
Dean terbangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan. Dean mengerutkan keningnya saat melihat Aldric, Viana, dan Sena ternyata tidur di kamarnya. Ia kemudian bangkit dan hendak pergi ke kamar mandi. Tapi langkahnya tiba tiba saja terhenti, kini ia malah berjalan menghampiri Sena yang masih terlelap. Dean berjongkok untuk melihat wajah Sena lebih dekat. Ditatapnya wajah mungil itu, cantik fikirnya.
"Apa yang sudah kau lakukan memangnya? kau bahkan tidak bisa mengurus ku dengan baik. Kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu. Tapi kenapa aku tidak bisa membencimu? apa yang sudah kau lakukan hingga membuat ku tertarik padamu?" Dean bingung dengan hatinya sendiri. Ia tidak mencintai Sena tapi rasa ingin terus melihatnya itu selalu ada. Entah sejak kapan tapi Dean merasa semakin ada yang tidak beres dengan hatinya. Dean mengangkat tangannya dan bergerak untuk menyentuh pipi Sena. Dean mengelus lembut pipi Sena lalu beralih ke bibir.
Karena merasa terusik, Sena akhirnya terbangun dan perlahan membuka matanya. Sena terkejut dan hendak membuka suara tapi Dean langsung mengisyaratkan untuk diam. Keduanya saling tatap untuk beberapa saat, hingga bibir keduanya saling menyatu untuk waktu yang cukup lama.
"Kenapa harus sepagi ini? kenapa disaat saat seperti ini? bagaimana jika Viana dan tuan Aldric terbangun dan melihat ini? bagaimana jika ini akan berlangsung lama?" Semua kata kata itu memenuhi fikiran Sena sekarang. Tapi akhirnya ia bisa bernafas lega karena setelahnya Dean menjauhkan wajahnya.
"Apapun yang ada di pikiranmu aku benar benar tidak peduli, aku hanya ingin melihat wajahmu seperti ini setiap pagi" ucap Dean dengan ekspresi wajah dinginnya dan setelah itu bangkit lalu pergi ke kamar mandi. Siapapun tidak bisa menyangkal bahwa sekarang pipi Sena sudah berubah menjadi seperti kepiting rebus. Pipinya merah semu mendengar apa yang dikatakan oleh Dean pagi ini. Ia kemudian tersenyum.
"Kenapa harus pagi pagi sih?" ucap Sena malu sembari menutup wajahnya menggunakan bantal.
******
Seminggu berlalu, Dean sudah sehat seperti sedia kala. Ia sudah bisa pergi ke kantor seperti biasanya. Sena juga sudah bisa pergi bekerja walaupun kali ini harus benar benar dijaga oleh Viana. Tapi hari ini karena Dean tidak pergi bekerja maka Sena juga tidak di izinkan pergi bekerja. Entah sejak kapan peraturan itu dibuat, tapi Viana benar benar melarangnya.
Keduanya sedang berada di kamar masing masing tentunya. Si pria sedang bermain dengan laptopnya sedangkan si wanita sedang membaca novelnya. Dean menoleh saat Aldric masuk begitu saja kedalam kamarnya.
"ada apa?" tanya Dean.
"Ada yang menunggumu dibawah" jawab Aldric.
"Siapa?" tanya Dean lagi.
"Wanita yang sangat sangat kau cintai" jawab Aldric. Dean menutup laptopnya, lalu menatap kesal pada Aldric.
"Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu" ucap Dean. Aldric tertawa hambar.
"Jihan ada dibawah" ucap Aldric. "Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting, padahal aku sudah berkali kali menyuruhnya pergi" imbuhnya.
"Untuk apa lagi dia datang kesini?" tanya Dean malas.
"Entah, aku pun tak tau soal itu" jawab Aldric.
"Lakukan apapun, aku tidak ingin melihat wajahnya lagi" ujar Dean.
"Aku sudah melakukan segala cara untuk membuatnya pergi, tapi aku sudah menyerah dengan wanita yang satu itu" ucap Aldric. "Temui saja sebentar" imbuhnya.
Dean menghela nafas kasar lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar dan menuruni tangga. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat Jihan sedang duduk dengan gaya sok anggunnya.
"Untuk apa kau datang kesini?" tanya Dean sembari berjalan menghampiri Jihan. Jihan menoleh dan langsung berdiri, senyumannya merekah begitu melihat kehadiran Dean.
"Kenapa?" tanya Jihan bingung. "Tentu aku ingin bertemu denganmu" ujarnya. Dean tetap memasang wajah dinginnya sembari terus menatap tajam kepada Jihan.
"Apa yang kau inginkan? uang? atau apa?" tanya Dean kesal. "berapa yang kau inginkan?" tanyanya lagi.
"Ck, menjijikan sekali" batin Aldric yang sedari tadi mendengarkan percakapan Dean dan Jihan.
"Kau bermimpi? bangunlah" ucap Dean. "Apa kau benar benar sudah tidak punya harga diri? Apa kau sudah kehilangan akal?" tanya Dean.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Jihan. "Apa karena gadis yang mengaku sebagai istrimu itu membuatmu menjadi kasar padaku?" tanya Jihan lagi.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Dean.
"Aku bilang kau tidak mencintainya, aku juga bilang kita sudah bertunangan" jawab Jihan dengan bangganya.
"Apa kau sudah gila?" tanya Dean yang mulai tersulut emosi.
"Aku gila karena mu" jawab Jihan. Jihan berjalan dan langsung memeluk Dean. Dean terkejut dan hendak mendorong Jihan tapi suara Sena lebih dulu sampai ke telinganya.
"Apa pantas kau begitu pada suami orang?" tanya Sena ketus. Mendengar itu Dean hanya menghela nafas berat sedangkan Jihan tidak peduli sama sekali. "Murahan sekali!" ketusnya. Kata kata itu ternyata bisa membuat Jihan marah. Ia melepas pelukannya lalu berjalan menghampiri Sena.
"Kau atau aku yang murahan?" tanya Jihan.
"Jelas saja kau. Sangat tidak pantas sembarangan memeluk pria yang sudah beristri" jawab Sena.
"Jadi menurutmu kau pantas menikah dengan pria yang sudah bertunangan?" tanya Jihan. "Kau ini gila harta atau memang murahan? atau keduanya?" tanya Jihan mengejek.
"Maaf tapi bisa kah anda menjaga ucapan anda?" tanya Viana kesal. "Anda sudah keterlaluan" imbuhnya.
Dean menghela nafas. "Aldric tolong kau panggilkan satpam" ucapnya.
"Baik tuan" Aldric langsung pergi untuk memanggil satpam.
"Tunggu, ada apa denganmu?" tanya Jihan pada Dean.
"Apa kau tidak tau malu jika harus pergi dengan cara di usir?" tanya Sena. "Sudah jelas kau yang murahan" ucapnya ketus.
Mendengar itu membuat amarah Jihan memuncak. Jihan dengan kuat mendorong Sena hingga gadis itu terjatuh dan menabrak meja kaca.
"Nona!" teriak Viana. Viana langsung membantu Sena berdiri dan membawanya ke sofa. Dean tidak percaya Jihan bisa melakukan itu, Dean langsung melayangkan sebuah tamparan di pipi Jihan. Semua orang yang berada disana sangat terkejut. Untuk pertama kalinya mereka melihat Dean menampar seseorang.
"Ku peringatkan kau untuk menjauh dari ku dan juga istriku, jangan mencoba untuk kembali lagi!" ucap Dean dengan penuh penekanan. "Pergilah sebelum aku benar benar akan menghancurkan mu " imbuhnya.
Jihan masih sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Dean padanya. Ia melihat sekitar dan kini ia menjadi buah bibir semua orang yang melihatnya. Hatinya semakin sakit saat Dean menghampiri Sena yang sudah meringis kesakitan.
"Aku belum selesai" ucapnya pelan lalu segera pergi dari mansion.
Suasana mansion kini menjadi tegang. Sena kembali merasakan sakit di punggungnya. Tanpa berfikir panjang Dean langsung membawa Sena kerumah sakit.