Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Anna melahirkan



Bulan sabit masih menghiasi langit pagi di atas mansion milik Dean. Ia belum berniat untuk menghilang padahal matahari sudah berusaha menggantikan posisinya. Sena merenggangkan otot ototnya, ia baru terbangun beberapa menit yang lalu dan sekarang ia sedang dalam proses untuk mengumpulkan nyawanya. Sena menoleh lalu tersenyum, ia masih belum percaya bahwa pemandangan yang seperti ini akan benar benar ia lihat setiap pagi. Melihat wajah Dean yang masih tertidur dengan nafas yang sangat beraturan. Sena hendak turun dari ranjang tapi ia menghentikan niatnya saat merasakan sesuatu menahan tangannya. Sena kembali memandang Dean yang masih memejamkan matanya.


"Sopan kah begitu?" tanya Dean dengan mata yang masih tertutup.


"eum??"


"Sudah puas menatapku dengan kedua matamu itu?" tanya Dean. Sena sedikit terkejut karena Dean mengetahuinya.


"Saya melakukannya tanpa sengaja" jawab Sena.


"Ck, beruntung sekali kau bisa melihat wajahku setiap kali kau bangun dari tidurmu" ucap Dean. Sena mengerutkan keningnya. "Jadi tidak akan ku biarkan aku kehilangan kesempatan untuk memandang mu juga" imbuhnya. Dean membuka matanya perlahan lalu menatap Sena yang juga sedang menatapnya.


"Kenapa menatap seperti ini?" tanya Sena.


"Kau juga memandangku seperti ini setiap kali kau bangun tidur" jawab Dean. "Apa aku salah jika melakukan itu juga? kenapa aku tidak boleh memandang mu padahal kau boleh memandangku? apa itu adil?" omel Dean. Mendengar itu membuat Sena tak bisa menahan tawanya.


Dean terduduk saat melihat Sena tertawa di depannya. Untuk pertama kalinya ia melihat wanita itu tertawa setelah cukup lama mereka menikah.


"Saya minta maaf, tapi apakah harus seperti itu? saya bahkan melakukannya tanpa sengaja" ujar Sena.


"Tertawa lah sekali lagi" ucap Dean.


"Eum??" Sena perlahan menghentikan tawanya.


"Aku senang melihat kau tertawa seperti tadi, jadi lakukan lagi" ujar Dean. Sena tertegun, tidak ada yang lucu bagaimana ia akan tertawa.


"Tapi tidak ada yang lucu tuan" ucap Sena.


"Panggil aku sayang" tukas Dean. Mendengar itu Sena benar benar terkejut. Ia merasa itu lucu sekaligus mengejutkan.


"Tuan ingin membuat saya tertawa dengan lelucon seperti itu?" tanya Sena.


"Tidak bodoh" jawab Dean. "Mulai sekarang panggil aku sayang" ujarnya. Sena mengerutkan keningnya.


"Sayang?" tanya Sena. Dean mengangguk mengiyakan.


"Kau keberatan?" tanya Dean.


"Tidak, tapi itu lucu" jawab Sena. "Lalu kenapa hanya saya?" tanya Sena.


"Ah kau ingin ku panggil sayang rupanya" ujar Dean. "Baiklah, sayang" panggil Dean. Sena refleks menutup telinganya.


"Aaaa itu menggelikan sekali" ucapnya setengah teriak.


"Turunkan tanganmu" ujar Dean. Sena perlahan menurunkan tangannya. "Aku tidak ingin mendengar mu memanggilku dengan sebutan tuan atau semacamnya, hanya panggil aku sayang" ucap Dean penuh penekanan.


"Tapi ... ah sudahlah" Sena hendak turun dari ranjang tapi lagi lagi Dean menahannya.


"Cepat katakan" ucap Dean.


"Mengatakan apa?" tanya Sena. Ia tersentak saat Dean menarik pinggangnya. "I-ini masih pagi" ucap Sena panik.


"Lalu kalau malam, bagaimana?" tanya Dean sambil tersenyum menggoda. Sena menatap Dean sebentar, ia mencium bibir Dean sekilas hingga membuat lelaki itu terdiam.


Sena langsung berlari ke kamar mandi dengan pipi yang sudah memerah. Melihat itu Dean kembali tersenyum.


"Dasar gadis nakal" gumam Dean. Ia beranjak dari tidurnya dan memilih pergi ke kamar mandi sebelah.


*****


Aldric berjalan hendak menemui Dean di kamarnya, tapi ia mengurungkan niatkan ketika mengingat bahwa Sena dan Dean sudah satu kamar sekarang. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Dean. Aldric berdecak saat Dean tidak mengangkat teleponnya.


"Apa yang tuan lakukan disini?" tanya Viana yang membuat Aldric terkejut.


"Tidak bisa kah kau tidak mengejutkan ku? kau ini seperti hantu" ucap Aldric yang masih memegangi dadanya.


"Apa tuan terkena serangan jantung?" tanya Viana dengan tawa kecilnya. Aldric refleks menurunkan tangannya dan menatap Viana tajam.


"Jangan tersenyum seperti itu" ujar Aldric yang merasa ngeri saat melihat Viana tersenyum padanya.


"Saya sedang bahagia, bolehkah saya membaginya dengan anda tuan?" tanya Viana.


"Memangnya apa yang membuatmu bahagia?" tanya Aldric. Ia sudah berusaha menutupi rasa ingin tahunya tapi ia kalah dengan hatinya yang ingin terus bertanya.


"Tuan benar benar ingin tau?" tanya Viana antusias.


"Tidak" jawab Aldric kesal.


"Anna melahirkan anak pertamanya" ucap Viana senang.


"Dia adikku" jawab Viana.


"Adikmu sudah menikah dan kau belum?" tanya Aldric terkejut.


"Ya begitulah, dia lebih cantik dariku wajar saja begitu" jawab Viana sembari terus tersenyum. "Tapi kenapa nona Sena lama sekali?" tanya Viana heran.


"Kalian mau kemana?" tanya Aldric.


"Nona Sena akan mulai pergi bekerja" jawab Viana.


"Apa tuan Dean mengetahuinya?" tanya Aldric.


"Mungkin sudah tuan. Tidak mungkin tuan Dean tidak tau" jawab Viana.


"Bukannya nona Sena belum pulih sepenuhnya?" tanya Aldric.


"Nona Sena itu sangat sangat keras kepala" bisik Viana kemudian tertawa kecil lagi. Aldric baru menyadari bahwa Viana ternyata sangat cantik. Aldric hanya terdiam sembari terus memandang Viana yang sedang tersenyum manis di depannya.


"Kau jadi berbeda ketika sedang bahagia ya" ujar Aldric. Viana menoleh menatap Aldric.


"Maaf tuan" ucap Viana yang berusaha menahan senyumnya.


"Jangan di tahan, nanti pipimu menggembung" ujar Aldric. Viana spontan menyentuh kedua pipinya.


"Memangnya bisa ya?" tanya Viana. Aldric tertawa kecil.


"Tidak bodoh" jawab Aldric. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan hendak menelepon Dean tapi ia menoleh saat Dean keluar dari dalam kamar sendirian.


"Ayo kita berangkat" ucap Dean yang berjalan melewati Viana juga Aldric.


Aldric mengikuti Dean dan keduanya berjalan beriringan.


"Nona Sena akan pergi bekerja hari ini" ujar Aldric.


"Siapa yang mengatakannya?" tanya Dean.


"Kau tidak tau?" tanya Aldric. "Viana yang mengatakannya padaku" imbuhnya.


"Wah kalian tampak semakin dekat" ujar Dean dengan tawa mengejek.


"Jangan membuat rumor" tukas Aldric kesal.


"Jika itu benar juga tidak masalah" ucap Dean.


"Ck konyol sekali" Aldric membukakan pintu mobil untuk Dean. Aldric duduk di kursi kemudi dan mulai mengemudikan mobilnya.


"Apa semua sudah dipersiapkan?" tanya Dean.


"Eung, mereka hanya tinggal menunggu kehadiran kita" jawab Aldric. "Jihan juga hadir disana" ucap Aldric.


"Bagaimana bisa?" tanya Dean.


"Dia mewakili salah satu perusahaan ibunya" jawab Aldric.


"Hubungi Viana, beritahu dia untuk membawa Sena ke hotel yang akan kita buka hari ini. Dan katanya padanya hadirlah sebagai kolega bisnis saja" ujar Dean.


"Kau yakin?" tanya Aldric.


"Ya, secepatnya mereka harus bisa menyusul kita" jawab Dean. Aldric dengan sigap langsung menghubungi Viana.


****


Sena dan Viana sudah berada di perjalanan menuju ke toserba. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia pergi bekerja. Viana mengeluarkan ponselnya dan melihat satu panggilan masuk dari Aldric.


"Halo tuan"


"Bersiaplah, bawa nona Sena ke hotel SENDERA dan gunakan pakaian formal. Hadirlah sebagai kolega kami" ucap Aldric di sebalik telepon. Saat hendak menjawab tapi panggilan langsung terputus. Viana menghela nafas.


"Pak Rey, kita ke butik sekarang" ujar Viana. Pak Rey tidak banyak bertanya dan hanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa? ada apa?" tanya Sena.


"Saya harus membeli pakaian formal untuk anda nona" jawab Viana. "Kita di undang sebagai kolega di hotel milik tuan Dean yang baru akan di buka hari ini" imbuhnya. Mendengar kata kolega membuat hati Sena sedikit terenyuh.


"Kenapa tidak sebagai istri? kenapa hanya sebatas kolega? apa aku yang terlalu berharap lebih?" tanya Sena dalam hati. Seperti biasa ia mulai berasumsi sendiri. Terdiam dan tenggelam dengan isi fikiran nya sendiri.