Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
memilih siapa



Viana masih berdiri dengan kepala menunduk. Di depannya ada Aldric yang sedang menatap marah kepadanya.


"Apa kau tau apa yang akan terjadi jika nona Sena tidak bisa ditemukan?" tanya Aldric. "kau sudah melakukan kesalahan yang fatal Viana" imbuhnya.


"Maafkan saya tuan" hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Viana.


"Pergilah, kemasi barang barang mu dan pergi dari sini" ucap Aldric. Viana mengangkat kepalanya perlahan.


"M-maksud tuan?" tanya Viana gugup.


"Kau di pecat" jawab Aldric to the point. Viana memejamkan matanya lalu menghela nafas.


"Baik tuan" ucapnya. Viana pergi setelah mengucapkan itu.


Aldric menghela nafas, tiba tiba ia merasa ada yang berbeda dengan hatinya. Entah kenapa melihat Viana pergi membuatnya tidak tega, pasalnya ia belum sempat mendengarkan cerita selanjutnya dari Viana.


*****


Dean berjalan menuju ke rumah sakit dan berniat untuk menemui Arka. Ia yakin Arka adalah dalang di balik ini semua. Tanpa izin Dean langsung masuk begitu saja. Arka yang sedang bekerja dengan laptopnya langsung menoleh saat pintu terbuka.


"Dimana sopan santun mu?" tanya Arka.


"Dimana Sena?" tanya Dean to the point. Arka tertawa tidak percaya.


"Dia istrimu, kenapa bertanya padaku?" tanya Arka. Arka berdiri lalu melangkah menghampiri Dean. "Bukannya kau yang menyuruh anak buah mu untuk menjemput Sena dan memaksanya pulang?" tanya Arka kesal.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Dean.


"Jika kau tidak bisa menjaganya lepaskan saja dia. Aku tidak akan tinggal diam jika kau terus menyakitinya dan membuatnya selalu dalam bahaya" ucap Arka.


"Kau mengancam ku?" tanya Dean.


"Aku sedang memperingatkan mu" jawab Arka. "Kau tau betul bahwa Sena belum sembuh seutuhnya, tapi kau dengan tega menyuruh mereka membawa Sena yang seharusnya masih membutuhkan perawatan khusus" ucap Arka marah.


"Mereka siapa yang kau maksud?" tanya Dean bingung.


"Anak buah mu tentunya" jawab Arka.


"Tapi aku tidak memerintahkan siapapun untuk menjemput Sena" ucap Dean. "Kau mengalihkan pembicaraan?" tanya Dean.


"Apa yang kau dapatkan setelah menuduhku seperti ini?" tanya Arka. Dean dengan kesal langsung menarik kerah baju Arka.


"Aku bertanya sekali lagi, dimana Sena?" teriak Dean kesal.


"Apa kau sudah gila? kau fikir aku akan menyembunyikannya?" tanya Arka tak kalah kesal. "Jika benar Sena hilang dan aku berhasil menemukannya, aku tidak akan membiarkannya pergi bersamamu" ucap Arka sembari melepaskan tangan Dean dari kerahnya dengan paksa.


Dean menghela nafas berat saat ponselnya berdering, ia lalu mengangkatnya.


"Ada apa?" tanya Dean.


"Kami sudah mengecek cctv, nona Sena dibawa pergi menggunakan mobil dengan plat Y 265 S, kami akan melacak keberadaan Sena dan juga mobil itu sekarang" jawab Aldric di seberang telepon.


"Bagaimana bisa?" tanya Dean. "Aku akan segera menemui mu" ucapnya. Dean menatap tajam pada Arka lalu bergegas pergi meninggalkan lelaki itu. Arka menatap tajam lelaki yang baru saja pergi, ia mengepalkan tangannya menahan emosi yang seakan akan ingin meledak.


****


Sena masih terdiam dengan mata yang bergerak kesana kemari. Matanya mulai memahami sesuatu.


"Hei ini bukan jalan ke mansion" tegur Sena. Tapi kedua pria yang berada di dalam mobil bersamanya itu tidak menggubris ucapannya. "Hei kalian ingin menculik ku ya?" teriak Sena.


Pria yang berada di sebelahnya hanya menghela nafas. "Bisa diam tidak?" ujarnya.


"Bagaimana aku bisa diam? ini bukan jalan ke mansion" ucap Sena.


"Memang bukan!" tukas pria yang sedang menyetir.


"Lalu kemana? bukannya tadi kalian bilang suamiku yang menyuruh kalian menjemput ku?" tanya Sena.


"Kami bukan suruhan suamimu bodoh!" bentak pria yang di sebelahnya.


"Hei aku tidak bodoh! bukannya tadi aku sudah menduganya?" tanya Sena kesal. "Kalian tidak akan mendapatkan apa apa jika menculik ku" ucap Sena.


"Wanita ini banyak bicara sekali"


"Siapa yang akan diam jika sedang di culik?" tanya Sena. Kedua pria itu kembali mengabaikan Sena. Sena terus mengeluh tentang punggungnya dan juga pekerjaannya. Ia terus mengoceh meminta agar di pulangkan.


"Diam lah!!" bentak kedua pria itu bersamaan.


"Kau salah memilih target"


"Kenapa kita tidak menolak? dia membuatku stress!"


Sena hanya menatap kedua pria itu bergantian sembari menyimak perdebatan keduanya.


"Siapa yang memerintahkan kalian?" tanya Sena.


"Kau fikir kami akan memberitahumu?" tanya pria yang sedang menyetir.


"Tentu saja" jawab Sena. "yang penting aku sudah memperingatkan kalian bahwa tidak ada gunanya menculik ku" ucap Sena.


Sena menahan kantuk di matanya, ia bingung saat mobil tiba tiba berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Sena.


"Turun"


"Wah bagaimana bisa kalian bersikap seperti ini? bahkan aku sedang sakit sekarang" ucap Sena memelas.


"Wanita ini benar benar menjengkelkan" ucap pria yang berada di sebelah Sena. Ia berdiri lalu membantu Sena keluar dari mobil.


"Kenapa kesini?" tanya Sena. Ia mengedarkan pandangannya. Bukannya tempat menyeramkan yang ia lihat, melainkan sebuah pantai yang indah. Mereka sedang menculik seseorang atau sedang mengajak berlibur bersama? tanya Sena dalam hati.


"Biarkan dia jalan sendiri"


"Jika tuan melihatnya aku bisa mati"


"Tuan siapa sih yang kalian maksud?" tanya Sena.


"Diam lah" tukas keduanya dengan ekspresi kesal. Sena hanya melengos.


Dari kejauhan ia melihat seorang pria dengan kemeja putihnya. Saat Sena semakin dekat pria itu berbalik sembari membuka kaca matanya.


"Arka?"


"Kau pasti terkejut, maafkan aku" ucap Arka.


"Kau yang melakukan ini?" tanya Sena. Arka mengangguk.


"Hiduplah denganku" ucap Arka. Sena tertegun.


"T-tapi ...."


"Aku tidak peduli walaupun kau katakan kau sudah menikah. Kalian tidak menikah dengan di dasari cinta, Yang mencintaimu adalah aku dan bukannya Dean" ucap Arka.


"Itu tidak mungkin" tukas Sena.


"Lihatlah, karenanya kau selalu terluka dan mendapat banyak masalah. Dia tidak peduli padamu, dia tidak mencoba untuk menyelesaikan masalah yang terjadi padamu karena ulahnya" ucap Arka yang sudah sangat kesal pada Dean.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan ku?" tanya Sena.


"Pernikahan itu bisa kau lepaskan, kita saling mencintai kan?" tanya Arka.


"Arka aku sud ...."


"Sebentar lagi Dean akan sampai disini. Ini saat yang tepat untuk kau mengatakan bahwa kau memilih ku. Ini saat yang tepat untuk kau terbebas darinya" ujar Arka sembari memegang kedua bahu Sena. Benar apa yang dikatakan Arka, beberapa mobil mulai berdatangan. Sena menoleh ke belakang dan ia terkejut saat Dean benar benar datang.


"Ada udang di balik batu ternyata" ucap Dean. "Apa kalian sudah merencanakan ini?" tanya Dean.


"Tentu saja" jawab Arka. Dean tertawa sinis.


"Apa sopan mengambil milik orang sembarangan?" tanya Dean.


"Aku tidak pernah mengambilnya. Aku lebih dulu mengenalnya jauh sebelum pertemuannya denganmu" ucap Arka. Dean tersenyum smirk sembari mengalihkan pandangannya kepada Sena.


"Kau akan tetap disitu?" tanya Dean.


"Sena akan hidup bersama ku mulai sekarang" ucap Arka.


"jangan mengklaim milik orang lain" tukas Dean. "Kau tidak dengar?" tanya Dean pada Sena.


"Sena, kau pasti sudah punya keputusan yang tepat" ujar Arka. "Siapa yang kau pilih?" tanya Arka serius. Sena diam dan tidak langsung menjawab, ia menatap Arka dan Dean bergantian.


"Maaf aku ...."


"Kita saling mencintai kan?" tanya Arka sembari memegang kedua bahu Sena lagi. "Sekarang tolong katakan padanya bahwa kau memilih ku" pinta Arka.


Sena menatap Dean, bagaimanapun ia tidak ingin terjebak di hubungan yang salah. Ia ingin berfikir realistis sekarang.