
Hujan masih menjadi cerita di sore ini. Sudah dua jam dan hujan belum juga berhenti mengguyur semua yang ada di bumi. Viana menghela nafas, memiliki bos seperti Sena itu sebenarnya menyenangkan. Ia tidak sombong, sopan, dan tidak pernah membeda-bedakan. Namun satu yang jadi pembahasan, bersama Sena artinya harus siap menghadapi setiap masalah yang dibuat olehnya. Sena adalah orang yang keras kepala, Viana tidak mampu menggerakkannya apalagi sampai melarangnya melakukan sesuatu. Sena membuat masalah, itu artinya ia juga kena batunya. Viana mendongak.
"Nona ayo kembali ke mansion" Ajak Viana. Kalau di hitung hitung ini sudah yang ketiga kalinya tapi lagi lagi Sena menggeleng. Meskipun kedinginan sepertinya itu bukan masalah selama tidak melihat wajah Dean.
"Aku lemas, malas sekali" Ucap Sena. Viana menghela nafas, lagi.
"Jika nona terus seperti ini, maka saya akan benar benar di pecat nona. Bahkan saya bisa dimasukkan ke daftar hitam dan tidak bisa bekerja di perusahaan manapun" Ucap Viana. Sena menoleh, manik matanya penuh kekhawatiran.
"Maaf karena aku kau selalu terkena masalah" Ucap Sena. Ia beringsut turun dari pondok diikuti oleh Viana di sebelahnya.
"Jangan fikirkan saya nona, fikirkan diri nona sendiri dulu. Saya tidak mau nona terkena masalah, dan jika nona ingin saya tetap disini untuk kali saya memohon agar nona mendengarkan kata kata saya" Ucap Viana. Sena mengangguk mengerti. Akhirnya ia tau bahwa dampak dari kesalahannya juga akan berpengaruh pada Viana juga orang orang yang bersangkutan dengannya.
Viana dan Sena berjalan di bawah langit yang masih gerimis. Tidak deras, tapi lumayan dingin. Sena memeluk tubuhnya sendiri begitupun dengan Viana. Seketika Sena dan Viana menghentikan langkahnya saat melihat Dean berdiri di ambang pintu.
"Viana aku lupa kalau kau tidak bisa terkena suhu terlalu dingin. Kembalilah ke kamar, besok aku akan menemui mu" Sena berbisik di ujung kalimatnya. Viana hanya mengangguk dan segera pergi.
Sena menghela nafas, ia melanjutkan langkahnya dan tidak berniat untuk berhenti. Sena melewati Dean begitu saja tanpa memperdulikan wajah kusut suaminya.
"Berhenti disitu" Sena mendengar perintah itu, tapi entah mendapat keberanian darimana ia mengabaikan Dean. Sena kira sore ini ketenangan akan datang padanya, tapi ia terkejut saat Dean menarik pinggangnya lalu memeluknya dari belakang.
"Lepas" Sena meronta minta di lepaskan tapi Dean menggeleng dengan mantap.
"Maafkan aku" Ucap Dean akhirnya. "Aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu" Imbuhnya.
"Aku tidak peduli!" Sena kembali berusaha tapi tetap saja gagal. Malah tubuhnya terbalik ke belakang dan matanya langsung menangkap tatapan sendu suaminya. Ia fikir Dean akan menggunakan wajah dinginnya tapi kali ini tidak. Dean seperti orang yang sedang menyimpan banyak masalah, fikirnya.
"Jangan makan itu lagi, aku mohon padamu" Dean mengecup bibir Sena sekilas.
"Aku tiba tiba ingin makan itu saja, kali itu saja" Sena menekankan kata terakhirnya.
"Kali ini saja" Dean kembali memeluk Sena erat. Menciumi pucuk kepala itu berkali kali. "Kau tau seberapa besar ketakutan ku atas kehilangan dirimu? Jadi jangan lakukan atau makan sesuatu yang mengancam hidupmu" Ucapnya. Astaga, itu hanya makan mie instan bukannya megalodon fikir Sena. Apa yang mengancam?.
Meskipun masih kesal, Sena membalas pelukan Dean dengan erat juga. Rindunya tidak bisa di ajak kerja sama, dan akhirnya ia luluh di pelukan Dean.
"Aku rindu, tau" Celetuk Sena. Dean mengangguk seolah mengatakan bahwa ia tau itu.
"Pasti dingin, ayo kembali ke kamar" Dean memegang kedua bahu Sena dan membawanya masuk ke kamar.
*****
Hari ini entah apa yang akan dilakukan Aldric, tidur sudah, makan sudah, mandi sudah, buang air juga sudah. Setelah pulang dari villa Timur, Aldric hanya berguling di kasurnya. Pekerjaannya sudah selesai beberapa saat yang lalu. Aldric terduduk dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Viana. Tak butuh waktu lama, panggilan terhubung.
"Halo ada apa tuan?" Tanya Viana di seberang telepon.
Viana sudah selesai sejak lima detik yang lalu. Dengan wajah paling kusut di seluruh Antero mansion ia berjalan keluar kamar dan menemui Aldric yang sudah menunggu di bawah. Sangat kontras dengan dirinya, Aldric malah memberikan senyum paling indah kepada semesta. Tidak tidak bohong, senyum paling indah kepada Viana yang berjalan menghampirinya.
"Kita akan kemana?" Tanya Viana. Aldric tidak menjawab dan hanya mengisyaratkan agar Viana masuk ke dalam mobilnya. Viana memutar bola matanya malas. Ia masuk ke mobil dan segera memasang sabuk pengaman sebelum Aldric yang akan melakukannya.
"Kenapa cantik sekali sih?" Tanya Aldric. Viana hanya tertawa tidak percaya. Cantik apanya, fikirnya.
"Kita akan kemana tuan?" tanya Viana lagi.
"Festival kembang api" Jawab Aldric. Viana spontan menoleh, matanya membulat sebab terkejut karena lelaki dingin seperti Aldric ingin melihat festival kembang api. Aldric sedikit menjauh dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Matamu hampir keluar" Celetuk Aldric yang langsung membuat Viana tersadar.
"Tuan suka kembang api?" Tanya Viana.
"Entahlah aku tidak suka, tapi bukan berarti aku tidak ingin melihatnya" Jawab Aldric yang terdengar ambigu. Viana mengangguk walaupun sebenarnya ia tidak mengerti apa makna dibalik kata kata Aldric barusan.
Butuh waktu sekitar dua jam Aldric dan Viana sampai di pantai yang ada di pinggiran kota tempat dimana festival kembang api di lakukan. Di sebelah Utara, ada jembatan yang menghubungkan dua provinsi yang berbeda. Lampu lampu yang menyala membuat suasana menjadi lebih hidup. Sudah ramai orang menunggu disana, rata rata semua membawa kekasihnya atau juga keluarga tersayang.
"Ayo beli jajanan" Ajak Aldric sembari mengambil tangan Viana untuk di genggam. "Kau mau yang mana?" Tanya Aldric setelah sampai di depan gerobak penuh jajanan pasar.
"Ini ini!" Viana sangat antusias melihat satu jajanan yang dulu sering ayahnya belikan di depan sekolahnya. "Dan ini! dulu aku dan kak Arka sering makan ini!" Ucap Viana.
"Tidak enak" Wajah Aldric berubah kecut saat mendengar Viana menyebut nama Arka. Setelah membayar Aldric mengajak Viana duduk di sebuah batang kayu besar yang terdampar sejak beberapa puluh atau ratusan tahun yang lalu. Viana sangat menikmati pemandangan yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya, dan semua tertangkap oleh mata elang milik Aldric.
"Viana" Panggil Aldric.
Viana menoleh. "Hem?"
"Kau punya kakak selain Arka?" Tanya Aldric. Viana sedikit berfikir lalu menggeleng.
"Aku anak tunggal" Jawab Viana.
"Lalu foto laki laki yang bersama ayahmu itu siapa?(Aldric lihat waktu masuk ke kamar ayahnya Viana)" Tanya Aldric lagi.
"Foto? Oh, entah. Aku pernah bertanya tapi ayahku tak ingin menjelaskannya, jadi aku tidak pernah bertanya lagi" Jawab Viana. Aldric hanya mengangguk mengerti. "Kenapa?" Tanya Viana.
"Tidak, sepertinya aku tidak asing dengan anak laki laki itu" Jawab Aldric. "Ah bodohnya aku" Aldric tertawa di akhir kalimat.
"Wah wah! lihat! kembang apinya dimulai!" Viana berdiri antusias saat kembang api mulai di nyalakan.
Aldric dan Viana menghabiskan malam dengan wajah yang penuh kebahagiaan. Seperti kembang api yang sudah sepenuhnya dinyalakan, hati Viana pun ikut menghangat karena kehadiran Aldric di hidupnya.