Who Is My Husband?

Who Is My Husband?
Apa yang terjadi?



Sena terus berlari ke meja resepsionis dan berhenti dengan nafas ngos-ngosan. Ia mengatur nafasnya untuk beberapa saat.


"Suster, pasien bernama Viana ada di kamar mana ya?" Tanya Sena.


"Sebentar ya" Pasien membuka buku dan mencari nama wanita tersebut.


"203" Ucap suster itu.


"Terima kasih sus" Suster itu masih ingin berkata-"Sama sama" Tapi Viana lebih dulu melesat pergi.


Tak lama setelah Sena, Dean datang dengan nafas ngos-ngosan juga. Sama seperti Sena, ia juga menanyakan kamar Viana. Suster itu menatap heran punggung Dean yang sudah berlari setelah mengucapkan terima kasih.


Sena membuka pintu tanpa mengetuk dahulu. Dengan khawatir ia berjalan mendekati Viana yang masih berada di atas tempat tidur rumah sakit. Sena langsung melayangkan tatapan sengit pada Aldric yang juga berada disana. Aldric yang sepertinya mengerti arti dari tatapan itu spontan menggeleng.


"Viana apa kau baik baik saja?" Tanya Sena panik. Aldric tergelak saat itu juga. "Kenapa? ada yang lucu?" Sena langsung naik darah.


"Apa itu pertanyaan konyol?" Aldric bangkit dari duduknya dan berjalan ke sofa. "Jelas dia tidak baik baik saja, masih juga bertanya" Mendengar itu Sena mendengus kesal.


"Nona kenapa disini?" Viana khawatir Dean akan memarahi nona nya lagi.


"Lalu aku harus dimana? bisa bisanya tidak ada yang mengabari ku" Sena menatap nyalang pada pria yang sedang bersantai di sofa. Aldric pura pura tuli karena tidak mau mendengar omelan wanita itu.


"Saya hanya kelelahan nona" Ucap Viana dengan senyum tipis.


"Kau harusnya lebih bisa menjaga diri, apalagi dari pria jahat yang ada di bumi ini" Sindir Sena lagi. Lagi lagi ucapan itu sangat mengganggu telinga Aldric. Tidak disebutkan namanya, tapi Aldric seperti tau bahwa sindiran itu berlaku untuknya.


"Saya sudah merasa lebih baik nona" Ujar Viana.


"Wajahmu pucat sekali, apa yang terjadi sebenarnya?" Sena mencoba semakin dekat dengan Viana. Viana yang sudah tidak tahan lagi menutup mata menggunakan lengannya dan ia kembali menangis persis seperti anak kecil. Sena tau meskipun gadis itu berlagak tangguh di depan semua orang, tapi nyatanya Viana masih butuh perhatian seseorang dan juga bahu untuk bersandar.


"Apa tuan Aldric mengatakan sesuatu yang tidak pantas?" Sena menerka dengan mata yang kembali menatap sinis pada Aldric yang saat ini hendak menjawab. "Ini forum wanita, jangan menjawab" Sena mengangkat tangannya agar Aldric tidak bicara satu katapun. Aldric menghela nafas sembari memutar bola matanya malas.


"Viana katakan" Desak Sena. Viana ingin membenarkan tuduhan yang di tujukan Sena pada Aldric bahwa pria itu memang mengatakan hal yang tak pantas padanya. Tapi lidahnya keluh, dia tidak bisa menjawab apapun.


"Tidak nona" Viana tidak bisa berkata apapun selain menyangkal semuanya. Masih ingin bertanya lagi, pintu kembali terbuka. Kali ini giliran Dean yang masuk dengan nafas memburu. Sena terkejut bukan main, apalagi saat melihat Dean masih menggunakan celana kolor yang tadi ia siapkan. Dengan cepat Sena membuka blazer nya. Menghampiri Dean dan melilitkan blazer itu di pinggangnya.


"Apa tuan sudah gila keluar dengan celana seperti ini?" Tanya Sena panik.


Lama terdiam, akhirnya Sena mendongak. Viana melirik ke bawah dan melihat tatapan kesal dari Sena.


"Aku tidak tau dimana letak celana panjang ku" Ucap Dean malu malu. Sena mengusap wajahnya kasar, ternyata yang Dean tau hanya bekerja dan bekerja. Bahkan letak celananya sendiri ia tidak tau.


"Duduk manis disana bersama tuan Aldric" Ujar Sena sambil mendorong Dean dan mendudukkannya tepat di sebelah Aldric. Sena melipat tangannya di depan dada, bergantian menatap keduanya yang juga sedang menatapnya.


"Kalian tau ini ulah siapa?" Tanya Sena. "Aku sudah bilang ini salahku, kenapa Viana yang harus di hukum?" Sena menghela nafas. Aldric sudah akan menjawab tapi segera menutup niatnya karena Sena langsung menatapnya tajam.


"Kalian memarahinya seolah dia yang salah, padahal dia sama sekali tidak bersalah. Sekarang lihat? ini akibat ulah kalian berdua. Bagaimana caraku membuat kalian mengerti?" Sena berbicara dengan nada penuh kesal. "Aku tidak mau tau, Viana harus cepat pulih" Ujarnya.


"Itukan tidak ada urusannya dengan kami" Dean akhirnya buka suara. "Lagi pula yang memarahinya itu Aldric dan bukannya aku" Ucapnya. Aldric langsung menoleh karena namanya disebut.


"Enak saja, tuan yang jelas jelas menyuruhku" sanggah Aldric yang tidak terima.


"Tapi kan ...." Sena berkata stop sebelum Dean menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa tidak pulang?" Tanya Sena heran.


"Bagaimana denganmu?" Dean menatap dengan tatapan khawatir. "Aku akan disini bersamamu" Imbuhnya.


"Kau akan tidur dimana?" Tanya Sena. Dean tersenyum lebar lalu menunjuk sofa yang ia duduki.


"Disini" Jawabnya antusias.


"Dan aku?" Sena menunjuk dirinya sendiri.


"Di bawah" Jawab Dean dengan nyengir kuda. Sena melongo dengan mata membuat. Sena tergelak lalu wajahnya kembali datar.


"Oke oke" Sena mengambil bantal yang ada di sofa dan menjatuhkannya di lantai. Sena masih akan menidurkan tubuhnya tapi Dean dengan cepat menarik tangannya.


"Ayo kita pulang, aku akan kirim pelayan kesini" Dean membantu Sena untuk berdiri.


"Tapi aku masih ingin disini" Sena menolak untuk pulang.


"Pulang atau aku akan benar benar marah" Ancam Dean. Sena menghela nafas, keberaniannya sudah terbang beberapa detik yang lalu. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Viana yang masih setia menatapnya.


"Aku akan kembali besok" Ucap Sena seperti berbisik tapi sangat jelas di telinga Dean. Dean langsung memiting leher Sena dan membawanya pergi.


"Bisa tidak jangan seperti ini?" Gerutu Sena kesal. Ia malu karena kini semua orang menatap kearah mereka.


"Kau ini keras kepala, jadi aku harus benar benar mengeluarkan tenaga ekstra untuk membawamu" Ujar Dean.


"Ayo berdamai, kita pegangan tangan saja!" Ucap Sena memberi penawaran.


"Maaf penawaran di tolak" Dean terus memiting leher Sena sampai ke pintu mobilnya. Sena berpura pura kehabisan nafas saat Dean melepaskan lengannya.


"Aku benar benar akan mati" Sena terbatuk batuk, dan tentu saja itu hanya akting.


"Akting mu buruk! Cepat masuk!" Dean menarik hidung Sena pelan. Sena dengan sewot langsung masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana bisa dia memperlakukan istrinya seperti itu? bagaimana jika aku mati karena tercekik?" Sena mengomel sendiri tapi setelahnya berhenti bicara saat Dean masuk ke dalam mobil.


"Mengomel sekali lagi aku akan menggantung mu di pagar pembatas jalan" Padahal Dean hanya bercanda tapi apapun yang keluar dari mulutnya terdengar serius.


Sena menguap sekali lagi. Ia terus memperhatikan gedung pencakar langit yang mengeluarkan cahaya indah dari lampu lampu apartemen yang masih menyala.


"Tidak bisakah hanya menatapku?" Tanya Dean iri.


"Ini masih seperti mimpi" Ucap Sena dengan senyuman di bibirnya. "Aku tidak pernah bermimpi akan hidup seperti ini, dan aku tidak pernah bermimpi mempunyai suami seperti tuan" Imbuhnya.


"Kau menyesal menikah denganku?" Dean bertanya, nadanya lebih mirip sebuah penekanan daripada pertanyaan.


"Tentu tidak(Sedikit menyesal itu pasti)" Sena menatap Dean dengan tatapan lembut. "Berhenti mencurigai ku jika tuan tidak pernah berbohong padaku" Imbuhnya.


Dean tertegun. Arti dari ucapan Sena seperti-"Kalau kau curiga padaku berarti kau sedang berbohong"- Dean mengambil tangan Sena lalu menciumi punggung tangan itu berkali kali.