yang harus di bahas lagi sekarang" tukas Sena. "Aku sud ...."


"Sudah menikah? kau mau mengatakan bahwa kau sudah menikah?" tanya Arka.


"Viana, kau tunggulah di mobil" ujar Sena. Viana mengangguk dan langsung pergi. Ia kembali menatap Arka. "Apa kau sudah gila?" tanya Sena kesal.


"Aku sudah berjanji aku tidak akan menyerah, Sena" ucap Arka. Sena tertawa tidak percaya.


"Kau sudah cukup menyakiti hati Viana, tak bisakah kau melihat kesedihan dimatanya?" tanya Sena.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Arka. "Aku tidak bisa menikahinya karena dia adikku!" tukas Arka.


"Kalau begitu kenapa kau melakukannya?" bentak Sena. "kau menghancurkannya dan dengan mudahnya kau bilang padanya bahwa kau mencintai wanita lain" tukas Sena. Arka terdiam.


"K-kau tau?" tanya Arka gugup. Sena mengangguk mantap. "Sejauh mana yang kau tau, Sena?" tanya Arka sembari memegang kedua lengan Sena erat.


"Aku tau semuanya" jawab Sena. "Dua tahun lalu kau menghilang untuk menghindari amarah orang tuamu, dan saat itu kau benar benar sudah kehilangan aku. Aku tidak akan kembali padamu lagi" ucapnya.


"Tak bisakah kau lihat bahwa Dean tidak mencintaimu?" tanya Arka. "Akulah yang mencintaimu Sena" imbuhnya.


"Tapi aku tidak mencintaimu lagi, jadi ... berhentilah" ujar Sena. Sena mengembalikan bunga dan coklat itu pada Arka. "Aku tidak bisa menerima ini" ucapnya. Setelah itu Sena berjalan meninggalkan Arka dan masuk ke dalam mobil. Di dalam ia melihat Viana sedang duduk menatap ke luar.


"Ayo kita pulang" ujar Sena. Viana sontak menoleh karena sedari tadi tidak menyadari kehadiran Sena.


"Sudah selesai nona?" tanya Viana. Sena mengangguk. Di perjalanan keduanya hanya diam. Baik Sena maupun Viana tidak ada yang membuka percakapan.


"Apa nona ingin berbelanja sesuatu?" tanya pak Rey.


"Tidak pak, langsung pulang saja" ujar Sena. Mobil pun melaju menyisir jalanan untuk sampai ke mansion Dean.