
Sena masih duduk di meja kasir sembari menunggu pembeli. Hari ini sepi pengunjung dan itu membuat Sena berfikir kenapa orang orang tidak datang membeli. Setelah libur selama tiga hari membuat Sena benar benar bosan di kamarnya. Tiba tiba pintu terbuka dan Sena sedikit terkejut.
"Halo selamat datang silahkan berbelanja!" sapa Sena sembari tersenyum manis.
"Aku seperti tidak asing dengan wajahmu" ujar seorang wanita yang baru masuk itu.
"Wah, benarkah? mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sena antusias.
"Entahlah. sepertinya begitu, aku sedikit ingat. Wanita itu cantik sepertimu" jawab wanita itu. Sena tersenyum malu malu. "Tapi tidak mungkin itu kau, gadis itu anak orang kaya tidak mungkin bekerja di toserba" imbuhnya dan setelah itu langsung pergi mencari apa yang ingin dibeli. Sena menarik bibirnya.
"Sudah dibuat terbang lalu di jatuhkan begitu saja!" ujar Sena kesal.
Kini fikiran nya beralih pada wanita bernama Jihan itu. Sena menghela nafas kasar, entah kenapa hatinya benar benar kesal saat mendengar kata kata itu keluar dari mulutnya.
"sudah" ucap pembeli wanita itu sembari memberikan keranjang belanjanya. Setelah membayar pengunjung itu langsung pergi.
"terima kasih, silahkan datang lagi" ucap Sena. Ia kembali menghela nafas.
Hari ini terlalu bosan baginya, apalagi hari ini ia tidak berniat untuk pulang lebih awal seperti biasanya. Sena tidak lagi memikirkan peraturan yang dibuat Dean untuknya. Baginya semua sama saja, menurut atau tidak itu tetap membuatnya tidak akan pernah dicintai.
****
Arka menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya. Pasien terakhir sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Hari ini ia benar benar lelah, ia mengantuk tapi tidak ingin tidur. Pikirannya kembali pada dua tahun yang lalu saat ia pergi meninggalkan rumah dan juga Viana yang sedang hancur saat itu. Kesalahannya yang fatal dan tidak mungkin bisa di perbaiki. Berawal dari kesalahannya yang sudah mencintai adik tirinya hingga membuat Viana kehilangan hal yang paling berharga di hidupnya. Sekarang saat semua mulai membaik, Arka merasa ini sudah termasuk dari takdirnya. Ia dipertemukan kembali Dengan Viana, gadis yang dulu pernah dia cintai. Gadis yang memiliki wajah mulus dan mungil itu, siapa yang tau hatinya sudah hancur sejak dua tahun yang lalu karena keegoisan Arka dan kesalahan keduanya. Dan sekarang Arka semakin dibuat pusing karena ternyata Viana bekerja untuk Sena, Gadis yang membuatnya meninggalkan Viana waktu itu. Arka menghela nafas. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada seseorang. Setelah itu Arka tersenyum tipis dan kembali meletakkan ponselnya.
*****
Yoan sedang melangsungkan pemotretannya ditemani dengan beberapa staff dan managernya. Setelah selesai, Yoan berjalan menghampiri sang manager dan meminta ponselnya.
"Tadi ada pesan masuk di ponselmu" ujar sang manager.
"Benarkah?" Yoan langsung mengecek ponselnya. "Arka? apalagi yang coba ia lakukan?" Batin Yoan. Yoan kemudian membuka pesan yang di kirim oleh Arka. Seketika matanya membulat, dengan cepat Yoan langsung menelepon Arka dan sedikit menjauh.
"Hello!" terdengar suara Arka di sebalik telepon.
"Darimana kau mendapatkan video itu?" tanya Yoan penuh dengan amarah.
"Kenapa serius sekali? santai saja" ujar Arka.
"Sial, Apa yang kau mau?" tanya Yoan. Terdengar suara tawa Arka di seberang telepon.
"Bagaimana jika orang orang tau, kau dari keluarga miskin? Bagaimana jika orang orang tau wanita yang mereka sanjung ternyata berprilaku buruk pada adik dan keluarganya?" tanya Arka.
Yoan mengeratkan genggaman pada ponselnya. "Sudah ku katakan, jangan ikut campur urusanku!" ucap Yoan penuh penekanan.
"Kenapa? sedikit saja kau bertindak gegabah video ini akan tersebar" ancam Arka.
"Jangan main main denganku, Arka" ucap Yoan.
"Terserah. jika sekali saja aku tau kau mengusik hidup Sena lagi, video ini akan dilihat oleh banyak orang termasuk fans mu" Arka memutuskan sambungan tiba tiba.
"Sialan! benar benar ya" Yoan berdecak kesal. Yoan tidak terlalu dekat dengan Arka, tapi ia tau laki laki itu tidak pernah main main dengan ucapannya.
****
"Nona kita harus pulang sekarang" ujar Viana.
"Kenapa sih? santai saja" ucap Sena sembari tertawa karena melihat kepanikan di wajah Viana.
"Saya tidak tau apa yang sedang terjadi di mansion sekarang karena tuan Aldric tidak menelepon ku, dan itu bukan hal yang baik" ujar Viana.
"iya iya ayo pulang" ajak Sena. Ia mencoba untuk tetap tenang padahal ia juga merasa takut sekarang.
Setelah hari itu Sena selalu pulang terlambat. Seperti hari ini, Sena menerima gajinya untuk yang ke sekian kalinya. Sena mengajak Viana dan pak Rey untuk makan malam bersama diluar.
"Pak Rey ikut kan?" tanya Sena.
"Maaf nona tapi kita harus pulang" ujar pak Rey. Sena menghela nafas.
"Ya sudah pak Rey pulang duluan saja" ucap Sena.
"Saya tidak bisa pulang tanpa nona" ucap pak Rey. Beliau kemudian menatap Viana dan meminta Viana untuk membujuk Sena lagi.
"Nona kita harus pulang" ajak Viana.
"Aku ingin mentraktir kalian makan, kenapa kalian menolak?" tanya Sena. "Kalian benar benar menyakiti hatiku" ujarnya memelas. Viana menghela nafas, dia tau nona nya sedang bersandiwara.
"Hai semua" Suara seorang pria terdengar dan membuat ketiganya menoleh. Viana, Sena, dan juga pak Rey terkejut saat tau bahwa pria itu adalah Arka.
"Hai" sapa Sena canggung.
"Kalian belum pulang?" Tanya Arka.
"Belum, aku lembur akhir akhir ini" Jawab Sena. "Kau mau kemana?" tanya Sena.
"Mau pulang, kebetulan aku lewat sini" jawab Arka.
"Ah ya, kami akan makan diluar. kau mau ikut?" tanya Sena. Viana sudah akan membantah. "Viana dan pak Rey sudah setuju" imbuhnya. Viana menghela nafas.
"Wah, kebetulan aku juga sedang lapar" ujar Arka. "Ayo, biar aku yang mentraktir" imbuhnya.
"Eh tidak tidak. Aku baru gajian jadi aku yang akan mentraktir kalian" ucap Sena.
"Wah baiklah, ayo" ajak Arka.
Mereka pergi bersama dan makan di sebuah restoran. Meskipun gajinya tidak banyak tapi Sena senang bisa mengajak mereka makan bersama.
"Kau harus makan yang banyak" ujar Sena pada Viana. Viana hanya mengangguk canggung.
"Kau juga harus makan yang banyak" ujar Arka sembari memberikan satu sendok daging ke piring milik Sena. Sena memandang Viana dan pak Rey bergantian.
"Berat badanku pasti naik setelah hari ini" ucap Sena mencoba mencairkan suasana.
Dibalik kebersamaan mereka, ada sepasang mata yang sedang mengawasi. Dengan senyum smirknya ia meninggalkan tempat itu.