
Sena masih berkutat dengan nyamuk ilegal yang masuk ke kamarnya tanpa izin. Setelah sekian lama tinggal di mansion besar milik suaminya, baru kali ini Sena bertemu lagi dengan nyamuk nakal yang sudah siap untuk menggigitnya. Karena terus mengejar nyamuk yang sepertinya adalah nyamuk jantan, Sena tidak sadar dan akhirnya menabrak rak kecil di samping sofa. Ia terjengkang ke lantas sembari mengaduh kesakitan. Detik itu juga, Dean masuk dengan wajah lelahnya. Pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat Sena tergeletak tidak berdaya di lantai.
"Sena?" Dean berjalan mendekati sang istri. Sena langsung bangkit dan membenahi bajunya.
"Sudah pulang?" Sena mencoba mengalihkan pembicaraan. Dean menganggukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Dean. Sena celingak celinguk mencoba mencari alasan yang tepat dibandingkan dengan menangkap seekor nyamuk ilegal.
"Habis olahraga jadi aku sedikit lelah" Sena menyengir kuda.
"Kau berolahraga dengan outfit seperti itu?" Dean bingung dengan istrinya sendiri. Sena melihat setelannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sena dengan setelah kaus dan rok tutu sepaha sangat tidak masuk akal jika dia baru saja melakukan olahraga seperti yang ia katakan barusan.
"I-ini tidak masalah" Sena menjawab dengan tergagap. "Lagipula free saja kan berolahraga dengan gaya seperti ini?" Sena tersenyum kikuk.
Dean tertawa kecil lalu berjalan menghampiri Sena. Sena mundur selaras dengan langkah kaki suaminya.
"Kenapa mundur?" Tanya Dean sewot. Sena langsung terdiam dan tidak mencoba untuk menghindar lagi. Kini Dean sudah berada tepat di hadapannya.
Sena mendongak hanya untuk melihat wajah Dean yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa cantik sekali?" Gombal Dean.
"Tiba tiba mengatakan itu?" Tanya Sena heran.
"Kalau begini, mana rela aku berbagi dengan pria lain" Dean tersenyum menggoda.
"Lagipula siapa yang mau denganku selain dirimu?" Sanggah Sena. "Jika bukan karena terpaksa, tuan juga tidak akan mau menikah denganku"
"Itu namanya sudah takdir"
"Ey, jangan bicara takdir!"
Sena berlari meninggalkan Dean dan pergi ke ruang ganti.
"Aku akan menyiapkan pakaian mu!" Teriak Sena yang memilih untuk menghindar dari rayuan maut pria semi es itu.
Dean tertawa kecil sembari geleng geleng kepala. Ia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lelah. Sedangkan Sena masih terdiam di dalam ruang ganti, ia kemudian merengek sendiri saat mengingat betapa malunya ia yang terjatuh tadi.
"Kenapa disaat Dean pulang sih? Aku kan jadi malu" Gerutunya kesal. "Jika dia tau penyebabnya adalah nyamuk ilegal yang masuk tanpa permisi itu Dean pasti akan menertawai ku" Imbuhnya. Dengan malas Sena mengambil kaos putih dan celana kolor untuk suaminya.
Sena bersenandung kecil dengan tangan yang terus memilah ****** ***** untuk bayi besarnya. Pertama kali melakukan itu dia sangat malu. Melihat ****** ***** pria membuatnya berfantasi liar, tidak berfikir jauh Sena hanya tidak bisa membayangkan jika Dean berdiri di depannya hanya dengan mengenakan ****** ***** saja. Tapi sekarang dia sudah terbiasa karena Dean selalu meminta Sena untuk menemaninya berganti pakaian. Sena tertawa geli sembari menutup mulutnya.
"Sudah selesai dengan otak liar mu?" Suara pria itu bagai bom yang sudah meledakkan isi kepalanya. Sena berbalik dan hanya bisa menyengir.
"Sudah selesai? pakai sendiri ya aku mau keluar sebentar" Sena dengan senyum mengembang ingin melangkahkan kakinya untuk keluar dari sana, tapi siapa sangka Dean menariknya dan mendorongnya pelan sampai menempel ke lemari pakaian.
"Kenapa buru buru sekali?" Tanya Dean.
"A-aku ingin minum" Sena gagap. Apalagi saat menyadari bahwa Dean hanya mengenakan handuk saja.
"Sial! kenapa dia bisa tahu? Aku tidak pernah keluar dari kamar ini" Jawab Sena akhirnya.
"Benarkah? lalu siapa oknum yang sering mengendap endap masuk ke pekarangan belakang dan tertangkap kamera cctv?" Tanya Dean. Sena menyerah, ia menghela nafas panjang.
"Lagi pula kenapa aku tidak boleh keluar kamar?" Tanya Sena pura pura berani.
"Kau sedang ku hukum" Jawab Dean.
"Padahal aku tidak melakukan kesalahan besar" Gumam Sena kesal namun itu masih bisa di dengar Dean.
"Jadi kau masih menganggap itu kesalahan kecil?" Tanya Dean mulai kesal.
"Sudah jangan mulai lagi" Sena mencoba menghentikan pembicaraan ini. Karena kalau tidak ini tidak akan cepat berakhir, sungguh.
"Viana itu benar benar mengajarkan hal sesat padamu ya" Tukas Dean. Sena mendelik lalu setelahnya kembali menciut.
"Apanya yang sesat? Tuan saja yang memang overprotektif" Sanggah Sena.
Cup
Satu ciuman mendarat di bibirnya. "Masih ingin bicara?" Tanya Dean dengan tatapan menggoda.
"Ini masih sore" Sena mendorong pelan tubuh kekar Dean. "Omong omong, dimana tuan Aldric?" Tanya Sena mengalihkan pembicaraan.
Dean menghela nafas lalu menarik tubuhnya dan mulai mengenakan pakaiannya.
"Sedang di rumah sakit" Jawab Dean malas. Agaknya dia cemburu karena Sena mencari Aldric padahal sudah jelas dia yang berada di depannya.
"Siapa yang sakit?" Sena mengerutkan dahinya.
"Asisten kesayanganmu" Jawab Dean sewot. Lalu setelahnya ia menoleh pada Sena yang sudah melongo.
"Viana sakit?" Tanya Sena setelah beberapa detik mencerna ucapan Dean. Dean pura pura acuh, tapi ia terlonjak saat Sena membuka pintu dan meninggalkannya di dalam sendiri. Dean ingin mengejar tapi ia sadar jika selangkah saja dia keluar dari kamarnya maka tamat riwayat kesuciannya. Handuk itu tidak lagi menempel di bagian bawahnya, ia baru mengenakan kaos dan ****** ***** saja.
******
Suara detik jam yang tenang ternyata bisa membangunkan seseorang dari tidurnya. Viana terbangun setelah hampir dua hari tidak sadarkan diri. Dan orangnya berada di sampingnya selalu adalah Aldric. Masih dengan tatapan kosong, akhirnya Viana menangis lagi. Kali ini tanpa suara. Tapi Aldric bukan lah orang yang bisa tidur dalam keadaan berisik. Bahkan deru nafas seseorang saja bisa membuatnya terbangun. Aldric terbangun ketika mendengar isakan dari mulut Viana. Aldric mengangkat tubuhnya, benar saja wanita itu menangis tertahan.
"Hei mana yang sakit?" Pertanyaan itu hanya membuat Viana semakin menangis. "Beri tahu aku, Viana" Ujar Aldric.
Apa Viana akan menceritakan semuanya? tentu tidak. Ia belum siap menerima resiko jika Aldric mengetahui akar permasalahannya yang ternyata adalah Arka dan juga dirinya.
"Apa ada yang menyakitimu?" Tanya Aldric. Viana menggeleng pelan. Tangisan Viana perlahan mereda saat merasakan tangan hangat itu mengelus kepalanya dengan lembut.
Aldric hendak bicara lagi, tapi pintu keburu terbuka dan menampakkan Sena dengan wajah khawatirnya disana. Sena langsung menghampiri Viana yang sudah selesai menangis. Dengan cepat ia melayangkan tatapan sinis pada Aldric. Seolah berkata-"Apa yang kau lakukan padanya?" Begitulah kira kira.
Aldric yang mengerti arti dari tatapan itu langsung menyanggah tuduhan yang sudah berada di kepala Sena.