
Sena dan Viana melangkahkan kakinya memasuki kawasan hotel SENDERA. Disana sudah banyak tamu yang hadir dan salah satunya adalah Jihan. Viana memperhatikan Sena yang terus menatap ke arah wanita itu dengan mengepalkan tangannya.
"Nona baik baik saja?" tanya Viana. Sena menoleh menatap Viana lalu tersenyum.
"Ya, aku baik baik saja" jawab Sena. "Apakah ini akan berlangsung lama? aku sudah tidak nyaman" ujar Sena.
"Nona harus bersabar sedikit ya" ujar Viana. Sena hanya menghela nafas berat.
Setelah beberapa saat semua tamu di persilahkan untuk duduk. Sena dan Viana duduk di kursi yang sudah di sediakan. Tepuk tangan riuh menyambut kehadiran Aldric dan Dean, keduanya berjalan menuju panggung yang sudah di sediakan sebelumnya. Dean berdiri dengan gagah, wajah tegas dan juga berwibawa membuat siapapun yang melihatnya akan merasa kagum.
Dean berbicara panjang lebar, dimulai dengan sedikit kisah dan perjuangannya hingga sampai di titik ini.
Di depannya ada Sena yang masih belum bisa berpaling dari Dean. Gadis itu terus menatap kepada pria yang berstatus sebagai suaminya. Namun hari ini, di tempat ini, ia merasa tidak pantas dan mulai berfikir tidak seharusnya ia berada disini di antara orang orang berkelas.
"Viana, ayo kita pergi dari sini" bisik Sena.
"Tidak bisa nona, tunggulah sebentar lagi. Setelah ini kita akan pulang" ujar Viana mencoba menenangkan Sena yang sudah gugup.
Dean masih terus berbicara dengan wajah seriusnya. Dean menghela nafas.
"Saya berdiri disini juga untuk menyampaikan sesuatu. Ini mungkin sedikit mengejutkan untuk sebagian orang, saya terus berfikir apakah ini harus diungkapkan atau terus di sembunyikan. Tapi kemudian saya menyadari ini bukan hal yang harus di takuti ketika semua orang sudah mendukung saya sampai sejauh ini. Hari ini, di tempat ini, saya ingin memperkenalkan seorang wanita yang sudah berhasil membuat saya tertarik kepadanya" Dean beralih menatap Sena yang juga menatapnya dengan tatapan bingung. "Saya ingin berbagi kebahagiaan ini kepadanya, dan untuk itu saya memintanya untuk naik ke atas panggung sekarang" ucap Dean.
Viana menatap Sena dengan senyum merekah. "Nona silahkan naik" ujar Viana.
"Kau yakin itu aku?" tanya Sena. Viana menganggukkan kepalanya.
"Jadi menurut nona siapa lagi?" tanya Viana. Viana menatap sinis pada Jihan yang langsung berdiri dengan tidak malunya. "Apa nona akan membiarkan wanita itu naik?" tanya Viana. Sena dan Viana menoleh saat Aldric menghampiri mereka.
"Nona Sena, silahkan naik" ujar Aldric. Sena dan Viana saling pandang. Viana mengangguk memberi dukungan kepada Sena. Sena menghela nafas lalu berdiri. Ia bisa merasakan semua mata kini tertuju padanya. Sena berjalan mengikuti Aldric, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sena berjalan menghampiri Dean dengan wajah gugupnya.
Dean mengulurkan tangannya namun Sena tidak langsung menyambutnya. Sena tertegun beberapa saat hingga suara Dean menyadarkannya.
"Kau sudah selesai melamun?" tanya Dean. "apa kau ingin membuat tanganku pegal?" tanya Dean lagi. Sena langsung menyambut tangan Dean hingga keduanya kini saling berpegangan. Sena bisa melihat semua orang dari atas panggung, ia bisa melihat tatapan hangat dari para tamu yang datang. Itu membuat rasa gugupnya sedikit berkurang, kini ia beralih menatap Jihan. Wanita itu tidak lagi berdiri, ia duduk dengan wajah kesalnya. Sena tersenyum puas juga senang, ia menang selangkah fikirnya.
"Dia Sena istri saya. untuk sebagian orang pasti sudah ada yang pernah melihatnya di acara pernikahan kami hari itu. Dan hari ini saya ingin memperkenalkannya kepada para tamu dan juga pada seluruh dunia. Saya sangat bahagia atas pernikahan ini dan saya ingin membaginya kepada orang orang yang sudah mendukung saya selama ini" Dean menoleh dan memberi isyarat kepada sang MC agar membacakan acara selanjutnya.
"Baiklah tanpa mengulur waktu, kita sudah berada di puncak acara yaitu potong pita" ujar sang MC.
Dean mengajak Sena dan di ikuti oleh semua tamu. Dean dan Sena sudah berdiri di depan pintu masuk hotel. Seseorang memberikan gunting kepada Dean. Setelah berdoa, Dean mengajak Sena untuk sama sama memegang gunting dan pita pun terpotong. Tepuk tangan dari para tamu membuat suasana menjadi riuh. Semua orang ikut berbahagia kecuali satu yaitu Jihan. Wanita itu melengos dan langsung pergi meninggalkan acara. Viana tersenyum smirk saat berhasil menangkap ekspresi kesal di wajah Jihan.
"Apa dia benar benar tidak tahu malu? bisa bisanya dia berfikir dia adalah orang yang dimaksud" batin Viana. Ia kemudian beralih kepada Aldric yang berada di belakang Dean. "Apa mataku mulai salah? kenapa akhir akhir ini dia jadi begitu tampan? mataku gak sehat lagi" batin Viana sembari menggeleng kuat mencoba membuat isi pikirannya saat ini.
"Apa yang kau fikirkan?" tanya Aldric yang baru muncul entah dari mana sehingga membuat Viana terkejut.
"T-tuan kenapa disini?" tanya Viana.
*******
Sena masih terus berusaha mengeringkan rambutnya. Ia terkejut saat tiba tiba handuk di tangannya seperti ditarik, dan oknum yang melakukan itu adalah Dean seorang.
"Aku tidak yakin kau bisa melakukannya sendiri" ujar Dean meremehkan.
"Aku selalu melakukannya sendirian" jawab Sena. Apa yang ia harapkan? bahkan hanya untuk sekedar mengeringkan rambutnya saja Sarah tidak pernah melakukannya.
"Jangan sedih, aku ada disini" ucap Dean. Sena tersenyum tipis mendengar itu.
"Tuan, ah sayang" panggil Sena.
"eum?"
"Aku ingin bertanya sesuatu" ujar Sena.
"Apa itu?" tanya Dean.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Sena. Dean tidak langsung menjawab, pria itu terdiam untuk beberapa saat. "Baiklah, tidak terlalu penting kau mencintaiku atau tidak. Tapi kenyataannya aku sudah mencintaimu, jika itu salah maka nanti aku yang akan terluka" ujar Sena saat tak kunjung mendapat jawaban dari Dean.
"Apa kita harus selalu terluka karena mencintai seseorang?" tanya Dean.
"Tidak juga. Tapi kenyataannya begitu, aku tidak tau jawabannya. Itu resiko yang sudah kau ketahui saat pertama kali kau berani untuk mencintai seseorang" jawab Sena.
"Sudah" Dean melepaskan handuk dari kepala Sena. "Ayo kita tidur" ajak Dean.
"Aku bahkan belum mengantuk" ucap Sena.
"Baiklah. Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Dean sembari mendekatkan wajahnya ke leher Sena bagian belakang.
"T-tidak ada" jawab Sena gugup.
"Apa kau akan terus merasa gugup?" tanya Dean. "Apa kau tidak ingin memulainya lebih dulu?" tanya Dean menggoda. Sena menatap Dean dari cermin yang ada di depannya. Ia kemudian berbalik dan mencium bibir Dean sekilas.
"Harus darimana aku memulainya?" tanya Sena. Keduanya terdiam dan saling tatap.
"Dari tempat yang setiap hari ingin aku kunjungi" jawab Dean masih dengan tatapan menggodanya.
"Hentikan" Sena bangkit lalu berjalan meninggalkan Dean. "Aaaaa!" Sena menjerit saat Dean tiba tiba menggendongnya dan membawanya ke ranjang.
"Aku akan menghabisi mu malam ini!" Dean mulai melakukan aksinya lagi, menjadikan malam malam penuh arti.