Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Liburan H-3: pelukan hangat



Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi Aldric belum bisa tertidur. Ia terus memikirkan Viana yang tampak tidak sehat. Perasaan tidak enak tentang Viana malam ini. Aldric melemparkan selimutnya dan keluar dari kamarnya. Di depan pintu kamar Viana, Aldric berdiri untuk beberapa saat. Aldric akhirnya mengetuk pintu kamar Viana, namun pintu tidak terbuka sama sekali. Aldric memegang handle pintu dan membukanya, ia terkejut karena ternyata pintu kamarnya tidak dikunci. Aldric masuk dan berjalan menghampiri Viana di tempat tidur. Aldric memegang dahi Viana yang hangat, lalu ia beralih memegang leher wanita itu. Aldric terdiam, ia mengambil tangan Viana yang ternyata sangat dingin. Wajah gadis itu semakin pucat dan ia seperti menggigil.


"Viana" Panggil Aldric. Viana tidak menjawab, gadis itu hanya membuka matanya perlahan. "Kau baik baik saja?" Tanya Aldric.


"Dingin sekali tuan" Ucap Viana terbata bata. Mendengar itu Aldric langsung menaikkan suhu penghangat ruangannya.


"Kan sudah aku bilang, harusnya kau istirahat saja tadi" Omel Aldric. Pria itu duduk di pinggir kasur, ia langsung menarik Viana kedalam pelukannya. Membelit kan selimut di tubuh Viana hingga beberapa lapisan agar menjadi hangat.


Cukup lama Aldric terdiam, hingga akhirnya suara isakan membuatnya tersadar. Ia melihat Viana yang ternyata sudah menangis di dalam pelukannya.


"Mana yang sakit?" Tanya Aldric. Viana menggelengkan kepalanya. "Tidurlah, ada aku disini" Ucap Aldric.


Untuk pertama kali sejak ia hidup di dunia ini, ia mengkhawatirkan seorang wanita selain ibunya. Entah kenapa hatinya tidak tega melihat Viana kedinginan seperti itu.


Aldric merasa ngantuk, ia menidurkan Viana dan hendak kembali ke kamarnya. Tapi langkahnya kembali terhenti, ia berjalan untuk mengunci pintu lalu kembali dan naik ke atas kasur. Kembali ke posisi awal, ia kembali memeluk Viana.


*****


Kicauan burung dan cahaya matahari yang menyelinap masuk membuat Sena terbangun dari tidurnya. Sena merenggangkan tubuhnya, ia tersadar bahwa Dean tidak berada di sampingnya. Dengan lesu ia bangun dan langsung masuk ke kamar mandi.


Setelah mandi, Sena bersiap untuk menjenguk Viana di kamarnya. Sama seperti Aldric, Sena juga mengkhawatirkan Viana. Bagi Sena Viana tetaplah gadis kecil yang sedang mencoba menjadi orang dewasa.


Sementara itu


Viana membuka matanya perlahan dan ia sangat terkejut ketika melihat Aldric tidur dengan memeluknya. Ia ingat, tadi malam Aldric datang ke kamarnya. Tapi ia tidak menyangka bahwa Aldric akan tidur dan menemaninya disini.


"Tuan" Panggil Viana. Aldric membuka matanya perlahan dan tatapan keduanya bertemu.


"Apa yang terjadi?" Tanya Aldric.


"Tidak tau. Tapi ini kamarku" Ujar Viana. Aldric yang tersadar langsung terduduk dan diikuti oleh Viana.


"Benar, ini kamarmu" Gumam Aldric. Pria itu turun dan hendak melangkah keluar.


"Tuan, terima kasih untuk pelukannya" Ujar Viana. Aldric berhenti sebentar lalu kembali melangkah dan keluar dari kamar Viana.


Setelah menutup pintu, Aldric berbalik dan di kejutkan dengan kehadiran Sena yang tidak terduga.


"Tuan, apa yang kau lakukan di kamar Viana sepagi ini?" Tanya Sena.


"Pagi nona" Tegur Aldric dan berlalu meninggalkan wanita yang sedang keheranan itu.


Sena melongo, ia bergegas membuka pintu dan masuk begitu saja.


"Viana, apa yang terjadi?" Tanya Sena yang sudah mendudukkan bokongnya di pinggir kasur.


"Tidak ada nona" Jawab Viana.


"Tapi aku lihat tuan Aldric barusan keluar dari kamarmu, kenapa?" Tanya Sena. Viana terdiam sembari berfikir, jika ia mengatakan yang sebenarnya itu akan menimbulkan persepsi yang berbeda di kepala Sena.


"Ada tikus" Jawab Viana berbohong.


"Benarkah? Dimana?" tanya Sena panik. "Lalu apa tikusnya sudah tertangkap?" Tanya Sena lagi.


Viana mengangguk sembari tersenyum. "Sudah nona" Jawab Viana. Ia tersenyum setelah di otaknya terlintas gambaran seorang Aldric adalah tikus yang ia maksud.


"Hfff syukurlah" Ujar Sena. "Ayo makan" Ajaknya.


"Nona bisa menunggu sebentar? saya akan pergi mandi sekarang" Ujar Viana.


"Baiklah, aku akan menunggu" Ucap Sena.


"Terima kasih nona" Viana turun dan langsung bergegas ke kamar mandi.


"Tikusnya pasti sangat besar" Ucap Sena dengan senyum manisnya.


******


Dean berlari kecil dengan sepatu di kakinya. Pagi pagi sekali ia sudah pergi joging sendirian, Dean berhenti saat melihat seseorang yang berdiri tak jauh di depannya.


"Hai" Sapa Jihan sembari tersenyum dan melambaikan tangannya.


Jihan berjalan mendekat kearah Dean. "Lama tidak bertemu, apa ini kebetulan?" Tanya Jihan.


"Apa yang membawamu kesini?" Tanya Dean.


"Tidak ada. Aku hanya ingin liburan saja" Jawab Jihan.


"Apa dunia ini terlalu sempit?" Sindir Dean.


"Mungkin, jadi kita harus sering sering bertemu" Jawab Jihan dengan senyum centilnya.


"Apa sekarang kau mulai menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya?" Tanya Dean.


"Tidak juga. Aku masih Jihan yang dulu" Jawab Jihan sembari tersenyum.


"Ck terserah saja" Dean hendak meninggalkan Jihan.


"Kau tau, aku akan menginap di villa M!" Teriak Jihan. Seketika langkah Dean terhenti, ia berbalik dan melihat Jihan tersenyum smirk. "Bisa kau tunjukkan jalannya tuan?" Tanya Jihan.


Di kejauhan seorang wanita sedang tersenyum senang.


"Viana!" Panggil Sena. Viana yang sedang menyisir rambutnya langsung menoleh.


"Ada apa nona?" Tanya Viana.


"Apa kau menyukai tuan Aldric?" Tanya Sena. Viana sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.


"Tidak nona" Jawab Viana dengan tawa kecilnya.


"Kau berbohong" Tukas Sena. Viana hanya tersenyum, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Sena.


"Yang lain mungkin sudah menunggu nona" Ucap Viana mengalihkan pembicaraan.


"Apa kau melihat tuan Dean?" tanya Sena. Viana menggelengkan kepalanya.


"Tidak nona" Jawab Viana. "Mungkin sedang lari pagi" Ujarnya.


"Hem, benar juga. Ayo keluar" Ajak Sena.


Saat melihat meja makan yang kosong, Sena menghela nafas. Hanya ada makanan di sana, tapi ia tidak melihat keberadaan Dean sama sekali.


"Kau tunggu disini" Ujar Sena.


"Nona mau kemana?" Tanya Viana.


"Mencari tuan Dean" Jawab Sena.


"Biar aku temani" Ujar Viana.


Keduanya berjalan mengelilingi kawasan villa. Sena memegang punggungnya karena rasa nyeri yang tiba tiba muncul.


"Sial, punggungku tidak bisa di ajak kerja sama" Umpat Sena. Viana hanya melongo, yang ia tau nona nya adalah wanita polos.


"Ayo kembali ke kamar, nona" Ajak Viana.


"Tunggu, tapi aku seperti mengenali suara seseorang" Ucap Sena. Ia berjalan sedikit terpincang melewati tikungan yang di pinggirannya ditanami pohon bambu. Ketika sampai di ujung, matanya membulat. Ekspresi sedih, kecewa, dan terkejut bercampur menjadi satu.


Viana yang melihat itu, langsung mengambil langkah untuk maju tapi tangan Sena menahannya.


"Ayo kembali ke villa, punggungku sakit sekali" Ujar Sena. Itu adalah caranya untuk menghentikan Viana.


Viana menghela nafas. "Baiklah, ayo" Ajak Viana.


Sena memilih masuk ke kamar dan melarang Viana untuk mengikutinya.


"Apa nona baik baik saja?" Tanya Viana. "Aku akan menemani nona" Ujarnya


"Tidak, jangan. Kau makanlah duluan, atau ajak tuan Aldric untuk menemanimu" Ujar Sena. Wanita itu menutup pintu dengan wajah murungnya.


Sena mengunci pintu, ia naik ke atas kasur dan memejamkan matanya. Ia berfikir hari ini mungkin akan menjadi sedikit lebih baik, tapi ia salah. Sena mengira bahwa Dean yang memberitahu Jihan dan menyuruh wanita itu datang kesini. Sena menangis saat kakinya terasa nyeri. Tidak, Sena tidak menangis karena nyeri di kakinya tapi ia menangis karena perih di hatinya.