Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Ikut ke kantor



Sena membuka matanya perlahan. Ia mengedipkan matanya berkali kali dan menggeliat pelan sembari menguap.


"Aku masih hidup" Gumamnya pelan. Ia lalu menoleh. Sena tersenyum melihat Dean tertidur pulas di sebelahnya. Setelah melihat jam di dinding ia terkejut karena jam sudah menunjukkan pukul delapan.


"Sayang" Panggilnya pelan. Sena sedikit mendekatkan wajahnya hanya untuk melihat lebih jelas wajah suaminya. "Dia pasti sangat lelah, bagaimana aku bisa membangunkannya?" Sena menghela nafas. Ia menoleh lagi saat Dean menggeliat pelan. Mata pria itu terbuka perlahan. Tidak jauh beda dengan yang dilakukan Sena saat bangun, Dean juga mengedipkan matanya berkali kali sembari menguap.


"Sudah bangun?" Tanya Dean.


"Eh harusnya aku yang bertanya begitu" Sena menatap Dean dengan wajah innocent.


"Aku sudah bangun" Dean duduk dengan rambut acak acakan.


"Cepat mandi, aku akan menyiapkan pakaian" Sena hendak turun tapi Dean menarik pinggangnya lalu memeluk istrinya kuat.


"Aku masih rindu" Sena hanya memutar bola matanya malas. Padahal setiap hari mereka bertemu, tapi Dean selalu mengatakan itu setiap saat.


"Aku juga rindu padamu" Ucap Sena dengan senyum manisnya. Sebenarnya tidak terlalu rindu, tapi sedikit berbohong lebih baik daripada harus melihat wajah kesal pria itu.


"Aku tau"


"Tau darimana?"


"Hatiku mengatakan begitu, padahal setiap hari bertemu. Tapi kau selalu rindu" Sena menoleh ke belakang dengan wajah terkejut.


"Bisa bisanya dia membalikkan fakta" Sena membatin.


Cup


Sena tercengang. Pipinya merah merona saat Dean mencium keningnya.


"Ayo ikut ke perusahaan" Ujar Dean.


"Apa tidak apa apa?" Tanya Sena.


"Kenapa memangnya? Kau kan istriku" Nah, belum apa apa dia sudah ngegas duluan.


"Aku takut para karyawan mu akan merasa tidak nyaman"


"Lagipula mereka juga tau kalau aku sudah punya istri" Dean kemudian mengarahkan tubuh Sena agar berhadapan dengannya. "Tapi memang resiko yang harus kau hadapi ketika mempunyai suami sepertiku, aku banyak fans-nya" Bisik Dean di akhir kalimat.


Geli, itu reaksi yang terpancar dari raut wajah Sena saat ini. Dia tidak menyangka ternyata suaminya senarsis itu.


"For your information aku juga banyak fansnya" Ujar Sena yang juga berbisik di akhir kalimat. Sena tergelak setelah itu. Ia seketika terdiam saat Dean memegang kedua pipinya. Pipi yang kini sudah memerah seperti tomat matang di kebun nek Yati dulu.


"Mereka banyak memberiku hadiah" Dean berusaha pamer agar istrinya cemburu.


"Mereka banyak memberiku cinta" Sena tak kalah pamer. Padahal sebenarnya nol besar. Wajah Dean berubah menjadi sangat kecut. "Habis makan permen asam, sayang?" Tanya Sena yang terdengar seperti ledekan.


"Gila, ya. Kecil kecil sudah pandai berbohong" Ketus Dean. Sena menaikkan sebelah alisnya.


"Aku sudah dewasa" Sena tidak terima dengan perkataan Dean.


"Seharusnya semakin dewasa kau semakin sadar bahwa yang mencintaimu tidak lagi sebanyak saat kau masih kecil" Dean menjentikkan jari telunjuk di kening Sena.


"Benarkah? Jika sewaktu kecil tidak banyak yang mencintaiku, bolehkah aku meminta dicintai setelah dewasa?" Tanya Sena. Dean mengangguk mengiyakan.


"Aku punya banyak, jika kau mau akan kuberikan semuanya" Dean tersenyum manis pada Sena yang kini terdiam melihatnya.


"Tidak akan terbagi?" Tanya Sena.


"Nenekku adalah cinta pertamaku, jadi tidak apa sedikit berbagi padanya kan?" Tanya Dean. Sena mengangguk setuju.


"Berikan padaku sedikit saja" Sena menoel hidung mancung suaminya.


"Baiklah" Dean juga menoel hidung Sena. Keduanya tertawa setelah saling pandang cukup lama.


*****


Antara bahagia dan juga tegang. Sena masih berdiam diri di depan sebuah gedung yang sangat besar. Ia menggigit bibir bawahnya.


"Aku pulang saja" Sena hendak berbalik. Tapi Dean dengan sigap langsung menarik kerah belakang Sena dan membawanya seperti anak kucing.


"Enak saja, kau benar benar suka sekali membuang waktu" Dean masih bertahan menenteng Sena.


"Jangan seperti ini, aku malu" Bisik Sena. Dean kemudian menurunkan tangannya dan beralih menggandeng tangan Sena.


Tidak ingin berbohong, Sena sangat terpukau. Masih menjadi mimpi ia bisa menikah dengan lelaki kaya raya seperti Dean. Awalnya memang ia tidak pernah bermimpi ingin memiliki suami seperti Dean. Saat mengingat betapa sombongnya Dean dulu, membuat Sena ingin sekali memukul kepala pria itu sampai amnesia. Semua karyawan tampak memberi hormat pada Dean dan dirinya. Ada yang memberi tatapan terkejut dan ada juga yang hanya tersenyum tipis.


Dean membawa Sena ke kantornya. Membawa wanita itu dan mendudukkannya di sofa.


"Jantungmu aman?" Tanya Dean dengan tawa kecilnya. Melihat wajah tegang Sena membuat pria itu ingin terus tertawa. Sangat lucu dan menggemaskan.


"Sepertinya jantungku sudah tidak berada di tempatnya" Sena kemudian beralih menatap Dean yang tersenyum hangat padanya.


"Jangan gunakan matamu untuk menatap pria lain"


"Tuan bukan pria?" Tanya Sena.


"Tolong di pahami PRIA LAIN!" Jawab Dean dengan sedikit menekankan kata terakhir. Sena cekikikan geli.


"Aku bahkan tidak sempat melakukannya" Sena menghela nafas. "Siapa yang berani menentang mu?" Tanya Sena.


"Kau boleh marah jika aku salah" Dean kini mengambil tangan Sena untuk di genggam.


"Aku tidak bisa marah" Sena menggeleng pelan.


"Benarkah?" Tanya Dean. Sena mengangguk.


"Silent treatment atau pergi menjauh" Dean menautkan kedua alisnya tidak paham dengan ucapan Sena.


"Terluka karena seseorang yang kita benci itu tidak akan terasa sakitnya. Tapi ketika luka itu dibuat oleh seseorang yang kita cintai, hanya ada dua pilihan. Bertahan dan memaafkan atau diam dan setelahnya pergi menjauh"


Dean terdiam, rasanya ia sangat tertohok dengan ucapan Sena barusan.


"Jika suatu saat aku melakukan kesalahan, apa kau akan menjauh?" Tanya Dean.


"Tergantung"


"Tergantung apa?"


"Tergantung aku masih mencintaimu atau tidak" Jawab Sena yang kemudian tergelak melihat wajah datar suaminya.


"Sudah sana kembali ke meja kerjamu" Sena mendorong pelan bahu Dean.


Dean sedang fokus dengan pekerjaannya. Beberapa berkas perlu ia tanda tangani.


"Bagaimana bisa aku fokus bekerja jika kau melihatku seperti itu" Celetuk Dean yang langsung membuat Sena salah tingkah.


"Siapa juga yang melihatmu" Sena tuduhan Dean yang memang ada benarnya. "Dimana tuan Aldric?" Tanya Sena celingak-celinguk karena sedari tadi tidak menangkap keberadaan pria itu.


"Dia sedang ke villa" Jawab Dean.


"Villa Timur?" Sena menerka nerka. Sejenak Dean menatap Sena dengan wajah heran. Heran kenapa Sena bisa tau villa yang ia maksud. Dean akhirnya mengangguk mengiyakan.


"Ada sesuatu yang harus di urus disana" Dean kembali fokus pada komputernya. Sena hanya mengangguk mengerti.


Sena menguap berkali kali, ternyata sangat membosankan. Lebih membosankan daripada saat di bekerja di toserba. Sena mengeluarkan ponselnya dan menelepon Viana yang hari ini izin untuk menemui ayahnya.


"Halo, nona?"


"Hai, kau sudah sampai?" Tanya Sena. Sena tau Dean sedang menatapnya curiga saat ini, tapi ia berusaha mengabaikannya.


"Sudah nona. Ini aku sedang makan siang bersama ayahku" Jawab Viana yang terdengar sangat antusias. "Anna juga ada disini"


"Anna?"