
Sena masih berdiri di depan cermin, wajahnya terlihat pucat dan sangat lemas. Setelah sarapan, Sena buru buru naik dan memuntahkan apa yang barusan ia makan. Dean jelas tidak mengetahuinya karena pria itu sudah pergi bekerja. Sena menghela nafas berat, akhir akhir ini rasa mual sering menyerangnya dengan tiba tiba.
Sena kemudian memikirkan sesuatu. Dengan cepat ia langsung mengambil jaket dan diam diam keluar dari mansion menuju ke rumah sakit. Ia ingin melakukan pemeriksaan kesehatan. Setelah cukup lama menunggu, dokter keluar dengan senyum paling nyaman.
"Nona Sena" Panggil dokter.
"Iya?"
"Bagaimana dok?"
"Selamat, anda akan menjadi seorang ibu" Dokter memberikan kertas hasil pemeriksaannya. Sena tentu terkejut namun ia juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ini serius?" Tanya Sena yang masih tidak percaya. Dokter mengangguk mengiyakan. Senyum Sena merekah dengan sempurna. Seperti ada ribuan bunga yang mekar bersamaan di dalam hatinya.
Sena masuk ke dalam mansion dengan senyum yang masih ia bawa dari rumah sakit tadi. Ia menyapa semua pelayan yang ada disana dengan senyum yang membuat matanya hanya terlihat seperti garis melengkung.
Sena duduk di pinggiran ranjang. Hanya tinggal menunggu beberapa menit dan Dean akan pulang. Sena melirik ponselnya yang baru saja berdering. Dilihatnya nomor tanpa nama maka ia akan mengabaikannya. Tapi ponselnya terus berdering dan itu membuatnya kesal. Sena dengan malas mengangkat ponselnya dan menempelkannya di telinga.
"Halo"
"Apa kabar?" Sena menaikkan sebelah alisnya.
"Ini siapa?"
"Kau tidak mengenali suaraku?"
"Anda salah sambung, akan saya matikan tel ...."
"Aku Jihan" Sena memutar bola matanya malas saat tau siapa yang meneleponnya.
"Untuk apa kau meneleponku?" Tanya Sena sarkas.
"Santai saja, aku tau kau kesal" Lagi lagi Sena mencoba untuk tetap tenang. "Bagaimana kabar suamimu?" Tanya Jihan.
"Apa itu sesuatu yang harus kau ketahui?" Tanya Sena.
"Haha tentu tidak" Terdengar Jihan menarik nafas disana. "Aku mungkin tidak bisa mengambil Dean lagi darimu, tapi bukan berarti kau bisa hidup bahagia bersamanya."
"Wah benarkah? Bisa langsung ke intinya saja?" Tanya Sena.
"Baiklah. Aku hanya ingin memberitahumu satu tempat yang tidak akan pernah ingin kau kunjungi setelahnya" Ucap Jihan.
"Kau bicara omong kosong lagi" Sena sudah akan mengakhiri teleponnya tapi suara Jihan mencegahnya.
"Villa Timur, datanglah kesana. Tapi aku minta kau diam diam atau Dean akan bergerak lebih cepat dan menyembunyikannya darimu lagi" Setelah mengatakan itu Jihan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Senyum licik keluar dari bibirnya. Ia membuka satu foto dimana hari itu dia membuntuti Dean dan menemukannya di Villa Timur. Saat itu ia diam diam menyelinap dan melihat Dean memeluk anak kecil yang kerap kali memanggilnya ayah. Ini sulit di percaya tapi baginya yang terpenting bukan lagi mendapatkan Dean tapi bagaimana menghancurkan rumah tangga Dean dan Sena.
Sedangkan di kamar Sena masih terdiam dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
"Siapa yang menelepon?" Sena menoleh dan mendapati Dean yang sedang berdiri sembari merenggangkan dasinya. Sena berdiri tapi matanya terus menatap datar pada Dean.
"Kau kenapa?" tanya Dean lagi. Sena menggeleng. Sena pernah berjanji ia akan mempercayai suaminya dan berhenti untuk curiga. Seperti saat ini, Sena kembali meneguhkan hatinya bahwa tidak ada kebohongan besar yang di sembunyikan oleh Dean. Sena berjalan dengan gontai dan langsung memeluk Dean.
"Aku rindu" Tutur Sena.
"Aku juga" Dean membalas pelukan Sena dengan lebih erat lagi. "Siapa yang menelepon barusan?" Tanya Dean. Sena tidak langsung menjawab.
"Viana" Jawab Sena akhirnya. Dean merenggangkan pelukannya lalu menatap penuh curiga. "Aku benar benar menelepon Viana" Ujar Sena.
Sena ingin memberitahu Dean atas kehamilannya, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Sena kembali memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Jihan. Seribu kali ia ingin percaya, tapi rasa penasarannya tentang villa Timur jauh lebih besar.
Suara hembusan nafas yang terdengar sangat halus dan teratur. Dean sepertinya sangat kelelahan. Padahal ia paling tidak suka naik ke kasur jika masih mengenakan pakaian kerja. Saat pulang biasanya dia akan langsung mandi dan membersihkan diri. Tapi hari ini tidak, Dean lebih memilih tidur dengan memeluk istri tercintanya. Sena mengusap lembut rambut hitam milik Dean. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat menyadari wajah manis pria itu saat sedang tidur.
"Semoga tidak ada kebohongan besar yang sedang di sembunyikan olehnya" Batin Sena. Sena menghela nafas lalu memejamkan matanya. "Susah banget sih buat percaya!" Sena menggeleng kepalanya kuat hingga ia tak sadar bahwa Dean sudah membuka matanya sedari tadi.
"Ada apa?" Tanya Dean. Sena membuka matanya lalu melirik sekilas.
"Kenapa bangun?" tanya Sena.
"Pergerakan mu membuatku bangun" Dean bangkit dan membuka kancing jasnya.
"Mau apa?" Tanya Sena yang spontan menyilangkan tangannya di depan dada.
"Mau mandi lah" Dean berlalu meninggalkan Sena dan pergi untuk mandi.
"Sensi banget!" Sena mengambil ponselnya dan menghubungi Viana untuk menanyakan kabar.
"Hallo, ada apa nona?" Terdengar suara Viana di seberang telepon.
"Tidak ada, bagaimana kabarmu?" Tanya Sena.
"Sedang menemani ayah di taman belakang rumah" Jawab Viana. "Nona sedang apa? Bukannya tuan Dean sudah pulang ya?"
"Dia sedang mandi, makanya aku bisa menelepon mu" Jawab Sena. "Aku merindukanmu" Sena merengek pelan.
"Saya juga nona, Jika ada waktu dan kesempatan datanglah ke rumahku" Ujar Viana.
"Aku akan membujuk tuan Dean juga" Ujar Sena. "Dan aku ada kabar baik tapi aku akan memberitahumu setelah kita bertemu" Imbuhnya.
"Baiklah nona"
"Oke sampai ketemu nanti" Sena mematikan panggilannya dan tersenyum senang. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Tangannya tergerak untuk mengusap perutnya lembut. Ia tersenyum dengan lebar, tapi setelahnya langsung diam dan memejamkan matanya. Ia merasakan Dean mulai berjalan menghampirinya dan kini sedang mendekatinya dengan naik ke atas kasur.
"Viana lagi?" Tanya Dean yang memergoki Sena berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Sena membuka sebelah matanya.
"Em, akhir akhir ini aku selalu merindukannya" Jawab Sena. Dean melirik sedikit.
"Ey, kau selalu bilang rindu ke semua orang" Cibir Dean. Mendengar itu Sena langsung terduduk.
"Tidak ya! Aku hanya rindu padamu dan juga Viana" sanggah Sena yang sewot sendiri.
"Bisa bisanya kau selalu rindu padaku padahal aku hampir bosan karena setiap hari melihatmu" Dean terkekeh saat melihat wajah Sena yang langsung cemberut.
"Jujur sekali" Sena memalingkan wajahnya yang sudah memerah karena kesal. Matanya memanas, tidak tau apa penyebabnya. Mungkinkah karena pernyataan Dean barusan?.
"Eh, aku bercanda" Dean mengambil tangan Sena tapi wanita itu menolak untuk di sentuh. "Sayang" Dean terkejut saat Sena tiba tiba menangis dengan menutup matanya menggunakan kedua tangannya.
"Kenapa menangis?" Dean menarik Sena untuk masuk kedalam pelukannya. Ia terkekeh geli saat melihat Sena terus merengek.
"Jahat banget" Sena memukul dada Dean pelan.
"Bodoh sekali jika kau percaya padaku" Ucap Dean masih terkekeh. Sena tidak peduli, ia hanya semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Dean.
"Apa aku bodoh karena percaya padamu?" Batin Sena yang tidak dengan mudah mengusir ingatan tentang villa Timur.