Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Liburan berakhir tiba tiba



Sena sedang membereskan barang barangnya kedalam koper. Ditemani oleh Dean yang terus menatapnya intens. Sena sudah tidak peduli dengan itu, itu sudah menjadi makanannya akhir akhir ini.


"Sena" Panggil Dean.


"Eum?"


"Jangan begitu" Ujar Dean. Sena meletakkan pakaian yang ada di tangannya lalu beralih menatap suaminya.


"Kenapa hanya aku yang harus memanggil sayang? Kenapa tuan tidak?" Tanya Sena. Dean tertawa kecil.


"Kau mau ku panggil sayang?" Tanya Dean. Sena memutar bola matanya malas.


"Tidak, biar aku saja yang melakukannya" Tolak Sena. Ia kembali melipat dan menyusun pakaiannya.


"Sayang" Panggil Dean.


"Ah itu menggelikan sekali" Rengek Sena.


"Hei bukannya kau kesal karena itu? dan sekarang kau malah bilang itu menggelikan?" Omel Dean.


"Maaf. Tuan tau, tidak ada yang pernah memanggilku dengan panggilan itu selama ini" Ujar Sena.


"Benarkah? Kau punya teman?" Tanya Dean.


"Tidak ada, Hanya satu dan ... ehm" Sena menghentikan bibirnya untuk mengucapkan nama itu. Yang ia tau sekarang wajah Dean sudah berubah.


"Aku tidak mau ya kau bertemu dengannya lagi" Ucap Dean.


"Kenapa? Bukannya manusia itu makhluk sosial?" Tanya Sena.


"Ya benar. Tapi itu tidak berlaku setelah kau masuk kedalam mansion ku" Jawab Dean kesal.


"Jadi saat aku keluar dari mansion mu aku bisa menjadi makhluk sosial?" Tanya Sena dengan senyum jahilnya.


"Ah kau sudah menyusun rencana ternyata" Ucap Dean. "Kau tau jika kau berani keluar dari mansion ku untuk bertemu dengannya sekali saja, aku akan benar benar membius mu dan mengurung mu di kamar seumur hidupmu" Ucap Dean penuh ancaman.


"Astaga, tega sekali tuan melakukan itu" Ucap Sena takut. Dean melebarkan tangannya mengisyaratkan agar Sena masuk kedalam pelukannya. Dean mengerutkan keningnya saat Sena tidak merespon.


"Kemari lah selagi aku masih berbaik hati" Ujar Dean. Dengan malas Sena merangkak dan langsung memeluk suaminya.


"Kenapa mesti memaksa sih?" Tanya Sena.


"Karena kau memang sukanya di paksa" Jawab Dean. Mendengar itu Sena langsung mendongak.


"Aku tidak begitu ya" Ucapnya tidak terima.


"Jika tidak ingin dipaksa mulai sekarang kau harus menurut padaku" Ujar Dean.


"Bukannya selama ini aku selalu menurut padamu?" Tanya Sena.


"Dulu iya. Tapi sekarang kau mulai berani denganku" Jawab Dean kesal.


"Benarkah?" Tanya Sena. "Wah aku harus melatihnya lagi" Imbuhnya sembari tersenyum puas.


"Coba saja kalau kau berani melawanku" Ujar Dean.


"Aku tidak ingin mencari masalah" Ucap Sena dengan cepat. Dean tertawa kecil lalu mengecup kening Sena sekilas.


"Kau yakin ingin pulang sekarang?" Tanya Dean. Sena mengangguk sembari melepaskan pelukannya.


"Kenapa?" Tanya Sena. "Tuan masih ingin berada disini?" Tanya Sena.


"Aku akan berada tepat dimana pun kau berada" Jawab Dean. Sena mengangguk-angguk an kepalanya sembari tersenyum tipis.


*****


Viana berjalan keluar dari kamarnya dengan membawa tas ransel di punggungnya. Di telinganya terselip airpod berwarna putih, mendengarkan lagu yang santai ia mulai melangkahkan kakinya ke kamar Sena.


Viana tiba tiba menghentikan langkahnya saat merasa seseorang menarik tas ranselnya. Ia berbalik dan menemukan Aldric di belakangnya.


"Apa kau tuli? apa kau tidak mendengar aku memanggilmu sedari tadi?" Omel Aldric. Pria itu kemudian menyadari bahwa telinga Viana tersumbat. "Ah ternyata karena ini" Ucapnya sembari mengambil airpod di telinga wanita itu.


"Tuan memanggil saya?" Tanya Viana.


"Apa kau fikir ada orang lain selain dirimu disini?" Tanya Aldric sewot.


"Ada, tuan Dean dan nona Sena" Jawab Viana. "Tuan sudah selesai?" Tanya Viana.


"Eung, kau mau kemana?" Tanya Aldric.


Keduanya berjalan beriringan.


"Tuan, kenapa kita kembali lebih awal?" Tanya Viana.


"Kenapa? kau masih ingin berada disini?" Tanya Aldric.


"Sebenarnya tidak, tapi kalau iya juga gak apa apa" Jawab Viana.


"Baiklah lain kali aku akan membawamu kesini" Ujar Aldric.


"Eum?" Viana menatap Aldric.


"Lupakan saja" Ucap pria itu. "Lagipula bersamamu lebih lama membuatku pusing" Imbuhnya.


"Kenapa? aku bahkan tidak melakukan apapun" Ucap Viana tidak terima.


"Aku pusing karena memikirkan cara bagaimana mengatasi perasaanku yang mulai tidak beraturan ini" Ujar Aldric. Mendengar itu Viana berhenti dan terdiam. Sembari menatap punggung Aldric yang terus berjalan meninggalkannya.


Aldric terus berjalan dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Ia tidak peduli lagi jika Viana akhirnya tau apa tentang perasaannya. Aldric tidak bisa berhenti lagi, ia akan terus berusaha membuat Viana mencintainya.


Setelah semuanya selesai, mereka berempat berjalan keluar dari villa. Keempatnya menoleh ketika Jihan berlari keluar dari villa sebelah dan berdiri tak jauh dari mereka.


"Mau apa lagi dia?" Tanya Viana sinis.


"Jangan hiraukan dia" Ujar Aldric malas.


Dean menatap Sena ketika wanita itu menurunkan tangannya.


"Kenapa kau melepaskan pegangan mu?" Tanya Dean. Dengan posesif ia kembali menggenggam tangan Sena.


"Aku akan ke mobil duluan" Ujar Sena. Namun Dean menahannya.


"Kita akan pergi bersama sama" Ujarnya. "Al, ayo" Ajak Dean. Keempatnya terus berjalan dan mengabaikan Jihan yang sudah kebakaran jenggot.


Jihan mengepalkan tangannya, wajahnya memerah seperti hendak menangis.


"AKU HAMIL!!" Teriak Jihan. Sena terkejut dan spontan berhenti. Jihan tersenyum smirk. "Kau ingat apa yang aku katakan saat kita pertama kali bertemu di mansion kan?" Tanya Jihan.


Sena hendak berbalik tapi Dean menahannya.


"Kau hanya perlu percaya padaku" Ucap Dean. Sena menatap Dean dengan wajah intens.


"Nona, jangan dengarkan wanita gila itu" Ujar Viana yang membantu Dean untuk meyakinkan Sena. Sena mengangguk lalu kembali berjalan dan berusaha mengabaikan Jihan yang terus berteriak dengan tidak malunya.


Jihan masih terus menatap punggung Dean yang berjalan menjauhinya.Ia terduduk lemas dengan tangan yang memegang kedua lututnya. Ia menangis terisak, kini ia merasa benar benar tidak tahu malu. Selama ini ia berusaha untuk kembali merebut Dean meskipun harus membuang rasa malunya. Tapi nyatanya tidak semudah itu, lelaki yang dulu mencintainya kini sudah dua kali di diambil oleh wanita lain dan itu karena ulahnya sendiri.


*****


Sena masih termenung dengan wajah yang terus menatap keluar. Dean menarik pinggang wanita itu agar merapat padanya.


"Tanyakan saja" Ujar Dean. Dari tatapannya, ia tau Sena masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Jihan.


"Katakan saja" Ucap Sena. Dean mengerutkan keningnya.


"Katakan apa?" Tanya Dean.


"Katakan jika tuan memang pernah tidur bersamanya" Jawab Sena. Mendengar itu membuat Sena terkejut.


"Siapa yang mengatakannya?" Tanya Dean.


"Jihan, waktu pertama kali kami bertemu di mansion sebelum tuan mengusirku dan sebelum punggungku seperti ini" Jawab Sena panjang lebar.


"Dia mengatakan itu?" tanya Dean. Sena mengangguk.


"Kalian menginap bersama sewaktu pergi keluar kota hari itu?" Tanya Sena. "Katakan saja, jika ia aku tidak akan marah" Ujarnya.


"Kau mempercayainya?" Tanya Dean.


"Sedikit" Jawab Sena.


"Tidak ada gunanya menjelaskan disaat situasi seperti ini" Ucap Dean. "Dengar, aku tidak pernah melakukan apapun dengannya. Hanya itu yang harus kau ketahui" Jelasnya.


"Dia akan melakukan segala cara untuk membuat kalian berpisah nona" Sahut Aldric.


"Benar, dia hanya mengarang untuk membuat tuan dan nona bertengkar" Sambung Viana.


Sena menghela nafas panjang. "Baiklah, aku percaya pada kalian" Ucapnya.