
Dean masih terdiam di balkon kamarnya. Malam ini langit membuat nuansa penuh kegelapan. Langit tampak begitu cerah tapi malam memaksanya untuk menjadi gelap. Dean menghela nafas berat. Ia teringat bagaimana Hana berjuang untuk hidupnya selama ini. Atau mungkin memang benar kata Aldric bahwa bukan Hana yang ingin berjuang, tapi ia yang memaksa wanita itu terus bertahan. Sudah dua tahun lamanya dan Hana belum bangun sama sekali. Dean juga belum bisa melepaskan wanita itu. Ia terus membiarkan ranjang disalah satu kamar di villa Timur itu terisi. Dengan bau obat dan bunyi dari monitor selalu menghiasi kamar itu. Ujung matanya berair saat membayangkan wajah Winandra yang memberi harapan pada sang ibu yang masih terbaring tidak berdaya. Soal harapan itu adalah kesalahan terbesarnya. Tentang bagaimana ia terus meyakinkan pada Winan bahwa ibunya akan baik baik saja, tapi nyatanya sampai saat ini tidak ada satu katapun yang mampu di realisasikan.
Dean menatap Sena yang baru keluar dari ruang ganti. Wajahnya masih sama seperti kemarin, tidak berwarna dan tidak berasa. Sena naik ke atas kasur dan menarik selimut tanpa memperdulikan Dean yang terus menatapnya. Dean kesal, Sena mengabaikannya lagi. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, disaat seperti ini ia juga bimbang harus jujur atau menyembunyikannya sampai akhir. Dean memilih berbaring di sofa, membiarkan dirinya tertidur disana.
...****************...
Viana baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya. Viana tersenyum bahagia saat mengingat bagaimana kemarin malam ia menghabiskan waktu bersama Aldric. Melihat kembang api yang melambung tinggi dan akhirnya pecah di langit indah. Menikmati jajanan pasar diselingi canda dan tawa, merasakan angin malam yang menerbangkan rambutnya hingga menutupi sebagian wajahnya.
Tapi takdir memang senang mempermainkan seseorang. Viana bergegas pergi kerumah sakit setelah mendapatkan kabar bahwa ayahnya jatuh sakit. Baru saja ia merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan lagi dalam dua tahun terakhir. Kini ia harus menerima pil pahit yang membuat tenggorokannya seakan mengering. Kemarin ayahnya baik baik saja dan ia juga sempat berjalan jalan ke pusat kota bersama sang ayah.
Viana menemui bibi dan pamannya yang sedang menunggu di depan ruang IGD. Orang yang paling berharga setelah ayahnya adalah bibi dan pamannya yang selalu membantunya dan juga ayahnya. Selalu bersedia mengulurkan tangan untuk mereka. Seperti saat ini, bibi memeluk Viana dengan erat. Paman mengusap punggung keponakannya berharap itu bisa menenangkan.
"Bibi apa yang terjadi?" Tanya Viana setelah melonggarkan sedikit pelukannya.
"Tekanan darah ayahmu naik" Jawab bibi. Hanya empat kata tapi mampu membuat Viana lemas tak berdaya. "Sudahlah, ayahmu pasti akan baik baik saja. Kita hanya perlu mendoakannya" Ujar bibi lalu kembali memeluk Viana.
Viana duduk di kursi dekat ayahnya. Ia menatap sayup pada pria yang selama ini menjadi cinta terbaiknya. Wajah kusut dan pucat menciptakan rasa sesak di dadanya. Seperti ada batu besar yang siap menghancurkannya hari itu juga.
Viana ingat kata kata yang pernah diucapkan oleh sang ayah. Entah kapan tapi yang jelas sebelum kehancuran itu terjadi.
"Keluarga adalah rumah, Ayah adalah pondasi maka ibumu adalah atapnya. Dan kau adalah pemilik rumah yang akan selalu kami lindungi. Sejauh apapun kau pergi, kau akan tetap kembali kepada kami, dirumah ini"
Viana menangis sesenggukan. Jika atapnya sudah pergi di bawa angin dan pondasinya sudah mulai retak sebab terlalu lama berdiri, lalu bagaimana rumah itu bisa melindunginya?.
...----------------...
Di jalanan kota yang ramai, Viana berjalan seorang diri dan berusaha menepi dari derasnya arus lalu lintas. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Rambutnya di biarkan terikat dengan banyak anak rambut yang berserakan. Disaat Viana sedang menikmati keindahan malam dan juga lukanya, sebuah mobil berhenti tak jauh darinya. Viana menghela nafas lelah saat melihat Arka turun dan berlari kecil menghampirinya. Di wajahnya tersirat kekhawatiran yang tidak dibuat buat.
"Kau baik baik saja? Bagaimana kabar ayah?" Tanya Arka. Viana mengangguk.
"Baik, ayah sudah mulai membaik juga" Jawab Viana yang beberapa saat kemudian hendak berjalan lagi.
"Viana" Panggil Arka. Viana berhenti dan terdengar helaan nafasnya yang sudah begitu lelah. Ia berbalik menatap sang kakak.
"Apalagi?" Tanya Viana.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri" Ucap Arka. Viana tertawa kecil.
"Lalu aku harus menyalahkan siapa?" Tanya Viana. "Apa yang bisa aku salahkan selain dirimu sendiri? Kau bahkan hidup dengan baik setelah hari itu" Ucap Viana.
"Lalu aku harus apa? Kita sama sama hancur dan akhirnya aku pergi dari rumah" Ucap Arka.
"Kalau saja hari itu kau tidak bilang kepada ayah dan ibu, mungkin hari ini kita masih bahagia di dalam rumah itu" Ucap Arka.
"Iya aku tau aku yang salah. Aku salah karena sudah mencintai dan mempercayai orang sepertimu. Kita adalah alasan kenapa ayah dan ibu bercerai. Kita adalah orang yang tanpa sengaja memaksa mereka untuk saling melepaskan! BAGAIMANA KAU BISA BAIK BAIK SAJA SETELAH HARI ITU?!" Viana menarik nafas dalam-dalam, berbalik dan hendak meninggalkan Arka tapi tangannya di cekal kuat.
"Kau gila? Ini sakit!" Viana meronta ingin dilepaskan.
"Seandainya hari itu kau ikut ayah dan ibu mungkin hal itu tidak akan terjadi!" Arka menarik Viana untuk masuk ke dalam mobil.
"KAK! Apa apaan sih?!" Bentar Viana. Tapi belum sampai di mobil, Arka sudah tersungkur saat Aldric memukul wajahnya dengan keras. Viana dengan cepat langsung menahan Aldric dengan memeluk pria itu.
"Sudah tuan!!" Viana menangis lagi.
Arka tidak sebaik yang orang fikirkan, seperti malam ini dia benar benar berubah menjadi monster dan menampakan wujud aslinya. Arka bangkit sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia tertawa mengejek, tawa yang dibenci oleh Aldric.
"Mau jadi pahlawan bung?" Tanya Arka. Arka tergelak sedangkan Aldric sudah mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengeras.
"Aku tau kau memang monster!" Ucap Aldric.
"Iya, monster yang sudah membuat adik ku mencintaiku" Arka tergelak lagi. "Adik nakal yang menemani hari hariku" Sumpah kata kata itu sangat menjijikan bagi Aldric.
"Kau ...."
"Apa??! Kau tau jika gadis yang bersamamu itu sudah cukup melayaniku? Apa dia juga memberikan hal yang sama padamu? Kurasa tidak karena Viana hanya mencintaiku" Arka tergelak lagi. Mendengar itu Viana benar benar tak menyangka bahwa kakaknya seorang bajingan yang menyerupai malaikat.
"Kau binatang tak pantas menyebutkan namanya bahkan untuk sekali saja!!" Aldric hilang kendali. Ia mendorong Viana agar melepaskannya, menghujani Arka dengan pukulan yang keras hingga lelaki itu tak berdaya. Aldric bangkit dan menatap nyalang pada Arka yang sudah babak belur itu.
"Aku akan benar benar menghabisi mu jika kau berani muncul di hadapanku lagi!" Aldric membawa Viana pergi dari sana. Nafasnya memburu dan wajahnya masih memerah.
"Tuan" Panggil Viana. Aldric berhenti seketika lalu menoleh.
"Apa itu benar?" Tanya Aldric. Viana tidak bisa mengatakan apapun lagi. Lidahnya keluh, dan tenggorokannya kembali mengering. "Jawab aku!" Ucap Aldric. Perlahan Viana mengangguk mengiyakan.
Aldric menghela nafas. Ia seperti tidak percaya bahwa yang dikatakan oleh Arka adalah sebuah kenyataan.
"Kau tidur dengan kakak mu sendiri?" Tanya Aldric. "Dia yang memaksamu?" Tanya Aldric lagi. Viana semakin menangis lalu menggeleng pelan.
"Maafkan aku" Ucapnya kemudian. Aldric hanya menghela nafas berat. Cukup sudah, ia tidak ingin menanyakan apapun lagi. Baginya permintaan maaf Viana adalah jawaban dari semua pertanyaannya.
"Masuklah ke dalam mobil, aku akan mengantarmu pulang" Viana mengangguk lalu berjalan menuju ke mobil. Ia seakan tau apa yang akan terjadi setelah malam ini. Langit mungkin tak lagi sama begitupun dengan Aldric yang sudah mengetahui semuanya.