
Sena masih terbaring di rumah sakit. Wajahnya begitu pucat dengan beberapa luka yang mulai mengering. Viana sedang tertidur di sofa karena semalaman tidak tidur. Aldric masuk membawa makanan untuk disantap bersama Viana. Aldric tidak tau tapi ia bisa menebak bahwa Viana pasti belum makan malam ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 tengah malam. Aldric berfikir tidak mungkin ia membangunkan Viana di tengah malam seperti ini. Tapi tidak ada pilihan lain, makanan sudah terlanjur ia beli. Aldric berjalan menghampiri Viana yang sedang tertidur pulas.
"Hei, bangun" ucap Aldric. Karena tidak ada tanggapan sama sekali, Aldric menggoyangkan pipi Viana pelan. Ia bisa merasakan pipi Viana yang begitu lembut seperti kulit bayi. Karena merasa terusik, Viana akhirnya membuka matanya perlahan. Ia terkejut saat Aldric berada di depan matanya.
"T-tuan" Viana langsung terduduk sembari membenarkan rambutnya. "Maaf tuan, saya ketiduran" imbuhnya. Aldric tidak menjawab, ia hanya memberikan bungkusan berisi makanan yang sudah ia beli tadi.
"Makanlah" ujar Aldric.
"Tapi saya sudah makan tuan" tolak Viana. Aldric menatapnya dengan tatapan yang mengancam. "Baiklah" ucap Viana akhirnya. Ia membuka makanannya dan memakannya dengan lahap.
"Kau bilang sudah makan tapi kau memakannya dengan lahap" sindir Aldric. Viana hanya menyengir.
"Saya lapar lagi, mungkin" ucap Viana malu.
Keduanya kembali melanjutkan makannya. Setelah selesai, Viana pergi ke toilet untuk buang air kecil. Aldric tidak habis fikir, kenapa semua wanita selalu ke toilet setelah makan. Apa mereka memuntahkannya? fikir Aldric.
Aldric menoleh saat pintu terbuka. Dean masuk dengan beberapa pengawal.
"Kalian bisa menunggu diluar" ujar Dean. Para pengawal langsung pergi setelah mendapat perintah.
"Kau datang?" tanya Aldric.
"Hem" jawab Dean kepalang singkat. Dean berjalan menghampiri Sena yang masih tertidur. Di pandangnya wajah yang masih cantik walaupun banyak luka disana. Tiba tiba Dean tertegun, Benarkah dia sudah jatuh cinta? Dean menghapus pemikiran konyolnya dengan cepat. Pria itu kemudian menghampiri Aldric.
"Apa yang terjadi?" tanya Dean yang sudah duduk di samping Aldric.
"Sepertinya Romi yang melakukan ini padanya" jawab Aldric.
"darimana kau tau?" tanya Dean.
"Kau fikir siapa lagi yang bisa melakukan ini pada gadis seperti nona Sena selain keluarganya? dan kau tentunya" ujar Aldric.
"Ck, aku bahkan tidak melakukan apapun hari ini" Jawab Dean malas. "Sekarang dia sudah tau bagaimana keluarga yang dia maksud" imbuhnya.
"Menurutmu apa dia sudah jera?" tanya Aldric.
"Apa peduliku?" tanya Dean. Ia kemudian berdiri. "Aku akan menemui dokter sebentar" ucapnya dan setelah itu langsung pergi begitu saja.
"Apa peduliku? tapi dia tetap menemui dokternya" cibir Aldric setelah Dean pergi tentunya. Aldric kemudian mengalihkan pandangannya ke pintu toilet. "Apa dia benar benar memuntahkan semuanya? kenapa lama sekali?" tanya Aldric yang seketika menjadi kesal.
*****
Arka sedang berada di rumah sakit dimana Sena dirawat. Saat sedang berjalan menuju kamar pasien, seorang perawat memanggilnya.
"dokter Arka" panggil seorang perawat. Arka menoleh.
"Iya, apa apa?" tanya Arka.
"tuan harus ke RS pusat sekarang, karena akan ada pengangkatan jantung disana" jawab perawat itu serius.
"pengangkatan jantung?" tanya Arka. Sang perawat mengangguk. "Baiklah, tapi tolong cek keadaan pasien di kamar 0022" ujar Arka.
"Baik dok" ucap sang perawat. Arka langsung pergi dan bergegas masuk ke mobil dan melajukannya dengan kencang.
Tepat setelah Arka pergi, perawat itu hendak masuk tapi ia sedikit terkejut saat pintu terbuka. Dean keluar tanpa melihat kearah perawat itu dan langsung pergi menuju ke ruangan dokter.
Sesampainya di ruangan dokter, Dean langsung terduduk tanpa menunggu perintah. Disana tertulis Dr Abian Saguna di papan namanya. Ya, dia adalah sepupu Dean.
"apa kabar?" tanya Bian.
"Seperti yang kau lihat" jawab Dean.
"Apa kau datang kesini untuk memeriksa betapa gilanya dirimu?" tanya Bian. "Maaf ini bukan rumah sakit jiwa" imbuh Bian.
"Kau akan menyesal sudah membuang dokter tampan dan pintar seperti ku" jawab Bian.
"Kau menyombongkan diri lagi?" tanya Dean yang sudah terbiasa dengan itu. Dean.
"hanya itu yang bisa aku lakukan" jawab Bian. "Kau mau apa?" tanya Bian.
"Bagaimana kondisi pasien dikamar 0021?" tanya Dean. Bian menaikkan satu alisnya.
"Pasien yang dibawa oleh Aldric atau yang mana?" tanya Bian.
"Menurutmu? memangnya ada berapa orang yang dibawa Aldric kemari?" Tanya Dean kesal.
"Ck, bisa santai tidak?" tanya Bian. Pria itu berdiri lalu mengambil sesuatu. "Ini hasil rontgen nya" ucap Bian sembari menunjukkannya pada Dean.
"Apa yang terjadi?" tanya Dean.
Bian mengetuk foto Rontgen pada bagian tulang punggung sebelah kanan. "Dia mengalami retak tulang punggung dan ini terbilang cukup parah. Ditambah lagi ada pembekuan darah di kepala yang disebabkan oleh benturan yang keras" ucap Bian.
"Kapan dia sadar?" tanya Dean.
"Karena kasusnya tidak parah, kemungkinan dua atau tiga hari lagi dia akan sadar" jawab Bian.
"Darimana kau tau? jelas kau bukan tuhan" tukas Dean. Bian melengos sembari memasukkan foto Rontgen nya ke dalam tas.
"Aku memang bukan tuhan, Jika kau ingin menemuinya kau tinggal katakan dan aku akan mengatur waktu yang tepat" ucap Bian kesal.
"Sialan kau" Dean hendak melempar sesuatu.
"Hei semua yang ada di ruangan ini adalah aset rumah sakit!" teriak Bian. Dean mengangkat bibirnya sengit. "Omong omong, Apa yang terjadi pada kak Sena?" tanya Bian.
"Aku pergi dulu" Dean berdiri dan langsung pergi meninggalkan Bian.
"Aissh dasar bocah tengil!" teriak Bian pelan. Bian kembali melanjutkan pekerjaannya walaupun moodnya sudah hancur di buat oleh Dean.
*****
Dua hari berlalu, Viana masih menemani Sena di rumah sakit. Hari ini sudah hari ke empat dan Sena bahkan belum menunjukkan tanda tanda. Viana berjalan menemui Aldric.
"Tuan, apa nona baik baik saja?" tanya Viana. Aldric yang sedang membaca artikel di ponselnya langsung mendongak.
"Sebentar lagi dia akan bangun" jawab Aldric malas.
"Darimana tuan tau?" tanya Viana.
"Kau wartawan atau apa?" tanya Aldric kesal. Viana hanya melengos lalu berjalan menghampiri Sena. Viana terus memandangi wajah Sena.
"Pantas saja kak Arka jatuh cinta padanya, bahwa disaat ia sedang tidur pun kecantikannya tidak hilang" batin Viana. kini matanya tertuju pada jemari Sena dan ia baru menyadari bahwa jari jemari itu mulai bergerak-gerak.
"Tuan, nona Sena bangun!" Viana sedikit berteriak sembari memanggil Aldric. Aldric bangkit lalu berjalan memencet bel. Tak lama kemudian Bian datang dengan seorang perawat.
"Keluar dulu" suruh Bian. Viana dan Aldric langsung keluar setelah mendapat perintah.
Diluar Viana tidak henti hentinya berdoa untuk Sena. Beberapa saat kemudian Bian dan perawat keluar dan menghampiri Aldric.
"Dia sudah sadar, Dia mungkin akan mengalami trauma jadi jangan menanyakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman" ujar Bian.
"Baiklah terima kasih dok" ucap Aldric. Setelah Bian dan perawat itu pergi, Viana langsung berteriak bahagia dan secara spontan langsung memeluk Aldric.
"Tuan apa kau malaikat? bagaimana kau tau nona Sena akan bangun?" teriak Viana senang sekaligus penasaran. Melihat Viana berada di pelukannya membuatnya terdiam. Ia merasakan jantungnya berdetak kencang dan hatinya seperti menghangat. Keduanya terdiam hingga beberapa detik sampai akhirnya Viana tersadar dan langsung menjauh.
"Maafkan saya tuan" ucap Viana lalu segera masuk ke dalam ruangan meninggalkan Aldric yang masih membeku.