Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Winandra



Setelah sampai, Dean langsung turun dan di susul Aldric di belakangnya. Dean berlari untuk segera sampai ke villa. Ia membuka pintu dan menaiki anak tangga.


"Winandra!" Dean celingukan mencari seseorang yang ia panggil namanya barusan. Dean berbalik saat mendengar langkah kaki di belakangnya.


"Ayah!" Anak laki laki bernama Winandra itu berlari dan masuk ke pelukan Dean.


"Maaf, Ayah!" Winan menangis di pelukan Dean. Dean langsung mengusap punggung mungil yang gemetar itu.


"Tidak, ini bukan salahmu!" Ucap Dean.


"Tapi mama?"


"Mama pasti baik baik saja" Dean melepaskan Winan dari pelukannya lalu menatap manik mata jernih itu. "Tapi, bagaimana itu bisa terjadi?" Tanya Dean.


"Winan rindu mama, jadi Winan masuk ke kamarnya. Winan ingin melihat mama dari dekat jadi Winan naik ke atas kursi. Lalu ... lalu Winan jatuh dan tidak sengaja menarik talinya" Winan menjelaskan dengan nafas yang tersengal.


"Itu bukan tali sayang, tapi selang oksigen. Lain kali kamu harus lebih berhati hati. Minta bantuan pada pelayan jika ingin melihat mama, oke?" Dean mengacungkan jempolnya dan di balas anggukan oleh Winan.


"Ayah akan tidur disini kan?" Tanya Winan yang langsung membuat Dean kalap.


"Ayah harus pulang sayang" Jawab Dean. Winan menangis lagi.


"Tapi Winan butuh ayah disini" Dean menghela nafas. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk anak kecil yang sedang menangis di depannya. Ia kemudian berdiri.


"Al, kita akan menginap disini" Ujar Dean. Meskipun ingin menolak, tapi Aldric tidak bisa berbuat apa apa selain mengangguk. Dean kembali berjongkok.


"Baiklah malam ini kita akan mendongeng panjang bersama mama"


"Serius kan?" Tanya Winan sembari menghapus sisa air matanya. Dean tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Tuan ayo bicara sebentar" Ucap Aldric akhirnya. Dean menghela nafas lalu mengusap pucuk kepala Winan.


"Pergilah ke kamarmu, ayah akan melihat mama sebentar" Ujar Dean. Tapi Winan menggeleng.


"Mau ikut!" Dean menggeleng juga.


"Mau ayah tidur disini kan? Dengarkan apa kata ayah" Winan akhirnya menurut walau sebenarnya ia ingin tetap ikut. Dean melambaikan tangan pada Winan yang melihatnya sebelum masuk ke dalam kamarnya.


"Mau bicara apa?" Tanya Dean setelah Winan sudah pergi tentunya.


"Kita akan menginap? Bagaimana dengan nona Sena?" Tanya Aldric. Dean menghela nafas untuk kesekian kalinya.


"Buat alasan yang bagus" Ujar Dean. "Bilang padanya bahwa aku ada keperluan mendadak jadi harus pergi keluar kota" Imbuhnya. Dean berlalu meninggalkan Aldric yang masih bergelut dengan isi kepalanya.


"Bagaimana dok?" Tanya Dean.


"Tidak ada masalah, hanya saja karena kekurangan oksigen membuatnya sesak nafas, itu biasa terjadi" Jawab dokter Seli.


"Tapi tuan, keadaan nona Hana semakin hari semakin memburuk. Otak kirinya bahkan sudah tidak berfungsi seutuhnya. Sel kankernya mulai menyerang sistem syaraf pusat. Saat kanker mulai menyerang otak kecilnya, kemungkinan besar nona Hana akan mengalami demensia dan kehilangan seluruh ingatan masa lalunya. Meskipun ada harapan untuk sembuh, mungkin hanya sekitar 10 persen saja" Ucap dokter Dio. Pernyataan itu diikuti oleh anggukan dari beberapa dokter dan perawat yang selama ini membantu Dean merawat Hana.


"Apa tidak bisa dilakukan operasi?" Tanya Dean dengan wajah penuh keputusasaan.


"Sel kankernya sudah menyebar ke seluruh tubuh, semakin sulit untuk membuat keputusan bagi kami tuan. Jika kami melakukan operasi, nona Hana bisa kehilangan suaranya dan kemungkinan untuk berhasil itu sangat sedikit sekali" Jawab dokter Dio. Dean mengangguk mengerti.


"Baiklah. Aku harap ini tidak semakin buruk" Para dokter dan perawat hanya saling pandang dengan ekspresi yang sulit di mengerti.


"Baik tuan kami pergi dulu" dokter Dio mengawali langkah mereka dan keluar dari kamar Hana.


Dean berjalan menghampiri wanita yang sedang tertidur pulas. Ia menatap penuh kasih pada Hana.


"Apa kau lupa caranya bangun? Katakan aku bisa membantumu kapanpun itu" Ujar Dean. Pria itu menghela nafas. "Sembuh lah untuk dia yang sudah pergi dan juga untuk Winan yang selalu merindukanmu" Ujar Dean. Ia menyentuh dahi yang tak lagi hangat itu. Dalam hati ia selalu berdoa dan berharap ada keajaiban hingga wanita itu bangun lebih cepat. Tapi sekarang ia bimbang, untuk pertama kalinya Dean tidak memiliki jawaban untuk masalahnya. Untuk pertama kalinya Dean berfikir apa yang akan dia lakukan saat Hana terbangun nanti. Mungkinkah ia akan membawa Hana pulang ke mansion? Itu tidak mungkin. Lagi lagi Dean terjerat dengan isi kepalanya sendiri.


*****


Sena keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang masih bertengger di bahunya menandakan bahwa ia baru selesai mandi. Sena bersenandung kecil sembari masuk ke ruang ganti. Ia memilih beberapa kaos oversize dan rok pendek. Setelah sedikit lama memilih antara warna putih atau salam, sangat diluar dugaan akhirnya Sena memilih warna coklat muda. Ia keluar sembari mengeringkan rambutnya. Senyumnya tidak kunjung menghilang, walaupun sesekali ia akan pergi ke kamar mandi untuk meredakan mual di perutnya. Tidak ada yang dimuntahkan, tapi ia merasa mual. Hari ini Dean akan pulang lebih awal, fikirnya. Ia mengambil sedikit air dan menyiram bunga di balkon kamarnya.


"Kehidupan itu mahal, maka hiduplah dengan baik" Ucap Sena pada bunga eucalyptus yang ia tanah beberapa Minggu yang lalu. "Apa memang kau tidak berbunga? apa kau laki laki? Kata orang jaman dulu pohon tidak akan berbunga atau berbuah jika pohon itu adalah laki laki. Kuharap kau perempuan sama sepertiku jadi kita bisa saling mengerti" Sena tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. Ia duduk di depan meja rias dan mulai merias wajahnya. Sena menyemprotkan parfum di beberapa bagian. Sena berputar di depan cermin dengan senyum yang masing terukir indah disana. Ia memperhatikan tubuhnya yang sepertinya semakin gendut. Pipinya juga semakin bulat. Sena menghela nafas, ia sudah berniat dalam hati untuk melakukan diet. Ia melahap roti kering di mejanya. Yang penting niat saja dulu, dietnya bisa di realisasikan kapan saja.


Sena menoleh saat ponselnya berdering. Ia kira yang menelepon adalah Dean ternyata Aldric.


"Halo tuan!"


"Nona hari ini saya dan tuan Dean ada keperluan mendadak dan harus pergi ke Roma sore ini juga. Kami akan pulang dalam tiga atau empat hari" Ujar Aldric via telepon.


Seketika hati Sena menjadi sesak. Ia tidak menyadari bahwa menjadi istri seorang pengusaha harus menyedihkan seperti ini. Ia bahkan tidak punya sedikit waktu untuk di ajak bercerita lebih lama.


"Nona, masih disana?" Tanya Aldric yang membuat lamunan Sena pecah.


"Iya"


"Pergilah makan, nona tidak perlu menunggu. Selamat sore" Aldric langsung mematikan panggilannya. Ia tidak menyangka bisa berbohong seperti ini.


Sena dengan lesu merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Wajahnya tersirat kekecewaan yang mendalam. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Dean karena ini pasti menyangkut perusahaan. Sena memejamkan matanya, bahkan saat suara Viana memanggilnya dari luar ia tetap tidak berniat untuk bangkit.