Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Menendang bebas



Viana keluar dari kamar Sena setelah beberapa saat mengobrol tentang banyak hal. Ia keluar bukan tanpa sebab, tapi karena Dean yang tiba tiba masuk dan bilang ingin tidur. Hal itu jelas membuat Viana kalap, ia dengan cepat keluar dari kamar nona nya. Viana tersenyum malu saat mengingat wajah panik Sena saat Dean bilang ingin tidur. Viana hendak masuk ke kamar tapi ia tersentak saat Aldric datang dan mendorongnya pelan sampai menempel pada tembok kamarnya.


"A-apa a-apa?" Viana tergagap. Apalagi saat wajah Aldric semakin dekat. Namun dengan gerakan spontan Viana mengangkat kakinya hingga lututnya tepat mengenai aset milik Aldric. Jelas hal itu membuat Aldric mengaduh dengan suara tertahan.


"Aaaw!" Viana menutup mulut dengan kedua tangannya. matanya terbuka lebar.


"T-tuan maafkan saya!" Viana menarik Aldric dan membawanya masuk ke kamar. Tanpa alasan yang jelas ia mendudukkan Aldric di pinggiran kasurnya. Viana panik, jika sakit di bagian luar ia mungkin bisa membantu menanganinya. Tapi kalau yang ini, bisa bisa Aldric langsung memecatnya.


"Apa kau benar benar seorang wanita?" Tanya Aldric yang masih menahan sakit. Viana menggigit bibirnya sembari celingak-celinguk padahal ia tidak sedang mencari apapun.


"Ayo saya bawa ke dokter" Viana memegang lengan Aldric untuk membantu pria itu berdiri. Tapi alhasil malah dia yang terjatuh, tepat di atas Aldric.


"Kau fikir dokter bisa mengobatinya?" Tanya Aldric. Tidak bisa menjawab, Viana hanya bisa menelan ludahnya samar.


"Bagaimana ini? Tidak tidak, tuan Aldric tidak mungkin melakukan itu. Diakan belum pernah pacaran!!" Dalam batin Viana berteriak.


"Kau berfikir aku tidak akan melakukannya?" Tanya Aldric.


"Tuan Al cenayang? Begini, satu tambah satu?" Tanya Viana dalam hati.


"Berhentilah berbicara dalam hati!" Ujar Aldric.


"Oah aku aman!" Viana membatin lagi.


"Biar ku tebak, kau menyangka aku cenayang lalu kau memberi pertanyaan dan karena aku tidak bisa menjawab kau berfikir dirimu aman, benar begitu?" Tanya Aldric. Viana tidak bisa bernafas saat itu juga. Ia dengan cepat langsung bangkit dan menjauh dari Aldric.


"T-tuan bisa keluar jika sudah selesai" Ucap Viana.


"Setelah menendang aset berharga milikku kau dengan mudah mengusirku?" Tanya Aldric tidak percaya. "Kau harus tanggung jawab" Imbuhnya.


"Kenapa kenapa aku harus bertanggung jawab?" Tanya Viana. "Aku tidak melakukan apa apa!" Seru Viana.


"Kau menendangnya!" Ucap Aldric.


"Tapi aku benar benar tidak sengaja tuan!" Sanggah Viana.


"Lalu sekarang bagaimana caraku mengobatinya?" Tanya Aldric. Viana menghela nafas gusar. Ia tau Aldric sedang mempermainkannya.


"Tuan ingin aku yang mengobatinya? Sini aku lihat!" Viana sudah akan mengambil kuda kuda untuk meraih celana Aldric tapi pria itu malah meringkuk di atas kasur.


"Kau Psikologi!!" Teriak Aldric. Viana menghela nafas panjang.


"Biar saya benarkan, psikopat!" Ujar Viana geram. "Tuan bisa keluar sekarang, tapi jika tuan ingin saya mengobatinya sini biar aku lihat!"


"Kau mencoba menggodaku ya?" Tanya Aldric.


"Cih, apa gunanya?" Gumam Viana yang masih bisa di dengar oleh Aldric.


Aldric kali ini dengan sengaja menarik Viana agar terjatuh di sampingnya. Tanpa aba aba Aldric mengecup bibir Viana sekilas. Dan itu jelas membuat Viana tercengang.


"Kenapa kau tidak bercerita padaku?" Tanya Aldric. Viana masih gelagapan. "Kau marah dan mencoba menjauhiku?" Tanya Aldric lagi.


"Aku menyukaimu" Jantung Viana seperti hendak melorot sekarang ini. "Tidak peduli kau menyukaiku atau tidak tapi aku harap perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan" Imbuhnya.


Viana menelan ludahnya samar. "T-tuan jangan bercanda seperti ini"


"Aku serius" Viana menyadari bahwa tidak ada raut bercanda di wajah pria itu.


"T-tapi aku tidak men ...." Mata Viana melotot saat Aldric kembali menciumnya dan kali ini dengan durasi yang cukup lama.


Viana merasakan sesuatu yang hangat menjalari seluruh tubuhnya. Ia perlahan memejamkan matanya.


Cukup lama sampai akhirnya Aldric melepaskan tautannya. Keduanya saling tatap dengan jarak yang sangat dekat.


"Aku memang tidak pernah berkencan dengan siapapun, tapi aku tetap laki laki" Ucap Aldric yang terkesan dark.


Viana hanya menatap Aldric dengan mata indahnya. Ia tertegun saat Aldric tersenyum padanya untuk pertama kalinya.


"Jangan mencoba menjauh" Aldric kembali mencium bibir Viana sekilas. Ia duduk dan wajahnya seperti tidak melakukan kesalahan apapun. Ia menoleh pada Viana yang belum bergeming. "Kau mau lagi?" Tanya Aldric yang langsung membuat Viana terduduk. Wanita itu membenarkan baju dan rambutnya.


"Tuan bisa keluar sekarang" Viana hendak membukakan pintu untuk Aldric.


"Aku menyukaimu" Ucap Aldric yang langsung menghentikan tangan Viana yang hendak memegang handle pintu. Aldric tersenyum lalu bangkit dan berjalan mendekati Viana. "Baiklah sampai jumpa di lain waktu" Sebelum pergi, Aldric mengelus rambut Viana dua kali. Aldric keluar dengan senyum yang masih menempel di bibirnya dan menutup pintu tanpa rasa bersalah atau apapun itu.


Viana hanya melongo, Aldric yang ini jelas sangat berbeda dengan Aldric yang memarahinya hari itu. Bodohnya meskipun sudah dihina tapi Viana tidak bisa menyangkal bahwa ia juga menyukai Aldric.


Viana naik ke atas kasur dan berguling tidak jelas. Sesekali menjerit dan setelahnya merengek tak karuan.


*****


Aldric berjalan ke kantor. Ia bertemu dengan Jihan yang saat itu juga berada disana. Aldric memutar bola matanya malas. Kalau bukan karena larangan dari Dean, ia pasti sudah menghabisi wanita yang tidak tau malu ini.


"Dimana Dean?" Tanya Jihan. Aldric tidak menjawab dan berjalan melewati wanita itu. Jihan geram, ia berbalik lalu berteriak. "Hana masih hidup!"


Kata kata itu seakan menghipnotis Aldric, pria itu langsung berhenti dan berbalik. Jihan tersenyum smirk, senyum yang paling dibenci oleh Aldric.


"Kau bicara omong kosong lagi?" Tanya Aldric.


"Mari kita buktikan siapa yang bicara omong kosong" Jihan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar. "Ini Hana kan? Duduk tidak berdaya di atas kursi roda" Jihan tertawa di akhir kalimat.


Aldric tersenyum tipis. "Dengan keadaannya yang tak berdaya pun kau tak mampu merebut miliknya, benarkan? Dan kau bermimpi untuk merebut milik nona Sena yang masih bisa melakukan segalanya?" Tanya Aldric. Itu seperti sebuah tamparan untuk Jihan, terlihat dari sorot matanya yang tajam dan penuh amarah.


"Cepat atau lambat aku akan mengambil milikku kembali" Ucap Jihan.


"Baiklah, aku menunggu kabar darimu" Aldric tertawa kecil lalu melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Jihan yang sudah kebakaran jenggot sekarang ini.


"Jika aku tidak bisa mendapatkannya maka siapapun tidak akan boleh mendapatkannya"


Jihan berjalan dan keluar dari perusahaan milik Dean. Ia tidak perduli jika dikatakan bahwa urat malunya benar benar sudah putus karena kenyataannya memang seperti itu. Ia tidak akan menyerah dengan cintanya.