Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Rumah klasik Viana



Viana sedang bersiap siap karena hari ini ia akan mengunjungi ayahnya lagi. Sebenarnya Dean sudah akan memindahkan Viana perusahaan lagi tapi Sena tidak setuju. Alhasil Viana sering merasa bosan karena tidak melakukan apapun. Viana sering meminta izin pada Sena untuk mengunjungi ayahnya dan Sena tidak keberatan. Sena sebenarnya ingin ikut tapi ia tidak mau membuat kesalahan.


Viana masuk ke toko roti dan keluar dengan membawa dua kantong berisi bolu dan roti. Viana berjalan menuju halte, ia sedang tidak ingin menyetir hari ini. Namun Viana dibuat terkejut saat seseorang tiba tiba merebut kantong plastiknya.


"Biar aku bantu" Suara itu muncul bersamaan dengan Aldric yang berjalan mendahului Viana. Viana terdiam untuk sesaat, namun akhirnya ia mengejar Aldric.


"Tuan, saya bisa sendiri" Viana mencoba menahan Aldric namun dia gagal karena kantong plastik bawaannya sudah di masukkan ke dalam mobil.


"Naiklah" Ucap Aldric. Viana menghela nafas panjang lalu segera masuk ke dalam mobil. Aldric menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke tempat tujuan.


"Bagaimana tuan bisa berada disini?" Tanya Viana.


"Aku akan berada tepat dimana pun kau berada" Jawab Aldric. Sungguh, Viana ingin muntah saat itu juga. Viana tertawa kecil.


"Omong kosong sekali" Viana memalingkan wajahnya. Aldric melirik dengan wajah kesalnya.


"Tak bisa kah kau~Iya aku percaya~ Sulit kah?" Tanya Aldric kesal. Itu justru membuat Viana tergelak.


"Baiklah, aku percaya" Ucap Viana.


"Kemana kita akan pergi?" Tanya Aldric. Viana menoleh.


"Aku kira tuan tau" Ucap Viana. Aldric berdehem.


"Kali ini insting ku tidak bekerja dengan baik makanya aku bertanya" Viana hanya melengos.


"Aku ingin menemui ayahku" Jawab Viana pelan. Aldric sedikit gugup saat mendengar itu. Sial, aku belum punya persiapan apapun fikirnya.


"Ah begitu? Baiklah akan ku antar" Aldric melajukan mobilnya sesuai dengan alamat yang dikatakan oleh Viana.


Sesampainya di depan rumah, Aldric sempat terpanah melihat design rumah Viana yang sangat bagus dan unik.


"Ini rumahmu?" Tanya Aldric. Viana tersenyum lalu mengangguk.


"Rumah ini adalah peninggalan ibuku. Tapi setahun setelah rumah ini berdiri, ibuku meninggal dunia. Dia yang meminta design seperti ini, ibuku sangat mencintai seni. Jadi ia akan menyukai semua yang berbau seni" Tutur Viana dengan sorot mata penuh kerinduan.


"Ibumu sudah meninggal?" Tanya Aldric. Viana mengangguk lagi. "Tapi kau bilang orang tuamu baru saja bercerai?" Tanya Aldric. Viana menaikkan satu alisnya.


"Kapan aku menyatakannya? Ah, tuan menguping ya?" tanya Viana dengan tatapan mengintimidasi.


"Bukan menguping, tapi mendengar tanpa sengaja" Aldric membuat alibi yang membuat Viana memutar bola matanya malas.


"Ayahku menikah lagi, dan sekarang sudah cerai" Viana menghela nafas. "Aku tau, tidak mudah menjadi dirinya" Imbuhnya penuh gelisah.


"Aku bisa menebak, kau adalah satu satunya alasan ia masih bertahan sampai saat ini" Ucap Aldric.


"Benarkah?" Tanya Viana tidak yakin. "Yang benar adalah ayahku adalah satu satunya alasan aku masih bertahan sampai saat ini" Ujarnya.


"Berarti kalian saling melengkapi, saling membutuhkan"


"Aku iri pada mereka yang memiliki kehidupan masa lalu dan masa depan yang baik" Viana memeluk dirinya sendiri.


"Viana, Tuhan tidak menciptakan bahu manusia dengan sama rata. Sama seperti bagaimana halnya Tuhan memberi problematik pada setiap makhluknya. Tentu tidak akan sama rata. Setiap orang punya porsi kebahagiaannya masing masing. Bahu bahu yang diciptakan pasti sudah dirancang agar mampu menahan beban yang berat sekalipun" Ucap Aldric panjang lebar. Aldric menoleh pada Viana yang terpaku melihatnya. Pria itu tertawa lalu mengacak rambut Viana depan.


"Bagaimana bisa kau tidak mempersilahkan aku untuk masuk nona Viana?" Tanya Aldric. Viana tersadar dan langsung membenarkan rambutnya yang jatuh ke dahi.


"Ayo masuk tuan" Viana berjalan lebih dulu dan di susul oleh Aldric di belakangnya.


"Nona ingin menemui tuan?" Tanya mang Jo. Sebenarnya namanya adalah Joko Widoyo, tapi karena tidak ingin ribet orang orang memanggilnya mang Jo.


"Ayah ada kan?" Tanya Viana. mang Jo mengangguk.


"Ada di kamarnya, mari saya antar" Mang Jo sudah akan mengambil langkah, tapi Viana menahannya.


"Mang Jo lanjut saja membersihkan pohon mangga nya, saya akan masuk dengan teman saya" Ucap Viana.


"Ralat, bukan teman tapi pacar" Aldric melirik kearah Viana yang masih terkejut.


"Wah, ya sudah silahkan masuk nona tuan" Viana mengangguk dan langsung berjalan meninggalkan mang Jo. Tidak lupa dengan Aldric di belakangnya.


Aldric masih terpanah dengan berbagai ornamen yang begitu indah. Matanya penuh dengan sorot kagum. Di depan pintu kamar Viana berhenti dengan tiba tiba. Kalau saja Aldric adalah orang yang memiliki otak lambat, pasti ia tidak akan bisa spontan menghentikan langkahnya. Viana berbalik dengan tatapan sinis.


"Jangan katakan apapun pada ayahku" Viana memberi ultimatum kepada Aldric. Aldric mencoba untuk tetap tenang.


"Aku akan katakan bahwa aku pacarmu" Viana langsung melotot, sedangkan Aldric tersenyum tipis dengan satu alisnya naik ke atas.


"Jangan macam macam atau tuan bisa menunggu diluar" Ultimatum kedua sudah keluar.


"Kau belum punya suami kan?" tukas Aldric. Viana berdecak dan hendak memukul Aldric tapi ia mengurungkan niatnya. Ia menarik nafas dalam dalam dan membuangnya perlahan.


"Tuan Aldric, saya sedang tidak ingin bertengkar saat ini" Ucap Viana dengan senyum yang di buat buat.


"Siapa yang mengajakmu bertengkar?" tanya Aldric yang memang sengaja menyulut emosi Viana.


"Jika tidak mendengarkan ku aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi" Ultimatum terakhir sudah keluar.


"Baiklah" Aldric akhirnya mengalah. Padahal kalau dia ingin dia bisa saja terus menjawab dan mengabaikan ultimatum dari Viana. Viana masuk kedalam kamar dan melangkah pelan menghampiri ayahnya yang sedang tertidur.


"Ayah" Panggil Viana. Sebenarnya ia tidak tega membangunkan ayahnya yang masih tertidur pulas. Tapi dia tau ayahnya pasti belum makan. Ayahnya membuka mata perlahan lalu tersenyum melihat Viana. Ia beralih pada Aldric yang berdiri tak jauh dari Aldric. Viana menoleh dan mengisyaratkan agar Aldric menyapa ayahnya.


"Siang paman, saya Aldric ... " Viana sudah sangsi saat Aldric menjeda ucapannya. "Teman Viana" Viana bernafas lega setelah Aldric mengatakan hal itu.


"Ayah, ayo makan" Ajak Viana.


"Kalian makanlah duluan, ayah belum lapar" Ujar ayah. Terlihat semburat kecewa di wajah Viana. Ia kembali berfikir bahwa upayanya untuk membuat sang ayah kembali seperti dulu adalah hal yang sia sia.


"Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Tanya ayah.


"Tidak apa apa, baiklah Viana keluar dulu" Viana segera pergi setelah ayahnya mengangguk mengiyakan.


Viana turun dengan wajah murungnya. Aldric tau Viana sedang kecewa. Aldric celingukan mencari sesuatu.


"Viana" Panggilnya. Viana menoleh.


"Eum?"


"Dimana Anna?" Tanya Aldric penuh dengan rasa ingin tahu.


"Tuan ingin bertemu Anna?" tanya Viana. Aldric mengangguk. "Dia ada di belakang" Viana mengisyaratkan Aldric agar mengikutinya.


"Anna" Panggil Viana pada Anna yang sedang menyusui bayinya.