Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
keluar kota



Hari ini Dean pulang lebih awal karena dia akan pergi keluar kota untuk urusan bisnisnya. Mobil Dean memasuki halaman mension, Dean turun disusul dengan Aldric di belakangnya. Para pelayan langsung menyambut kedatangan Dean.


"penerbangan kita mungkin akan di undurkan" ujar Aldric.


"apa ada masalah?" tanya Dean.


"cuaca sedang buruk" jawab Aldric.


"sampai kapan?" tanya Dean.


"kemungkinan nanti malam" jawab Aldric.


"kau bercanda? kita pulang lebih awal tapi penerbangannya nanti malam?" tanya Dean dengan kesal. Mereka masuk kedalam lift.


"mereka baru saja memberi kabar, bagaimana aku bisa tau?" tanya Aldric lagi.


"Ck, buang buang waktu saja" tukas Dean.


"Hei harta, uang tak akan kau bawa mati" ujar Aldric.


"Tapi kalau tidak ada uang kau bisa mati" sahut Dean. Aldric hanya memasang wajah sinis.


"kau membanggakan uangmu lagi" ucap Aldric.


"lalu apa yang bisa ku banggakan selain itu? sekretaris seperti mu?" tanya Dean malas.


"aku memang pantas untuk di banggakan" ujar Aldric dengan pedenya. Keduanya keluar dari lift dan berjalan masuk ke kamarnya. "Dimana istrimu?" tanya Aldric.


"Apa kau fikir aku tau?" tanya Dean. Meski begitu, pertanyaan Aldric barusan membuat Dean tersadar bahwa ia belum pernah melihat Sena sejak terakhir kali di acara pernikahan mereka.


"Dia tidak tinggal dirumah ini?" tanya Aldric. Dean menghela nafas.


"Dia ada di kamarnya" jawab Dean malas.


"Wah kalian tidak sekamar?" tanya Aldric lagi.


"kenapa kau terus menanyakannya? kau mau ku pecat ya?" tanya Dean kesal. Aldric hanya tertawa melihat sahabatnya itu.


"tidak, tapi aneh saja kalian sudah menikah tapi tidak saling menatap" ujar Aldric. Dean merenggangkan dasinya.


"Sebaiknya kau urus saja dirimu, aku hanya takut kau berperilaku menyimpang" ucap Dean. Aldric memasang wajah kesalnya.


"kau fikir aku lelaki seperti apa?" tanya Aldric kesal. "Kau harus berhati hati, aku bisa saja mencuri hati istrimu" ujar Aldric.


"coba saja kalau kau bisa" Dean masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Aldric yang belum selesai bicara.


"dasar" Aldric melengos dan pergi keluar.


*****


Viana tengah duduk di dalam mobil sembari memperhatikan Sena dari jauh. Viana bisa melihat dari dinding kaca toko itu Sena sedang mengelap meja dan menyapu lantai. Viana memajukan tubuhnya.


"pak Rey" panggil Viana. Pak Rey adalah sopir pribadi Sena.


"Hem?"


"menurut bapak, nona Sena itu bagaimana?" tanya Viana.


"baik" jawab pak Rey singkat.


"astaga pak, ternyata bapak sangat hemat dalam berbicara" ujar Viana.


"Semua yang bekerja dengan tuan Dean biasanya tidak akan banyak bicara" sindir pak Rey. Viana melengos.


"bapak mencoba menyindir saya?" tanya Viana. "Setidaknya beri penilaian pada nona Sena" tukas Viana.


"Dia sempurna jika dilihat dari sudut pandang pria" jawab pak Rey.


"Tapi kenapa tuan Dean tidak mencintainya?" gumam Viana yang masih bisa di dengar oleh pak Rey.


"Kenapa tidak kau tanyakan langsung pada tuan Dean?" tanya pak Rey.


"Bapak ingin saya di pecat, begitu?" tanya Viana kesal. "Bolehkah saya turun? kasihan nona Sena sendirian" ujar Viana.


"Siapa yang melarang mu untuk turun?" tanya pak Rey. Viana hanya melengos kesal. Setelah berfikir cukup lama, Viana akhirnya turun untuk menemui Sena.


"nona Sena" panggil Viana. Sena sontak menoleh. Ia langsung memperhatikan keadaan sekitar.


"kenapa kau disini?" tanya Sena. "bagaimana kalau ada yang melihatmu?" tanya Sena panik. Viana langsung melepaskan jasnya dan hanya menggunakan kemeja putih dan celana hitamnya.


"apa saya sudah mirip seperti anak magang sekarang?" tanya Viana sembari tertawa kecil. Mendengar itu Sena ikut tertawa.


"Wah kau mencoba menggantikan pekerjaanku disini?" tanya Sena menggoda. Keduanya pun tertawa renyah.


*****


Dean sedang duduk di mobilnya sembari menatap keluar. Pandangannya mengarah pada seorang gadis yang sedang duduk dan menikmati makan siangnya bersama dengan temannya, gadis itu adalah Sena dan Viana. Dean dan Aldric akan berangkat ke luar kota namun entah kenapa sebelum pergi ia ingin melihat Sena.


"kau tidak turun?" tanya Aldric.


"tidak" jawab Dean.


"kenapa? kau tidak ingin berpamitan?" tanya Aldric.


"Tidak perlu" jawab Dean lagi.


"Jika aku perhatikan dia adalah gadis yang baik dan pekerja keras" ujar Aldric yang ikut memandangi Sena. Dean tidak menjawab, ia hanya diam dengan mata yng terus memandangi wajah Sena dari kejauhan. Dean kemudian memperbaiki duduknya dan melihat ke depan.


"ayo kita pergi" suruh Dean pada sang sopir.


"hanya begini?" tanya Aldric.


"jadi menurutmu aku harus apa? datang lalu memeluknya?" tanya Dean. Dean tertawa hambar. "Sangat tidak masuk akal" ucap Dean.


"jika suatu saat aku melihatmu memeluknya aku adalah orang yang tertawa paling keras" tukas Aldric sembari tertawa puas.


"itu tidak akan terjadi" ucap Dean. Aldric hanya mengangguk angguk pasrah.


Sesampainya di kota X, Aldric dan Dean menemui kolega bisnisnya dan mendatangi kantornya. Setelah itu keduanya kembali ke hotel untuk mengistirahatkan tubuh mereka.


*****


Setelah hampir seminggu di kota X, Dean tidak pernah pergi kemanapun diluar dari urusan pekerjaannya. Ia hanya ke kantor dan kembali ke hotel pada sore hari untuk beristirahat. Tapi hari ini Dean pergi ke suatu tempat yang tidak berhubungan dengan urusan pekerjaannya. Tanpa sopir, hanya ada Aldric dan Dean. Aldric yang menyetir dan Dean sebagai penunjuk jalan.


"aku seperti tidak asing dengan nama tempatnya" ucap Aldric.


"kau pernah kesini?" tanya Dean.


"Entahlah" jawab Aldric.


Mobil berhenti di sebuah tempat yang sangat indah. Dean dan Aldric turun dari mobil lalu berjalan ke pinggiran jurang yang sudah diberi pagar pembatas. Jauh di seberang sana ada sebuah air terjun yang begitu tinggi. Aldric dan Dean bahkan bisa merasakan kesegarannya dari kejauhan.


"tempat apa ini?" tanya Aldric.


"Tempat yang dulu sering ku kunjungi bersama dengan mendiang nenekku" jawab Dean. Aldric menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Keduanya sama sama jatuh dalam pesona air terjun itu hingga tak menyadari sudah satu jam mereka berdiri disana.


"ayo kita pergi" aja Aldric. Dean masih terdiam lalu setelahnya ia berbalik untuk kembali ke mobil.


"Dean" panggil seseorang. Dean dan Aldric sontak menoleh. Raut wajah Dean menunjukkan bahwa dia sangat terkejut. Aldric menatap wajah Dean lalu beralih menatap wanita itu.


"bukannya dia Jihan, mantan tunangan tuan Dean yang hilang dua tahun yang lalu?" Tanya Aldric dalam hati.


"Jihan?" ucap Dean dengan wajah yang masih terkejut. Bagaimana tidak, wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya, yang hilang dua tahun yang lalu kini muncul kembali. Dean semakin terkejut saat Jihan memeluknya.


"aku sangat merindukanmu" ucap Jihan. Dean dengan spontan langsung menjauhkan Jihan dari tubuhnya.


"maaf, tapi sopan kah kau memeluk orang sembarangan?" tanya Dean.


"K-kau tidak merindukanku?" tanya Jihan. "bagaimana kabarmu?" tanya Jihan lagi.


"Aku baik, sangat baik" jawab Dean. "aku harus pergi sekarang" ucap Dean. Ia berjalan menuju ke mobilnya.


"aku masih mencintaimu!" teriak Jihan dengan tak tahu malunya. Dean yang semula hendak membuka pintu mobil langsung berhenti dan menoleh pada Jihan.


"Tapi aku tidak" ucap Dean yang setelahnya langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Jihan sendirian.


Jihan meremas dadanya yang terasa sesak. "tidak semudah itu kau melupakan ku Dean" batinnya.