
Viana terduduk dengan pasrah ketika Sena terus memoles wajahnya dengan bedak.
"Nona, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Viana.
"Kau diam saja, aku pastikan tuan Aldric pasti akan berkata "Kau cantik malam ini" kau tau semua lelaki melakukan itu" Ujar Sena.
"Apa tuan Dean juga begitu?" Tanya Viana. Sena sedikit berfikir.
"Entahlah, sepertinya dia tidak pernah memujiku dan mungkin saja aku yang lupa" Jawab Sena.
"Padahal nona sangat cantik" Ucap Viana.
"Kau membuatku jadi malu" Tukas Sena dengan tawa kecilnya. "Bagaimana kalian bisa dekat?" Tanya Sena tiba tiba.
"Eh? tapi kami tidak dekat nona" Jawab Viana.
"Ey kau bergurau?" Tanya Sena. "Bagaimana mungkin kalian berkencan jika tidak pernah dekat?" Tanya Sena.
"Tapi ini hanya sebagai panther kerja saja" Jawab Viana.
"Baiklah, tapi percayalah. Dia bukan orang yang buruk" Ujar Sena. Viana mengangguk mengerti.
Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, Sena akhirnya selesai merias wajah Viana.
"Wah cantik sekali" Seru Sena yang terlihat sangat antusias. Viana hanya tersenyum malu.
Viana mengambil ponselnya yang berdering.
"Apa itu tuan Aldric? Sangat tidak sabaran sekali" Tukas Sena kesal. "Baiklah, aku harus kembali ke kamar karena tuan Dean pasti sudah mencari ku" Ujarnya. Sena melambaikan tangan dan menghilang dari sebalik pintu.
Viana menghela nafas lalu mengangkat teleponnya.
"Halo tuan"
"Tunggulah di depan, aku akan menjemputmu sekarang" Ujar Aldric dari via telepon.
"Baiklah tuan" Viana kembali menghela nafas saat sambungan terputus secara sepihak.
Viana berjalan keluar dari mansion, tak menunggu lama mobil Aldric berhenti tepat di depannya. Aldric membuka kaca mobilnya dan menampakkan wajah tampannya.
"Naiklah" Ujar Aldric. Viana masuk ke dalam mobil, ia menelan ludahnya samar karena Aldric terus memperhatikannya.
"A-apa ada yang salah?" Tanya Viana. Aldric tertawa kecil lalu kembali melajukan mobilnya.
"Tidak ada yang salah, kau cantik malam ini" Jawab Aldric. Viana terkejut saat mendengar itu.
"Jangan jangan nona Sena adalah peramal?" Batin Viana. "Atau semua lelaki memang sama saja?" Imbuhnya.
*****
Sena dengan terburu buru kembali ke kamarnya karena tersadar ia sudah berjam jam berada di kamar Viana. Sena membuka pintu perlahan, dan menutupnya pelan. Saat berbalik Sena terkejut karena Dean sudah berada di belakangnya.
"Darimana saja kau?" Tanya Dean.
"Tidak ada" Jawab Sena singkat. Sejak kembali dari Pulau biru hari itu Sena terus memikirkan ucapan Jihan. Rasanya ia tidak ingin percaya tapi nyatanya Dean tidak pernah menjelaskan apapun padanya.
"Lalu?" Tanya Dean.
"Tuan sudah makan? Ayo saya temani" Ujar Sena. Wanita itu sudah akan berbalik tapi tangan Dean menahannya.
"Kau ini kenapa?" Tanya Dean.
"Kenapa? saya baik baik saja tuan" Ucap Sena.
"Berhenti menyebutkan kata saya pada dirimu sendiri" Tukas Dean dengan intonasi yang mulai meninggi. Ia mulai kesal karena Sena yang terus menghindar dan mengabaikannya.
"Lalu aku harus apa?" Tanya Sena. "Apa aku tidak boleh menghilang walau sebentar?" Tanya Sena lagi.
"Kau ingin menghilang? Itu sebabnya kau sering mengabaikan ku?" Tanya Dean.
"Tidak begitu, aku hanya ke kamar Viana saja" Jawab Viana.
"Aku hanya meriasnya saja, tuan Aldric mengajaknya kencan malam ini" Jawab Sena. Mendengar itu, wajah kesal Dean berubah menjadi datar dan heran.
"Mereka berkencan?" Tanya Dean. Sena mengangguk.
"Mereka baru saja pergi" Ujar Sena.
"Apa kita juga harus berkencan?" Tanya Dean. Sena menggeleng cepat.
"Aku tidak ingin kemana mana" Jawab Sena.
"Kenapa?" Tanya Dean.
"Hanya tidak ingin" Jawab Sena. Sena kemudian melihat ke arah balkon, suasananya sangat bagus malam ini. Sena tersenyum lalu menarik tangan Dean, membawa pria itu dan mendudukkannya ke sofa yang ada di balkon. Sena duduk di samping Dean tapi kemudian Dean menariknya agar duduk di pangkuannya.
"Jika bisa disini kenapa harus disitu?" Tanya Dean.
"Aku berat" Ujar Sena.
"Tapi aku suka" Sahut Dean. Sena hanya melengos.
Keduanya terdiam dan menikmati langit malam. Di keheningan malam, Sena masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Jihan. Pertanyaan yang terus bermunculan seringkali membuatnya tidak nyaman. Ia tidak ingin bertanya, atau lebih tepatnya ia takut Dean marah karena tidak percaya padanya.
"Tanyakan saja" Ucap Dean tiba tiba. Sena mendongak. Tatapan keduanya bertemu. "Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, aku tidak akan marah padamu" Ujarnya.
"Aku ingin bertanya sesuatu" Ucap Sena. "Apa yang dikatakan oleh Jihan itu benar?" tanya Sena.
"Jika ku katakan itu tidak benar, apa kau bisa percaya?" Tanya Dean lagi. Dean menghela nafas. "Aku harap kau akan percaya, aku tidak mungkin melakukan itu disaat aku sudah memiliki seorang istri yang selalu menungguku" Ujar Dean.
"Tapi kenapa dia berkata seperti itu?" Tanya Sena.
"Kenapa? Tentu dia ingin kita bertengkar" Jawab Dean. "Sena dengar, aku tidak ingin kau terpengaruh oleh ucapannya" Ujar Dean.
"Aku percaya padamu" Ucap Sena. "Tapi jika tuan berbohong, aku akan benar benar pergi" Ujarnya.
"Maka jika aku tidak berbohong, kau harus tetap bersamaku apapun yang terjadi" Ucap Dean. Kedua pasang bola mata itu terus bertatapan dengan senyum yang terukir di bibir keduanya. Dean mengecup bibir Sena sekilas.
"Bagaimana bisa Aldric mengajak seorang wanita berkencan?" Tanya Dean heran.
"Kenapa? bukannya itu manusiawi?" Tanya Sena tak kalah bingung.
"Masalahnya Aldric tidak pernah berkencan sama sekali" Jawab Dean.
"Benarkah?" tanya Sena kaget. "Wah aku kira dia adalah seorang pemain" Ucap Sena. Dean menarik hidung Sena.
"Awas saja jika kau berani jatuh cinta padanya" Tukas Dean.
"Ya bagaimana ya, jika itu sudah takdir aku bisa apa?" Tanya Sena. Dean memeluk Sena erat.
"Maka aku akan membunuh kalian berdua" Jawab Dean.
"Menyeramkan sekali" Ucap Sena. "Logikanya saja tidak mungkin aku jatuh cinta padanya, jika memang iya pasti dari awal aku sudah mendekatinya" Ujar Sena. Dean melengos.
"Kau hanya takut padaku" Ucap Dean.
"Itu juga benar. Aku masih ingin hidup dengan tenang" Ujar Sena. Dean hanya tertawa mendengar itu.
"Kau ingin makan sesuatu?" Tanya Dean.
"Aku tidak lapar" Jawab Sena. "Tuan lapar?" Tanyanya. Dean menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya takut kau sakit" Ucap Dean. "Kau sudah banyak terluka karena aku, dan jika kau sakit itu akan menyakitiku juga" Imbuhnya.
"Aku merinding mendengarnya" Ucap Sena. "Terima kasih" Ujarnya.
"Untuk?" Tanya Dean.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku" Jawab Sena. "Cinta yang belum pernah ku dapatkan dari siapapun" Imbuhnya.
"Mulai sekarang kau bisa mendapatkan cintaku sebanyak yang kau mau" Ucap Dean. Sena mengeratkan pelukannya, wajahnya tenggelam di dada bidang milik Dean.