Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Anak laki laki atau perempuan



Dean masih mendengarkan Sena bercerita dengan wajah bahagianya. Sesekali ia ikut tertawa melihat Sena tertawa sambil bercerita.


"Dan tuan tau, ternyata Anna itu seekor kucing!" Sena kembali tertawa. Saat ini ia sedang berada di pangkuan Dean.


"Viana makan bersama kucing?" Tanya Dean. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan cerita Sena, tapi untuk menyenangkan hati sang istri ia harus benar benar mendalami perannya.


"Dengan ayahnya juga" Jawab Sena sembari menghapus sisa air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Dean hanya mengangguk dengan senyum manisnya. Matanya tidak luput dari wajah Sena yang terlihat menggemaskan saat sedang bercerita. Sena sedikit menjauhkan wajahnya dengan alis yang terangkat satu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Sena yang langsung sewot.


"Kau istriku, tidak akan ada yang bisa marah" Sena memutar bola matanya malas. Itu adalah kata kata andalan dari Dean agar membuat Sena mati kutu.


"Tapi aku keberatan dengan hal itu" Sena hendak turun tapi pinggangnya tidak bisa bergerak karena Dean masih memeluknya.


"Aku hanya menatap wanita yang aku sukai, jadi jika aku menatapmu itu artinya kau adalah wanita yang beruntung" Ujar Dean menyombong.


"Wah begitu?" Sena langsung memberi tatapan mematikan. "Aku ingin ke kamar mandi, ayo tidur" Ajak Sena.


"Tidur denganmu" Dean mendusel kedalam leher Sena.


"Ya jika bukan dengan ku dengan siapa lagi sayang?" Kadang sena tidak habis fikir. Ini Dean yang memang bucin atau Sena yang tidak pekaan?.


"Cepat kembali atau aku akan menjemputmu" Dean melepaskan pelukannya dan membiarkan Sena berlalu ke kamar mandi. Ia merebahkan tubuhnya di kasur sembari menunggu istrinya datang.


Sena keluar dengan wajah innocent. Ia naik ke atas kasur tanpa berfikir bahwa ada buaya yang sedang menunggunya disana. Sena menarik selimut tinggi tinggi dan memejamkan matanya. Merasa ada yang mengganjal, Sena membuka matanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat wajah Dean tepat di depannya. Sena tersenyum malu sambil menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


Dean tergelak, bukan apa apa tapi Dean menyukai wajah Sena yang ayu dan menggemaskan. Ia memeluk Sena erat erat sambil berbisik. "laki laki atau perempuan?"


"Eh?" Sena menurunkan selimutnya.


"Mau anak laki laki atau perempuan?" Mengherankan sekali ketika Dean bisa menanyakan hal itu dengan wajah polosnya sedangkan yang ditanya sudah keringat dingin duluan.


Sena merasa hawa panas mulai menjalari tubuhnya. Ia lalu terduduk yang langsung membuat Dean terlonjak kaget.


"Ah panas sekali aku ingin keluar!" Sena mengibaskan tangannya dan meng-cosplay menjadi kipas angin.


"AC nya tidak dingin?" Tanya Dean. Bukan bodoh hanya saja Dean ingin menggoda Sena lebih lama lagi.


"Tidak dingin ndasmu!" Gerutunya dalam hati.


"Ayo tidur" Dean menepuk bantal di sampingnya.


"Aku haus"


"Biar aku ambilkan" Sebelum Sena bangkit Dean sudah lebih dulu mengambil start. Sena hanya menghela nafas lalu setelahnya menggosok wajahnya frustasi. Ia ingin punya anak, sangat ingin. Tapi melihat Dean bisa mempertanyakan itu dengan wajah polosnya membuat Sena heran. Apa Dean pernah punya anak? tapi tidak mungkin. Sena sedikit terkejut saat Dean masuk dengan membawa segelas air untuknya.


"Kau seperti melihat hantu" Ucap Dean sembari memberikan gelas itu pada Sena.


Sena meneguknya sampai kandas lalu setelahnya hanya cengengesan. "Terima kasih tuan muda"


Dean mengacak rambut Sena pelan dengan senyum yang terpatri di bibirnya. "Sama sama nyonya muda" Dean naik ke atas kasur lalu membawa Sena masuk kedalam pelukannya. "Sekarang ayo tidur" Sena mengangguk dan langsung memejamkan matanya.


*****


"Apa dia mencoba menghindar dariku?" Batin Aldric. Tidak ingin mati penasaran, Aldric ingin mengejar Viana tapi panggilan masuk dari Dean menghentikan langkahnya. Aldric hanya memperhatikan sampai punggung wanita itu sudah tidak kelihatan. Aldric menghela nafas, ia mengurungkan niatnya dan kembali pada tujuan utama.


Viana masuk ke kamar Sena setelah mendapat izin tentunya. Ini sudah kali ketiga mereka bertemu setelah sekian lama dipisahkan. Sena mengisyaratkan agar Viana duduk di sampingnya.


"Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya Sena setelah bokong Viana mentok pada sofa.


"Sudah membaik nona" Jawab Viana.


"Aku ingin sekali bertemu dengan ayahmu, tapi tidak mungkin di izinkan" Ujar Sena kesal karena peraturan yang berlaku di kehidupannya saat ini.


"Tidak apa apa nona, saya tidak ingin nona mendapat masalah lagi"


"Eh, seharusnya aku yang berkata begitu. Karena ulahku kau yang sering mendapat masalah" Ujar Sena merasa tidak enak. "Eh ngomong-ngomong bagaimana dengan tuan Aldric?"


"Eum?"


"Tuan Al, apa kalian sudah baikan?" tanya Sena. Ekspresinya seperti ibu ibu komplek yang sedang bergosip.


"Saya merasa biasa saja nona, lagipula tidak ada hubungan spesial di antara kami" Jawab Viana. Kentara dari raut wajahnya, Viana masih menyimpan kesal pada Aldric.


"Apa kau semarah itu padanya?" Sena benar benar calon ibu ibu penggosip! Wajahnya sangat meyakinkan.


"Bukan salah tuan Aldric, saya yang salah karena berfikir dia akan berbeda dalam memperlakukan saya. Itu sangat ceroboh" Ujar Viana dengan senyum kecutnya.


"Malam itu aku sangat khawatir, aku kira dia memukulmu" Ucap Sena dengan wajah khawatir yang tidak di buat buat.


"Tidak, nona salah paham" Viana ingin meluruskan bahwa Aldric mungkin tidak seburuk itu. "Waktu itu, bibi saya menelepon dan memberitahu bahwa ayah ibuku akan bercerai"


"Bercerai?!" Viana mengangguk.


"Malam itu aku baru kembali dari rumah setelah mengantar ayahku. Hari itu adalah persidangan perceraian ayah dan ibuku" Ucap Viana.


"Viana, maaf aku tidak tau. Ini pasti membuatmu sedih" Sena mengelus bahu Viana dengan lembut.


"Hah, rasanya seperti benar benar sudah jatuh tertimpa tangga" Viana menarik nafas dalam-dalam. "Aku merasa bersalah karena ini adalah dampak dari kesalahanku" Imbuhnya.


"Ey, sudahlah. Mereka pasti sudah memikirkan yang terbaik" Sena kembali mengelus bahu yang rapuh itu. "Sekarang kau harus hidup lebih baik lagi, okay?" Sena menaikkan jempolnya lalu di balas dengan anggukan dan senyuman dari Viana.


Di sebalik pintu, tanpa sadar ada Aldric yang tanpa sengaja mendengarkan percakapan keduanya. Aldric tadinya hendak mengambil notebook Dean yang ada di kamarnya. Tapi ia mengurungkan niatnya saat mendengar suara Viana dan Sena sedang berbincang. Sontak itu membuat Aldric sangat merasa bersalah pada Viana. Ia tidak pernah tau bahwa begitu banyak beban yang harus di pikul oleh Viana. Aldric menghela nafas lalu mengetuk pintu.


"Siapa?" Teriak Sena dari dalam.


"Aldric, saya ingin mengambil notebook" Jawab Aldric.


"Oh masuklah, buka saja pintunya!" Aldric membuka pintu dan sejenak melihat Viana yang tidak menatapnya sama sekali.


"Ehem, notebook kan tuan?" Nadanya seperti menyindir. Sena tau bahwa keduanya sama sama saling suka. Aldric kalap, ia langsung berjalan mengambil notebook dan segera keluar meninggalkan Sena yang sedang tersenyum menggodanya.


"Uuuuuuuuuu~Kalian seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar!" Seru Sena. Viana hanya tersenyum malu malu. Pipinya sudah merah jambu sekarang.