
Sena, Viana, dan Arka keluar dari gedung perpustakaan. Dengan menenteng paper bag di tangannya, Viana mengikuti Sena yang berada di depannya.
"Mau aku antar?" Tanya Arka.
"Ah tidak tidak" Jawab Sena cepat. Wanita itu menghela nafas lalu menatap Viana di sebelahnya. "Aku pulang bersama Viana, kami pergi" Sena menarik tangan Viana dan mengajaknya pergi.
Arka tidak mencoba menahan ataupun mengejar kedua wanita itu. Ia tau bahwa Sena sedang mencoba untuk menjauhinya. Arka tersenyum tipis dan kemudian berjalan ke mobilnya.
Sena menghentikan langkahnya dan seketika membuat Viana ikut berhenti.
"Kau baik baik saja kan?" Tanya Sena. Viana menganggukkan kepalanya.
"Tapi kenapa nona memperbolehkan kak Arka duduk di meja kita?" Viana menatap heran pada nona nya.
Sena menghela nafas. "Aku hanya tidak ingin membuatnya merasa di jauhi, tapi itu malah membuatmu tidak nyaman. Aku minta maaf" Ucap Sena dengan wajah sedihnya.
"Bukan itu masalahnya nona, saya tidak masalah. Tapi kalau tuan Dean tau, nona pasti tidak di izinkan untuk keluar dari mansion lagi. Atau mungkin ada yang lebih mengerikan lagi" Ujar Viana yang tampak khawatir. Sena terdiam, ia tidak memikirkan itu sejak tadi. Dan tiba tiba ia menjadi takut sekarang.
"Itu tidak mungkin, sekarang ayo pulang" Sena menarik tangan Viana dan masuk ke dalam mobil.
*****
Dean mengepalkan tangannya yang berada di atas meja. Tiba tiba dengan keras ia melemparkan ponsel yang ada di tangannya.
Aldric yang baru saja masuk ke dalam ruangan jelas sangat terkejut saat melihat ponsel itu melayang dan menabrak lantai. Ia mempercepat langkahnya dan langsung menghampiri Dean.
"Mereka tidak sedang berdua, ada Viana disana" Ucap Aldric yang mengerti alasan dibalik kemarahan Dean.
"Ini bukan soal berapa orang yang ada disana, tapi tentang siapa orang yang ia temui sekarang" Dean melihat jam yang ada di tangannya. "Jadwal selanjutnya?" Tanya Dean.
"Tidak ada, kau punya banyak waktu bersantai hari ini" Jawab Aldric.
Tanpa kata kata Dean langsung mengambil jasnya dan berjalan melewati Aldric lalu pergi begitu saja.
Sena baru sampai di mansion, dengan cepat ia masuk ke kamarnya dan bergegas mengganti pakaian. Karena terburu buru, Sena menjatuhkan botol minyak wangi di meja riasnya.
"Aissh kenapa harus sekarang sih kau berulah?!" Gerutu Sena. Wanita itu berjongkok dan membersihkan pecahan botol yang berserakan. "Aaakh!" Pekik Sena saat pecahan kaca mengenai jarinya. Tidak langsung mengambil kotak obat, Sena malah lanjut membersihkannya. Ia tidak ingin membuat kekacauan, padahal ia tidak melakukan kesalahan fatal. Lagi pula ini masih dua jam sebelum Dean kembali ke mansion.
Sena terduduk dan alhasil ia belum mengganti bajunya. Ia meringis saat perih mulai terasa pada lukanya.
"Padahal tadi tidak perih begini" Gumam Sena. Wanita itu terus menatap darah yang ada pada lukanya. Anehnya tiba tiba ia merasa ngeri dan juga pusing. Ia berdiri dan berjalan mengambil kotak obat, tapi belum sempat melangkah jauh pintu kamarnya terbuka. Sena meneguk air liurnya, ia seperti seorang yang sudah melakukan pembunuhan.
Sena mengerutkan keningnya saat melihat Viana berjalan tepat di belakang Dean. Dean menatap tajam pada Sena dan itu sudah cukup membuat Sena mengerti, Dean pasti sudah tau. Sena beralih menatap Viana yang sudah tertunduk.
"S-sudah pulang?" Tanya Sena gugup.
"Kenapa? kau terkejut?" Tanya Dean. Pria itu memerintahkan Viana untuk berdiri tak jauh dari Sena.
"Viana kau kenap ....?" Sena hendak berjalan menghampiri Viana.
"Berhenti disitu" Ucap Dean yang langsung membuat Sena berhenti seketika. Ia beralih menatap Viana. "Viana, apa alasanku membawamu ke mansion ini?" Tanya Dean.
"Menjaga nona Sena, tuan" Jawab Viana.
"Kau melakukannya dengan baik?" Tanya Dean. Viana terdiam dengan jemari yang saling bertautan.
"Tuan, tapi ini bukan kesalahan Viana" Ujar Sena. Wanita itu menciut saat Dean melayangkan tatapan tajam padanya.
"kesalahan apa yang kau maksud?" Tanya Dean. "Apa kau sudah merasa bertanggungjawab atas pekerjaanmu?" Tanya Dean pada Viana.
"Tidak tuan" Jawab Viana.
"Apa kau juga seperti kakakmu? atau kalian sedang bekerja sama?" Tanya Dean.
"Tuan, ini berlebihan. Kami hanya tidak sengaja bertemu" Sahut Sena.
"Apa aku sudah mengizinkanmu untuk berbicara? apa kau juga sudah merencanakan pertemuan ini?" Tanya Dean.
"Kau bosan bekerja? aku bisa menghentikan mu sekarang juga" Ujar Dean.
"Tuan!"
"Aku juga bisa memasukkan mu kedalam daftar hitam. Aku bisa dengan mudah menghancurkan hidup mu" Ucap Dean lagi.
"Sudah ku bilang ini bukan kesalahannya" Ujar Sena. "Kenapa kau selalu memperbesar masalah?" Wanita itu berbicara dengan intonasi yang sedikit meninggi. Lagi lagi tatapan mata tajam itu menusuk ke hatinya.
"Bagaimana cara memperbesar masalah yang memang sudah besar?" Tanya Dean. Dean berjalan menghampiri Sena. "Apa menurutmu ini adalah masalah kecil yang sedang ku perbesar?" Tanya Dean.
"Tuan, ini tidak akan terjadi lagi" Sahut Viana. Dean mengangkat tangannya agar Viana berhenti bicara.
"Aldric yang akan bicara denganmu" Ucap Dean. Viana sedikit membungkuk dan segera keluar dari kamar tuannya. Sena langsung menghampiri Dean setelah Viana pergi dari kamarnya.
"Tuan tidak berencana untuk memecat Viana kan?" Tanya Sena panik. Dean menatap dingin pada Sena.
"Jika ia, apa yang bisa kau lakukan?" Tanya Dean.
"Tapi ini keinginanku" Ujar Sena.
"Keinginanmu? kau memang ingin bertemu dengannya begitu?" Tanya Dean.
"Tidak bukan begitu, tapi Viana benar benar tidak bersalah" Jawab Sena. "Aku yang bersalah, sakiti saja aku. Kenapa harus Viana?" Tanya Sena.
"Karena aku tidak bisa menyakitimu itu sebabnya aku menyakiti orang lain" Jawab Dean.
"Dia hanya mengikuti perkataan ku" Ucap Sena. "Apa yang salah?" Tanya Sena. Dean tersenyum tipis.
"Dia tidak berguna, itu salah satu kesalahannya" Jawab Dean. Sena mengatupkan kedua tangannya.
"Hukum saja aku, Viana tidak bersalah" Wanita itu memohon belas kasihan kepada anjing gila yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Kau mau aku memecatnya hari ini? besok? atau lusa?" Tanya Dean.
"Bagaimana bisa tuan melakukan itu padanya?" Tanya Sena tak habis fikir.
"Karena dia sama dengan kakaknya" Jawab Dean. Sena berlutut Dengan tangan yang masih mengatup.
"Jangan begitu" Ujar Dean.
"Aku tidak akan berdiri dari sini" Ucap Sena. Dean menghela nafas lalu menarik Sena agar segera berdiri.
"Apa alasanmu mempertahankannya? Apa karena dia adik dari salah satu pria yang kau sukai? Apa karena kau ingin menggunakan Viana agar bisa bertemu dengan kakaknya? Apa kau benar benar wanita seperti itu, bertemu dengan pria lain padahal suamimu sudah melarang mu?" Tukas Dean.
"Tuan sungguh berfikir seperti itu? Tuan berfikir aku wanita seperti itu?" Tanya Sena. "Arka temanku, kami tidak sengaja bertemu. Viana tidak ada hubungannya dengan hal ini" Ujarnya.
"Kau yakin tidak ada hubungannya? Sudah jelas mereka kakak beradik, kau masih bilang dia tidak ada hubungannya?" Tanya Dean. Sena menghela nafas, sulit bicara dengan orang yang sedang emosi.
"Aku yang salah, maafkan aku" Wanita itu memilih mengalah daripada harus berdebat, toh juga ini kesalahannya.
"Memang kau bersalah" Ketus Dean.
"Tapi Viana tidak bersalah" Sena kembali membela gadis itu.
"Hentikan, aku tidak ingin mendengar kau menyebut nama Viana atau kakaknya. Aku tidak ingin mendengar kau menginjakkan kakimu ke ruang utama. Dan aku tidak ingin mendengar kau pergi bersama Viana, atau aku akan benar benar memecatnya" Ucap Dean.
"Ruang utama? lalu aku harus kemana?" Tanya Sena.
"Disini, jangan mencoba membuka pintu" Ucap Dean penuh dengan ancaman.
"Kenapa tega sekali?" Tanya Sena yang hendak menangis. Matanya sudah berkaca kaca. "Tuan benar benar berfikir bahwa aku adalah wanita liar, bukankah ini tidak adil ketika tuan bisa bertemu dengan semua orang sedangkan aku tidak" Ujar Sena yang sudah terisak.
Dean menghela nafas. "Aku tidak tertarik untuk menjadi pemeran orang bodoh di dalam drama mu, aku tidak bercanda dengan apapun yang aku ucapkan" Pria itu pergi dan meninggalkan Sena sendirian di kamarnya.
"Dasar batu" Gerutu Sena yang semakin menangis.